Saat Hamil Tua, Saya Ditinggal Pergi oleh Suami

Reflections & Inspirations

[Photo credit: healthline]

2.9K
Seberapa banyak di antara kita yang tidak bisa menolong dan justru mengkhianati, menikam dari belakang dan menusuk dari depan?

Ibu setengah paruh baya itu tampak merenung terus sepanjang perjalanan.

“Kangen kampung halaman, ya, Bu?” tanya saya memancing pembicaraan. Dalam perjalanan panjang itu, saya jenuh dan butuh teman mengobrol.

Ibu itu menoleh dan menjawab ramah, “Iya, Pak, sudah lama saya tidak pulang.”

“Berapa lama?”

“Lama sekali, Pak,” ujarnya sambil mengusap matanya yang membasah.

“Ini pun pulang karena anak sulung saya mau menikah,” ujarnya sambil mengeluarkan hape dan menunjukkan foto anaknya.

Tanpa saya minta, dia kemudian menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh nestapa. “Saya pergi jadi TKI begitu anak ketiga saya lahir. Saat saya hamil tua, saya ditinggal pergi oleh suami …”

“Pergi?” tanya saya.

“Ya. Pergi untuk selamanya, Pak. Suami saya sakit dan meninggal dunia.”

“Oh …” hanya itu yang keluar dari mulut saya. Ada rasa menyalahkan diri sendiri yang kurang peka.

“Saya hanya sempat mengasuh anak saya beberapa hari. Setelah itu anak saya diasuh neneknya karena saya harus pergi keluar negeri. Jika saya tidak bekerja, siapa yang menafkahi?”

Baca Juga: "Papa Pulang Nggak?" Tanya Penuh Rindu Putra Bungsu Ahok Menyadarkan Kita Satu Hal Penting Ini



Mengapa kisah getir seperti ini terus saja mengalir?

Jika sebelumnya saya berniat untuk tidur agar fresh ketika sampai, selanjutnya saya malah gelisah. Pikiran saya berkecamuk antara kesedihan dan perasaan tak berdaya.

Indonesia sudah merdeka sekian lama, tetapi mengapa kisah demi kisah getir terus saja mengalir tanpa henti. Mengapa tanah yang gemah ripah loh jinawi ini masih saja menyisakan orang-orang yang dibiarkan bergumul sendiri.

Meskipun disebut pahlawan devisa, mengapa mereka tetap teraniaya, bahkan oleh sesama anak bangsa? Seberapa banyak dan sering kita mendengar tenaga kerja kita, terutama yang wanita, mengalami pemerasan justru ketika mendarat di bumi pertiwi?

Saya merenungkan, ada PR besar bagi kita. Inilah 3 hal yang seharusnya kita lakukan:



1. Jika tidak bisa ‘nulung’ jangan ‘menelikung’ apalagi ‘mentung’

Seberapa banyak di antara kita yang tidak bisa menolong sesama warga negara dan justru mengkhianati, menikam dari belakang dan menusuk dari depan?

Kita dengan bangga menyebut tenaga kerja Indonesia di luar negeri sebagai ‘Pahlawan Devisa’ namun di lapangan kita memperlakukan mereka sebagai sapi perah.

Bukan hanya diperlakukan tidak manusiawi, mereka bahkan diperas saat kembali ke tanah air. Kasus pemerasan mereka bisa dengan gampang kita baca di media cetak maupun online. Keluar dari bandara pun mereka masih diperas oleh transportasi publik yang mereka gunakan.

Betapa miris menyaksikan uang yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit di negara orang terkuras begitu cepatnya justru saat menginjak kampung halaman besar bernama Indonesia. Mereka rela mengucurkan keringat, air mata, bahkan darah - saat mengalami persekusi majikan - demi mengais rezeki di negara orang. Eh, di negara sendiri, mereka mendapat perlakukan yang hampir sama.

Baca Juga: Sebuah Kisah tentang Perempuan dan Kekuatan Super yang Mereka Miliki



2. Jika tidak bisa bantu mikir, jangan nyinyir

Saya salut dengan para pemerhati buruh migran yang memikirkan berbagai cara untuk menolong para tenaga kerja. Selama di negeri orang, mereka dibekali dengan berbagai ilmu dan keterampilan sehingga diharapkan mereka bisa menaikkan daya tawar mereka. Saya kagum, ada yang bisa menyelesaikan kuliah S1, bahkan bertekad meneruskan ke S2 di tengah berbagai keterbatasan.

Penulis Pipiet Senja pun, di dalam bukunya Orang Bilang Aku Teroris menceritakan pengalamannya menyebarkan virus menulis sampai kepada tenaga kerja Indonesia [khususnya wanita] yang berada di luar negeri Berkat ilmu yang Pipiet bagikan, mereka bisa menuangkan ide cemerlang mereka dalam bentuk artikel, cerpen, maupun buku.

Kita bisa membantu pemikiran untuk membuat para ‘pahlawan devisa’ itu benar-benar menjadi pahlawan di negeri sendiri. Kita butuh orang-orang seperti Pipiet Senja yang membagikan keahliannya kepada sesama anak bangsa.



3. Jika tidak bisa membangun, jangan asal mengaum

Karena sering traveling, saya terbiasa naik taksi baik yang konvensional maupun online. Ada di antara para pengemudi yang mengeluh, bahkan mengomel karena munculnya transportasi publik berbasis aplikasi. “Saya sampai makan singkong untuk mengganjal perut karena setoran belum cukup,” ujar seorang sopir taksi konvensional di Jakarta. “Sejak ada [dia menyebutkan satu brand taksi online], penghasilan saya menurun drastis,” ujar driver taksi biru kepada saya di Surabaya.

Ada orang-orang yang - begitu mendengar keluhan mereka - langsung menyalahkan penguasa. Mereka tidak hanya nyinyir namun mengaum! Bukan hanya di warung kopi, melainkan di media sosial.

Bahkan ketika melihat pembangunan infrastruktur yang gila-gilaan, mereka malah menyebut penguasa orang gila. “Sudah jalanan berdebu, bikin macet lagi!” begitu komentar yang saya dengar. Mereka lupa bahwa setiap usaha selalu membutuhkan pengorbanan. Pepatah ‘berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian’ yang pernah kita pelajari di bangku SD terlupakan sudah.

Saya justru bangga dengan sopir taksi konvensional yang, meskipun penghasilannya menurun, tidak ikut turun ke jalan untuk berdemonstrasi. “Untuk apa, Pak, bikin macet saja. Yang susah juga rakyat,” ujarnya. “Tidak apa-apa penghasilan saya turun. Rezeki itu disyukuri saja, Pak. Sampai hari ini, keluarga saya masih bisa makan kok,” tambahnya.

Baca Juga: Saya Kerja Setengah Mati, Istri Selingkuh dengan Teman Sendiri


Dari pembicaraan saya dengan tenaga kerja wanita dan para sopir taksi, saya percaya, harapan bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar pasti bisa terwujud. Secepat apa? Tergantung kita sendiri!

Merdeka negeriku!


[Photo credit: The Manchicks]

“Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya,

tetapi semata-mata membela cita-cita.”

- Bung Hatta




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saat Hamil Tua, Saya Ditinggal Pergi oleh Suami". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar