Sahabat Saya Meninggal, Konon Ia Kena Kutuk. Ramalan, Kutukan, Santet, Feng Shui, Bagaimana Menyikapinya?

Reflections & Inspirations

[Image: pinterest.com]

5.7K
"Dok, saya ke sini hanya minta obat, sekadar bekal untuk berziarah. Saya tidak minta jaminan dari dokter. Tuhan yang akan menjamin hidup saya."

Dering telepon memecah keheningan malam, membangunkan saya dari tidur yang lelap. Setengah tergagap, saya berusaha mencerna suara dari seberang sana, "Doni meninggal dunia."

Apa?

Meninggal?

Saya terkejut. Tak ingin percaya, tapi ini nyata.

Beberapa hari lalu saya memang menerima kabar, Doni - sahabat semasa SMP - sakit dan sedang opname di Semarang. Saya dan beberapa teman sudah bersiap terbang ke Semarang untuk bezuk esok pagi. Kami terlambat. Malam ini dia meninggal.

Yang membuat hati kami miris adalah cerita dari istri Doni. Ia menceritakan, betapa setahun terakhir ini Doni seolah dihantui oleh kutukan, ramalan, atau entah apa istilahnya, karena putri mereka menikah dengan tetangga di seberang jalan. "Tabu," kata orang. Menurut 'orang pintar', itu akan membuat salah satu anggota keluarga meninggal. Dan tanpa disangka, itu betul-betul terjadi.

Pertanyaannya:

Benarkah ramalan, kutukan, santet, feng shui itu nyata? Kalau memang ya, bagaimana menangkalnya?

Inilah beberapa kiat jitu untuk mengatasinya:



1. Terjadilah Menurut Imanmu

Ini yang difirmankan Tuhan! Doni bukan orang yang rutin beribadah apalagi membaca Firman Tuhan. Akibatnya, kebenaran tidak betul-betul tertanam di dalam hatinya.

Beberapa waktu silam, Doni sempat menelepon, sharing tentang ramalan ini. Meski di mulut Doni mengatakan tidak percaya, istrinya berkisah bahwa beberapa kali Doni sempat berujar, ”Semoga segala sesuatu berjalan baik setelah Nina [putri mereka] menikah.”

[Image: RibutRukun.com]
Perasaan takut yang mendominasi pikiran inilah yang membuat ramalan buruk itu terjadi. Tanpa disadarinya, itulah ‘iman’ Doni.

Baca Juga: Setelah Menulis Biografi Orang-Orang Sukses, Saya Menemukan Sukses Sejati Hanya Membutuhkan Satu Hal Ini



2. Tuhan Mengubah Pikiran-Nya karena Umat-Nya Berdoa

Kalimat di atas adalah judul buku yang ditulis oleh penulis terkenal Brother Andrew. Inilah juga kebenaran yang dilupakan Doni.

Alkisah pada zaman dahulu ada seorang raja bernama Hizkia yang sedang sakit. Tuhan memerintahkan seorang nabi untuk memperingatkannya. Hizkia harus bersiap, karena nanti malam dia akan meninggal. Setelah berucap demikian, nabi itu segera melangkah keluar meninggalkan Hizkia. Dengan sedih, Hizkia memandang ke dinding dan berdoa sambil menangis, "Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan setulus hati. Aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu."

Apa reaksi Tuhan?

Nabi yang sedang berjalan keluar itu diperintahkan-Nya untuk kembali dan memberi tahu Hizkia, usianya diperpanjang 15 tahun lagi.

Ketika umat-Nya berdoa, bahkan terhadap kehendak-Nya, yang telah ditetapkan-Nya sendiri, Dia berkenan mengubahnya seketika. Tanpa menunda!
[Image: christiantoday.com]

Apakah selalu bisa diubah? Itu tentu kedaulatan Tuhan. Akan tetapi, setidaknya kita bisa hidup penuh pengharapan tanpa dihantui ketakutan.

Baca Juga: Inilah 5 Hal tentang Doa, Bagaimana Berdoa dan Jawaban Tuhan atas Doa

Kisah nyata di bawah ini bisa memberikan gambaran.



Hidup adalah tentang Pilihan

Seperempat abad silam, ada dua sahabat saya menderita penyakit berat. Lydia menderita lupus, sementara Monica menderita kanker.

Ketika itu Lupus masih merupakan penyakit yang langka. Lydia sempat mengalami suhu tubuh sekitar 40 derajat selama hampir sebulan. Wajahnya memerah. Tampaknya, kecil kemungkinan ia mampu bertahan hidup. Keluarga hendak membawanya ke Guangzhou, tetapi saat itu sedang banjir. Setelah ditunggu dan tidak juga surut, akhirnya keluarga memutuskan membawanya ke Shanghai. Di sana penyakit Lydia menjadi kajian dokter, bahkan sempat diliput televisi karena kelangkaannya.

Sahabat saya yang seorang lagi, Monica, menderita kanker di sekitar hidung. Beberapa tahun sebelumnya, dia pernah menderita penyakit yang sama namun dinyatakan sembuh oleh dokter. Sekarang, penyakit itu muncul kembali.

Monica dan Lydia memiki anak-anak berusia sebaya. Anak-anak mereka masih duduk di Sekolah Dasar.

Lydia dan Monica memiliki respons berbeda dalam menghadapi penyakit. Monica selalu percaya dan berkata Tuhan tahu yang terbaik. Kalau memang Tuhan menginginkan dia kembali ke rumah Tuhan, maka itu yang terbaik. Monica berserah kepada kehendak Tuhan.

“Bagaimana dengan anak-anak? Bukankah mereka masih membutuhkanmu, Monica?” tanya saya.

“Tuhan akan menjaga mereka lebih daripada saya dapat menjaga mereka.”

Meski akhirnya sempat dibawa ke Guangzhou, tidak berapa lama kemudian Monica meninggal di sana.

Sebaliknya, Lydia tipe fighter. Dia kerap bercerita bahwa saat berdoa, ia mengingatkan Tuhan, anak-anak ini diperoleh karena mujizat setelah menikah hampir 5 tahun. Tentunya Tuhan tidak ingin anak-anak itu tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. "Tuhan, beri saya kesempatan untuk membesarkan mereka,” begitu doanya selalu.

Kondisi Lydia naik turun, tetapi secara umum baik. Kadang-kadang wajahnya tampak chubby karena pengaruh obat yang diminum, lain kali kelihatan normal kembali. Dia sangat positif dan penuh keyakinan akan masa depan. Suaminya juga baik, sangat mengasihi dan mendukungnya. Lydia sering menguatkan teman-temannya ketika mengalami masalah. Pernah suatu saat saya merasa down karena kehilangan uang dalam jumlah cukup besar.

Lydia menghibur, ”Yenny, kamu hanya kehilangan uang yang mudah dicari lagi. Lihat, nyawaku taruhannya setiap hari.” Saya pun tersipu malu.

Suatu ketika, Lydia berniat pergi berziarah ke Israel bersama suaminya. Dokter yang merawatnya terkejut, ”Saya tidak berani menjamin Ibu bisa kembali dengan selamat. Penyakit Ibu membutuhkan pantauan ketat. Jika terjadi sesuatu di sana, bagaimana?”

“Dok, saya ke sini hanya minta obat, sekadar bekal untuk berziarah. Saya tidak minta jaminan dari dokter. Tuhan yang akan menjamin hidup saya.”
[Image: RibutRukun.com]

Dokter pun mengalah. Lydia berziarah dengan lancar dan pulang tak kurang suatu apa.

Beberapa kali dokter dibuat terheran, jumlah sel darah putih Lydia jauh di bawah angka normal. Kondisi yang menyebabkan orang lain lemas tidak berdaya, tetapi tidak dengan Lydia. Ia tetap ceria bersemangat.

Akhirnya, setiap ada pasien dokter tersebut yang putus asa tanpa harapan, disarankannya untuk menelepon Lydia. Hingga Lydia pun punya pelayanan baru, memotivasi sesama penderita Lupus.

Lydia bertahan hidup hingga 16 tahun kemudian dan meninggal ketika sedang berbelanja ke pasar. Ia jatuh, dilarikan ke rumah sakit, untuk tidak lama kemudian berpulang ke rumah Tuhan. Tak pernah ia mengalami kondisi drop. Ia bahkan masih bisa memasak untuk keluarganya.

Dari kisah kedua sahabat di atas, kita dapat belajar,

Hidup sesungguhnya adalah soal pilihan. Kenali kebenaran, maka hidup akan dimerdekakan.



Baca Juga:

Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar Sebagai Pemenang

Menderita Kelainan Tulang Belakang Menahun, Inilah 7 Hal yang Membuat Saya Mampu Berdiri Tegak, Menghadapi dan Melaluinya

Odil, Gadis Kecil dengan Kelainan Struktur Wajah Langka yang Membuat Saya Memaknai Kembali 7 Hal yang Sungguh-Sungguh Penting dalam Hidup


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sahabat Saya Meninggal, Konon Ia Kena Kutuk. Ramalan, Kutukan, Santet, Feng Shui, Bagaimana Menyikapinya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?