Selain Hasil Ujian, 10 Hal Ini Membuat Dosen Bermurah Hati Memberi Nilai Tinggi

Work & Study

[Photo credit: Faculty Focus]

3.5K
Mahasiswa yang biasa-biasa saja juga bisa mendapat outcome yang bagus. Asal ada usaha ekstra.

Sebagai dosen yang mengampu mata kuliah ‘Personality Development’, saya sering menemukan mahasiswa yang sebenarnya biasa-biasa saja dari segi intelektual, namun berhasil mendapatkan nilai yang baik. Artinya, mahasiswa yang menurut pandangan umum mediocre alias biasa-biasa saja bisa mendapat outcome yang bagus, asal ada usaha ekstra.


Apa saja sih yang membuat dosen senang memberi nilai tinggi selain ujian?


Secara sederhana, saya bertanya kepada rekan-rekan dosen, baik yang sekampus maupun tidak, baik yang bergelar S-2, S-3 sampai profesor, bahkan kepada orang nomor satu di kampus yang masih sempat mengajar, apa yang membuat mereka memberi nilai tinggi kepada mahasiswa selain ujian akhir. Ternyata 10 hal inilah yang membuat dosen senang memberi nilai tinggi selain ujian:



1. Antusias

“Mahasiswa yang serius dan antusias mengikuti kuliah,” ujar seorang profesional yang merangkap jadi dosen pada malam harinya.

[Photo credit: homeword]

Antusiasme menular. Kelas jadi lebih hidup. Saya lebih mengingat wajah dan nama mahasiswa yang antusias di kelas ketimbang yang pasif dan duduk diam.



2. Aktif dan atentif

Bukan sekadar aktif bertanya, melainkan juga kritis terhadap proses belajar-mengajar. Sebagai dosen, saya bisa melihat apakah mahasiswa mendengarkan penjelasan saya atau tidak. Jika ada yang pasif, saya pancing dengan pertanyaan atau saya suruh maju ke depan untuk menjelaskan apa yang baru saya ajarkan. Cara ini biasanya efektif untuk membuat mereka tangggap.

Keaktifan ditunjukkan dengan rajin bertanya. Sebagai dosen yang sudah belasan tahun mengajar, saya mengamati ada tiga tipe mahasiswa yang bertanya. Pertama, kuriositi atau benar-benar ingin tahu. Kedua, klarifikasi atau minta peneguhan. Ketiga, menguji atau ngetes dosennya. Yang pertama dan kedualah yang disenangi dosen, sedangkan yang ketiga membuat dosen jengkel!

“Selain keaktifan di kelas, pada saat teman-temannya sedang memberikan presentasi, mahasiswa yang aktif bertanya saya berikan poin tambahan,” ujar dosen swasta.

“Bisa memberi evaluasi untuk kita,” pendapat seorang dosen asal Nias.

Baca Juga: Dari 3 Kategori Mahasiswa: Kupu-Kupu, Kunang-Kunang, dan Kura-Kura, Kamu Termasuk yang Mana?



3. Responsif

Dosen senang dengan mahasiswa yang berani menanggapi apa yang dijelaskan kepada mahasiswa, meskipun pendapatnya berbeda. ‘Penciuman’ dosen yang tajam bisa membedakan apakah mahasiswa ini sekadar sok agar dianggap pandai oleh teman-temannya atau memang punya ‘isi’ di kepalanya.

[Photo credit: Huffington Post]

“Respons dan pola yang cermat melihat suatu permasalahan atau saat menjawab pertanyaan tanpa ragu. Bagi saya tidak apa-apa kalau mereka salah dalam menjawab. Keberanian untuk menjawab menandakan kekritisan dalam berpikir,” ujar seorang dosen hukum.

Smart dan nyambung saat diajak diskusi,” jawab seorang ibu dosen.



4. Memiliki keinginan belajar yang tinggi

Saat mengambil S-3 dulu, saya dibuat kagum dengan seorang dokter yang usianya sudah di atas 70 tahun. Dia menjadi mahasiswa tertua di kelas saya. Dosen senang dengan mahasiswa yang punya semangat belajar yang tinggi seperti ini.

Ada cukup banyak mahasiswa saya yang pulang kerja langsung ke kampus sampai malam. Perjuangan mereka untuk menambah ilmu memang layak diapresiasi.

“Terus terang saya malu dengan diri sendiri saat melihat ada mahasiswa yang senior usianya tetapi mau terus belajar,” ujar seorang dosen ekonomi.



5. Sikap yang baik

Sopan merupakan sikap yang disenangi dosen. Mahasiswa yang sopan baik di kelas maupun di luar kelas mendapat tempat tersendiri di hati dosen.

“Memiliki attitude yang baik,” ujar seorang doktor di bidang pendidikan.

Attitude, termasuk kedisiplinan seperti absensi, tepat waktu masuk kelas dan mengumpulkan tugas merupakan kriteria penilaian saya,” ujar seorang dosen kuliner.

[Photo credit: Odyssey Online]

Sebaliknya, mahasiswa yang cuek, acuh tak acuh, bahkan mengantuk di kelas membuat suasana belajar mengajar menjadi suram. Mengantuk boleh, tetapi kalau sampai ketiduran, ya gawat.

Baca Juga: Hard Skill vs Soft Skill: Mana yang Lebih Berguna ketika Melamar Pekerjaan Pertama Kali?



6. Karakter yang baik

Jujur. “Nggak nyontek waktu ujian dan copy paste saat mengerjakan tugas,” ujar seorang direktur pascasarjana. “Bagi saya, mahasiswa yang tidak jujur tidak ada ampun,” tambah ibu ini.



7. Optimis

“Punya visi masa depan,” ujar pimpinan sebuah sekolah tinggi.

Mahasiswa yang optimis sudah menang di awal.

Karena optimis, maka dia memandang tugas belajar sebagai sarana untuk maju menggapai masa depan yang gilang gemilang.

Baca Juga: Lepaskan Diri dari Zona Medioker, Ingat Selalu 2 Hal Ini dan Raihlah Suksesmu!



8. Helpful

Rekan-rekan dosen pasti pernah melihat ada mahasiswa yang rajin sekali membantu dosennya. Bukan sebagai asisten, melainkan mengambilkan absensi, spidol, dan pernik-pernik kecil yang mungkin tidak ada di ruangan padahal dibutuhkan.

Sifat ringan tangan yang tulus tanpa pretensi apalagi tendensi membuat dosen teringat dengan mahasiswa semacam ini.

“Saya senang dengan mahasiswa yang begitu selesai belajar tidak langsung pulang, tetapi membantu mengecek apakah lampu, AC dan LCD projector sudah mati,” ujar seorang dosen HRD.



9. Bisa bekerja dalam tim

“Motivasi, ketekunan dan teamwork biasanya saya masukkan sebagai nilai partisipasi,” ujar sahabat lama saya seorang guru besar.

[Photo credit: Huffington Post]

Di kelas yang saya ajar, saya sering meminta mahasiswa untuk diskusi dan presentasi per kelompok. Saya lihat bagaimana kekompakan mereka dalam menjalankan tugas. Di samping nilai bersama, saya memberi nilai masing-masing mahasiswa yang terlibat dalam grup itu.



10. Tekun

[Photo credit: shutterstock]

“Mahasiswa yang tekun,” ujar sahabat saya, seorang profesor sosiologi. Saya sangat setuju.

Ada banyak mahasiwa yang tidak terlalu pandai, namun tekun, justru berhasil menyelesaikan kuliah ketimbang mahasiswa cerdas yang malas.

Sedih rasanya jika ada mahasiswa saya yang tidak mau menyelesaikan kuliah karena belum menyelesaikan skripsi maupun tesisnya. Saya begitu gembira melihat mahasiswa saya yang begitu rajin mengunjungi perpustakaan untuk mengerjakan tugasnya.

Baca Juga: Terlambat Lulus Kuliah Bukan Akhir Dunia! Sebagai Mahasiswa, Kamu Masih Punya 7 Keuntungan Ini


Saya percaya, 10 hal di atas bukan hanya berlaku bagi mahasiswa tetapi juga murid pada umumnya. Guru-guru yang saya tanyai pun mempunyai kriteria yang nyaris sama dengan 10 hal di atas.

So, guys, jadilah pribadi yang menyenangkan bagi guru atau dosen kalian.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Selain Hasil Ujian, 10 Hal Ini Membuat Dosen Bermurah Hati Memberi Nilai Tinggi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar