Setelah Ridho Rhoma dengan Mirasantika, Lalu Apa? Tiga Ini Saja!

Reflections & Inspirations

[Image: rimanews]

6.5K
Pengalaman adalah guru terbaik. Ya. Namun, belajar dari pengalaman orang lain adalah guru yang lebih baik.

Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka [Ya-ya-ya]

Dulu aku gila padamu dulu aku memang gila [Ya-ya-ya]

Sebelum aku tahu kau dapat merusakkan jiwaku [o-o, o-o]

Sebelum aku tahu kau dapat menghancurkan hidupku


Sekarang tak-tak-tak-tak

Ku tak mau tak mau tak-tak-tak-tak-tak

Ku tak mau tak mau tak [ku tak mau tak]

Sekarang tak-tak-tak-tak

Ku tak sudi tak sudi tak-tak-tak-tak-tak

Ku tak sudi tak sudi tak [ku tak sudi tak]


Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka [Y a-ya-ya]

Dulu aku gila padamu dulu aku memang gila


Minuman keras [miras], apa pun namamu

Tak akan kureguk lagi

Dan tak akan kuminum lagi

Walau setetes [setetes]

Dan narkotika [tika], apa pun jenismu

Tak akan kukenal lagi

Dan tak akan kusentuh lagi

Walau secuil [secuil]


Gara-gara kamu orang bisa menjadi gila

Gara-gara kamu orang bisa putus sekolah

Gara-gara kamu orang bisa menjadi edan

Gara-gara kamu orang kehilangan masa depan

Mirasantika [no way!]


Begitu lirik lagu Rhoma Irama yang ngetop di tahun 90-an dan sampai sekarang masih populer. Lagu ini juga yang membuat Raja Dangdut ini makin populer. Tiba-tiba saja, minggu terakhir bulan Maret, sang putra, Ridho Rhoma, tertangkap memakai sabu.

Komentar warganet senada. Netizen memakai kata ‘ter-la-lu’ yang dianggap sering diucapkan pelantun lagu dangdut top tanah air itu. Ada juga warga jagat dunia maya yang memakai kata itu untuk menyindir Rhoma yang tidak segera menjenguk anaknya yang terkena kasus narkoba.

Ketimbang ikut-ikutan berkomentar, saya lebih tertarik untuk membahas miras dan narkotika [mirasantika]. Kasus semacam ini - biasanya - sebentar muncul, lalu lenyap. Oleh sebab itu, jauh lebih penting follow up-nya ketimbang ter-la-lu fokus pada nasi yang sudah menjadi bubur. Mari kita fokus untuk mengubah bubur agar menjadi bubur ayam atau bubur ikan yang lebih nikmat!



Siapa Saja Bisa Kena

Surabaya. Siang hari. Seorang gadis manis mendatangi kantor saya untuk konseling. Begitu melihat matanya yang merah dan berair meskipun tidak dalam kondisi menangis, saya curiga, gadis ini pemakai. Dugaan saya benar. Dia terjerat narkoba karena salah pergaulan. Justru keluarganya sendiri yang menjerumuskannya ke lembah obat terlarang ini.

Ketika melihat kesungguhannya untuk sembuh, saya minta dia melakukan rehabilitasi. Dia setuju, dengan pesan agar saya tidak mengabarkan hal ini kepada orangtuanya karena mereka bisa shock. Dia termasuk anak kesayangan papa dan mamanya. “Saya setuju asal you juga setuju untuk rehab dan benar-benar berhenti total!” Berkat tekad yang kuat, dia berhasil lolos dari jerat obat nikmat sesaat ini.

Baca Juga: Dari Seorang Mantan Pecandu untuk Para Orangtua: Lakukan 4 Hal ini untuk Menyelamatkan Anak-Anak dari Godaan Narkoba



Introspeksi Ketimbang Menghakimi

“Papanya anti narkoba, bahkan menciptakan lagu untuk menentang zat haram ini, tetapi mengapa anaknya sendiri kena?” Begitu kesimpulan dari komentar pengguna media daring yang membaca berita itu.

Stop berkata semacam ini!

Mengapa?

Karena setiap kita tidak steril terhadap pencobaan. Jangan sampai kita ikut gembar-gembor, bahkan menyalakan kompor, padahal api kita sendiri sedang membakar jubah kita.

Baca Juga: Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi Orang Lain, Rasa Aman Palsu dan Keengganan untuk Bertumbuh


Apa yang lebih baik kita lakukan saat mengetahui ada orang yang jatuh?

Pengalaman adalah guru terbaik. Ya. Namun, belajar dari pengalaman orang lain adalah guru yang lebih baik.

Mengapa? Pengalaman adalah guru yang kejam. Kita belajar darinya setelah terjatuh dan berdarah-darah. Dengan belajar dari pengalaman orang lain, kita terhindar dari proses trial and error, yang bukan saja lama tetapi juga menguras sumber daya manusia maupun sumber daya materi kita.

Dengan becermin ke dalam batin, kita justru belajar untuk berhati-hati di dalam menjalani hidup. Jika orang lain kena, kita juga bisa, kecuali kita waspada. Namun, apakah kita bisa terus-menerus waspada?

Ketika pulang dari ibadah penghiburan di Rumah Duka Adi Jasa Surabaya, belasan tahun yang lalu, saya lelah. Saya tidak lagi pegang setir dengan kewaspadaan tinggi, sehingga ketika ada motor yang tiba-tiba saja berbalik arah tanpa tanda sein, saya mengalami kecelakaan ringan. Namun, justru kecelakaan itulah yang membuat saya terjaga penuh dan lebih berkonsentrasi saat menyetir pulang sendirian di jalanan Surabaya yang semakin mengantuk.



Bersama Kita Bisa

Pernyatan Rhoma Irama yang bertekad untuk lebih lagi berjuang untuk memerangi miras dan narkotika patut diberi acungan jempol. Kita tidak boleh kalah oleh mirasantika. Kita justru harus menang melawan godaannya. Siapa yang paling bertanggung jawab dalam kasus Rhido Rhoma? Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Jauh lebih bijak jika kita belajar bersama dari kasus ini dan bangkit kembali. Bersama kita bisa!

BNN, institusi pendidikan, keluarga, dan masing-masing pribadi perlu bersinergi untuk menjaga dan mempertahankan diri. Untuk apa kita saling mencaci tanpa ada evaluasi? Ketimbang memberi komentar nyinyir, apalagi cap negatif - bukankah cipratan tintanya bisa kena ke dahi sendiri? - satu hal ini yang perlu: PEDULI.

Baca Juga: Kisah Nyata: Ketika Kelembutan Hati Ibu Membebaskan Anak dari Jerat Narkoba


1. Peduli walau sekecil apa pun

"Dan tak akan kuminum lagi

walau setetes.

Dan tak akan kusentuh lagi

walau secuil."

Penggalan syair lagu Rhoma Irama ini bisa kita jadikan pijakan. Nila setitik bisa merusak susu sebelanga. Jadi, jangan pernah meremehkan bahaya, sekecil apa pun. Retakan kecil pada bendungan di Amsterdam, jika dibiarkan, bisa menenggelamkan seluruh kota.


2. Peduli walau sekadar ucapan simpati

Kita punya anak. Jika anak kita mengalami seperti Ridho, apakah kita senang jika orang lain menghujat kita? Uluran tangan simpati dan tawaran pundak empati jelas lebih berarti.

Pakai kata-kata dengan bijak agar jadi bajak yang melembutkan sawah jiwa.


3. Peduli walau dianggap tidak berarti

“Jika Anda melihat hal-hal kecil di luar kewajaran, laporan Anda bisa menyelamatkan banyak orang.” Begitu kira-kira tulisan yang saya baca di berbagai bandara internasional di seluruh dunia.

Dengan semakin meningkatnya teror, perlu kesadaran global bahwa apati bisa berarti mati.

Maknanya, ketika ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak beres di sekitar kita, kita dituntut untuk peka. Saat saya tinggal di South Lake, Perth, ada billlboard besar dengan tulisan “Neighbourhood Watch!” Jika bukan kita yang menjaga lingkungan sendiri, siapa lagi?

Mari saling peduli agar hidup kita jadi lebih berarti!



Baca Juga:

Dari Seorang Mantan Pecandu untuk Para Orangtua: Lakukan 4 Hal ini untuk Menyelamatkan Anak-Anak dari Godaan Narkoba

Kisah Nyata: Ketika Kelembutan Hati Ibu Membebaskan Anak dari Jerat Narkoba

Jangan Biarkan Kesalahan Menghancurkan Hidupmu! Bangkit dan Keluarlah dari Jerat Rasa Bersalah dengan 5 Langkah Ini


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Setelah Ridho Rhoma dengan Mirasantika, Lalu Apa? Tiga Ini Saja!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar