Sebagai Anak Korban Perceraian, Saya Mengatasi Trauma dengan Cara Ini

Reflections & Inspirations

Christian Lawyer

2.7K
Belum lagi trauma yang besar masih membekas dalam ingatan. Sejak kecil saya disuguhi pemandangan KDRT yang kini membuat saya ketakutan tiap kali mendengar suara dengan nada yang tinggi.

Hidup saya berubah drastis sejak 20 tahun yang lalu, usai perceraian kedua orang tua saat saya berusia 9 tahun. Sebagai seorang anak perempuan yang masih kecil, menghadapi perpisahan kedua orang tua tentu bukan hal yang mudah. Walau begitu, bahkan sejak saat itu saya tahu bahwa perpisahan adalah yang terbaik. Tapi, bukan berarti saya menjadi cepat terbiasa menghadapi berbagai perubahan yang terjadi, mulai dari tempat tinggal, hingga pandangan orang lain terhadap saya dan keluarga yang saya miliki. Belum lagi trauma yang besar masih membekas dalam ingatan. Sejak kecil saya disuguhi pemandangan KDRT yang kini membuat saya ketakutan tiap kali mendengar suara dengan nada yang tinggi.


Tapi, beruntung saya memiliki mami yang kuat

photo credit: Professors House

Beliau terus mendampingi anak-anaknya, memberi dukungan, dan segala yang terbaik di tengah segala keterbatasannya. Mami yang sebelumnya tidak boleh bekerja, kini harus berjuang untuk mencari penghasilan. Dari beliau saya belajar untuk tegar, dan tanpa disadari, lambat laun saya tak menjadikan keadaan ini sebagai sebuah beban. Saya tetap bisa menjalani hari-hari dengan ceria.

Baca juga: Waspada! Inilah 5 Hal Sepele yang Menyebabkan Keretakan Rumah Tangga


Walau begitu, terkadang saya merasa agak iri saat melihat teman-teman menggandeng papanya

Hal tak nyaman juga saya rasakan saat teman-teman bertanya "Papamu dimana?" Awalnya, saya sempat merasa malu, karena pada masa itu perceraian masih menjadi hal yang sangat tabu. Namun, akhirnya saya memilih untuk menjawab apa adanya, saya katakan bahwa kedua orangtua saya telah berpisah.


Masalah boleh saja ada, perasaan boleh saja tak enak, tapi saya memilih untuk terus maju

Meskipun keluarga saya tak utuh, bukan berarti hidup akan selamanya tak baik. Setiap orang punya pilihan. Saya memilih untuk menjalani hidup dengan baik. Fokus saya saat ini adalah untuk membahagiakan mami yang sudah banyak berjuang untuk saya dan adik. Saya tak mau mengecewakannya dengan menjadi anak yang rusak, mengkambinghitamkan keadaan, dan lain sebagainya.

Baca juga: Sebagai Anak Korban Perceraian, Inilah 4 Alasan Saya Bisa Tetap Bersyukur dan Percaya Diri


Saya mau membuktikan, bahwa tidak selamanya anak korban perceraian itu tidak baik. Karena banyak orang berpikiran negatif dan memandang sebelah mata. Banyak anak korban perceraian jatuh dalam pergaulan yang salah dan memiliki nilai hidup yang buruk.

Saya selalu memandang bahwa ada makna dari setiap kejadian

photo credit: Peggy Gleason

Jika keadaan ini diizinkan terjadi, saya pun berusaha mengambil nilai positifnya. Saya bisa tumbuh tanpa ketakutan di dalam rumah. Saya bisa tumbuh menjadi anak yang tegar, dan juga menjadi pribadi yang cukup dewasa dibandingkan dengan anak-anak seusia saya.

Bersyukur pada Tuhan, saya bisa membuktikannya. Saya dan adik bisa berprestasi di sekolah maupun di bidang lainnya. Kami memiliki pergaulan yang baik, dan tentunya mami bangga pada kami. Ini semua tentunya juga tak lepas dari kasih karunia Tuhan.


Kita memang tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa mengubah masa depan

Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi, kita tak dapat mengulangnya kembali, kita hanya bisa menata hari depan yang lebih baik. Fokus pada masa depan, bukan pada apa yang ada di belakang.

Kenyataan itu harus dihadapi, jangan pernah mencoba lari dari kenyataan. Apalagi jika kita lari kepada ha-hal yang salah. Sejauh apa pun kita mau berlari, kenyataan itu selalu ada, tak akan pernah berhenti mengikuti kita. Kita harus jadi pemenang, bukan pecundang!

Saya menyadari bahwa diri saya berharga di mata Tuhan, saya tak mau hidup saya sia-sia begitu saja.

Baca juga: Kisah Perempuan yang Tak Merelakan Masa Lalunya, Inilah yang Akhirnya Ia Korbankan

Buat pembaca tulisan ini, yang mungkin menghadapi problem serupa, ayo bangkit! Jangan biarkan masa lalumu mengendalikan masa depanmu. Masa depan kita ada di tangan kita, dan tentunya bersama dengan Tuhan kita pasti bisa. Jadikan pengalaman masa lalu sebagai guru terbaik untuk menata masa depan.


Baca juga:

Inilah 4 Bentuk Warisan Berharga, Namun Tak Pernah Diperebutkan. Orangtua, Siapkan Hal-hal Ini demi Masa Depan Anak-anak

Saya Bertumbuh dengan Kaki yang Tak Sempurna. Orangtua Tak Menyerah dan Melakukan 5 Hal ini untuk Menata Masa Depan

Ingin Melupakan Masa Lalu yang Buruk? Lakukan 3 Langkah Efektif Menata Masa Depan Ini


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sebagai Anak Korban Perceraian, Saya Mengatasi Trauma dengan Cara Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Melissa Setiawan | @melissaberlianna

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar