Bersetia pada Panggilan di Tengah Tekanan Penghakiman. Ini tentang Saya, Seorang Sarjana Hubungan Internasional yang Memilih untuk Menjadi Guru

Work & Study

[Image: theodysseyonline.com]

2.8K
Orang yang berkata, "Eman," "Sayang banget," adalah mereka yang menyempitkan hidup. Hidup, bagi mereka, mungkin hanya dilihat sebagai sebuah garis normatif "jika - maka" semata.

Saya tahu, tidak semua pertanyaan perlu dijawab dan pandangan miring melelahkan untuk ditanggap. Dan, saya juga paham, beberapa orang bertanya bukan karena peduli, bukan pula disponsori kerinduan untuk melihat lebih jauh sebuah kisah dari sudut pandang orang pertama, namun murni, sekadar penasaran.

Bagaimanapun, saya berkeras ingin tetap menjawab tipe pertanyaan semacam ini, "Anak HI (jurusan Hubungan Internasional) kok jadi guru akhirnya? Ga eman?" Atau tanda tanya yang memojokkan serupa, "Magang di luar negeri kok ujung-ujungnya (cuma) jadi guru?"

Di akhir bulan Januari - tepat 3 tahun lalu, saya mulai magang di KBRI Bangkok. Dan saat ini, bukannya di kementrian luar negeri ataupun di sebuah KBRI tertentu, saya justru memilih berada di sekolah, menjadi guru. Aneh kah?

Perjalanan hidup tidak selalu terduga, bukan? Dimulai dari guru paruh waktu empat bulan, satu tahun menjadi guru penuh waktu, satu tahun penuh menganggur, hingga saya menyadari,


ini panggilan hidup.


Pernah satu kali, seorang saudara dari kekasih saya R, bertanya hal senada, dan saya menangis seketika, merasa terpojokkan dan sekelibat hina. Saya bersembunyi di punggungnya menutupi sudut mata yang basah. Dia, dengan kharisma penuh kasih melindungi dan mewakili saya memberi jawab, "Iya, soalnya itu panggilannya dan di situ dia nyaman, Mbak."


Jawab yang sama akan saya berikan kepada semua orang yang terheran kenapa seorang sarjana HI memilih menjadi guru: rasa nyaman dan wujud ketaatan akan panggilan.

Sekali lagi, jika ada yang masih mau bertanya kenapa saya jadi guru, hanya itu jawabannya. Saya mau taat ke Pencipta dan itu membuat saya bahagia. Tidak kurang, tidak lebih.


Kalaulah panggilan hidup bisa kita tawar-tawar, saya juga tidak akan memilih bidang yang membuat saya harus menampung banyak pandangan sinis ini. Saya akan memilih panggilan hidup sebagai presiden atau setidaknya mengejar sebuah jabatan di dunia perpolitikan dan mengambil andil signifikan dalam pemerintahan Indonesia yang semrawut ini. Akan tetapi, setelah melalui satu tahun yang rumit, saya akhirnya paham: ruang kelas adalah ladang yang Tuhan percayakan.

Lalu, adakah yang perlu disayangkan dari sudah kuliah HI namun berujung menjadi guru? Sekali-kali pun tidak. Saya yakin dengan pasti, jika urusan sesederhana tanggal lahir pun mau repot-repot DIA atur, maka keputusan dan kesempatan sebesar berkuliah di HI Unair (Universitas Airlangga) sama sekali bukanlah suatu kebetulan. Bertemu banyak dosen yang penuh wawasan, membaca banyak buku kelas dunia, bertemu banyak orang hebat, dan pastinya berlatih menulis; tidak sedikit pun saya sesali ini.

Begitu juga soal magang di luar negeri. Pernah magang di KBRI dan kini menjadi guru adalah dua hal yang berbeda, tidak relevan untuk disandingkan, apalagi diperbandingkan. Sama tidak relevannya seperti kalimat tanya ini, mungkin, "Kamu pernah mendaki gunung kok sekarang jadi fashion retailer manager?" #nahloh


[Image:bohoberry.com]

Tidak harus toh semua keputusan langsung berhubungan dengan tujuan hidup ini? Misalkan seorang dokter apakah tidak boleh Ia memiliki pengalaman mengajar? Dan, tidak selalu pula bukan, aktif di LSM penghijauan berarti harus menjadi menteri lingkungan hidup? Ketika melihat kawan saya, lulusan Harvard Model United Nation kini bekerja di bidang yang sepenuhnya berbeda, tidak sedikit pun saya memandangnya aneh.

Menurut saya, tidak seharusnya kita memaksakan ini: mengalami satu pengalaman tertentu berarti harus berkaitan langsung dengan tujuan masa depan. Bukankah kita justru harus membuka diri dengan berbagai pengalaman? Karena pengalaman itu akan selalu memperkaya, apapun pekerjaan kita akhirnya.


Orang yang berkata, "Eman," "Sayang banget," adalah mereka yang menyempitkan hidup. Hidup, bagi mereka, mungkin hanya dilihat sebagai sebuah garis normatif "jika - maka" semata.

Jika kuliah hukum maka harus jadi notaris. Jika kuliah sastra maka minimal jadi penulis. Padahal, hidup tidaklah sesempit dan selurus itu; penuh dengan kelokan-kelokan misterius yang membawa banyak pesan. Di situlah, justru, keindahan hidup manusia.


Mencoba untuk sekadar menjelaskan soal hal itu pun pasti masih saja membuka celah bagi penghakiman. Tapi omongan orang tak akan menambahkan sehasta pun dalam hidup saya. Penjelasan ini pada akhirnya bisa terang-terangan saya bagi adalah karena saya sudah berdamai dengan semua pandangan miring semacam itu. Keberanian untuk me-reka-ulang kejadian yang membawa luka, barangkali adalah tanda bahwa kita sudah tuntas memaafkan.

Awal saya memilih menjadi guru, saya terus menyembunyikan rasa tidak aman dibalik kalimat, "Cuma satu tahun kok." Tapi sekarang, setelah mendalami profesi ini, saya tidak lagi peduli soal durasi. Restu Tuhan, itu lebih dari cukup untuk membuat saya mantap menenggelamkan jiwa di dunia pendidikan.


Saya sarjana Hubungan Internasional Unair dan sekarang saya seorang guru.

Saya bangga dengan itu!


Tidak ada penjelasan tambahan.


Ini bukan keanehan.

Ini keyakinan, kenyamanan, ketaatan, dan keputusan penuh kesadaran.



Baca Juga:

4 Hal Indah yang Akan Kamu Temukan Setelah Mengubah Pandanganmu tentang Hidup, yang Ternyata, Tak Melulu Soal Kompetisi

Bukan Semata tentang Tujuan, Hidup, Sesungguhnya, adalah Sebuah Perjalanan




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bersetia pada Panggilan di Tengah Tekanan Penghakiman. Ini tentang Saya, Seorang Sarjana Hubungan Internasional yang Memilih untuk Menjadi Guru". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adisscte

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar