Saya Batak Karo, Istri Tionghoa. 5 Rahasia Ini yang Membuat Perbedaan Tak Menjadi Hambatan dalam Tujuh Tahun Pernikahan Kami

Marriage

46.6K
Kami dibesarkan dengan budaya yang kental, yang membuat kami merasa bahwa budaya kami yang paling baik. Namun, kami berusaha untuk tidak memaksakan hal tersebut dalam diri pasangan. Kami sepakat bahwa setiap budaya memiliki kelebihan serta kekurangan.

Bertumbuh dalam kemajemukan sebenarnya bukan hal asing di Indonesia ini. Namun, ketika kita benar-benar dihadapkan dengan keadaan sesungguhnya, tidak semudah membicarakannya. Banyak tantangan serta hambatan.

Seperti pernikahan beda budaya yang dialami orang lainnya, awalnya hubungan saya dan mantan pacar yang sekarang jadi istri tidak direstui oleh orangtua.

Saya yang batak Karo dan istri yang Tionghoa sama-sama memiliki budaya yang kental. Mereka menginginkan menantunya satu suku. Lewat perjuangan dan pembuktian, akhirnya kami mendapat restu untuk melangsungkan pernikahan. Dari awal kami punya prinsip harus mendapat restu jika ingin menikah. Tentunya tidak semudah itu, pernikahan kami penuh cerita bak sinetron di televisi.

Saya ingin berbagi, bagaimana saya dan istri menjalani pernikahan beda budaya, yang walaupun sebenarnya masih belum bisa dikatakan lama, namun 7 tahun ini adalah masa yang cukup untuk saya berbagi.

Baca juga: Ketika Cinta Terhadang Perbedaan Suku dan Agama, Lanjut atau Berhenti?


Inilah yang kami lakukan dalam 7 tahun mengarungi bahtera rumah tangga di tengah perbedaan budaya.


1. Budaya nasional menjadi jalan tengah

photo credit: vemale

Mendengar kata Batak, saya percaya para pembaca akan mengerti betapa kuatnya budaya tersebut diturunkan kepada setiap anak-anaknya. Saya salah satu suku Batak, yakni Batak Karo. Kedua orang tua saya suku Batak Karo murni tanpa campuran. Saya lahir dan dibesarkan di Medan di tengah-tengah budaya Batak karo. Sudah bisa dibayangkan bagaimana kesukuan itu melekat kuat dalam diri saya. Begitu juga istri saya, ia adalah Tionghoa. Kakek Istri dari ayahnya berasal dari Tiongkok langsung. Kita juga tahu bahwa keturunan Tionghoa juga memiliki kecintaan akan budaya yang begitu kuat.

Ketika kami menikah, tentu banyak perbedaan yang dapat menjadi bahan pertengkaran atau perdebatan. Ketika kami mentok dengan budaya mana yang harus kami pakai di rumah tangga, maka kami mengambil jalan tengah. Budaya nasional yang umum digunakan di Indonesia.

Contoh sederhana, dalam batak Karo, menantu perempuan tidak boleh berbicara dengan mertua laki-laki, dan itu tidak saja dilakukan pada zaman dahulu, hal tersebut masih berlangsung sampai hari ini. Istri saya tentu merasa tidak nyaman dengan hal tersebut, karena dalam budaya Tionghoa mertua itu sudah seperti orang tua sendiri. Maka saya meminta izin kepada ayah dan ibu untuk tidak menggunakan budaya tersebut dalam keluarga kami. Saya minta izin agar kelak ketika saya menikah, istri saya tetap bisa berbicara serta memanggilnya Bapak. Ayah dan Ibu saya mengerti dan mengizinkan hal tersebut. Kini, ayah dan Istri saya sangat dekat dan mereka mempunyai hubungan seperti ayah dan anak.


2. Tidak merendahkan budaya pasangan namun juga tidak meninggalkan budaya sendiri

photo credit : pelaminan

Kecintaan kami akan budaya masing-masing jangan ditanya. Karena dibesarkan dengan budaya yang kental, tentunya seringkali kami merasa bahwa budaya kami yang paling baik. Namun, kami berusaha untuk tidak memaksakan hal tersebut dalam diri pasangan. Kami sepakat bahwa setiap budaya memiliki kelebihan serta kekurangan.

Baca juga: Wanita, Inilah 3 Rahasia yang Membuat Suami Tak Mudah Berpaling ke Lain Hati

Anak kami sejak kecil sudah diajarkan bahwa dia adalah peranakan batak Karo dan Tionghoa. Untuk menghargai budaya istri, maka nama mandarinnya saya letakkan dalam akta lahirnya. Ia dipanggil 'koko' saat berada di keluarga istri, dan 'abang' saat berada di keluarga saya. Dari anak itu kecil, kami sudah menjelaskan perbedaan ini. Anak kami tidak mengalami kesulitan.

Di Surabaya saya lebih banyak berkomunitas dengan teman-teman Tionghoa, maka ada banyak perayaan dari budaya istri yang kami jalankan. Namun, ketika kami pulang ke Medan, istri saya dengan suka rela mau mengikuti budaya Batak Karo. Ia juga banyak belajar bahasa Batak Karo ketika saya berbicara dengan saudara-saudara. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mengenai budaya Batak Karo. Hal tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Tentu saya juga belajar banyak tentang budaya istri.


3. Ada kesepakatan serius sebelum menikah

Jujur saja, dalam 7 tahun perikahan tidak pernah satu kali pun kami bertengkar karena mempersoalkan tentang budaya siapa yang terbaik. Ada satu hal yang kami lakukan sebelum pernikahan, yakni perjanjian. Bukan perjanjian pra-nikah. Namun diskusi serius ketika dahulu kami pacaran, yakni bagaimana kami harus membesarkan anak, aturan-aturan dalam keluarga, serta perbedaan budaya yang mungkin akan dapat memperuncing hubungan menjadi tidak baik.

Kami menaatai perjanjian tak tertulis tersebut. Sehingga sampai saat ini, istri saya bisa begitu mencintai budaya saya, dan sebaliknya saya juga mencintai budayanya. Karena masing-masing dari kami tidak memaksakan kehendak.

Baca juga: Seni Merawat Keluarga : 4 Hal yang Harus Dilakukan dan 4 Tanda Keluarga Sehat dan Hangat

Salah satu kesepakatan kami adalah, tidak akan pernah menjelekkan budaya pasangan jika terjadi selisih pendapat. Hal itu kami taati sepenuh hati.


4. Mengalah selalu menjadi jalan terbaik

photo credit: viewfromhell
Menikah dengan pasangan yang budayanya sama bisa saja berselisih, apalagi yang berbeda budaya.

Ketika hal tersebut terjadi, kami sepakat untuk mengalah. Salah satunya adalah menikah adat. Dalam semua rumpun Batak, menikah adat seperti sebuah kewajiban, termasuk Batak Karo. Namun, sampai hari ini kami belum melakukannya.

Dalam budaya Batak, jika belum diadatkan maka dianggap belum sah menikah, dan dianggap belum punya hak suara dalam acara adat. Istri saya sudah beberapa kali mengajak untuk menikah adat. Saya menunda karena inggin melakukannya ketika anak-anak saya sudah besar agar mereka bisa belajar budaya kelak. Istri saya mengerti dan ia mengalah, ia tidak lagi memaksa.

Baca juga: Perbedaan, Perubahan, dan Cinta yang Tetap Bertahan: Pelajaran dari 10 Tahun Pernikahan Kami


5. Orangtua dan mertua yang sangat membantu

Sejak kami menikah, saya dan istri membuat batasan yang jelas dalam rumah tangga. Aturannya adalah bahwa kami akan membina rumah tangga sementara orang tua tidak akan ikut campur. Walaupun hal tersebut tidak pernah kami bicarakan kepada orang tua, namun kedewasaan orang tua kami dalam hal ini sangat membantu.

Orang tua kami sangat mengerti sejauh apa peran mereka dalam rumah tangga anak-anaknya. Kami juga tidak terlalu melibatkan orang tua untuk urusan rumah tangga kami terlalu dalam. Hal tersebut ternyata mempu membuat kami mandiri dalam mengarungi pernikahan. Serta menghindarkan kami berdebat karena perbedaan budaya.

Sebenarnya, ketika kita mau mengalah serta melihat budaya orang lain juga baik, maka perbedaan karena budaya bisa memperkecil perdebatan-perdebatan yang tidak penting karena perbedaan budaya.

Pernikahan beda budaya memang punya kesulitannya tersendiri, namun bukannya tak ada solusinya. Anda tertarik?


Baca juga tulisan-tulisan inspiratif ini:

Ragu Menjelang Nikah: Stres Belaka ataukah Pertanda? Mantapkan Hati, Periksa Hal-Hal Penting Ini

5 Tipe Pria atau Wanita yang Sebaiknya Tak Menikah

Yakin Sudah Siap Menikah? Inilah 5 Kenyataan yang Harus Kamu Ketahui sebelum Memasuki Gerbang Pernikahan


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Batak Karo, Istri Tionghoa. 5 Rahasia Ini yang Membuat Perbedaan Tak Menjadi Hambatan dalam Tujuh Tahun Pernikahan Kami". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Robita Sembiring | @robitasembiring

Public Speaker. Pemerhati Anak. Dosen. Treaner. OWNER Sekolah CROWN SCHOOL yang berdiri di Surabaya. (WA - 0858-8375-9612)

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar