Sebagai Seorang Introvert Melankolis, Inilah Cara Saya Mengobati Patah Hati

Ex & Broken Hearts

photo credit: Pixabay

469
Mari bersemangat seperti pepatah Jawa, “Alon-alon waton kelakon,” yang berarti pelan-pelan asal terjadi.

Jatuh cinta berjuta rasanya, begitu juga saat hati patah. Sebuah lubang tercipta dalam sedetik, namun terkadang akan terus melebar hingga tidak terukur waktu untuk bisa menutup. Bagaimana jika introvert melankolis mengalaminya? Begini yang saya lakukan untuk berusaha mengobati patah hati. Anda yang seorang extrovert juga bisa mencobanya.


1. Mencintai diri sendiri

photo credit: everydayfeminism.com

Hari pertama tentu saya lewati dengan air mata, bahkan satu jam setelah kata berpisah dilepaskan, saya sempat menangis saat membonceng di ojek online dengan suara tertahan. Saat itu saya sedang di tempat kerja sehingga saya perlu menaham emosi sampai jam pulang kerja tiba.

Hari ketiga, saya mendapati video musik “The Moon Represents My Heart” dari Hayley Westenra feat Shin. Lagu tersebut pertama kali terdengar dari suara Teresa Teng saat saya masih di sekolah dasar. Saya merasa tenang mendengarnya saat teman asyik bermain petak umpet. Alih-alih terus mendengarkan lagu sedih, saya memutuskan berulang-ulang mempersilakan pikiran merekam kata-kata cinta dalam lagu tersebut.

Aneh mungkin, tapi bukankah saat patah hati, ruang cinta akan kosong? Sudah sewajarnya diisi kembali, dan lagu menyediakan stok energi setelah doa.


2. Mengubah gaya rambut

photo credit: youtube.com

Rambut adalah mahkota untuk perempuan, bahkan keberadaannya sering diartikan sebagai tanda kepatuhan terhadap pasangan. Saya kerap mendapati seorang perempuan yang tidak memotong rambut mengingat pasangannya lebih menyukai rambut yang panjang. Apa itu salah? Tentu tidak, bagaimanapun menyenangkan hati pasangan juga perlu.

Saya memutuskan untuk mengubah gaya rambut tanpa memotong panjangnya. Bukan karena apa-apa, namun saya merasa lebih feminin saat membiarkan rambut saya bisa diikat. Alhasil teman berkomentar bahwa penampilan fresh sudah saya dapatkan.


3. Berolahraga

photo credit: dariusforoux.com

Saya mulai jogging perlahan di perumahan rumah, menghirup oksigen pagi yang memang lebih memperlancar isi pikiran saya. Sehat, sehat, dan sehat tidak hanya di hati namun juga fisik.


4. Menjabat tangan teman baru

photo credit: david-pranata

Patah hati memang menyakitkan apalagi bagi saya yang melankolis, namun pekerjaan menuntut tetap bersua dengan orang baru. Dan malam pertama setelah berpisah, saya harus menepati janji untuk bertemu teman dari Semarang. Mata saya masih berkaca-kaca, namun janji sedapat mungkin harus ditepati, bukan? Lagipula patah hati adalah kisah yang biasa dalam hidup. Bukan hal yang membuat perang dunia akan terjadi.


5. Mempelajari hal baru

photo credit: pixabay

Saya mulai meraih kamera mirrorless dengan lebih serius, bukan sekadar bisa menghasilkan foto bagus semata. Buku pelajaran bahasa mandarin dan Jerman juga saya raih. Maklum walau sejak kecil hobi menonton film kungfu, kosa kata yang terluncur oleh lidah hanya “Wo ai ni.”

Baca juga: Sepenuh Hati Saya Mencintainya, Ternyata Ia Tidur dengan Lelaki Lain

Yup, lima hal itulah yang mulai membantu menguras energi patah hati saya. Walau dalam waktu tak singkat, tapi saya bisa menjalaninya dengan baik. Jadi mari bersemangat seperti pepatah Jawa, “Alon-alon waton kelakon,” yang berarti pelan-pelan asal terjadi.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sebagai Seorang Introvert Melankolis, Inilah Cara Saya Mengobati Patah Hati". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


VikaKurniawati (VKurnia) | @vika

Owner ciomay280 | Content Writer| www.vikakurniawati.com. IG + Twitter : @VikaKurniawati

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar