Salah Memilih Pasangan Hidup? Jangan Terburu-buru Bercerai, Pertimbangkan Solusi ini!

Marriage

[Image: how-to-inc.com]

8.1K
Bagaimana kalau kita merasa telah salah memilih pasangan? Perasaan yang muncul setelah sekian tahun menikah. Tiba-tiba, atau perlahan namun pasti, kita merasa pernikahan itu tak dapat dipertahankan lagi. Tak ada lagi cinta seperti dulu kala. Apakah perceraian adalah satu-satunya jalan?

Sepulang dari kantor, seorang suami mendapati dompet istrinya tergeletak di ranjang. Ia biasanya cuek terhadap semua milik istri. Namun, matanya tergelitik saat melihat ada foto cowok tampan di bagian plastik transparan di dompet itu. Ia memperhatikan foto itu baik-baik dan bangkitlah amarahnya.

Ia memanggil istrinya dan melakukan interogasi dengan segera.

“Foto siapa ini?” ujarnya dengan mata melotot. Emosinya naik.

Sambil gemetaran istrinya menjawab, “Nanti kalau saya berterus-terang Abang akan marah.”

“Saya sudah marah ini. Jika kamu tidak mau mengaku, saya tambah marah!”

“Ya, Bang, tapi Abang janji tidak menceraikan saya ya,” pinta istrinya memelas.

“Baik, aku tidak akan menceraikanmu, asal kamu jujur. Siapa cowok di dompetmu itu?”

Sambil sesenggukan, istrinya menjawab, “Itu dulu saya, Bang. Sebelum menikah dengan Abang. Sebelum saya operasi menjadi yang sekarang ini.”

Kita bisa saja tersenyum geli membaca kisah di atas. Namun, bagaimana jika hal yang kurang lebih sama mengejutkannya dengan kisah itu menimpa kita?

Saat saya menulis artikel ini, ada dua orang ibu yang curhat ke saya. Mereka meminta nasihat dan jalan keluar, serta dukungan doa. Dua orang ibu ini ternyata menikah dengan pria yang juga mempunyai orientasi seksual sejenis. Suami mereka tergolong biseksual. Salah satu dari ibu itu baru aja menikah, sedangkan yang satunya lagi sudah lama menjalani pernikahan dan bahkan sudah mempunyai anak dan cucu.

Baca Juga: Sahabat Saya Mengaku Gay. Inilah Kisah Kehidupannya

Selain orientasi seksual pasangan yang dapat saja mengejutkan, terdapat realita lain yang dapat mengganjal perjalanan relasi. Kita berharap punya pasangan yang tangguh, ternyata lembek. Sebaliknya, kita bermimpi punya pasangan yang lemah lembut, eh ternyata malah lemah gemulai. Tahu bedanya, kan?

Baca Juga : Yakin Sudah Merasa Cocok dengan Pacar? 7 Perbedaan "Kecil" Ini Dapat Menjadi Sumber Konflik dalam Pernikahan



Suami-Istri Memang Harus Berbeda

Pasangan suami-istri memang harus berbeda. Pria, konon dari Mars, dan wanita, disinyalir dari Venus. Beda planet. Beda tabiat. Tidak apa-apa. Justru normal-normal saja. Saya pernah membaca buku berjudul Opposites Attract. Kita justru saling tertarik karena perbedaan yang ada. Orang yang pendiam mencari pasangan rame. Orang yang merasa keras kepala ingin mendapatkan pasangan yang lembut. Apa yang diharapkan dengan perbedaan yang kontras ini? Agar terjadi keseimbangan.

Dalam seminar keluarga, saya sering mengatakan, ”Jika yang rame mendapatkan pasangan yang rame pula, maka hasilnya pasar. Jika pendiam mendapatkan pasangan yang tak kalah diamnya, maka hasilnya kuburan!”

Beda tidak menjadi masalah masalah selama masih selaras. Di dalam seminar untuk pasangan suami-istri, saya juga sering berkata, “Suami-istri itu kompatibel, bukan kompetitif. Kita saling berbagi, saling melengkapi dan bukan saling bersaing.”

Baca Juga : Empat Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh



Ketika Saya Merasa Salah Memilih Pasangan

Bagaimana kalau kita merasa salah memilih pasangan? Kapan kita mempunyai kesadaran seperti itu? Biasanya setelah menempuh perjalanan pernikahan beberapa tahun. Mengapa demikian? Pada saat pacaran, kita MEMILIH untuk MELIHAT hanya hal-hal yang baik saja, sedangkan keburukan pacar kita abaikan dengan pikiran, “Toh nanti kalau sudah menikah, ia bisa berubah sendiri.” Salah Besar!

Jika sebelum menikah wataknya begini, jangan berharap setelah menikah wataknya begitu. Kita benar-benar perlu cermat dalam memilih. Kita seringkali membutuhkan waktu lama untuk memilih dan memilah pada saat membeli barang, tetapi tergesa-gesa saat memilih pasangan. Padahal memilih barang hanya berakibat sementara, sedangkan memilih pasangan berakibat seumur hidup. Kalau bisa ‘till death do us apart’ bukan ‘till debt do us apart!’

Kita baru menyadari kekurangan atau kelemahan pasangan setelah menikah. Kita sulit menoleransi kekurangan atau kelemahan itu. Itu sebabnya, pada saat melakukan pemberkatan pernikahan, saya sering berkata, ”We get a ring then we wake up!” Kita mendapatkan cincin pernikahan dan baru kemudian tersadar! Tersadar dengan terkejut, sama seperti mendengar bunyi weker di pagi hari, bahwa ada kelemahan dan kekurangan dalam diri pasangan. Di dalam Kitab Suci bahkan ada kisah tentang seorang pria bernama Yakub yang terbangun dan mendapatkan bahwa wanita yang dinikahinya ternyata bukan Rahel yang dicintainya, tetapi Lea, kakak dari Rahel. Nah, lho!

Kita merasa salah memilih pasangan saat mendapati jurang yang sangat dalam antara utopia surga dan Ethiopia bumi. Idealisme cinta kita terempas oleh realita fakta.

Baca Juga: Tak Ingin Terjebak Penyesalan karena Salah Pilih Pasangan Hidup? Renungkan 3 Nasihat ini!



Bagaimana Mempertahankan Pernikahan?

Nasi telah menjadi bubur? Bisa jadi! Namun, bubur pun bisa menjadi bubur ayam atau bubur ikan yang nikmat. Telur sudah pecah? Benar! Namun, telur yang pecah pun bisa menjadi orak-arik yang membuat mulut mendesah dan air liur tumpah. Apa yang perlu kita lakukan?

Pertama, terima konsekuensi dari pilihan kita. Love is a choice. I agree. Toh, pada umumnya, kita memilih pasangan secara sukarela, alias tanpa paksaan pihak lain. Kalau pun merasa terpaksa, kita berhak menolak bukan? Jadi, jika kita sudah memilih seseorang menjadi pasangan, ya terimalah pilihan kita sendiri. Kalau kita tidak dapat menghormati pilihan sendiri, siapa yang akan menghormatinya?

Kedua, cinta bukan hanya soal membuat pilihan, tetapi juga membuat komitmen. Begitu kita menikah, berdasarkan keyakinan spiritual saya, kita wajib memeliharanya sampai mau memisahkan. Menderita, dong? Tegantung bagaimana kita menyikapinya.

Baca Juga : Dua Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, namun Terlupakan

Dalam konseling pernikahan, saya seringkali mendapati bahwa masing-masing pihak menginginkan pasangannya berubah. Suami ingin mengubah istrinya, demikian juga sebaliknya. Apakah berhasil? Seringkali tidak. Lalu, bagaimana bila saya menemukan kekurangan atau kesalahan pasangan?

Dalam sebuah ibadah di gereja, saya pernah mendengarkan kesaksian suami-istri tentang perjalanan pernikahan mereka. Sang suami menyampaikan bahwa segera setelah mereka menikah, pertengkaran sering terjadi. Begitu hebatnya pertengkaran itu, sehingga sang istri sampai pingsan. Apa yang suami itu lakukan pada istrinya? Sang suami mengoleskan minyak angin agar istrinya sadar. Setelah istrinya sadar, apa yang kemudian terjadi? Sang suami kembali mengajak istrinya berkelahi. Pada saat sang istri mulai bercerita, ia menyampaikan, ”Kesalahan yang utama adalah obesi saya untuk segera mengubah suami. Dalam perjalanan waktu dan semakin saya dewasa, saya harus mengubah diri sendiri lebih dulu, sebelum saya bisa mengubah suami.”

Nah, inilah kuncinya : kesediaan mengubah diri sendiri terlebih dulu, sebelum menuntut perubahan dari pasangan. Bukankah ada Golden Rule yang berbunyi, ”Perlakukanlah orang lain seperti kalian ingin diperlakukan oleh mereka.”

Hai para suami, “Jika engkau ingin diperlakukan sebagai raja, perlakukan istrimu sebagai ratu.” Demikian juga sebaliknya.



Baca Juga, dari Penulis yang Sama:

Ketika Cinta Tak Sempurna, Bagaimana Menjalaninya tanpa Lara?

Seputar Kontroversi Full Day School : Mengapa Kita Tak Mulai dengan Mendengarkan Anak-anak?

Mengapa Beberapa Orang Berpotensi, Seperti Mike Mohede, Meningggal di Usia Muda?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Salah Memilih Pasangan Hidup? Jangan Terburu-buru Bercerai, Pertimbangkan Solusi ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar