Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya

Parenting

5.8K
Pernah mengalami menjadi anak saja tidaklah cukup untuk menjadikan kita orangtua yang baik bagi anak-anak kita. Sayangnya, tidak sedikit orangtua yang jatuh pada lubang kesalahan ini.

Sebagai seorang ayah, saya selalu mencoba mencari cara untuk meningkatkan pengetahuan saya tentang bagaimana caranya menjadi ayah yang baik dan bagaimana membangun relasi yang sehat dan kuat dengan anak. Saya menyadari, bila hal ini tidak saya lakukan dengan sengaja, saya akan tergoda untuk percaya kepada mitos seputar parenting yang secara tidak sadar berpengaruh besar pada cara dan gaya saya dalam membesarkan anak. Inilah mitos yang banyak beredar di kalangan para orangtua:

Pernah menjadi anak menjadikanmu ahli dalam membesarkan anak.

Anda mungkin tertawa ketika membaca mitos diatas. Bahkan Anda mungkin akan berkata, hanya orang gila yang percaya dengan kalimat tersebut. Mana ada orangtua yang berakal sehat beranggapan bahwa orang yang pernah menjadi anak, yang berarti setiap orang, ahli dalam membesarkan anak?

Saya yakin bila kalimat tersebut dinyatakan, hampir semua orang yang mendengarnya akan membantahnya. Akan tetapi, konfirmasi terhadap apa yang diyakini oleh seseorang bisa didapat dengan berbagai cara dan bukan hanya lewat perkataan semata.

Sebagai contoh, ketika anak saya sedang asyik bermain dengan teman-temannya, saya datang dan menawarkan untuk makan dan tidur siang. Anak saya menolak tawaran saya tersebut dan berkata “saya tidak lapar,” atau “saya tidak ngantuk.” Benarkah demikian? Ternyata tidak. Begitu kami menegaskan bahwa waktu main sudah selesai dan tidak bisa dinego lagi, ia makan dengan lahap dan setelah itu tidur dengan sangat lelap. Dalam kisah ini, kita bisa mendapat konfirmasi tentang kondisi tubuhnya lewat cara ia makan dan tidur.

Demikian juga halnya dalam peran sebagai orangtua. Benarkah tak ada orang yang percaya dengan mitos ‘Pernah menjadi anak menjadikanmu ahli dalam membesarkan anak’? Mari coba analisa lingkungan sekitar kita. Berapa banyak orangtua yang tidak pernah membaca buku atau berdiskusi tentang bagaimana caranya mendidik dan membesarkan anak? Berapa banyak orangtua yang menggunakan pengalaman bagaimana mereka dibesarkan sebagai acuan dalam membesarkan anak-anak mereka? Dan berapa banyak orangtua yang mengambil sikap bertahan dan membela diri ketika diberikan masukan tentang cara lain dalam menghadapi sebuah situasi dengan anak mereka?

Pernah mengalami menjadi anak saja tidaklah cukup untuk menjadikan kita orangtua yang baik bagi anak-anak kita. Bahkan seandainya sebagai anak kita memiliki orangtua terbaik dengan ajaran yang paling baikpun tidak dengan serta merta menjadikan kita orangtua yang baik. Cara berpikir demikian kurang lebih sama dengan pernyataan, karena saya pernah dioperasi tangan oleh salah satu dokter tulang terbaik di Singapore maka sayapun bisa melakukan bedah tangan untuk orang lain. Argumen tersebut bukan hanya salah, namun juga amat berbahaya. Sayangnya, tidak sedikit orangtua yang jatuh pada lubang kesalahan ini.

Jadi, bagaimana caranya kita menjaga diri dari mitos ini? Saat ini, saya membagikan tiga hal yang saya gunakan untuk menjaga diri saya dari rasa puas diri dan usaha untuk menjadi orangtua yang terus lebih baik dari hari kemarin. Tiga hal ini berhubungan satu dengan yang lain, dan inilah ketiga hal itu:

1. Sadar Diri

Orang bijak berkata, ketika kita sadar bahwa kita tidak tahu, maka kita sudah mengalami banyak kemajuan. Hal itu bukan saja terjadi di dunia akademik atau dunia bisnis, tetapi juga di dunia parenting. Ketika kita sadar bahwa apa yang kita ketahui tidaklah cukup bila kita ingin menjadi orangtua yang baik, kita tidak akan ngotot atau bersikeras untuk membesarkan anak kita dengan apa yang kita ketahui.

[download-free-wallpaper.com]

2. Buka Hati

Ketika seseorang sadar bahwa ia tidak mampu, ia akan melunakkan hatinya. Ketika ia tahu bahwa masih ada yang tidak ia ketahui, ia tidak akan marah atau tersinggung ketika orang lain memberikan masukan kepadanya. Ia akan meresponi berbagai masukan dengan hati terbuka. Kritikan yang masuk pun akan dipandang sebagai batu loncatan untuk menjadi orangtua yang lebih baik. Ia memiliki kebesaran hati dan akan memilih untuk menerima pandangan dari orang lain sebagai masukan dan bukan sebagai serangan atas kekurangannya sebagai orangtua.


[www.bhmpics.com]

3. Buka Mata

Kesadaran bahwa ada hal yang tidak ia ketahui disertai dengan kerelaan untuk merendahkan diri dengan membuka hati akan membuat ayah dan ibu menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Mereka bukan saja mencari cara untuk menambah ilmu lewat membaca, konsultasi, atau mengikuti kelas-kelas parenting, tetapi mereka juga mulai mengamati bagaimana para orangtua di sekeliling mereka membesarkan anak-anak mereka. Dengan membuka mata, mereka melihat dunia yang lebih luas daripada dunia bagaimana mereka dibesarkan. Mereka mengamati orangtua yang sudah menghasilkan anak-anak yang sukses dan berguru kepada mereka. Mereka juga melihat kesalahan-kesalahan yang terjadi dan menjaga diri agar tidak terjatuh di lubang yang sama.

[hdwallpapers.cat]
Menjadi orangtua adalah suatu tantangan dan sekaligus suatu kebahagiaan besar. Merupakan kehormatan bila kita yang penuh kelemahan dan keterbatasan ini mendapat kepercayaan untuk menentukan masa depan anak-anak kita. Saya percaya bahwa kita semua ingin memberikan yang terbaik untuk mereka. Kita ingin agar hidup mereka lebih baik, lebih sukses daripada kita.

Mari kita bersama dengan sengaja mematahkan mitos ‘pernah menjadi anak menjadikanmu ahli dalam membesarkan anak’ itu! Ciptakan kesadaran bahwa ada hal yang tidak kita ketahui, miliki kerendahan hati untuk mau membuka mata dan mengembangkan diri sebagai orangtua secara berkesinambungan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami dengan dua anak yang masih terus belajar untuk menjaga keseimbangan antara keluarga dan karir, antara hidup dengan fokus dan hasrat untuk mengambil setiap kesempatan yang ada.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar