Saya Cina. Walau Tak Selalu Mudah, Saya Memilih Tetap Mencintai Indonesia. Ini Kisah Saya

Reflections & Inspirations

12.9K
Terima kasih Tuhan, aku bisa lahir, besar, dan tinggal di Indonesia. Aku selalu berdoa supaya Indonesiaku selalu aman dan damai

Dibesarkan di sebuah kota kecamatan, membuat aku akhirnya menjadi sedikit ndeso, kemana-mana jalan kaki, naik sepeda atau menggunakan angkutan umum. Walau begitu aku bersyukur karena meskipun ndeso, tetapi lahir dari keluarga yang berkecukupan. Bukan kaya raya, tapi juga tidak kekurangan.


Aku "si kaya"

photo credit: Inside Indonesia

Meskipun hidupku terlihat normal selayaknya anak kecil yang lain, aku terkadang bingung karena ada banyak orang yang menganggapku berbeda.

Panggilan 'cino' sering aku dengar, memang sih lama-lama terbiasa dan bisa aku abaikan. Tetapi mereka sering meminta uang kepadaku, karena menganggap aku punya banyak uang.

Hal ini cukup membingungkanku, karena dengan uang saku yang tidak seberapa, apa yang membuat mereka mengira aku kaya. Masih untung nasibku baik, tidak harus mengalami perlakuan kasar seperti yang dialami teman lain, mungkin karena wajah melasku cukup membuat mereka iba.

Baca juga: Ketika Cinta Terhadang Perbedaan Suku dan Agama, Lanjut atau Berhenti?


Aku "si koruptor"

Akhirnya aku lulus SMP dan melanjutkan studi di ibu kota propinsi. Aku masuk SMA Negeri yang cukup terpandang di kota itu. Sebetulnya bukan sesuatu yang populer untuk masuk ke sekolah negeri dengan double minority yang aku miliki, minoritas suku dan agama. Tetapi entah kenapa, aku ingin mencari tantangan baru dan berharap bisa menuntut ilmu lebih baik disana, apalagi sekolahku sedang menjadi percobaan untuk full day school yang belum lazim di jaman itu. Masa indah SMA mulai bisa kurasakan. Semua baik-baik saja, meskipun di kelasku hanya ada satu orang saja yang seiman, dan tidak ada yang satu-ras denganku.

Tetapi satu hal yang menyedihkanku, ketika aku mendapatkan nama julukan yang diambil dari nama seorang Om yang mengambil calon istrinya Si Doel. Wow aku disamakan dengan om-om genit.

Dan yang kemudian lebih menyedihkan lagi, saat itu diberitakan kalau ada seorang koruptor yang kabur keluar negeri, bahkan sampai saat ini juga masih buron, yang tentu aku juga tidak kenal, tetapi seorang guru pernah menatapku dengan serius sambil bertanya, kamu kenal koruptor itu? Saya hanya bisa marah di dalam hati karena koruptor pun dihubungkan dengan aku.


Aku Indonesia!

photo credit: Inspirasi

Tulisan ini bukan bermaksud nyinyir dan masih menyisakan keinginan balas dendam, sama sekali tidak ada maksud itu. Semua itu kumaknai sebagai satu bagian di dalam proses pendewasaan hidupku. Memang aku pernah mempertanyakan hal ini, tetapi aku tidak pernah marah. Buktinya aku sama sekali tidak pernah memiliki keinginan untuk lari dari negara ini, mungkin karena aku memang lebih bisa “hanacaraka” dari pada huruf negara lain.

Justru pelan-pelan aku semakin mencintai bangsa ini.

Aku pernah terlibat di dalam demonstrasi mahasiswa tahun 1998, menjadi pemantau pemilu tahun 1999, menolong pengungsi Madura yang datang dari Kalimantan, rutin donor darah, ikut satu komunitas lingkungan, suporter dana membantu anak putus sekolah dan juga hutan kalimantan. Aku juga selalu antusias untuk mengikuti perkembangan bangsa ini melalui media massa.

Baca juga: Inilah 3 Kekayaan yang Membuat Saya Semakin Mencintai Indonesia. Saya Menemukannya Justru ketika Studi di Luar Negeri

Aku bersyukur, bangga, dan mau terus hidup di Indonesia.


Karena aku tidak pernah memilih untuk dilahirkan di Indonesia

Tentu ada rencana dari Sang Pencipta ketika di hari kelahiranku, aku harus k eluar di bumi Indonesia. Aku yakin tidak ada manusia yang diciptakan tanpa tujuan, pasti ada yang harus dikerjakan ketika dia dilahirkan ke dunia ini. Daripada menyesali nasib dan ingin pindah negara, tentu akan lebih menyenangkan kalau kita bisa bersyukur dan juga memikirkan apa yang bisa aku lakukan bagi Indonesia. Memang sih, apa artinya satu orang dibandingkan dengan 250 juta orang penduduk yang lain, tetapi kalau semua berpikir seperti itu, maka akan ada 250 juta orang yang hanya diam dan menunggu yang lain beraksi.

Kesadaran bahwa aku ada di bangsa ini untuk satu rencana Tuhan, membuatku bisa terus bertahan dan bahkan semakin cinta kepada Indonesia. Aku harus lebih berdampak dan berbuat sesuatu bagi Indonesia!


Karena aku mengalami lebih banyak hal baik daripada hal buruk

photo credit: TEMPO

Meskipun ada orang-orang yang tidak menyenangkan, ternyata ada lebih banyak, bahkan jauh lebih banyak lagi orang yang baik dan menyenangkan. Mereka yang menerimaku sebagai teman dan bahkan saudara, tanpa melihat perbedaan yang ada. Relasi yang masih terjaga dua puluh tahun lebih sejak SMA, ditunjukkan dengan sambutan hangat ketika reuni sekolah. Aku tetap berbeda dengan mereka tetapi mereka menerimaku dengan sangat baik.

Begitu juga dengan keramahan dan rasa kekeluargaan dari banyak orang lain di bangsa ini, jadi tidak salah kalau orang luar negeri selalu terkesan dengan keramahan orang Indonesia, karena memang itulah ciri dari Indonesiaku. Bukan hanya karena orangnya, alam Indonesia juga selalu membuatku terkesan dan bangga. Aku adalah orang yang lebih suka berlibur di dalam negeri bukan keluar negeri, karena memang bumi indonesia tidak kalah cantiknya dibandingkan negara yang nun jauh disana. Aku harus lebih bersyukur dan bangga dengan Indonesia!

Baca juga: Berbeda tetapi Memilih Menjadi Kuat Bersama. Dari Gang Kecil Seteran untuk Indonesia, Sebuah Kisah Nyata

Terima kasih Tuhan, aku bisa lahir, besar, dan tinggal di Indonesia.

Aku selalu berdoa supaya Indonesiaku selalu aman dan damai. Semua rakyatnya bisa bergandeng tangan, saling menjaga dan melindungi. Supaya Indonesia semakin jaya dan disegani di dunia. Akupun akan ikut menangis ketika ada bagian dari bangsa ini yang menderita, karena aku adalah Indonesia, sakitnya Indonesia adalah sakitku juga.

Aku Indonesia, sekarang dan selamanya!


Baca juga tulisan-tulisan inspiratif ini :

Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok ini untuk Indonesia yang Lebih Baik!

Beda Jangan Disamakan, Sama Jangan Dibedakan: Memandang Perbedaan Lewat Kacamata Gus Dur

Ketika Cinta Terhadang Perbedaan Suku dan Agama, Lanjut atau Berhenti?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Cina. Walau Tak Selalu Mudah, Saya Memilih Tetap Mencintai Indonesia. Ini Kisah Saya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Davy Hartanto | @davyedwin

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar