Setiap Anak Istimewa. Bantu, Bukan Paksa, Mereka Mengenali Kekuatan, Bakat dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri

Parenting

[Image: enterpreneur.com]

2.6K
Mari menjadi orangtua yang mau mencoba mengerti keistimewaan anak-anak kita. Mari kita belajar masuk ke dunia mereka yang aneh dan asing itu. Dan mari terus mendukung anak-anak kita, walau terkadang keunikan yang mereka miliki seperti seorang koki yang berada di tengah medan perang.

Belakangan ini, saya sedang membaca sebuah komik Jepang tentang seorang koki yang bernama Ken. Karena suatu sebab yang misterius, koki muda yang berasal dari masa kini itu terbangun dan mendapati bahwa dirinya tengah berada di zaman perang era Sengoku, di abad ke-16. Ia kehilangan ingatan, sehingga tidak lagi mengenal latar belakang dirinya. Satu-satunya kemampuan yang dimilikinya adalah memasak.

[Nobunaga no Chef - Mitsuru Nishimura & Takuro Kajikawa]

Tak lama berselang, Ken bertemu dengan Oda Nobunaga, seorang panglima perang yang kemudian mengangkatnya menjadi koki pribadi. Di tengah-tengah masa perang seperti itu, seharusnya kemampuan berperanglah yang paling penting. Tetapi lewat komik ini, pengarang mengangkat dan memperlihatkan peran yang bisa dilakukan seorang koki di tengah zaman yang penuh dengan pertumpahan darah itu.

Saya cukup sering membaca dan menyaksikan kisah perang. Dan karena itu, saya paham betul, betapa aneh dan tidak relevannya jika seorang koki menjadi pusat dari sebuah cerita perang. Akan tetapi, walau aneh, cerita yang dialami Ken sesungguhnya bukanlah cerita yang terlalu asing, bukan?

Berapa banyak dari kita yang, ketika memandangi jalan hidup kita, merasa seakan kita berada pada cerita yang salah? Kita punya banyak potensi, tetapi tidak pernah mendapat kesempatan. Kita punya banyak ide, tetapi tidak punya modal. Kita punya banyak teman, tetapi tidak ada yang mau menjadi pacar kita. Dan kita punya banyak pendapat, tetapi tidak ada yang mau menanggapi dengan serius.

Dan kita merasa bahwa seandainya jalan cerita hidup bisa diubah, maka kesuksesan akan kita raih. Seandainya kita lahir di keluarga yang berpengaruh, maka kita bisa memberikan kontribusi yang lebih besar. Seandainya kita mendapat guru dan sekolah yang lebih baik, maka kita akan menjadi kaya. Seandainya wanita yang kita cintai itu mau menerima kita apa adanya, maka kita pasti berbahagia. Atau, mungkin kita merasa bahwa seandainya semua orang mendengarkan kita, maka perdamaian dunia akan tercapai.

Melalui cerita komik Nobunaga no Chef, saya diingatkan bahwa ada cara pandang lain yang bisa kita pegang. Kisah Ken, yang berada di zaman yang aneh dengan skill yang kelihatannya tidak berguna ternyata tak serta merta membuat hidupnya menjadi tidak berguna. Ia menggunakan kemampuannya untuk berjuang dan memberi dampak di zaman di mana ia berada saat itu.

[Ken dan 'senjata perang'nya]



Peran Penting Seorang Pemimpin

Dan di sinilah peran pemimpin menjadi sangat penting. Nobunaga, yang mengambil Ken sebagai koki pribadinya, mampu melihat kemampuan memasak Ken. Setelah mengenal lebih dalam pribadi Ken, Nobunaga memberikan kepercayaan yang besar kepada Ken untuk berpartisipasi dalam peperangan sesuai kemampuannya, yaitu dengan memasak. Nobunaga menghargai dan memaksimalkan potensi yang dimiliki Ken.

Sebagai pemimpin, sangat perlu untuk kita bisa mengenali kekuatan dari orang yang kita pimpin. Sebagai orang yang memiliki bawahan dan pengikut, penting bagi pemimpin untuk peka terhadap dinamika dan keunikan yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Pertaruhan ini menjadi semakin besar bila 'pengikut' kita memanggil kita dengan sebutan "Ayah" atau "Ibu".

Ketika kita diberikan kepercayaan untuk membesarkan anak, maka kita berharap bahwa anak itu bisa bertumbuh menjadi anak yang luar biasa. Sebagai orangtua, kita percaya bahwa Tuhan telah menempatkan keunikan dan hadiah kekuatan kepada setiap anak. Keunikan dan kekuatan yang semakin hari bertumbuh semakin mekar sementara mereka beranjak dewasa.

Akan tetapi, banyak orangtua jatuh dalam jebakan klasik yang sudah memakan banyak sekali korban. Mungkin Anda salah satunya. Umumnya, begini alur ceritanya:

Setelah melihat si anak lahir, maka orangtua memproyeksikan suatu gambaran yang mereka asosiasikan dengan kesuksesan anak. Ada orangtua yang mendorong anaknya untuk mengejar juara dan prestasi di sekolah. Ada orangtua yang mendorong anaknya belajar musik dan menjadi seperti Joey Alexander. Ada pula orangtua yang berharap anaknya bisa menjadi the next Messi atau Ronaldo. Dan, di dalam usaha untuk mendorong anak-anak meraih sukses seperti yang orangtua inginkan, kebanyakan orangtua melupakan pihak yang berkepentingan: si anak sendiri. Kita lupa apa yang ia inginkan dan di mana kekuatan yang ia miliki.


[Image: ributrukun.com]

Terkadang, harga yang harus dibayar untuk kesalahan ini menjadi begitu mahal hingga menimbulkan penyesalan seumur hidup. Berapa banyak anak yang akhirnya bentrok dengan orantuanya karena hal ini? Berapa banyak relasi yang rusak, keluarga yang hancur, hanya karena orangtua memaksakan kehendak kepada anak mereka?

Baca Juga: Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting ini

Saya teringat kisah seorang pemuda yang baru saja lulus sekolah kedokteran. Anak ini sangat pintar dan berhasil masuk ke salah satu universitas terbaik di Indonesia untuk jurusan kedokteran. Tetapi masalahnya, sama seperti yang dialami oleh kebanyakan anak: cita-cita menjadi dokter dan kuliah jurusan kedokteran adalah cita-cita dan keinginan dari orangtuanya. Sebagai Pegawai Negeri Sipil [PNS], orangtua anak itu menikmati kenyamanan dan kemapanan bekerja dengan status itu. Dan, lahir dari rasa cinta orangtua yang ingin anaknya hidup bebas dari kekhawatiran, sang orangtua mendorong anaknya untuk menjadi dokter dan mengabdi sebagai PNS. Cita-cita yang mulia dan tinggi. Tetapi dorongan jiwa si anak berkata lain.

Sejak kecil, si anak menyadari panggilan jiwanya untuk masuk ke dalam dunia musik. Ia mampu belajar berbagai alat musik tanpa guru. Dan setelah dewasa, ia berusaha untuk mencari guru dari seluruh dunia agar ilmunya itu bisa berkembang. Dengan berbagai komunitas musik, ia mulai membangun jejaring. Hingga akhirnya ia mendapatkan guru yang mampu membimbingnya walau dari jarak jauh. Kegeniusannya nampak ketika ia mampu meraih angka yang sangat tinggi dalam ujian-ujian yang ia lalui.

Pertentangan dalam keluarga ini tidak berhenti meskipun keluarganya telah menyadari bakat luar biasa yang dimiliki sang anak dalam bidang musik. Seperti batu karang yang kokoh, keluarga memandang bahwa satu-satunya jaminan untuk masa depan adalah bila si anak menjadi dokter dan bekerja sebagai PNS.

Baca Juga: Kesuksesan Seperti Apa yang Kita Inginkan untuk Anak-Anak Kita?



Pertaruhan Besar "Ayah" dan "Ibu" Sebagai Pemimpin

Cerita tentang si anak tadi dan kisah Nobunaga no Chef sangat berkesan buat saya yang memiliki anak yang masih kecil. Dan, sama seperti kerinduan Anda, saya ingin menjadi ayah yang tidak salah melangkah dan menyesal di kemudian hari.

Sangat penting bagi kita, sebagai ayah dan ibu, untuk bisa memahami kekuatan dan keunikan yang dimiliki setiap anak. Dunia saat ini berubah begitu cepat dan kebutuhan akan skill-skill baru bertumbuh dengan sangat pesat.

Kita perlu belajar untuk mengalihkan fokus dari dunia luar - dari apa yang kelihatannya bagus saat ini, kepada dunia anak kita - kepada apa yang menjadi kekuatan dan kesukaannya.

Dan sejak mereka kecil, kita perlu merawat bibit keunikan itu dengan ketelatenan dan support yang tak henti-hentinya. Bahkan ketika kita tidak mengerti. Bahkan ketika kita merasa bahwa apa yang mereka gemari itu tidak ada gunanya.

Salah satu alasan utama yang mendasari keputusan banyak orangtua untuk mengarahkan anak mereka, mengambil dan mengabulkan salah satu mimpi masa kecil orangtua adalah karena para orangtua ini merasa bahwa hal itu akan membawa kesuksesan untuk anak-anak mereka. Somehow, para orangtua merasa bahwa bila anak-anak itu mengikuti keinginan mereka, maka jaminan kebahagiaan dan kesuksesan dengan pasti akan datang kepada anak-anak mereka.

Baca Juga: Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya

Bagaimana kalau anak-anak ini berkata "Tidak!" dan kemudian memilih jalan sendiri? Takut. Khawatir. Itulah yang kebanyakan muncul di pikiran sebagian besar orangtua. Mereka khawatir anak-anak mereka salah melangkah. Mereka takut kesukaan dan keunikan anak-anak mereka tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup di masa depan.

Padahal kalau mau dipikir lebih dalam, apakah benar ada jaminan kesuksesan bila si anak mengikuti arahan orangtua? Bukankah dunia sekarang sedang bergerak dengan sangat cepat, sehingga hidup saat ini sangat berbeda dengan, katakanlah, 5 tahun lalu? Bila kita tidak mampu melihat dunia dalam 5 tahun mendatang, bagaimana kita bisa berkata bahwa jalan yang kita siapkan untuk anak kita akan membawanya mencapai kesuksesan dan kebahagiaan, 10 atau 15 tahun kemudian?

Karena itu, marilah kita menjadi orangtua yang lebih baik. Seperti Nobunaga, mari menjadi ayah dan ibu yang bisa melihat keunikan diri masing-masing anak kita dan mendorong mereka untuk mencoba berkembang dan bercahaya sesuai dengan sinar pribadi mereka. Jangan tunjukkan resistensi ketika kita tidak mengerti maunya mereka. Berikan senyuman saja, terkadang itu sudah cukup untuk anak-anak kita.

Baca Juga: 4 Perkataan Orangtua yang Ternyata Membuat Anak Makin Menjauh



Sammy dan Cita-citanya

Itulah yang kami lakukan ketika mendengar Sammy mengutarakan cita-citanya. Saat itu, ia masih berusia 3 tahun. Seperti halnya kebanyakan anak seusia itu, dalam waktu beberapa minggu, cita-cita Sammy berubah berkali-kali. Ia pernah berkata bahwa ia ingin menjadi pembersih kaca, menjadi petugas pemadam kebakaran, menjadi polisi. Dan tak ketinggalan, menjadi tukang parkir.

Untuk semua cita-citanya itu, saya hanya bisa memberikan senyum tanpa berusaha untuk mematahkan semangatnya. Tetapi, dengan tidak mencoba mengatur impiannya dan mengatakan mengapa itu tidak baik, saya mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang lain. Saya menunjukkan rasa penasaran saya dan memintanya menjelaskan mengapa ia ingin menjadi ini dan itu.

Ternyata, ia melihat betapa serunya si pembersih kaca rappeling dari atas gedung pencakar langit yang tinggi. Dan karena itu, ia ingin menjadi pembersih kaca. Di dekat rumah kami pernah ada kebakaran besar, ia menyaksikan bagaimana petugas pemadam kebakaran datang dengan gagah berani untuk memadamkan api. Ia juga memperhatikan polisi yang dengan semangat mengatur jalanan yang sering kami lewati. Lalu, tukang parkir? Itu karena Sammy suka dengan sempritan yang mereka tiup ketika mengatur mobil dan motor keluar masuk tempat parkir.

***

Mari kita menjadi pemimpin, khususnya orangtua, yang mau mencoba mengerti keistimewaan dari anak-anak kita. Mari kita belajar masuk ke dunia mereka yang aneh dan asing itu. Dan mari kita terus mendukung anak-anak kita, walau terkadang keunikan yang mereka miliki itu seperti seorang koki yang berada di tengah dunia yang sedang berperang.

"Inilah Peperanganmu! Kamu bisa berhasil bila kamu mengerti akan hal ini!" - Nobunaga



Baca Juga:

Ingin Punya Anak Sukses seperti Joey Alexander? Orangtua, Renungkanlah Hal-Hal ini

Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka

Tak Berani Mengambil Risiko? Takut Menghadapi Kegagalan? Satu Pertanyaan Penting ini Akan Membantumu Mengalahkan Rasa Takut dan Melangkah Maju



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Setiap Anak Istimewa. Bantu, Bukan Paksa, Mereka Mengenali Kekuatan, Bakat dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar