Satu Kebiasaan 'Kecil' yang Paling Merusak Hubungan, Selain Perselingkuhan

Marriage

[Photo credit: Ryan Flynn Photography]

12.2K
Apa yang paling merusak sebuah pernikahan selain perselingkuhan?

Debur ombak Pantai Dreamland seolah mengiringi galaunya hati Vera, saat kami bertiga - Vera, Linda, dan saya bercengkerama di Bali. Kami berteman karib sejak SMA.

“Aku rasanya sudah tidak tahan lagi hidup dengan Doni,” Vera mengawali keluhannya.

”Dia itu kritikus sejati. Selalu ada saja yang salah. Dia memberiku berbagai label. Kadang memang berguna. Tetapi kalau overdosis setiap hari, sungguh melelahkan. Aku ingin diterima apa adanya. Itu saja.”



Paling merusak hubungan, selain perselingkuhan.

[Photo credit: Manchick Photography]

“Kebetulan beberapa hari lalu aku post renungan tentang kritikan,” ujarku menimpali.

Segera kuraih handphone-ku. Di antara tumpukan file dan pesan-pesan yang belum terbaca, kutemukan tulisan yang kumaksud. Aku pun membacakannya untuk mereka,


“Seruput Kopi Cantik YennyIndra:

Apa yang paling merusak sebuah pernikahan selain perselingkuhan?

Kebiasaan menyalahkan, menuding dan mengkritik.

Menurut para ahli, tujuannya memperbaiki kesalahan. Tetapi pada kenyataannya justru menimbulkan disconnection dan hancurnya keintiman!

Ingat janji pernikahan?

Kita akan setia saat suka-duka, sakit-sehat, kaya-miskin hingga maut memisahkan. Pernikahan adalah dua menjadi satu. Tuhan mencipta suami-istri, tidak sama tetapi saling melengkapi.

Intinya: saling mendukung dan semua ditanggung berdua.

Ketika menyalahkan, dia menempatkan diri pada posisi yang lebih tinggi, lebih benar, lebih berkuasa dan melarikan diri dari tanggung jawab untuk mendukung pasangannya. Tanpa disadari, menempatkan diri pada posisi yang berlawanan.

Ingin hubungan intim & harmonis?

Berhenti menyalahkan dan jadilah pendukung serta pembimbing yang baik. Salahmu berarti salahku juga, mari kita benahi bersama. Sikap ini akan mempererat persatuan, menciptakan keintiman sejati dan menimbulkan rasa aman terlindungi.

Siap mempraktikkan?”


“Seharusnya itu dibaca para suami, tapi banyak juga wanita yang suka menyalahkan. Mereka yang suka menyalahkan, umumnya tidak merasa secure dengan dirinya,” sambung Linda terbahak. ”Ya sudah nasib, kita menikahi pria Asia … memang begitu kulturnya. Mereka sibuk dengan apa yang dipikirkan orang lain. Dihormati orang itu wajib. Image lebih penting dari segalanya. Beda dengan pria bule yang cenderung lebih cuek.”

“Secara umum Doni suami yang baik. Dia tidak selingkuh, minum minuman keras, atau main judi. Bertanggung jawab, bahkan overprotective terhadap keluarga. Kalau anak sakit, dia lebih telaten daripada aku.“

“Pak Wepe, bos RibutRukun bilang, 'kalau punya suami yang bertanggung jawab, tidak minum, judi atau main perempuan, sudahlah … itu sudah bagus. Yang lain-lain, cincai saja. Banyak yang hidupnya jauh lebih parah,” aku mencoba menghibur.

Baca Juga: Inilah Pembunuh Relasi Nomor Satu. Simak dan Hindari, Niscaya Hubungan Harmonis Selamanya



Selalu ada cara, pilihan di tangan kita.

[Photo credit: The Kitcheners]

Sesungguhnya, di antara kami bertiga, suami Linda, Max, yang paling rumit, keras, dan sulit bergaul. Namun hebatnya, Linda tetap happy dan ceria, seolah tidak pernah terganggu dengan komentar-komentar pedas Max yang acap kali dengan vulgar dicetuskan di depan teman-temannya.

Itulah sebabnya Vera khusus ke Bali untuk berjumpa dengan Linda sambil berlibur melepaskan kejenuhan. "Mau berguru pada Linda," kata Vera.

“Di awal pernikahan, aku begitu terluka kata-kata dengan Max. Hatiku seolah berdarah-darah tanpa henti. Tidak jarang pilihan bercerai datang, begitu menggoda. Namun aku tidak berani melanggar janji pernikahanku di hadapan Tuhan: tetap bersama dalam keadaan apa pun hingga maut memisahkan,” Linda mulai menceritakan kisahnya.

“Berbagai buku aku baca agar dapat menemukan cara cerdas untuk survive. Bisa mati muda kalau terpuruk mengasihani diri sendiri! Akhirnya aku sadar, kalau Max menyerang dan aku meninggikan ‘tembok’ pertahananku, maka serangannya tidak akan melukai aku. Pilihan di tanganku sendiri, mana yang aku izinkan untuk memengaruhiku, dan mana yang tidak.”

“Max butuh sekali persetujuan, penerimaan, dan rasa hormat dari lingkungannya, sementara aku tidak. Biarkan itu menjadi bebannya. Mengapa aku harus ikut menanggungnya? Itu ga masuk akal. Belajar dari sejarah China, para pahlawan besar adalah mereka yang tidak terpengaruh dengan kritik dan pendapat orang lain. Bahkan penghinaan paling buruk sekalipun mereka terima, asal tujuan akhir - kemenangan, dapat tercapai.

Alkisah ada pendekar Kung Fu terkenal, Han Xin namanya. Pada suatu hari dia ditantang bertanding sampai mati oleh dua penjahat kacangan. Pilihannya: melawan atau merangkak di bawah kaki mereka. Han Xin memilih merangkak! Berita tersebar dan dia jadi bahan tertawaaan orang. Apakah ia peduli? Sedikit pun tidak. Hingga kini, nama Han Xin tetap dikenal sebagai pendekar besar dalam sejarah. Dia tidak mau merusak masa depannya yang cemerlang untuk sekadar meladeni dan membunuh dua penjahat kroco, memunculkan kemungkinan timbulnya masalah besar di kemudian hari

Belajar dari Han Xin, aku menetapkan nilai-nilai dan kebenaran yang jelas sebagai acuan, sehingga memudahkan aku untuk menerima atau mengabaikan serangan Max.”

“Di samping itu, aku membuka diri, bergaul dengan banyak orang. Mencari wawasan baru, terus belajar serta membuka diri terhadap hal-hal baru. Prestasi demi prestasi yang aku capai, membuatku lebih percaya diri. Aku bisa support Max dengan informasi yang dia butuhkan sehingga bisnisnya makin berkembang, menggenapi kewajibanku sebagai penolong yang sepadan,” jelas Linda.

Baca Juga: The Power to Delay: Strategi Memenangkan Pertempuran Tanpa Bertempur. Tunda Reaksi, Hindari Kehancuran Relasi



Menaklukkan ombak, bahkan menari dengan indah di atasnya.

“Ya, aku juga merasakan. Ketika stay di Jakarta hanya berdua, rasanya lebih banyak gesekan. Sebaliknya saat di Surabaya, ada anak-anak, konsentrasi tidak melulu ke pasangan, kami jadi lebih rukun. Padahal yang diributin biasanya juga hanya hal-hal sepele … tetapi menjengkelkan,” tukasku. ”Coba saja, Ver, lebih membuka diri bergaul dengan teman-teman baru yang berkualitas.”

“Kadang aku iri kalau melihat pasangan yang romantis. Mengapa aku tidak seberuntung itu?” keluh Vera.

“Ver, kata Pak Wepe, pasangan yang terlalu memamerkan kemesraan, dari pengalamannya, justru sedang menyembunyikan sesuatu. Beliau kan konselor, tahu seluk beluk pernikahan seabrek pasangan. Sudahlah … syukuri apa yang kita miliki. Itu yang terbaik dari Tuhan. Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau,” tukasku.

“Hidup itu bagaikan laut. Bergelombang, tidak statis. Tugas kita bukan berdoa supaya laut tidak berombak, melainkan bagaimana bisa menaklukkan ombak, menari di atasnya dan menikmatinya. Kita sudah ditentukan Tuhan sebagai pemenang,” ujar Linda menutup pembicaraan.

[Photo credit: Island Moon Photography]

Pernikahan sungguhlah sebuah pembelajaran sepanjang hayat. Memiliki teman-teman yang positif, membuat tantangan menjadi lebih ringan untuk diatasi.

Setuju?


"All relationships go through hell,

real relationships get through it."

- Unknown




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Satu Kebiasaan 'Kecil' yang Paling Merusak Hubungan, Selain Perselingkuhan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar