Seks Pranikah: Selain Keperawanan dan Keperjakaan, Tiga Hal Penting Ini Ikut Lenyap

Singleness & Dating

[Image: wdy.h-cdn.co]

74K
"Zaman sudah berubah. Yang aneh itu justru yang masih perawan dan perjaka di pernikahan,” tutur seorang rekan. Ya, zaman sudah berubah, namun seks pranikah bukan tanpa dampak yang nyata. Bukan sekadar soal kehamilan yang dapat dengan mudah dihindari, atau bila sudah terlanjur terjadi, dihabisi dengan pelbagai cara.

“Saya tak perawan lagi. Itu saja bedanya,” tegas gadis itu di ruang konseling saya. Raut wajahnya nampak tenang, tak mencerminkan penyesalan sedikit pun atas seks pranikah yang dilakukan bersama pacarnya beberapa bulan yang lalu.

“Hanya itu saja bedanya? Lalu mengapa kamu menemui saya di ruang konseling ini?” tanyaku pagi itu.

Perempuan itu tiba-tiba menangis. Sambil terisak-isak ia menjawab, ”Tapi, pria itu mengkhianati saya. Ia tidur juga dengan perempuan lain. Lalu, siapa yang bisa menerima saya dalam kondisi seperti ini?”

Ah, kisah yang selalu terulang! Klasik, tapi tetap menyakitkan bagi yang mengalaminya.

Seks pranikah makin lama makin terasa akrab di tengah masyarakat. Angka statistik meningkatnya perilaku ini pun bisa dengan mudah kita dapatkan melalui internet. Dulu terasa sebagai sebuah aib besar, kini dianggap sebagai bumbu pacaran. Seringkali para pelakunya bahkan bukan sekadar melakukan seks pranikah, namun entah mengapa juga merekamnya. Rekaman untuk kenangan, yang bisa berubah menjadi alat pemaksaan kehendak salah satu pihak.

Hamil? Ah, resiko kehamilan akibat seks pranikah dapat dihindari dengan pelbagai cara. Ada aplikasi di gadget yang dapat memberikan informasi kapan masa subur seorang wanita berlangsung. Alat kontrasepsi dijual bebas seperti permen di toko swalayan terdekat. Terlanjur hamil? Ada pelbagai cara untuk menggugurkan kandungan. Informasi-informasi ini beredar bebas di internet, bahkan iklan jasa pengguguran kandungan tertempel di lampu pengatur lalu lintas.

“Zaman sudah berubah. Yang aneh itu justru yang masih perawan dan perjaka di pernikahan,” tutur seorang rekan. Ya, zaman sudah berubah, namun seks pranikah bukan tanpa dampak yang nyata. Bukan sekadar soal kehamilan yang dapat dengan mudah dihindari, atau bila sudah terlanjur terjadi, dihabisi dengan pelbagai cara. Bukan hanya soal selaput dara atau keperjakaan yang susah dibuktikan.

[Image: deliveredbygrace.com]

Dari banyak percakapan tentang seks pranikah di ruang konseling, saya menyimpulkan ada tiga hal yang penting yang hilang selain soal keperawanan dan keperjakaan:

1. Kemurnian Tujuan Berpacaran

Pacaran adalah masa untuk mengenal lebih dalam untuk menguji kecocokan. Setidaknya ada beberapa wilayah pengenalan yang penting: cara berpikir, perasaan, pandangan tentang kehidupan, dan pergaulan. Pengenalan ini datang dari interaksi setiap hari. Lewat percakapan dan akvitas bersama dalam konteks hidup sehari-hari. Semakin dalam kita mengenal seseorang dalam pelbagai aspek ini, semakin kita bisa menilai kecocokan yang ada. Cocok tak berarti sama, tetapi mampu jalan bersama. Alias kita bisa menerima cara berpikir, perasaan, pandangan hidup dan pergaulannya yang berbeda dengan kita. Kita malah merasa perbedaan yang ada memperlengkapi hidup.

Proses mengenal lebih dalam untuk menguji kecocokan ini akan terganggu dengan kehadiran seks pranikah. Seks, yang memang memberikan kenikmatan, akan mewarnai relasi dengan kenikmatan. Kenikmatan sanggup membutakan mata terhadap realitas perbedaan yang ada. Hawa nafsu terus menuntut kepuasan. Kepuasan membuat kita mengesampingkan segala perbedaan yang ada. Konflik yang mengungkap perbedaan tak lagi dipercakapkan sebagai sarana saling mengenal. Konflik diselesaikan dengan seks yang memberikan kenikmatan. Padahal dalam perjalanan pernikahan nanti, seks bukanlah aktivitas yang sanggup meredam konflik yang terjadi. Dalam pernikahan, apabila konflik terjadi jangankan melakukan hubungan seks, tatap muka pun dihindari.

Pacaran yang semestinya menjadi masa saling mengenal berubah menjadi saling menikmati. Tak ada yang tersakiti? Belum, bukannya tidak ada!

Yang pasti kesempatan untuk mengenal pola pikir, perasaan dan perilaku hidup tak lagi dimanfaatkan dengan efektif. Ya, seks pranikah telah mencemari kemurnian tujuan berpacaran. Bahkan ada orang-orang tertentu yang menggunakan pacaran untuk mendapatkan seks gratis dan aman. Menaklukkan satu per satu perawan menjadi kebanggaan, yang bahkan percakapan dan rekamannya dishare di grup-grup tertentu via internet.


[Image: purityorpremaritalsex.files.wordpress.com]

2. Kepercayaan pada Pengendalian Diri

“Kami toh melakukannya suka sama suka. Tak ada paksaan. Tak ada yang dirugikan. Yang ada kenikmatan,” tutur pria itu di ruang konseling saya. Ada senyum di wajahnya. Barangkali di ruang ingatannya peristiwa seks pranikah itu hadir kembali laksana sebuah film.

“Apa yang menyebabkanmu hadir di ruang konseling saya pagi ini?” tanya saya

“Begini, Pak. Belakangan saya berpikir: kalau pacar saya itu mau saya ajak tidur bersama, nanti kalau sudah jadi istri, apakah ia bisa setia?” tuturnya lebih lanjut.

Dasar pria! Ia mendapatkan apa yang ia mau dengan sejuta rayuan dan mungkin paksaan. Eh, begitu dapat, langsung merendahkan perempuan yang memberikan apa yang menjadi kemauannya.

Bukan hanya egoisme seorang pria yang menyebabkan keraguan atas kesetiaan pasangannya. Pria itu sendiri pun bisa belajar dari pengalaman menaklukkan seorang perempuan dan menggunakannya untuk menaklukkan perempuan lain. Makin berpengalaman, makin ahli, makin kehilangan kendali. Ujung-ujungnya makin kehilangan pengendalian diri. Bukan hanya kepercayaan pada pengendalian diri pacar yang berkurang, tetapi juga kepercayaan pada pengendalian dirinya sendiri.

"Apakah saya nanti bisa menjadi suami yang setia pada satu istri dengan pengalaman tidur dengan banyak perempuan?"


3. Rasa Hormat kepada Pacar

Kita menyukai pacar yang memberikan apa yang kita mau: seks. Namun, jauh di dalam hati, kita menghormati pacar yang berani mengatakan "tidak" pada seks pranikah! Pernikahan tak hanya membutuhkan rasa suka saja, tetapi salah satu fondasinya adalah rasa hormat. Pacaran adalah masa di mana kita belajar untuk menghormati pasangan kita, termasuk menghormati pilihan sikap atas tubuhnya sendiri. Menghormati pilihannya dengan tidak memaksakan kehendak kita atas dirinya. Tanpa rasa hormat tak ada relasi yang bertahan.

Apabila seks pranikah telah terjadi, apakah rasa hormat itu bertambah pada pacar? Apakah rasa hormat akan timbul di hati setelah kita mendengarkan bahwa pacar telah terbiasa melakukan seks pranikah sebelumnya? Apa kata yang kemudian muncul di dalam benak seorang pria dalam situasi seperti ini? Perempuan terhormat atau murahan? Begitu pula, apa yang muncul dalam benak seorang perempuan ketika mendengar bahwa pacarnya telah terbiasa melakukan seks pranikah? Pria terhormat atau pria yang tak mampu mengendalikan diri? Apakah pria semacam ini layak menjadi ayah dari anak-anak kelak?

Kita tentu dapat memaafkan tindakan pacar di masa lalu. Tak ada yang sempurna, bukan? Namun, kejujuran dalam diri tentang respek kita pada pasangan tak boleh dibungkam!

Relasi dibangun bukan berdasarkan rasa suka melakukan seks bersama. Relasi dibangun atas dasar respek atau rasa hormat pada pengendalian diri pasangan.
[Image: s3.amazonaws.com]

Seks pranikah? Pertimbangkan ulang! Sesal kemudian tak ada gunanya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Seks Pranikah: Selain Keperawanan dan Keperjakaan, Tiga Hal Penting Ini Ikut Lenyap". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @wahyupramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar