Satu Pelajaran Mahapenting bagi Orangtua dari Film Spider-Man: Homecoming

Parenting

[Photo credit: IGN South East Asia]

5.9K
“You just don't do anything I would do ... and definitely don't do anything I wouldn't do. There's a little gray area in there and that's where you operate.” - Tony Stark

Film Spiderman terbaru sedang happening di bioskop-bioskop seluruh dunia. Pada libur sekolah yang lalu, bersama keluarga saya menikmati film yang menghibur ini. Sutradara berhasil membuat adegan yang menegangkan dan lucu berkelindan, membuat hati penonton terhiburkan.

Saat menyaksikan film superhero besutan Marvel ini, ada satu pelajaran mahapenting bagi saya dan para orangtua untuk membesarkan anak-anak. Inilah satu pelajaran mahapenting bagi orangtua dari film Spider-Man: Homecoming:

Biarkan anak kita menjadi dirinya sendiri!

Dari satu pelajaran mahapenting dari film Spider-Man: Homecoming itu, ada 4 hal yang perlu disimak orangtua untuk mengasah-mengasih-mengasuh anak.



1. Menyediakan lahan untuk masa kecil yang bahagia

Anak-anak zaman saya dulu menertawakan saya karena tidak bisa ‘naik’ tiga hal ini: naik sepeda, menaikkan layang-layang, dan naik pohon. Mereka menganggap saya kurang asyik karena tidak bisa melakukan ketiga hal yang biasanya dilakukan anak-akan seusia saya dulu.

Namun, apakah saya tidak bahagia? Sebaliknya!
Saya merasa masa kecil saya bahagia karena orangtua saya membiarkan saya menjadi diri saya sendiri.

Alih-alih main sepeda-sepedaan, bermain layang-layang dan memanjat pohon - untuk mencuri mangga tetangga hehehe - saya lebih suka bergelut dengan bacaan. Julukan ‘kutu buku’ sudah melekat ke diri saya sejak usia dini. Setiap kali main ke rumah saudara atau tetangga, kalimat pertama yang meluncur dari mulut kecil saya adalah, “Punya buku?”, “Punya majalah?”, atau “Punya komik?”

Nah, di film Spider-Man: Homecoming ini, Peter Parker yang diperankan oleh Tom Holland, benar-benar menikmati masa remajanya. Tingkah lakunya bocah banget!

[Photo credit: Fool's Bench]

Dia sering mencuri-curi untuk melakukan aktivitas yang disenanginya, bahkan di tengah kelas sedang berlangsung. Karena ‘dipercaya’ oleh Tony Stark sang Iron Man - yang diperankan dengan apik oleh Robert Downey Jr. - Peter memadukan tugasnya sebagai pembela kebenaran dengan permainan masa remaja.

Baca Juga: Tentang Aku, yang Menghabiskan Sebagian Besar Waktu Hidup Membenci Bapakku



2. Memberikan keleluasaan untuk mengeksplorasi rasa ingin tahunya

Meskipun ditugaskan untuk tetap sekolah dengan ‘baik dan benar’ - seperti penggunaan bahasa Indonesia saja - Peter justru sering ‘membolos’ karena hasrat keingintahuannya yang besar. Ketika melihat sinar asing dari senjata musuh masyarakat - yang dibuat dari reruntuhan pesawat alien - Peter memilih untuk menyelidikinya, meskipun dia sedang ada di pesta dansa sekalipun. Dia tetap melanjutkan misi rahasianya meskipun dengan terpaksa harus meninggalkan sobat karibnya, Ned Leeds - bocah Hawaii yang diperankan dengan lucu oleh Jacob Batalon, dan teman kencannya, Liz Allan [Laura Harrier].

Rasa ingin tahu yang besar inilah yang membuatnya akhirnya bisa membongkar orang di balik Vulture, musuh utama Spider-Man, yang ternyata adalah ayah Liz yang diperankan oleh Michael Keaton [Yup! Sang pemeran Batman]. Twist yang indah. Keberaniannya ini jugalah yang dipuji oleh Vulture yang diam-diam mengagumi musuh sekaligus pacar anaknya.

Orangtua perlu mengarahkan ‘keberanian’ anak. Bukan saja untuk mengeksplorasi dunianya, melainkan juga mengarahkan keberanian itu ke arah yang positif.

[Photo credit: instagram @all_dcmarvel]
Bukan nekat! Berani adalah langkah yang sudah diperhitungkan dengan matang, sedangkan nekat adalah tindakan ceroboh yang hanya digerakkan oleh insting sesaat.

Baca Juga: Keberanian Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan adalah Bekal Kehidupan yang Penting. Tanam dan Tumbuhkan Itu Pada Anak Sejak Dini!



3. Membuka mata anak agar mengetahui dan mengandalkan kekuatannya sendiri

Karena dianggap sering mbalelo dari perintah untuk belajar - sebagai persiapan menjadi bagian dari The Avengers - Tony Stark dengan tegas mengambil kembali kostum Spider-Man yang dibanggakan Peter. Meskipun kelihatan kejam dalam memberikan hukuman, cara ini ternyata justru mampu membuka mata Peter Parker bahwa yang paling penting di dalam hidup ini bukan kostum, namun jati diri.

[Photo credit: RibutRukun - ibtimes.co.uk]

Hal ini terbukti saat Peter berhadapan dengan Vulture. Dengan senjata ampuh bersayap - dari sini julukan Vulture atau Burung Pemakan Bangkai dinabalkan - Vulture merobohkan tiang-tiang penyangga markas besarnya sehingga menimpa Sang Manusia Laba-Laba yang tiba-tiba saja menjadi lemah. Namun begitu ingat ucapan Sang Mentor bahwa dia harus bisa kuat dan perkasa tanpa kostum, dengan sekuat tenaga Spidey sanggup keluar dari reruntuhan.

Orangtua yang bijak tidak selalu menolong setiap kali anaknya mengalami kesulitan. Pembiaran yang tampak kejam ini justru membentuk anak menjadi pribadi yang kuat dan tidak manja.

Saya ingat kisah seorang anak yang ketika berumur 2 tahun tetap tidak bisa berjalan. Saat dicek ke dokter, ternyata tidak ada penyakit apa pun. Semua organ tubuhnya normal. Lalu, apa yang menyebabkan dia tidak bisa berjalan? Karena sebagai satu-satunya anak kecil di keluarga itu, setiap kali dia ingin sesuatu, orang-orang di sekitarnya langsung mengambilkannya. Begitu juga ketika ingin ke mana-mana, dia tinggal tunjuk dan orang-orang dewasa itu dengan senang hati menggendongnya.

Biarkan anak kita jatuh sesekali agar dia sanggup bangkit kembali!



4. Membiarkan anak melakukan pilihan dengan tuntunan

Bagi saya, puncak alur film ini ada ketika kisah hampir berakhir. Setelah berhasil mengalahkan Vulture - bahkan menolong musuhnya itu agar tidak binasa [good boy!] - Peter Parker diundang Tony Stark ke markas baru The Avengers yang keren abis! Dia ditawari bergabung menjadi anggota Avengers - tawaran yang pasti membuat ngiler semua remaja seusianya. Di depan matanya disodorkan kostum superkeren yang sudah dilengkapi dengan peralatan supercanggih khas Tony Stark. Bukan hanya itu, di balik ruang kostum itu, puluhan wartawan sudah menunggu ‘berita terhangat’ dari markas para manusia super pembela kebenaran. Di luar ekspektasi penonton - khususnya yang berusia muda - Peter menolak dan memilih untuk meneruskan hidupnya sebagai remaja dan siswa SMA di New York.

[Photo credit: thethings.com]
Orangtua yang baik
tidak memaksakan kehendak.

Sering kita dengar seorang dokter menginginkan anaknya menjadi dokter juga. Seorang pembicara publik dan penulis - seperti saya - bisa jadi tergoda untuk ‘menurunkan’ profesi ini kepada anak-anaknya. Seorang notaris berharap agar anaknya bisa meneruskan bisnis kenotariatan yang sudah dirintis bahkan oleh sang kakek atau nenek. Di dunia politik, pemaksaan kehendak ini mendapat julukan meneruskan dinasti kekuasaan. Dasar ndeso! wkwkwk. Namun, Tony Stak - mentor Peter Parker - meskipun dengan guratan kecewa di wajahnya, membiarkan sang anak didik memilih dunianya sendiri.

Tuntunan bagi Peter Parker bukan hanya datang dari Tony Stark, tetapi juga dari kepala sekolah, Kenneth Choi, guru pembimbingnya, dan terutama Bibi May Parker, yang secara fresh diperankan oleh Marisa Tomei. Bibi May bukan saja menyayangi Peter seperti anaknya sendiri, melainkan juga mengajarinya bagaimana to behave di depan cewek yang diincarnya. Bibi May menuntun Peter Parker, memberitahukan the do's and the don’ts, di dalam pergaulan remaja. Dia bahkan mengantarkan Peter Parker ke pesta dansa dengan Liz. Asuhan dan tuntunan semacam inilah yang dibutuhkan oleh anak-anak kita.

Baca Juga: Setiap Anak Istimewa, Bantu, Bukan Paksa, Mereka Mengenali Kekuatan, Bakat dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri


Orangtua,

biarkan anak-anak kita menjadi diri mereka sendiri dan, dengan tuntunan kita, memilih jalan yang terbaik bagi mereka serta melakukan yang terbaik pula untuk mencapai cita-cita mulia mereka.



Baca Juga:

Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal Ini!

Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak

Memuji Anak Bukanlah Cara Tepat Membangun Percaya Dirinya. Bukan Pujian, Melainkan Satu Ini, Pembangun Percaya Diri Anak Sejati



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Satu Pelajaran Mahapenting bagi Orangtua dari Film Spider-Man: Homecoming". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar