Saya Berdoa agar Berat Badan Turun, Malah Terkapar oleh Flu. Jalan-Nya Tak Terselami

Reflections & Inspirations

photo credit: AARP

473
Jadi diam-diam saya pun berdoa, meminta jikalau Tuhan berkenan, saya ingin kurus kembali seperti sebelum melahirkan.

Setelah melahirkan anak kedua, berat badan saya bertahan di angka 58 hingga 60. Diet bukanlah opsi pertama untuk menurunkan berat badan karena saya harus menyusui anak saya yang masih bayi sekaligus menjaga anak pertama saya yang sedang aktif-aktifnya bermain.

Seberat apa pun aktivitas saya, entah mengapa berat badan saya tetap bertahan di angka itu-itu saja. Mungkin berbanding lurus dengan porsi makan saya yang luar biasa banyaknya. Jadi diam-diam saya pun berdoa, meminta jikalau Tuhan berkenan, saya ingin kurus kembali seperti sebelum melahirkan.

Apa yang terjadi kemudian? Saya terkapar oleh flu. Namun sekalipun sakit, saya merasakan banyak hal yang patut disyukuri.


Untung saya yang sakit bukan yang lain

photo credit: y-oman

Ya, untung saya yang sakit bukan yang lain. Bukan anak saya dan bukan juga suami saya. Alasannya cukup simple sebenarnya. Kedua anak saya masih sangat kecil. Kasihan jika mereka sakit. Kasihan jika di usia yang masih sangat kecil harus mengonsumsi berbagai obat-obatan. Saya juga tidak ingin suami saya yang sakit, karena ia harus bekerja. Tidak mungkin ia beristirahat dan meninggalkan pekerjaannya.


Tuhan menjawab doa dengan cara misterius

Doa saya mungkin dijawab dengan cara yang cukup ekstrem. Siapa sih yang meminta untuk diberikan penyakit? Saya juga tidak. Tapi buktinya doa saya tetap dijawab, berat badan saya turun drastis. Jadi saya tidak ingin protes lagi. Dengan kata lain, saya menyimpulkan bahwa selalu saja ada cara Tuhan untuk menjawab doa, mungkin tidak sesuai dengan yang ada di pikiran kita manusia, tapi yakinlah bahwa cara Tuhan yang terbaik.


Tuhan menjaga keluarga saya

photo credit: Parents Magazine

Selama hampir seminggu ini tenggorokan saya terasa sakit dan pilek tak henti-henti mengalir. Namun satu hal yang ajaib, sekalipun saya tidur sekamar dengan bayi saya yang masih kecil, ia sama sekali tidak tertular penyakit saya. Dan begitu pula dengan anak saya yang besar dan suami saya. Saya bersyukur mereka tetap sehat. Bukankah perlindungan Tuhan memang luar biasa?

Baca juga: Dalam Ketidaksempurnaan, Inilah Cara Saya Mendidik Anak dengan Perkataan


Tuhan menyadarkan akan keterbatasan saya

photo credit: Mamamia

Mungkin sebelum sakit saya memang terlalu memaksakan diri. Menjadi ibu rumah tangga full time sekaligus merawat dua anak yang masih sangat kecil terkadang bisa menjadi hal yang menjenuhkan. Sehingga setiap ada kesempatan untuk jalan-jalan, dengan senang hati saya pergi hingga lupa waktu. Akhirnya memang karena terlalu lelah tubuh saya dengan mudah jatuh sakit. Saya akhirnya menyadari, dengan cara yang tidak mudah, bahwa saya masih harus banyak beristirahat. Berjalan-jalan sebentar bolehlah, tapi harus ingat waktu juga.


Dan akhirnya...

Berat badan saya turun

Inilah yang paling membahagiakan. Setidaknya untuk beberapa saat. Jika beruntung berat saya tetap bertahan di angka ini, atau jika tidak setidaknya saya bisa merasakan berat badan saya normal kembali walau hanya untuk sementara. Rasanya senang sekali bisa mengenakan kembali pakaian-pakaian lama saya yang tergantung cantik di lemari, menunggu saya kurus kembali.

I ask God to lose weight, and He gave me flu.


Baca juga: Tak Gentar walau Divonis akan Meninggal. Kisah Perjuangan Penderita Leukimia Akut

"Sebab rancanganKu, bukanlah rancanganmu. Dan jalanmu bukanlah jalanKu."

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Berdoa agar Berat Badan Turun, Malah Terkapar oleh Flu. Jalan-Nya Tak Terselami". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Beatrice Fella | @Beatricefella

A wife and a mother of two beautiful daughters. -I'll feed you love and I hope that's enough to inspire you through suffering, holding you up-

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar