Sepiring Soto dan Sebungkus Nasi Rasa Toleransi. Kisah Tentang Persatuan di Tengah Perbedaan

Reflections & Inspirations

[image: www.4socialwork.com]

4.7K
Nasi sambal goreng hati dan lorong kampus menjadi saksi bisu bahwa perbedaan tidak memisahkan. Kami berkumpul, merayakan keberagaman, dan mematahkan palang stigma yang ternyata tak terbukti.

Sebuah warung di Semarang menawarkan diskon khusus bagi pengunjung yang datang dengan rekan yang berbeda agama. Unik. Bukan sekadar memberikan potongan harga, tetapi hal tersebut juga meneruskan kehangatan hati sang pemilik warung kepada para pelanggan. Bayangkan saja, si pemilik rela (sedikit) merugi demi menjunjung nilai yang ia yakini:


Bhinneka Tunggal Ika!

[image: www.perdapa.info]

Sepiring nasi cumi dan semangkuk soto ayam tidak lagi hanya untuk mengenyangkan letihnya tubuh yang telah bekerja sepanjang pagi. Piring dan mangkuk itu telah menjadi saksi kerukunan yang tidak dipagari oleh keyakinan atau apa pun yang dibuat manusia. Makanan yang menyegarkan raga dan jiwa.

Baca Juga: Beda Jangan Disamakan, Sama Jangan Dibedakan: Memandang Perbedaan Lewat Kacamata Gus Dur


Ah... saya jadi teringat belasan tahun lalu. Pada belasan orang yang berkumpul di lorong seberang kantor Tata Usaha fakultas. Mereka terlihat eksklusif. Sampai-sampai saya dapat membayangkan ada dinding tak kasatmata di sekeliling mereka. Tak pernah terbayang suatu saat saya akan berada di sana, dalam lingkaran pergaulan itu.

Label minoritas yang sering dikumandangkan di sekeliling seakan menjadi rantai yang menarik saya menjauh dari kelompok itu.

"Saya berbeda, mungkin tak (cukup) pantas berada di sana."


Baca Juga: Saya Cina. Walau Tak Selalu Mudah, Saya Memilih Tetap Mencintai Indonesia. Ini Kisah Saya


Berbeda? Mengapa kita merasakannya?

Sampai suatu hari, seorang teman menawarkan menu makan siang yang berbeda. Bukan dibeli di kantin fakultas, bukan juga berada di pujasera kampus, tetapi olahan seorang ibu sederhana yang menjajakan dagangan dari sepeda bututnya. Harganya yang sangat ekonomis, hanya Rp 5.000,- sebungkus, membuat kami berkeliling mencari-cari si ibu. Ternyata beliau berhenti di dekat lorong itu, sedang melayani teman-teman “eksklusif” itu di sana. Kami pun berjalan mendekat, membeli nasi dengan lauk sambal goreng hati.

Tak disangka, teman-teman di sana mengajak kami bergabung. Nasi sambal goreng hati yang kami santap hari itu pun meruntuhkan benteng pemikiran yang ada selama ini. Kami duduk bersama beralas lantai di sana. Kulit gelap dan terang berkumpul tanpa ada rasa curiga.

Tak pernah sekalipun mereka membuat kami merasa berbeda, bahkan tidak dalam gurauan atau sindiran halus. Cuaca yang panas hari itu bagai terkalahkan oleh hangatnya nuansa persahabatan saat itu.

Baca Juga: Berbeda tetapi Memilih Menjadi Kuat Bersama. Dari Gang Kecil Seteran untuk Indonesia, Sebuah Kisah Nyata


Saat perbedaan tak lagi memisahkan

[image: www.goslar.de]

Kemudian bulan puasa pun tiba. Beberapa dari kami, yang notabene kaum minoritas, pernah berpikir untuk menghindar dari lorong tempat kami biasanya berkumpul. Kami tak ingin menyinggung ataupun menjadi batu sandungan bagi teman-teman yang sedang menunaikan ibadahnya. Namun hal itu tak pernah berlangsung lama.

Saya ingat seseorang berujar, "Namanya puasa itu menahan godaan, bukan melarang orang makan. Ayo, makan di sini saja, biar pahalaku tambah banyak."

Sesekali mereka pun tak pelit berbagi takjil sambil menunggu perkuliahan sore hari.

Nasi sambal goreng hati dan lorong kampus menjadi saksi bisu bahwa perbedaan tidak memisahkan. Kami berkumpul, merayakan keberagaman, dan mematahkan palang stigma yang ternyata tak terbukti.

Rindu sekali rasanya untuk kembali ke sana. Berjumpa kembali dengan mereka tanpa harus merasa takut karena berbeda. Semua yang terjadi di lorong sewaktu itu telah menjadi memori akan indahnya kebersamaan. Menjadi sebuah doa penuh harapan untuk dapat mengalaminya lagi dalam kehidupan hari ini.



Baca Juga tulisan-tulisan inspiratif di bawah ini:

Inilah 3 Kekayaan yang Membuat Saya Semakin Mencintai Indonesia. Saya Menemukannya Justru ketika Studi di Luar Negeri

Setelah 71 Tahun Indonesia Merdeka, 4 Hal Ini Ternyata Masih Menjajah Indonesia. Ayo, Lanjutkan Perjuangan Kita!

Ada yang Jauh Lebih Penting Ketimbang Vonis 2 Tahun untuk Ahok: Ini!

Menjalin Persahabatan Beda Agama dan Suku, Inilah 5 Keuntungannya

Waspada! Media yang Jahat Merusak 3 Nilai Kehidupan Penting Ini. Selamatkan Indonesia dengan Berbagi Kebaikan dan Kebenaran!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sepiring Soto dan Sebungkus Nasi Rasa Toleransi. Kisah Tentang Persatuan di Tengah Perbedaan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Margie Yang | @margieyang

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar