Sahabat Saya Mengaku Gay. Inilah Kisah Kehidupannya

Reflections & Inspirations

[Image: gamerbrain.net]

175.1K
Hampir sepuluh tahun berteman, tak pernah saya menduga bahwa Ia adalah seorang gay. Setelah sepuluh tahun berteman, baru saya ketahui, ternyata ada perjalanan yang penuh luka dan air mata di dalam hidupnya. Saya tak sedang berhadapan dengan label LGBT. Saya sedang berhadapan dengan seorang manusia. Dan lebih daripada semua itu, saya sedang berhadapan dengan seorang sahabat.

***

“Sebagai teman akrab, saya ingin kamu tahu tentang hal ini. Saya tak dapat lagi menyembunyikan hal ini darimu: Saya gay.” tutur Adam, panggil saja namanya demikian.

“Oh ... “ hanya itu yang keluar dari bibir saya.

***

Saya tak menduga bahwa dalam percakapan kami malam itu Adam akan mengungkapkan salah satu rahasia terbesar dalam hidupnya. Hampir sepuluh tahun berteman, tak pernah saya menduga bahwa Ia adalah seorang gay. Gayanya sama sekali tak 'melambai'. Bukankah orang-orang seringkali secara keliru mengidentikan gaya 'melambai' dengan gay? Penampilannya seperti kebanyakan pria lainnya. Tak seganteng artis di televisi memang, namun saya tahu ada beberapa perempuan yang tertarik padanya. Saya dulu tak paham mengapa Adam sepertinya tak menghiraukan mereka. Kini saya tahu.

Adam juga bukannya tak beragama. Ia malah tergolong aktif beribadah di sebuah gereja. Ia juga menyediakan waktunya untuk melayani dalam beragam aktivitas gereja. Saya yakin, di kalangan gereja, tak seorang pun mengetahui sisi lain kehidupan Adam ini.

Percakapan malam itu adalah pembuka bagi percakapan yang lebih terbuka dan mendalam. Saya sadar bahwa saya berhadapan dengan seorang manusia, dengan segala macam pergumulannya, dan bukan dengan sebuah label: LGBT. Bahkan, lebih daripada semua itu, saya berhadapan dengan seorang sahabat.

Beberapa waktu yang lalu, Adam sempat mengungkapkan keinginannya untuk menceritakan kisah hidupnya lewat RibutRukun.com. Ia menyatakan kesiapannya untuk coming out. Saya lah yang memintanya untuk memikirkan kembali keinginannya tersebut, terkait dengan keluarga dan mungkin juga masa depan karirnya di salah satu perusahaan besar di ibukota.

Saya menjanjikan akan memberikan kesempatan bagi Adam untuk menceritakan kisah hidupnya, lewat beberapa pertanyaan yang saya kirimkan kepadanya. Inilah jawaban Adam. Inilah kisah perjalanan hidup seorang gay, salah seorang sahabat saya. Seseorang yang tetap, dan akan selalu menjadi sahabat saya, bahkan setelah Ia mengakui bahwa dirinya gay.


1. Sejak kapan kamu tahu bahwa kamu gay?

Sejak kecil, kurang lebih ketika saya masih berada di usia kelas 4 SD, saya sudah mulai merasakan beberapa keganjilan dalam diri saya. Pada waktu itu saya mempunyai sebuah kebiasaan yang unik dan berbeda dengan kebanyakan anak-anak cowok pada umumnya. Saya tidak menyukai olahraga. Hampir setiap hari saya bermain dengan boneka-boneka kecil (termasuk mainan-mainan plastik) yang saya miliki dan membuat sebuah cerita dengan menjadikan mainan-mainan tersebut sebagai tokoh-tokohnya.

Pada waktu itu juga (kelas 4 SD) saya mengagumi guru olahraga saya (cowok) yang memiliki badan bagus (six pack). Beliau kelihatan manly/macho, dan saya menyukai sisi maskulin yang dimilikinya. Terkadang, sepulang sekolah saya selalu teringat-ingat akan guru olahraga saya tersebut. Ketika pelajaran olahraga, saya selalu dapat menikmati kehadiran guru olahraga tersebut, apalagi ketika Beliau sedang mengajar.

Saya dapat mengidentifikasikan diri saya gay setelah saya banyak membaca buku & artikel-artikel (blog) tentang seksualitas baik rohani maupun umum, serta melalui informasi-informasi yang saya dapatkan di internet. Barulah kemudian saya bisa memahami diri saya sebagai seorang gay; walaupun pada waktu itu saya bingung untuk mengidentifikasikan secara jelas, apakah saya seorang bi atau gay.


2. Apakah kamu pernah menjadi korban pelecehan seksual? Dan menurutmu, apakah itu yang menyebabkan kamu menjadi gay?

Ya, saya rasa demikian, namun tidak ada ingatan yang jelas akan masa kecil saya tersebut.

Pada waktu kecil, ada kemungkinan saya pernah dilecehkan oleh beberapa tetangga rumah. Dulu saya sering membeli jajanan (snack) di kios sebelah rumah. Banyak pemuda-pemuda kampung dan juga bapak-bapak nongkrong di sana. Beberapa dari mereka suka pegang-pegang alat kelamin saya. Mungkin saya semacam dibully. Cuma memang tidak ada bukti-bukti yang jelas mengenai peristiwa-peristiwa tersebut.

Kemudian pada masa SMA, saya mempunyai seorang sepupu (cowok) yang tinggal di kota yang berbeda. Setiap liburan sekolah, saya selalu main ke rumahnya. Sepupu saya ini suka meraba-raba badan saya, kadang juga memeluk dan memegang-megang daun telinga saya. Hal ini membuat saya salah sangka, saya pikir Ia suka dengan saya, sehingga saya mau saja dipegang-pegang olehnya. Pada suatu malam, saya memberanikan diri untuk meraba-raba tubuh sepupu saya yang sedang tidur, hingga akhirnya juga memberanikan diri untuk memegang alat kelaminnya secara tidak langsung. Keesokan harinya, sepupu saya mengajak untuk melakukan anal sex pada malam hari dan saya menurutinya begitu saja. Semenjak peristiwa tersebut, relasi kami menjadi semacam relasi berpacaran.

[Baca juga: 5 hal yang melatarbelakangi perilaku LGBT dari sudut pandang pribadi seorang konselor]


3. Apakah kamu merasa telah berubah dari korban pelecehan seksual menjadi pelaku?

Pada waktu itu, saya mengalami kebingungan dan tidak dapat mendefinisikan apa yang saya alami. Saya belum begitu tahu mengenai istilah gay/homoseksual, Saya banyak bertanya kepada orang lain yang bisa saya percayai, membaca buku, dan mencari tahu melalui internet; akhirnya sampai di satu titik dimana saya mencoba untuk chatting melalui sebuah "room" khusus gay dan lesbian melalui sebuah program chat, MIRC. Semenjak itulah saya mulai memberanikan diri untuk janjian bertemu dan melakukan aktivitas seksual (ML) tanpa ikatan dengan cowok yang baru saja saya kenal lewat media chat tersebut, one night stand.

Semenjak itu, saya mulai tertarik mencari orang-orang baru untuk ML, misalnya bergerilya mencari mahasiswa-mahasiswa cowok yang bisa dan bersedia saya ajak ML, pada waktu itu saya sudah masuk usia perkuliahan.


4. Bagaimana kamu menyembunyikan identitas dan perilaku seksual ini di tengah keluarga dan masyarakat?

Saya termasuk orang yang introvert. Saya tidak pernah menceritakan pergumulan saya tersebut kepada orang lain, termasuk orangtua saya pada waktu itu. Saya selalu merasa berjuang seorang diri, dan merasa bahwa saya satu-satunya “manusia aneh” yang hidup di dunia ini.

Saya selalu berupaya kelihatan rohani ketika berada di gereja dan lingkungan gereja. Kadang, kedok “alim” yang saya miliki, saya gunakan untuk menjebak seseorang agar bersimpati dengan saya; sehingga saya, dengan coba-coba, membuat orang tersebut untuk dapat menjadi gay seperti saya.

Cara lain, saya hanya berinteraksi dalam media-media chat yang didominasi oleh kaum gay. Dengan komunitas-komunitas tertutup tersebut saya lebih merasa nyaman ketika berdiskusi tentang relasi sebagai seorang gay, juga pembahasan-pembahasan tentang kehidupan gay.

Kemudian, saya terkadang mengaku suka ataupun sudah punya pacar wanita, yang identitasnya saya rahasiakan kepada orang-orang. Terkadang, ketika bergaul atau sedang bersama-sama dengan teman bermain, saya sesekali membahas hal-hal seksual/pornografi dengan wanita, untuk menunjukkan bahwa saya masih memiliki ketertarikan dengan wanita.

Saya juga termasuk orang yang sangat berhati-hati ketika ML dengan seseorang. Bahkan, saya terkadang harus membayar mahal untuk menyewa tempat khusus agar identitas kami tidak diketahui. Beberapa kali saya juga menyewa tempat yang memang tersebunyi dan ekslusif untuk golongan gay.

Di beberapa media sosial (Friendster, Facebook), saya juga membuat 2 account yang berbeda. Yang satu untuk umum, yang satu khusus untuk komunitas gay. Begitu juga dengan account Line, Whatsapp, BBM. Hal ini saya lakukan supaya keberadaan saya dalam dunia gay tidak diketahui oleh orang lain.


5. Apa yang kamu rasakan ketika beribadah terkait dengan pergumulanmu sebagai gay?

Saya pasti selalu merasa bersalah setiap kali ML dengan seseorang (cowok). Terkadang saya ML dengan orang-orang Kristen dan bahkan aktivis gereja. Tidak jarang juga terkadang saya penasaran dengan bagaimana respons Tuhan setelah saya berulang kali melakukan dosa yang sama, dosa homoseksual saya.

Apakah Tuhan masih mengasihi saya? Mengapa Tuhan tidak menghancurkan dan memusnahkan saya, manusia hina dan kotor ini? Apakah Tuhan marah? Apakah Tuhan diam saja dan sudah menyerah dengan diri saya yang berkali-kali jatuh dalam dosa tersebut?

Saya beberapa kali juga sempat terpikir untuk bunuh diri, supaya dapat terlepas dari ikatan dosa saya tersebut. Dulu saya mempunyai konsep: kalau saya mati, maka segala penderitaan saya sebagai akibat dari perilaku-perilaku seksual saya yang menyimpang tersebut dapat berakhir.

Ketika berdoa di gereja saya seringkali merasa malu dengan Tuhan, merasa jauh dari Tuhan, serta merasa lelah dan ingin menyerah saja. Saya juga terkadang merasa kesepian dan berjuang seorang diri, tanpa Tuhan, dan tanpa teman-teman yang lain.


6. Apakah kamu setuju dengan pernikahan sejenis?

TIDAK. Saya tidak setuju dengan pernikahan sejenis. Bagi saya pribadi, Tuhan tidak pernah mendesain manusia untuk melakukan pernikahan sejenis. Alkitab sudah sangat jelas, bagi saya, mengatakan hal demikian.

Pernikahan sejenis biasanya tidak akan memiliki ending/akhir yang jelas. Mereka yang memilih untuk melakukan pernikahan sejenis biasanya akan berakhir dengan perasaan yang kosong dan hampa, karena memang manusia tidak didesain untuk menjalani hidup yang demikian. Dari segi keturunan pun, mereka yang melakukannya terkesan 'memaksakan diri' dengan mengadopsi anak, akan tetapi hal tersebut belum dapat memenuhi esensi dasar mengapa manusia diciptakan oleh Tuhan, dan bagaimana manusia harus beranak cucu.


7. Kamu ingin orang lain melihat dan memperlakukan kamu seperti apa?

Saya ingin orang lain memberikan suatu “penerimaan” terhadap keberadaan diri saya. Melihat saya seperti pria normal pada umumnya, namun memiliki kebiasaan yang buruk, seperti merokok, main judi, mabuk. Dengan adanya penerimaan dari mereka, maka saya tidak merasa berjuang seorang diri.

Dalam hal ini “penerimaan” yang saya maksudkan bukanlah penerimaan terhadap dosa homoseksual saya, namun kepada pribadi saya yang rapuh, lemah, dan butuh diterima keberadaannya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. Saya ingin orang lain memandang saya sebagai pribadi yang patut untuk ditolong dan diarahkan ke jalan yang sesuai dengan Firman Tuhan.

Penerimaan tersebut juga menyangkut penghargaan terhadap keputusan saya mengenai hal ini: apakah saya mau hidup selibat atau tidak selibat dan menikah dengan lawan jenis. Hal-hal demikian sangat sensitif bagi saya secara pribadi. Tidak semua orang yang pernah mengecap kehidupan gay bisa begitu saja menikah dengan lawan jenis.

Pemulihan dari kehidupan homoseksual menuju ke kehidupan yang normal butuh proses dan waktu yang panjang, bahkan mungkin, seumur hidup.


8. Apakah kamu setuju dengan sebagian orang yang mengatakan bahwa gay itu menular?

Tidak! Menurut saya secara pribadi perilaku gay/homoseksual bukanlah “penyakit menular” dan tidak terkait dengan faktor gen yang dapat diturunkan. Saya melihatnya sebagai suatu kebiasaan buruk dalam hal seksualitas, sama seperti kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya: merokok, berkata kotor, dan lain-lain.

Kebiasaan buruk kebanyakan dilatarbelakangi oleh permasalahan dalam keluarga, seperti perceraian, mama yang terlalu dominan dalam keluarga - sehingga saya seringkali merasa kehilangan sosok pria dewasa (walaupun papa saya masih hidup, namun Ia tidak menjalankan fungsi sebagai kepala rumah tangga dengan baik). Kebiasaan buruk tersebut tertanam sejak kecil dan apabila tidak segera ditangani, akan semakin berakar kuat dan semakin meningkat intensitas perilaku dosanya.

Ingin jadi seorang gay atau tidak sebenarnya merupakan keputusan pribadi yang diambil oleh seseorang.

Kemudian, bagi saya perilaku gay tersebut juga dapat merupakan hasil pengkondisian. Hal ini dapat dilihat secara khusus dalam beberapa kasus seorang pria yang diputuskan kemudian ditinggalkan oleh pasangan wanitanya atau mungkin juga diselingkuhi, sehingga pria tersebut memiliki kepahitan dan sakit hati terhadap wanita; dan celakanya, sakit hati tersebut kemudian digeneralisasi terhadap semua kaum wanita.


9. Apa pergumulan terbesarmu sebagai gay?

Saya sebenarnya tidak terlalu menikmati hubungan seks (ML) dengan laki-laki, walaupun sesekali saya juga menikmatinya. Namun saya jauh lebih menikmati relasi yang terjalin dengan seorang laki-laki dewasa yang manly/macho. Jadi ketika ada seorang laki-laki dewasa ataupun yang memiliki kedewasaan memberikan perhatian lebih kepada saya, maka saya pasti akan memiliki kecenderungan untuk mencintai pria dewasa tersebut. Saya juga terkadang bergumul dengan pornografi gay dan kemudian dilanjutkan dengan onani/masturbasi. Kondisi kekosongan yang demikian seringkali dimanfaatkan oleh orang lain yang mengetahui saya yang sebenarnya. Hal-hal yang demikianlah yang seringkali susah untuk saya tolak.


10. Apakah kamu pernah tertarik secara seksual pada lawan jenis? Pernah terpikir untuk menikah?

Pernah, terutama apabila perempuan tersebut mirip dengan mama saya. Saya mempunyai kedekatan yang sangat dalam dengan mama saya. Di dalam hidup keluarga saya, mama lebih mendominasi daripada papa. Hingga saat ini saya tidak terlalu tertarik untuk menikah. Saya malah ada keinginan untuk hidup selibat.


Saya membaca dan membaca berulang kali jawaban-jawaban Adam. Tenyata ada perjalanan yang penuh luka dan air mata di dalam hidupnya.

Saya tak sedang berhadapan dengan label LGBT. Saya sedang berhadapan dengan seorang manusia, yang tak sesederhana itu untuk sekadar dimasukkan dalam sebuah kotak atau diberi label tertentu.

Saya berhadapan dengan seorang sahabat, yang sama seperti saya, dan Anda, selalu punya sisi-sisi kehidupan yang belum atau tak terlihat dari mata orang lain.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sahabat Saya Mengaku Gay. Inilah Kisah Kehidupannya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar