Sahabat Saya Belum Pernah Pacaran di Usia 30 Tahun meskipun Banyak Pria Mendekatinya, Terlalu Pemilih atau Teguh Memegang Prinsip?

Singleness & Dating

[Image: Coffeewoman]

14.8K
"Seriusan belum pernah pacaran?" Pelan namun pasti dia mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang saya ajukan. Mengubahnya menjadi sebuah pernyataan, "Seriusan, belum pernah pacaran."

"Seriusan belum pernah pacaran?"

Tanya saya kaget kepada sahabat saya setelah kami menyelesaikan sebuah sesi acara pagi itu. Pelan namun pasti dia mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang saya ajukan. Mengubahnya menjadi sebuah pernyataan, "Seriusan, belum pernah pacaran."

Sahabat perempuan saya ini bukanlah orang terbelakang. Latar belakang pendidikannya malah cukup mentereng, pun dia pernah bersekolah di luar negeri. Beberapa lelaki saya tahu persis pernah mendekatinya, bahkan kawan saya pernah ‘nembak’ dia, namun ditolaknya secara halus. Segera kekhawatiran menyeruak, memenuhi pikiran saya. "Wah apa dia penyuka sesama jenis, ya?" Mengingat dia pernah sekolah bertahun-tahun di luar negeri, dan kita tahu hubungan sesama jenis di luar negeri adalah hal yang lumrah, diperbolehkan di beberapa negara.

Segera saja perbincangan kami yang ditemani sarapan pagi dan secangkir kopi hitam itu menghangat dan mendalam. Sekitar satu jam terlewati, saya mendapatkan banyak hal tentang prinsip hidup yang dia pegang hingga saat ini. Prinsip yang dia junjung tinggi dan dipegang teguh supaya hidupnya tidak terjebak di dalam lingkaran penyesalan.

Baca Juga: Gelisah karena Jodoh Tak Kunjung Datang? Saya Pernah Mengalaminya. Inilah Kisah Saya: Menemukan Pasangan Hidup di Usia Lebih dari 30 Tahun



1. Tidak Membuang Waktu dengan Orang yang Salah

Ini adalah alasan pertama yang dilontarkan olehnya,

"Aku nggak ingin menghabiskan waktu dengan orang yang salah."

"Lah kalau kamu nggak pernah mencoba berelasi dengan lawan jenismu, terus gimana kamu bisa tahu kalau dia orang yang tepat atau yang salah?" saya mencoba berargumen.

"Bisa!" jawabnya tegas. "Cowok-cowok yang nembak aku rata-rata nggak bisa menjawab pertanyaan yang aku ajukan. Bukan pertanyaan yang susah atau pertanyaan duniawi [soal harta, jabatan, atau latar belakang keluarga] yang aku tanyakan, tapi lebih kepada prinsip hidup dan tujuan hidup mereka. Pertanyaan semacam, 'Apa yang berbeda dalam tujuan hidupmu kalau kita sudah berelasi?" misalnya. Pertanyaan singkat itu belum ada yang bisa menjawabnya," dia menjelaskan.

"Aku nggak mau menghabiskan waktu sekadar untuk nonton, jalan, atau makan dengan pasanganku. Nggak punya pasangan pun, aku bisa melakukan itu dengan teman-teman yang lain."

"Aku mau menghabiskan waktu bersama pasanganku dengan melayani, menumbuhkan iman kami bersama, dan berbuat something yang nyata bagi sekitar kami," tutupnya.

Baca Juga: Wanita, Periksa Kesiapan Pasanganmu untuk Menikah Lewat 4 Pertanyaan Ini



2. Relasi dengan Tujuan Menikah

[Image: crosswalk]

Relasi yang sekadar makan, nonton, dan jalan-jalan, menurutnya, tidak layak untuk menaikkan status seorang laki-laki dari ‘teman’ menjadi ‘pacar’, sebab tidak ada goal, tujuan dari relasi yang dijalani. Baginya, sebuah relasi harus mempunyai sebuah tujuan yang disepakati oleh kedua orang di awal hubungan.

Tujuan menjadi penting terutama ketika konflik timbul.

Pertama, dengan ingat akan tujuan awal, konflik yang ada hanya akan 'mewarnai' perjalanan relasi itu. Konflik hanya menjadi latar belakang, bukan fokus. Kedua, tujuan yang telah ditetapkan juga akan menjadi ‘bahan bakar’ relasi. Ketika menghadapi konflik, yang tentu menguras tenaga, pikiran, dan emosi, ‘bahan bakar’ itulah yang membuat relasi tetap bertahan dan mencapai tujuan akhir.

Baca Juga: 4 Fase dalam Pacaran yang Harus Kamu Lewati untuk Hubungan yang Mantap Menuju Pernikahan



3. Menjaga Kekudusan Diri

"Aku lama hidup di luar negeri. Sepasang kekasih tinggal bersama di satu apartemen sudah biasa aku jumpai. Punya anak tanpa melalui pernikahan lebih dahulu juga bukan lagi hal yang aneh. Dan aku nggak mau seperti itu."

Menjaga kekudusan diri adalah salah satu fokus di dalam hidupnya. Ia tidak ingin terjatuh dan terjebak dalam sebuah hubungan bebas tanpa sebuah ikatan yang resmi. Ia kemudian mengambil sebuah buku yang disebutnya 'pedoman hidup'. Dengan takzim ia menyusuri halaman demi halamannya, untuk kemudian tiba di sebaris alinea yang ditunjukkannya kepada saya. Bunyinya demikian:

‘"Supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi istrimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu."

Baca Juga: Bukan Hanya Soal Dosa, Inilah 7 Manfaat Menolak Seks Pranikah



4. Pasangan Harus Beriman

[Image: whitewatercrossing.com]

Mungkin sekarang dia sudah menikah dan menjadi seorang ibu jika saja dia menyambut ajakan menikah dari salah seorang yang telah dikenalnya. Lelaki tersebut sudah cukup usia, mapan, siap menikah. Namun dia menolak dan memilih sebatas berteman dengan lelaki itu hingga saat ini karena sebuah alasan, "Dia cuma beragama di KTP doang. Dalam kehidupan keseharian, dia nggak mencerminkan agama yang tertulis di KTP-nya."

Terperangah, saya hanya mampu terdiam. Kagum bukan main mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Satu kata memenuhi pikiran saya: KEREN!

Tidak banyak wanita yang masih dengan berani memegang prinsip seperti itu ketika usia ideal untuk menikah sudah terlewati. Saya cukup yakin, dia pun sebenarnya juga cemas berlomba dengan usia yang tak kunjung berkurang dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Menjomblo di Usia Kritis? Inilah 7 Cara Menikmatinya



5. Mempunyai Tujuan Hidup yang Jelas

Ini adalah prinsip terakhir yang dia bagikan:

"Aku nggak mencari cowok yang kaya, yang jabatannya tinggi, atau bahkan dari keturunan ningrat. Aku mencari cowok yang punya tujuan hidup ke depan jelas. Tahu apa yang akan dia perbuat dan berjuang teguh untuk mencapainya."

[Image: Thought Catalog]

Sontak, saya teringat kepada salah seorang teman saya yang pernah ditolak olehnya, "Lah, kalau sama Mr. X dulu itu, kenapa kamu tolak?"

"Hidupnya nggak jelas gitu. Ke depan mau ngapain aja dia masih bingung!" jawabnya sambil tersenyum mengenang masa lalunya, dan tawa saya pun seketika pecah mendengar hal itu.

Baca Juga: Wanita, Waspadailah 4 Kesalahan yang Pria Lakukan sebelum Melamarmu


Bagi sebagian orang [terutama perempuan] belum pernah pacaran dan menjadi single di usia 30 tahunan adalah hal yang sulit. Senantiasa didesak oleh pertanyaan, "Kapan nikah?" tentu menjadi sebuah beban sendiri.

Baca Juga: Saya Ingin Menikah, tapi Tidak karena Alasan-Alasan Keliru Seperti Ini

Saya menyaksikan sendiri perjuangan sahabat saya yang dengan berani mempertahankan prinsip hidup yang dipegangnya. Waktu - yang terus berjalan dengan pasti - menjadikan perjuangannya semakin tidak mudah. Namun ia tetap kokoh, berpegang teguh pada nilai-nilai yang diyakininya sebagai kebenaran. Tren, atau bahkan desakan orang-orang sekitar tidak membuatnya goyah dan kemudian melepaskan apa yang berharga, yang telah menjadikannya berbeda. Istimewa.

Selamat berjuang!!



Baca Juga:

Bagi Kamu yang Berusia 20 - 30 Tahun dan Belum Punya Pasangan, Inilah 7 Alasan untuk Tetap Single

Tentang Saya, yang Memilih untuk Menjadi Single dan Menjalani Hidup Lajang yang Penuh Berkat

Bukan Menjomblo, Pacaran, atau Menikah yang Membuatmu Bahagia. Kamu Selalu Bisa Memilih untuk Bahagia, Apa pun Statusmu Sekarang



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sahabat Saya Belum Pernah Pacaran di Usia 30 Tahun meskipun Banyak Pria Mendekatinya, Terlalu Pemilih atau Teguh Memegang Prinsip?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Nicho Krisna | @nichokrisna

Auditor | Banker | Blogger

BAGAIMANA MENURUTMU ?