Selama Studi di Swedia, Inilah 4 Hal Sederhana yang Membuat Saya Makin Mencintai Indonesia

Reflections & Inspirations

photo credit: news.merahputih.com

2.1K
Ada hal-hal yang nampak sederhana ketika saya tinggal di Indonesia. Kini, ketika saya harus mengenyam pendidikan di Swedia, hal-hal yang sederhana itu tak lagi dapat saya rasakan. Justru ketika jauh dari Indonesia, saya merindukan hal-hal sederhana itu.

Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, negara lain lebih terlihat lebih indah dari Indonesia. Betulkah?

Barangkali, tak sedikit yang mempunyai mimpi seperti saya, pergi keluar negeri dengan alasan-alasan yang sederhana, melihat salju misalnya. Akhirnya saya mendapat kesempatan sekolah di Negara Skandinavia, di Stockholm, Swedia. Negeri Narnia yang saljunya super tebal. Walau hanya tinggal selama satu tahun di Stockholm, namun saya menyadari cinta saya pada Indonesia justru dari berasal dari hal-hal sederhana.

Tiga pelajaran yang saya dapat selama menjadi perantau, semoga anda juga menyadarinya tanpa perlu menjadi anak rantau terlebih dulu seperti saya.

Baca juga: Setelah 71 Tahun Indonesia Merdeka, 4 Hal Ini Ternyata Masih Menjajah Indonesia. Ayo, Lanjutkan Perjuangan Kita!


1. Cuaca Hangat Khas Negara Tropis

photo credit: goood.com.ua

Saya tiba di Stockholm akhir bulan Oktober, penghujung musim gugur menjelang musim dingin. Suhu udara mencapai 7-11 derajat Celcius. Saat ada matahari bersinar, saya keluar rumah dengan penuh harap dapat merasakan hangatnya sinar matahari. Ternyata justru cuaca dingin yang menerpa. Hangatnya matahari sama sekali tidak saya dapatkan.

Di Stockholm, musim dingin berlangsung cukup lama, dari November hingga April. Kadang bahkan pada bulan Mei masih ada hujan salju walau sesekali. Cuaca dingin mencapai -23 derajat celcius dan berangin. Matahari hanya bersinar sekitar 6 – 7 jam, terbit pada pukul 08.30 dan terbenam pada pukul 15.30. Banyak orang yang terkena winter blues hingga membutuhkan terapi vitamin D dan tablet Kalsium karena kurangnya sinar matahari. Sekedar membuang sampah di depan rumah pun perlu memakai jaket dan kaus kaki tebal lengkap dengan sepatunya. Sementara di Indonesia dengan cuaca tropisnya, cukup kaos, celana pendek dan sendal jepit saja.

Saat orang Swedia menanyakan pendapat saya mengenai musim dingin di negaranya, tentu saya jawab menyengkan karena bisa bermain salju walau hawa dingin bagai menampar pipi hingga terasa perih. Sebaliknya ketika saya menanyakan pendapat mereka mengenai suhu Indonesia yang berkisar antara 24-35 Celcius, tanpa saya duga mereka justru ingin menghabiskan masa pensiun di negara tropis seperti Indonesia, dengan kehangatan sinar matahari hingga 12 jam. Teringat betapa seringnya saya mengeluhkan cuaca panas Jakarta yang tak jarang membuat pusing dan was-was menjadikan kulit hitam. Di sini saya justru menyadari kerinduan hangatnya sinar matahari Indonesia, menembus hingga ke dalam hati.

Baca Juga: Inilah 3 Kekayaan yang Membuat Saya Semakin Mencintai Indonesia. Saya Menemukannya Justru ketika Studi di Luar Negeri.


2. Ragam Makanan yang Paling Juara

photo credits: photos1.blogger.com

Semua tentu setuju, makanan Indonesia sangat beragam mulai dari rasa hingga variasi bumbu. Jika bertanya pada masyarakat Indonesia yang hendak ke luar negeri, makanan apa yang mereka bawa, paling sering jawabannya berkisar antara mie instan, kecap, sambal terasi dan bumbu masak.

Masa-masa awal di Stockholm, saya sempat stres menghadapi mahalnya sayuran, cabai, dan segala jenis bumbu dapur. Bahkan untuk sekedar membuat ayam penyet sambal balado saja saya perlu berpikir berkali-kali mengingat dompet mahasiswa saya hanya cukup untuk membeli cabai. Sehingga setiap ada acara di rumah teman yang berasal dari Indonesia dan menghidangkan masakan khas seperti tempe goreng dan terong cabai hijau, saya sudah seperti menemukan surga. Beruntung, KBRI di Stockholm cukup sering mengadakan pertemuan dengan mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang tinggal di sana. Kerinduan akan makanan khas Indonesia mulai dari rendang hingga kolak pisang dan wedang ronde bisa segera terobati.

Salah satu topik yang palling menyenangkan bagi teman-teman yang sedang studi ataupun yang sudah lama tinggal di Swedia adalah tentang hidangan di Indonesia, mulai dari gorengan, soto, ayam penyet, iga bakar madu, ikan bakar, ikan asin, sambal, tempe tahu, mie ayam dan bakso, nasi goreng di depan rumah, es jeruk, es campur, bahkan hingga es teh manis.

Tidak sedikit pula orang Swedia yang menyukai masakan Indonesia, seperti nasi goreng, rendang atau satai. Seandainya mereka tahu bahwa di Indonesia, mudah sekali menikmati makanan-makanan lezat itu.

Saya mendadak rindu berteriak, “Bang, baso satu mangkok, sama es teh manis ya!”


3. Ramahnya Masyarakat Indonesia

photo credit: koleksi pribadi

Di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, orang-orang mulai bersikap lebih individual, sibuk dengan smartphone dan earphone terpasang di telinga. Sama halnya di Stockholm, sebagian besar orang menggunakan earphone dan sibuk dengan smartphone mereka, mulai dari remaja hingga para dewasa.

Di Swedia, warganya sangat menjunjung privacy satu sama lain. Waktu berkunjung harus mematuhi janji yang telah disepakati, sekalipun pada orang tua maupun anak sendiri. Sementara di Indonesia, kehabisan garam atau gula kala memasak bisa jadi alasan mendatangi rumah tetangga dan berbagi hidangan setelahnya. Tiap memiliki waktu luang, bisa segera mengundang teman atau mengunjungi keluarga.

Hal yang menarik, suatu hari teman saya datang berkunjung ke Stockholm, dia bingung kenapa di sini orang tidak saling menyapa Hari kedua dia mulai menyapa orang di halte bus, hanya mengucapkan dalam Bahasa Inggris “Halo selamat pagi, apa kabar?”, sepanjang hari kita berjalan keliling kota, dia rajin menyapa “Hej hej” yang berarti “Hai”. Hasilnya, banyak orang yang berespon dengan wajah bingung dan mengerutkan dahi, namun ada juga yang balik menyapa, tersenyum, hingga berbagi coklat dengan kami dan terlibat dalam percakapan.

Tadinya saya berpikir ada baiknya juga menyesuaikan diri dengan budaya yang ada, dengan tidak menyapa orang, dan menyibukan diri dengan musik, smartphone, atau buku. Namun teman saya justru mengingatkan “mengapa tidak kamu bawa budaya Indonesia yang baik ke sini? Saling menyapa dan ramah dengan orang lain?” . Saya pikir benar juga, mengapa tidak berbagi keramahan yang telah membudaya di Indonesia dan bukannya justru ikut menjadi tak acuh dan melupakan budaya sendiri.


4. Indahnya Alam Indonesia

photo credit: akadusyifa.wordpress.com

Apa yang biasanya turis Indonesia lakukan di luar negeri selain belanja? Sebagian besar pasti tidak melewatkan foto di iconic places seperti menara Eiffel, Colloseum di Roma atau Kincir Angin di Belanda. Memang benar banyak sekali bangunan bersejarah dan artistik di Eropa, semuanya adalah buatan tangan manusia yang penuh presisi dan seni yang mengaggumkan hingga ratusan tahun.

Di sisi lain keindahan alam Indonesia tidak bisa disangkal oleh siapapun. Berbagai puncak gunung yang menantang ditaklukan, mulai dari Bromo hingga Puncak Jaya di Papua, jernihnya air di pantai yang memamerkan berbagai biota laut, mulai dari pantai di Lombok hingga Raja Ampat. Semuanya adalah lukisan Sang Maestro yang tak ada tandingannya. Tercipta dengan penuh cinta untuk umat manusia. Alam untuk kita nikmati dan pelihara.

Sebentar lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan, selain mengenang jasa para pahlawan yang berjasa untuk kemerdekaan Indonesia, mari kita belajar untuk mengamati dan menghargai Indonesia mulai dari hal yang sederhana, seperti saling menyapa dan memberi senyuman, menikmati sinar matahari, makan bakwan goreng plus cabe rawit dengan sukacita, atau apa lagi hal yang anda cintai dari Indonesia?

Ah Indonesia, haruskah saya pergi jauh darimu untuk saya menyadari bahwa saya mencintaimu?


Baca juga:

Menghayati Perjuangan R.A. Kartini: Emansipasi Wanita Bukanlah Tentang Hal ini.

Punya Impin Studi Lanjut ke Luar Negeri? Jawab Dulu 5 Pertanyaan Ini Sebelum Kamu Mengejar dan Mewujudkan Mimpimu

Waspadalah, 7 Mitos ini Bisa Membuyarkan Impianmu Studi Lanjut di Amerika Serikat


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Selama Studi di Swedia, Inilah 4 Hal Sederhana yang Membuat Saya Makin Mencintai Indonesia". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Siska Natalia | @natalies

Work as a nurse and clinical educator. Live by His grace alone.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar