Sebagai Anak Korban Perceraian, Inilah 4 Alasan Saya Bisa Tetap Bersyukur dan Percaya Diri

Parenting

9.9K
Mengapa saya harus memiliki orang tua yang bercerai sehingga saya memiliki 'kelemahan-kelemahan' yang merupakan dampak dari keadaan yang tidak bisa saya pilih? Namun benarkah demikian?

Masih segar teringat dalam memori saya ketika orang lain mengetahui latar belakang keluarga saya. Kebanyakan mereka menganggap saya memiliki 'luka' yang membuat pribadi saya menjadi kurang baik. Ah, pasti saya tidak seperti orang 'normal'. Atau bahkan adapula yang berhati-hati menjadikan saya sebagai pasangan hidup karena menganggap hubungannya akan berakhir dengan perceraian juga. Walaupun tak sedikit yang mengasihani dan menaruh empati. Labelling dari orang-orang ini membekas dan membuat saya sempat minder dan memendam amarah entah pada siapa.

Mengapa saya harus memiliki orang tua yang bercerai sehingga saya memiliki 'kelemahan-kelemahan' yang merupakan dampak dari keadaan yang tidak bisa saya pilih?

Saya terus dituntun dan dipulihkan sampai akhirnya saya memperoleh kesimpulan, bahwa ternyata saya memiliki 4 alasan mengapa saya bisa tetap bersyukur dan percaya diri walaupun saya memiliki orang tua yang bercerai.


1. Kita bukan korban yang selalu lemah

photo credit: wiseGEEK

Keluarga dan lingkungan memang akan memberi pengaruh terhadap perkembangan diri seseorang. Namun, seringkali kita lupa bahwa tak ada orang yang sempurna di dunia ini. Dua orang yang tidak sempurna menikah, tentu tidak mungkin bisa menghasilkan anak yang sempurna. Semua orang memiliki kelemahannya masing-masing. Bukan hanya anak yang berasal dari orang tua yang bercerai yang memiliki luka dan kelemahan. Sama halnya dengan karakter setiap manusia. Bahkan anak dari keluarga yang baik-baik saja pun memiliki kekurangan pada karakter yang dimilikinya.


2. Dari kejadian yang buruk sekalipun dapat memberikan dampak yang baik

Respon kita terhadap segala sesuatu yang berasal dari luar dirilah yang menentukan apa yang ada di dalam diri kita. Seorang anak korban perceraian mungkin memang memiliki kecenderungan menjadi lebih peka saat menghadapi konflik dalam sebuah hubungan, namun bukan berarti hubungan yang dimilikinya akan berakhir dengan perpisahan juga.

Justru, dengan memiliki kepekaan dan mendapat pelajaran berharga dari pengalaman kedua orang tuanya, kita jadi lebih memahami apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang tidak.

Kita pun tahu benar bahwa terkadang perceraian tidak menyelesaikan masalah dan justru melukai sang anak yang tidak bersalah.

Baca juga: Menjadi Ayah yang Lebih Baik: 3 Pelajaran Penting dari Darth Vader, Seorang Ayah yang Gagal


3. Tuhan tidak pernah menciptakan produk gagal

photo credit: Fatherhood

Keluarga adalah anugerah karena kita tidak bisa memilih pada siapa kita ingin dilahirkan. Tapi percayalah bahwa Tuhan tidak pernah salah ketika menempatkan kita pada suatu keluarga. Tuhan tidak pernah mendatangkan suatu hal yang buruk ataupun bahkan merancangkan hal yang buruk dalam hidup seseorang. Tuhan justru merancangkan masa depan yang penuh harapan. Tuhan bekerja dalam segala sesuatu entah suatu hal yang dianggap baik atau buruk untuk mendatangkan kebaikan bagi manusia.

Tuhan sanggup memakai keluarga yang tidak sempurna untuk membentuk seorang manusia agar mencapai tujuan tertentu yang unik dan luar biasa.

Rencana Tuhan dalam hidup seseorang tidak akan pernah bisa digagalkan oleh apapun juga. Termasuk oleh pilihan perceraian yang dilakukan oleh kedua orang tua.


4. Bisa lebih berempati dan menguatkan orang lain yang mengalami hal yang sama

photo credit: PAMF Health Blog
Ada pepatah yang mengatakan bahwa yang terluka yang menyembuhkan.

Ya benar, karena orang yang pernah mengalami sakitnya luka akibat perceraian orang tua yang mampu untuk menyelami perasaan dan keadaan orang lain dengan kondisi yang sama. Semua teori bisa dirumuskan dan ditulis, namun dampak yang diberikan tidak akan seefektif empati, kata-kata penguatan, tindakan dari orang yang telah mengalami sendiri. Empati yang dimiliki orang yang memiliki orang tua yang bercerai akan membangun keinginan yang besar untuk bisa menolong dan merangkul orang yang mengalami hal yang sama. Orang yang dirangkul dan ditolong pun akan lebih mendengarkan dan menghargai karena orang yang berada pada posisi yang sama.

Orang yang paling bijak sekalipun bisa memberikan kata-kata begitu indah dan bijak untuk menguatkan. Tapi mudah hanya untuk berkata, bisakah orang tersebut melakukan apa yang dia katakan jika ada pada posisi yang sama?

Baca juga: Ketika Pernikahan Terasa Hambar, Perceraian Bukan Pilihan, Apakah Hubungan Tanpa Status dengan Orang Ketiga adalah Jalan Kebahagiaan?

Jadi tetaplah percaya diri apa pun kondisi keluargamu. Kita berharga dan bisa memberi dampak yang luar biasa bagi dunia. Bahkan lebih dari orang-orang yang tidak pernah mengalami luka seperti yang kita alami.


Buat kamu yang berjuang untuk menata relasi dalam keluarga, artikel-artikel ini akan memberikan inspirasi apa yang harus kamu lakukan :

Orangtua Ketahuan Berselingkuh, Sebagai Anak, Lakukan 3 Hal Ini demi Keutuhan Keluarga

How to Make Our Families Great Again? Runtuhkan 5 Tembok Penghalang Kebahagiaan Keluarga Ini

"Saya ingin Anak Saya Bangga pada Ayahnya" Sebuah Kisah Nyata tentang Ungkapan Cinta Ayah yang Tak Mewujud dalam Kata

Kisah Nyata: Ketika Kelembutan Hati Ibu Membebaskan Anak dari Jerat Narkoba

Berniat Kabur dari Rumah dan Melarikan Diri dari Masalah? Renungkan Dulu Tiga Hal Ini


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sebagai Anak Korban Perceraian, Inilah 4 Alasan Saya Bisa Tetap Bersyukur dan Percaya Diri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Elizabeth Nathania | @elizabethnathania

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar