Saya Kerja Setengah Mati, Istri Selingkuh dengan Teman Sendiri

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Huffington Post]

39.1K
Ternyata manusia memang tidak bisa hidup dari cinta saja, ya?


"Saya kerja setengah mati, istri ditiduri teman sendiri."


Ucapan sopir taksi yang terus terang itu membuat saya tersentak sekaligus berpikir sekian jenak. Tanpa saya minta, sopir itu menceritakan betapa sakit hatinya dikhianati sang jantung hati.

Sebagai seorang penulis, insting saya senantiasa berbisik, “Apa yang bisa saya pelajari dari kasus semacam ini?” Jadi, saya pasang telinga baik-baik sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara.

Dari bibir bapak setengah baya itu meluncurlah kisah hidupnya.



Saya pikir bisa membahagiakan dia.

“Istri saya dibesarkan dari keluarga yang jauh lebih kaya ketimbang keluarga saya. Waktu mau menikah dulu pun kami sempat ditentang orangtuanya. Namanya cinta, kami teruskan hubungan kami. Ternyata manusia memang tidak bisa hidup dari cinta saja ya, Pak? Wanita juga butuh permata!” ujarnya diiringi tawa kecil. Ada nada getir dalam tawa itu.

“Untuk menambah penghasilan sebagai karyawan bawahan, saya nyambi narik taksi online ini,” imbuhnya. “Apa yang saya pikir bisa membahagiakan dia ternyata justru jadi bumerang. Karena saya kerja siang malam, istri kekurangan kasih sayang. Begitu sadar, saya tahu, saya sudah terlambat. Istri saya diembat orang.”

“Meski berat, saya tidak mau terus-menerus sedih, Pak,” ujarnya. “Saya masih punya anak-anak yang membutuhkan saya.”

Dari percakapan saya dengan sopir taksi berbasis online ini, saya jadi merenungkan makna rumah tangga yang bahagia.

Baca Juga: Cinta Beda Status Sosial Ekonomi, Akankah Berakhir Bahagia?



Apa yang membuat hidup bahagia?

Dalam perjalanan untuk nonton Vivid Sydney, saya melewati venue yang sedang memproduksi acara TED yang sangat terkenal itu. TED adalah organisasi yang mem-posting secara gratis pemikiran para pakar dengan slogan “ideas worth spreading” yang diadakan setiap tahun.

Sayang saya tidak sempat menghadirinya karena jadwal saya yang padat di Sydney. Beruntung seorang sahabat mengirimi link YouTube salah satu seminar TED. Judulnya langsung menarik perhatian saya, “What Makes a Good Life? Lessons from The Longest Study on Happiness” oleh Robert Waldinger.

Seminar berdasarkan hasil riset Harvard University selama 75 tahun terhadap 725 orang responden ini menunjukkan hasil yang pas dengan apa yang saya pelajari dan pahami selama ini.

Di dalam konseling pranikah, salah satu pertanyaan kunci yang saya ajukan kepada calon pengantin adalah, “Apa penyebab perceraian?”

[Photo credit: everydayhealth]

Pertanyaan itu bukan jebakan betmen, melainkan memancing jawaban cerdas yang diharapkan justru membuat mereka tidak bercerai nantinya dan menjalani rumah tangga yang berbahagia. Salah satu penyebab utama perceraian ternyata adalah komunikasi yang buntu.

Nah, bagian inilah yang pas dengan penelitian Harvard tadi. Jawaban atas pertanyaan 'apa yang membuat hidup bahagia?' itulah yang perlu kita usahakan.

Hasil riset serius dan mendalam itu menunjukkan bahwa relasi yang baik merupakan faktor utama pembentuk keluarga bahagia. Bonusnya? Umur panjang dan ingatan yang cemerlang.

Orang yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi, sehingga bisa bergaul dan membangun relasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya, terutama keluarga inti, tidak mudah pikun. Di samping bertambah cerdas, ingatannya melekat kuat lebih lama.

Baca Juga: Banyak Orang Berpikir Seperti Saya: Uang, Rumah dan Mobil adalah Syarat Terciptanya Keluarga Bahagia. Ternyata Saya Salah!



Pelajaran dari sopir taksi yang dikhianati istri.

Hal itulah yang saya amati ada dalam diri sopir taksi berbasis aplikasi itu. Dari ceritanya, meskipun masih sedih, terutama saat mengingat dirinya dikhianati, dia sudah berhasil move on.

“Untuk apa terus-menerus menangisi istri yang sudah pergi,” ujarnya, “bukankah lebih baik bekerja keras untuk menyekolahkan anak.”

W O W !

“Saya menasihati anak untuk tidak lagi membenci ibunya,” tambahnya, “anak-anak justru semakin mandiri sejak ibunya pergi.”


Dari sopir taksi berbasis aplikasi yang dikhianati istri ini, saya - saya harap Anda juga - belajar empat hal ini:

1. Bekerja keras sampai lupa waktu ternyata merupakan bom waktu yang sewaktu-waktu meledak

2. Penyesalan, sedalam apa pun, ternyata hanya menyisakan luka hati yang semakin dalam.

3. Kepahitan hanya bisa dibuang jauh-jauh dari hati kita dengan pengampunan.

4. Ketimbang terikat oleh belenggu masa lalu, lebih baik berjalan maju - meskipun tertatih-tatih - untuk mencapai tujuan.


[Photo credit: Elijah Hail]

“It’s better to look ahead and prepare,

than to look back and regret.”

- Jackie Joyner-Kersee





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Kerja Setengah Mati, Istri Selingkuh dengan Teman Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar