Hidup ini Seperti Jam Dinding, Sewaktu-waktu Bisa Berhenti. Siapkah Diri Kita?

Reflections & Inspirations

ako.picdn

574
Setiap kali kita merayakan ulang tahun itu artinya usia kita bertambah satu, namun di sisi lain berkurang setahun juga jam kehidupan kita mendekati saat berhentinya.

Pagi itu untuk kesekian kalinya kami meninggalkan rumah pukul 7.25 pagi; dua puluh lima menit terlambat dari target harian kami yang biasanya. Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa keterlambatan ini terjadi karena terjadi kesalahan pada jam dinding di kamar tidur kami. Sudah beberapa minggu ini jam dinding tersebut mati. Awalnya kami kira baterainya yang perlu diganti. Namun meski baterai telah diganti dan dapat berfungsi kembali, setelah beberapa jam akhirnya jam tersebut mati lagi. Suami saya menyimpulkan bahwa sepertinya mesin jam tersebut rusak dan harus diperbaiki.

Hingga saat ini, kami belum mengambil keputusan untuk membeli jam baru atau memerbaiki jam tersebut karena secara fisik jam tersebut masih sangat baik. Selain itu, umur jam tersebut sama dengan usia pernikahan kami, jadi ada nilai sentimentil pada jam tersebut.

ak5.picdn

Baca juga: Kembali Melakukan Bulan Madu Setelah 7 Tahun Pernikahan, Kami Bertambah Mesra dan Mendapatkan 4 Pelajaran Berharga Ini

Semestinya kematian jam dinding tersebut tidak boleh menyebabkan kami terlambat karena di pagi hari. Biasanya alarm ponsel suami saya berbunyi dan tugas suami adalah membangunkan anak-anak untuk bersiap-siap sekolah. Namun tentu saja, bangun tidur di pagi hari terkadang masih menjadi pergumulan yang berat, apalagi dengan cuaca yang mendung akhir-akhir ini. Seringkali suami saya memilih untuk men-’snooze’ sang alarm dan mencoba menawar untuk bisa tidur beberapa menit lagi agar bisa merampungkan bagian terakhir dari episode mimpinya.

Lalu dia akan melihat pada jam dinding dan bergegas ke kamar sebelah untuk menunaikan tugasnya membangunkan anak-anak. Karena jam itu sudah tidak lagi terpampang di dinding karena diturunkan, maka akhirnya beberapa minggu ini suami pun kebablasan tidurnya.

Ketika saya memikirkan jam dinding tersebut, tiba-tiba saja sebuah lagu lama terngiang-ngiang dalam hati:

"Jam kehidupan diputar sekali,

dan tak seorang pun tau kapan kan berhenti.

Mungkin hari ini, mungkin esok, mungkin nanti,

cepat atau lambat, tak seorang pun tau bila waktunya…"


Dalam perjalanan mengantar anak-anak ke sekolah pun, saya sering memikirkan tentang jam kehidupan tadi. Ini adalah sebuah topik berat yang saya pikirkan dan sangat mengganggu pikiran saya selama beberapa hari. Akhirnya saya pun memutuskan untuk menuliskannya di sini.

Setiap kita memiliki jam kehidupan yang hanya diputar sekali dan tidak dapat diulang kembali. Suatu hari nanti jam kehidupan kita akan berhenti.

Jam kehidupan itu adalah panjang usia kita. Setiap kali kita merayakan ulang tahun itu artinya usia kita bertambah satu, namun di sisi lain berkurang setahun juga jam kehidupan kita mendekati saat berhentinya.

imagesvc.timeincapp

Panjang jam kehidupan adalah sebuah misteri. Tidak ada yang tau berapa tahun kita diberi kesempatan hidup di dalam dunia ini. Namun, yang penting adalah bagaimana kita menjalani hidup ini agar kesempatan yang kita dapat ini menjadi berarti.

Ada beberapa hal yang sudah sering saya dengar dan saya baca agar kita memiliki kehidupan yang berkualitas sehingga tidak ada sesal di kemudian hari.


1. Urutkanlah aspek-aspek yang penting dalam kehidupan kita - Priorities.

Misalnya: (1) Keluarga, (2) Kesehatan, (3) Persahabatan, (4) Karir dan seterusnya. Dengan demikian, kita dapat membuat suatu perencanaan dengan sumber daya yang kita miliki untuk dapat memberikan yang terbaik sesuai dengan prioritas kita.


2. Buatlah daftar hal-hal yang ingin kita lakukan beserta target waktu yang jelas – Goals.

Misalnya, saya ingin memiliki bisnis sendiri di usia 25 tahun atau saya ingin memanjat gunung sebelum usia 45 tahun. Karena menurut survei, ternyata yang banyak disesali bukan sesuatu yang sudah dilakukan, namun justru hal-hal yang belum dilakukan.


3. Temukan atau gali bakat /talenta kita dan kembangkan agar bermanfaat untuk diri kita dan sesama - Self Development.

Melakukan sesuatu yang kita nikmati akan memberikan rasa puas dan bahagia.

Baca juga: Bernyanyi: Cara Saya Merengkuh dan Menata Pelbagai Emosi


4. Evaluasi tahun-tahun yang telah kita lewati dan bagaimana kita dapat melakukan segala sesuatunya dengan lebih baik di kemudian hari - Evaluate & Improvement.

Ini juga berarti bahwa kegagalan di masa lalu bukanlah hal yang harus disesali secara berlebihan, namun jadikan sebagai tolok ukur untuk melompat lebih jauh.

businesscertificationspecialist

5. Pikirkanlah sebuah ‘legacy’ yang ingin kita wariskan pada keluarga dan komunitas dimana kita berada - Positive Values.

Legacy yang dimaksud di sini bukan dalam bentuk harta, namun suatu nilai-nilai berharga yang dapat memberikan dampak yang positif.

Jika ada sebuah kitab yang mengatakan bahwa usia manusia 70 tahun, di manakah saat ini kita berada?

Satu hal yang harus kita ingat, jam kehidupan setiap manusia memiliki rentang yang berbeda. Suatu hari nanti ketika jam itu berhenti berdetak dan tiba saatnya kita menghadap Sang Pencipta untuk mempertanggung jawabkan kehidupan yang telah kita terima sudahkah siap kita?


Ingin membaca artikel-artikel lainnya? Klik di sini:

Gunung Agung Meletus, Bandara Ditutup, Perjalanan Batal. 3 Pelajaran Tatkala Hidup Tak Seperti Harapan
Bernyanyi: Cara Saya Merengkuh dan Menata Pelbagai Emosi



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hidup ini Seperti Jam Dinding, Sewaktu-waktu Bisa Berhenti. Siapkah Diri Kita?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Peila Silvie | @peilasilvie

A wife to a humble man and a mom to 2 amazing boys who loves to write, read, cook, bake and sing.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar