Dalam Ketidaksempurnaan, Inilah Cara Saya Mendidik Anak dengan Perkataan

Parenting

[image: Huffington Post]

1.3K
Bagi saya, kata-kata memiliki pengaruh yang luar biasa pada seorang anak.
[image: positive outlooks]

Sebuah kalimat mutiara muncul di halaman media sosial saya sore itu. Padahal siang harinya baru saja saya dan ibu saya membahas mengenai cara-cara kami mendidik dan membesarkan anak.

Sewaktu kecil, Ibu mendidik saya dengan keras tegas, tetapi penuh cinta. Ia akan menghukum saya dengan pukulan jika saya melakukan kesalahan dan memberikan penghargaan ketika saya berhasil menjadi juara kelas. Lucu memang kalau teringat betapa bangganya saya saat mendapat nilai 100, dan rasa takut ketika mendapat nilai yang buruk.

Seiring waktu, perlakuan ibu saya tidak lagi sekeras sewaktu saya masih kecil, tetapi perasaan bangga dan takut itu tetap ada. Sekalipun tidak ada lagi hukuman maupun penghargaan yang saya terima.

Saat akhirnya menjadi seorang ibu, tanpa sadar sedikit banyak saya meniru cara-cara ibu saya membesarkan dan mendidik saya, meskipun dengan perlakuan yang berbeda.

Alih-alih menggunakan kekerasan untuk menghukum, saya mengajak anak saya untuk berbicara dari hati ke hati, mengapa hal ini boleh dan tidak boleh dilakukan. Alih-alih memberikan barang sebagai penghargaan, saya akan memberikan pujian.

Bagi saya, kata-kata memiliki pengaruh yang luar biasa pada seorang anak.



"Saya Bukan Ibu yang Sempurna."

Ibu saya mengakui, ia tidak sempurna ketika membesarkan saya. Harus saya akui juga, sebaik apa pun saya berusaha, saya belum menjadi ibu yang sempurna bagi kedua putri saya. Adakalanya saya melontarkan nada-nada tinggi pada putri saya ketika sedang kesal dan menyesalinya kemudian. Seberapa kerasnya saya berusaha, tidak mungkin saya bisa menjadi ibu yang sempurna.

Baca Juga: 4 Perkataan Orangtua yang Ternyata Malah Membuat Anak Makin Menjauh



"Anak-Anak Merekam Segalanya."

[image: Emaze]

Suatu hari, putri saya menolak untuk belajar membaca bersama saya. Dengan kesal saya mengambil bukunya dan berkata, "Kamu harus belajar supaya tidak tertinggal dari teman-teman lainnya."

Putri saya tampak tidak peduli dan terus saja berlari ke sana kemari, sama sekali tidak mengacuhkan buku yang saya pegang.

Tidak lama kemudian, ayah saya datang untuk mengajak putri saya bermain.

Ketika sudah puas bermain, tiba-tiba putri saya pergi ke rak buku dan mengambil bukunya sembari berkata, "Kung (panggilan anak saya kepada kakeknya). Kung, harus belajar ..."

Bukan main, kan?

Sekalipun terlihat tidak memperhatikan, sesungguhnya anak-anak merekam semua ucapan dan tindakan kita. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya berusaha menjaga setiap kata-kata yang keluar dari mulut saya.

Baca Juga: Tak Hanya Membelikan Buku, Lakukan 3 Hal Ini Agar Anak Suka Membaca



"Ucapan Seorang Ibu Dapat Membentuk Anaknya."

Kembali pada kata-kata mutiara yang saya dapatkan tadi. Saya membandingkannya dengan pengalaman pribadi saya dan meyakini hal ini benar adanya.

Putri saya selalu menangis jika saya memakaikannya gaun. Akhirnya sayalah yang menangis karena gaun yang sudah dibeli dengan harga mahal hanya tergantung cantik di lemari pakaian.

Suatu ketika, putri saya melihat video di Youtube. Putri-putri kerajaan Disney menari cantik dengan mengenakan gaun cantik mereka.

Saya berkata pada putri saya, "Cantik, ya, Princess Belle-nya? (Kebetulan ia sedang mengidolakan Princess Belle). Coba lihat Princess Belle pakai gaun cantik sekali, kan? Gaunnya bisa berputar-putar sewaktu menari."

Putri saya mengangguk mengiyakan. Lalu saya bertanya padanya, "Kamu mau jadi cantik seperti Princess Belle? Nanti Mama belikan baju Princess Belle, kamu pakai ya ..."

Apa yang terjadi berikutnya? Kini saya tidak kesulitan lagi memakaikan gaun kepada putri saya. Bukankah hal itu menakjubkan?

Kekuatan sebuah kata-kata yang sederhana bisa mengubahkan pendirian putri saya.

Baca Juga: Memuji Anak Bukanlah Cara Tepat Membangun Percaya Dirinya. Bukan Pujian, Melainkan Satu Ini, Pembangun Percaya Diri Anak Sejati



[image: Pulse]

Ada sebuah kisah indah dari Thomas Alva Edison, seorang hebat yang menemukan lampu. Thomas dikeluarkan dari sekolahnya karena tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik, sehingga pada akhirnya ibunya sendirilah yang mengajarinya di rumah. Ibunya selalu berkata kepada putranya bila ia adalah seorang anak yang sangat jenius. Thomas tumbuh dengan keyakinan akan hal tersebut, hingga akhirnya ia menjadi seorang yang sukses. Semua berkat ucapan ibunya.

Apalah jadinya jika sang ibu berkecil hati dan berkata pada putranya jika memang ia sulit diatur dan tidak perlu belajar lagi, karena ia tidak akan menjadi apa pun dalam hidupnya. Tidak mungkin kita mengenal seorang Thomas Alva Edison, bukan?

Berbicaralah kepada anak-anak dengan perkataan yang membangun. Jangan pernah menjatuhkan harga diri mereka, apalagi mematahkan semangat mereka. Biarkan mereka bertumbuh menjadi sehebat yang mereka yakini. Selalu berikan dorongan, agar mereka dapat menjadi yang terbaik. Saya yakin, kelak Anda pun tidak akan menyesalinya.



Baca juga artikel-artikel inspiratif tentang membesarkan anak ini:

Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka

Memberikan Anak-Anak Kesempatan untuk Merasa Bosan itu Baik untuk Mereka. Ini Sebabnya


.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dalam Ketidaksempurnaan, Inilah Cara Saya Mendidik Anak dengan Perkataan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Beatrice Fella | @Beatricefella

A wife and a mother of two beautiful daughters. -I'll feed you love and I hope that's enough to inspire you through suffering, holding you up-

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar