Saya Hanya Sedang Ingin Makan Nasi Kuning. Terlalu Mulukkah Itu?

Reflections & Inspirations

[Photo credit: eshtravaganza]

1.7K
Kalau yang kecil begini saja tak teraih, apalagi yang besar?

Suatu kali saya mesti berdinas ke luar kota. Meninggalkan keluarga sejenak demi tugas adalah bagian yang tak terhindarkan dari pekerjaan saya. Sebuah keharusan yang tak akan pernah menjadi mudah, bahkan setelah puluhan hingga ratusan kali saya melakukannya.

Saya menemukan sedikit penghiburan dengan mencicipi makanan khas daerah yang saya kunjungi. Saya lebih suka mencari apa yang biasa saya sebut 'local champion', makanan sehari-hari yang ramai dikunjungi penduduk setempat, dan bukan para turis. Selain murah meriah, saya juga bisa merasakan taste ’asli’ sebuah makanan.

Baca Juga: Inilah 3 Hal yang Sering Terlupakan dari Wisata Kuliner



Pagi itu, saya memang sudah berencana untuk tidak menikmati sarapan pagi yang disediakan oleh hotel. Malam sebelumnya saya sudah melihat di sekeliling hotel tempat saya menginap ada banyak penjual kaki lima yang tampaknya selalu ramai. Lagi pula, makanan hotel di mana saja relatif sama, bukan?

Saya pun berjalan mengelilingi kawasan seputar hotel.

Ada dua penjual makanan yang menarik perhatian saya. Yang pertama adalah penjual nasi kuning di sebuah emper toko. Sepagi itu, sudah lebih dari sepuluh orang mengerubungi sang penjual. ”Ini pasti enak,” batin saya. Namun, nasi kuning bukanlah makanan khas daerah itu. Untuk sarapan hari pertama, saya ingin mencoba makanan khas. Untungnya, ada juga penjualnya, tak jauh dari penjual nasi kuning tadi. Lezat memang, menikmati makanan khas di daerah asalnya.

Sepanjang hari beraktivitas, beberapa hal memenuhi pikiran saya. Rencana masa depan, tanggung jawab yang ada, dan juga kadang tebersit ketakutan tertentu. Walaupun saya bolak-balik berbicara di muka publik tentang bagaimana mengatasi ketakutan, namun toh hal itu masih bisa menyelinap dalam benak saya. Ringkasnya, malam itu tak seperti biasanya. Ada cukup banyak hal berkecamuk dalam pikiran. Ada kegelisahan dan pertanyaan yang tak terjawab. Kadang tebersit juga sedikit penyesalan: mengapa tidak begini dan begitu yang terjadi. Bahkan keraguan, apakah Sang Pencipta Kehidupan masih memperhatikan hidup dan doa-doa saya?

Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Suntuk, lelah dan gelisah.

Tak tahu lagi apa yang harus saya perbuat, saya pun tertidur.

Baca Juga: Kala Badai Menerpa dan Kamu Merasa Telah Kehilangan Segalanya, Ingatlah Ini Saja



Saya bangun dengan bersemangat pagi itu. Nasi kuning di emper toko, itu sebabnya!

Saya pergi dan segera mencari penjual nasi kuning itu. Sebenarnya saya sudah beberapa kali menikmati makanan ini di Surabaya, namun antrian yang saya lihat kemarin jelaslah menjanjikan sesuatu yang berbeda. Segera saja terbayang gurihnya nasi kuning, ditaburi abon yang manis, serta telur goreng yang diiris tipis-tipis.

Bayangan kelezatan itu mempercepat langkah saya. Tak butuh waktu lama, saya pun tiba di tempat.

Dan … ternyata saya tak menemukan penjual nasi kuning itu di sana.

Sama sekali tak ada jejaknya. Saya mengelilingi tempat yang sama, mencoba mencari kemungkinan apakah ia berpindah, ternyata juga tak ketemu. Saya celingak-celinguk seperti orang bingung di depan toko itu.

”Mas, nyari apa?” sapa ramah seorang di depan sebuah toko.

”Pak, yang kemarin jual nasi kuning di sini, yang ramai itu, ke mana, ya?” jawab saya

”Oh, yang itu kalau hari Senin begini libur, Mas,” jawabnya sambil membuka pintu tokonya.

Ah, betapa kecewanya hati saya. Pupus sudah angan-angan menikmati lezatnya nasi kuning sejak semalam.

Melangkah gontai, rasanya saya ingin segera kembali saja ke hotel. Tapi, mengapa tidak mencoba mencari nasi kuning di penjual lain? Saya bertanya pada diri sendiri.

Tekad kembali saya bulatkan. Saya mengayun langkah, berkeliling mencari penjual nasi kuning lain. Keinginan menikmati nasi kuning sudah memuncak, barangkali mirip perempuan yang sedang ngidam.

Dua puluh menitan berkeliling, saya tak menemukan penjual nasi kuning sama sekali. Yah, apa boleh buat.

Pingin makan nasi kuning saja engga dapat. Keinginan kecil saja tak terkabul, apalagi yang besar,” keluh saya dalam hati. Saya tahu benar kepada siapa keluhan itu tertuju. Siapa lagi kalau bukan pada Yang Empunya Kehidupan. Saya betul-betul kecewa.

Terlintas dalam pikiran,
jika keinginan kecil begini saja tak teraih, apalagi yang besar?

Baca Juga: Bagaimana Jika Pernikahan Impianmu Tak Terwujud?


Saya pun langsung menuju ruang makan di hotel. Tak bersemangat, saya ambil piring. Mata saya tertuju pada lauk-pauk yang terhidang di sana. Ada telur, abon, perkedel, dan …

“Astaga!” pekik saya dalam hati, "Ini lauk-pauk yang biasa menemani nasi kuning, kan?”

Penasaran, saya membuka tempat nasi.

”Ya, Tuhan …” Tak mampu lagi saya berkata-kata.

Nasi kuning tersaji di penanak nasi. Hangat, dengan uap yang langsung mengepul begitu saya membuka penutupnya.

Kini, saya mesti berjuang untuk menahan tetesan air mata.


[Photo credit: Nasi Kentjana]


Sepanjang hidup saya, itulah nasi kuning terlezat yang pernah saya nikmati. Nasi kuning dan lauk pauknya yang menjadi tanda, tak ada keinginan yang terlalu kecil di hadapan Sang Pencipta Kehidupan. IA mengamati kehidupan kita.

Tak ada keinginan yang terlalu kecil di hadapan Sang Pencipta Kehidupan. Tak ada hidup yang tak penting di hadapan-Nya.
Hanya kadang ada saat di mana kita mesti menanti. Bukan karena IA tak mau memberi, tetapi kita yang perlu menata hati untuk menyambut pemberian-Nya.

Bukankah segala sesuatu akan menjadi indah pada waktu-Nya?



Dari Penulis yang Sama:

Bisakah Hari yang Buruk Berubah Menjadi Lebih Buruk?

Yang Terlupakan di Balik Apa yang Kita Sebut 'Kebetulan'

Tentang Kekecewaan dan Kemampuan Kita untuk Merangkulnya




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Hanya Sedang Ingin Makan Nasi Kuning. Terlalu Mulukkah Itu?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar