Rupanya ini yang Membuat Anak Berontak terhadap Orangtua. Terapkan 3 Cara ini sebelum Terlambat!

Parenting

[Image: womanmakewaves.com]

10.7K
Anak memberontak terhadap orangtua? Jangan buru-buru marah apalagi memukul. Inilah penyebab pemberontakan anak dan solusinya.

“Pak Xavier, apa saya bisa menitipkan anak saya kepada Bapak?” tanya seorang ibu kepada saya.

Tentu saja pertanyaan ini mengagetkan saya. Mengapa? Pertama, saya merasa masih terus belajar untuk menjadi ayah bagi anak-anak saya - salah satunya masih remaja - sehingga belum pantas dititipi anak. Kedua, anak kok dititip-titipkan? Bukankah tanggung jawab tiap orangtua untuk membesarkan dan mendidik anaknya sendiri. Ketiga, apakah anaknya justru tidak semakin berontak karena merasa ‘dibuang’ oleh ibunya sendiri?

Ketika ibu itu saya tanya mengapa dia ingin menitipkan anaknya kepada saya, dia menjawab, “Soalnya saya melihat keluarga Bapak begitu harmonis, bahkan sering berlibur bersama anak-anak maupun anak-anak angkat Bapak. Saat saya kejar dengan pertanyaan berapa usia anaknya, ibu itu menjawab, “Tujuh belas tahun!”

“Waduh!” hanya itu yang keluar dari mulut saya. Mengapa? Karena anak itu tidak dapat lagi disebut kanak-kanak tetapi sudah dewasa. Menurut saya, sudah agak terlambat bagi ibu itu untuk mulai memikirkan bagaimana cara mengatasi anaknya yang suka berontak.

Baca Juga: 4 Peran Orangtua dalam Kehidupan Seorang Anak: Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dan Anak

Karena cukup sering dicurhati oleh orangtua - khususnya ibu-ibu - yang kewalahan mengatasi anak mereka yang berontak, saya mencoba menapaktilasi perjalanan saya mendidik anak yang sampai sekarang pun belum tuntas.


Perlu dua sisi agar mata uang berlaku.


Sisi Pertama: Apa Penyebabnya?


1. Pertumbuhan

Kecebong yang baru keluar dari telur biasanya butuh sekian lama untuk tinggal di kolam tempat induknya meletakkan telurnya. Meskipun berenang kian kemari, dia tetap berada di kolam itu. Namun, cepat atau lambat, dia akan keluar dari kolam itu dan menjelajahi dunianya sendiri.

Hal inilah yang kadang terlewatkan oleh orangtua:

Kita begitu sibuk merawat, mengurus dan membesarkan fisiknya, sehingga lupa bahwa ada jiwa dan roh di dalam tubuhnya yang suatu kali kelak ingin merdeka.
[Image: Pinterest]

Jadi, saat waktunya tiba, dia tidak mau lagi - atau ‘berontak’ istilah yang biasa kita pakai - saat kita suruh bersikap, berkata, atau melakukan apa yang kita diktekan.

Saya begitu mencintai anak bungsu saya, sehingga setiap kali mengantarnya - sejak TK sampai SD - ke sekolah. Begitu turun dari mobil, saya gandeng dia dan sebelum berpisah, saya cium pipinya kiri dan kanan. Hal ini berlangsung bertahun-tahun sampai suatu kali saya kaget karena dia tidak mau saya cium lagi. Bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa dia enggan saya perlakukan begitu. Bisa jadi dia sudah merasa besar dan malu dengan teman-temannya kalau melihatnya masih dicium papanya.

Bagaimana sekarang? Meskipun dia sudah duduk di bangku SMP kelas tiga, sebentar lagi SMA, sesekali saya masih menciumnya untuk menunjukkan kasih sayang saya. Kali ini dia tidak lagi terlalu reluctant! Rupanya dia sudah menyadari bahwa tindakan spontan papanya itu karena papanya begitu mengasihinya, padahal sekarang badannya sudah jauh lebih besar ketimbang saya.


2. Pertunjukan

Anak-anak adalah spons dengan daya hisap yang luar biasa. Apa saja mereka serap. Ketika masih kecil, apa saja dilihat, dipegang, diraba, dicium, didengarkan, bahkan dirasakan. Saya masih ingat ketika mengajari anak saya bahwa ada bunga tertentu yang bisa dikecap dan terasa manis karena ada sedikit madu di dalamnya.

Anak-anak terus mengeksplorasi diri sampai suatu kali, dia pun berusaha melakukan pertunjukannya sendiri.

Jika dulu kita yang mengatur apa yang perlu dia makan, bahkan memblender daging dan sayuran menjadi satu sehingga baik bentuk maupun rasanya nggak karuan, dan menyuapkan ke mulutnya, kini dia sudah bisa memilih makanan maupun minumannya sendiri. Demikian juga dalam hal berpakaian. Selama bertahun-tahun kita memilihkan baju-baju yang cocok baginya baik model maupun warnanya, kini dia sudah berani menentang pilihan kita dan memilih sendiri mana yang cocok.

Perilaku demikian, jika kita tidak bisa memahaminya, kita akan langsung mencap anak kita pemberontak, padahal, hanya berbeda pilihan saja. Dia sudah perlu menunjukkan identitas dirinya.


3. Pergaulan

“Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.” - St. Paul.

Saya setuju. Anak-anak berontak bisa jadi karena pengaruh lingkungan yang buruk. Anak-anak yang tampak manis bisa tiba-tiba menjadi liar dan beringas di luar. Mengapa? Karena di rumah dia tidak berani, ada ‘herder’ maupun ‘doberman’ yang terus-menerus menjagainya dan sering menyalak galak saat dia tidak behave dan proper. Itulah sebabnya, kita perlu memastikan anak-anak kita berada di lingkungan yang baik dan tepat.

Baca Juga: Apakah Persahabatan Anda Membangun atau Menghancurkan? Periksalah 7 Hal Ini



Sisi Kedua: Apa yang Bisa Kita Lakukan?


1. Mengenal dunianya

Ibu yang hendak menitipkan anak SMA-nya kepada saya, menurut saya, memang terlambat. Namun, bagaimanapun juga, saya menghargai usahanya. Lebih baik terlambat ketimbang tidak bertindak sama sekali dan melakukan pembiaran. Memang, alangkah baiknya jika kita mulai mengenal anak kita dengan baik dan membesarkannya dengan pola asah-asih-asuh yang baik pula.

Anak-anak juga perlu kita dengarkan. Bukan hanya mereka yang perlu mendengarkan kita.

[Image: Getty Image]
Setiap anak unik, demikian juga cara kita mendidiknya.

Perbanyak membaca buku tentang tumbuh kembang anak, saling berbagi pengalaman dengan sesama orangtua dan mengikuti seminar parenting.

Baca Juga: 5 Cara Pintar Mengajar Anak Pintar


2. Memberinya kebebasan dengan batasan

Lebih baik mengajari anak kita berenang ketimbang melarangnya bermain air.

Tanamkan prinsip-prinsip yang baik agar anak punya batasan apa yang baik, yang tidak, dan yang berbahaya. Ketika anak bungsu saya masih kecil dan harus kami bawa naik mobil di Australia, kami ajarkan bahwa dia harus duduk di kursinya sendiri. Meskipun awalnya menangis dan ingin dipangku, kami dengan tegas tapi penuh kelembutan, tetap membuatnya duduk di kursinya sendiri. Belakangan, saat dia melihat bahwa anak-anak orang kulit putih pun melakukan hal yang sama, dia jadi diam dengan sendirinya. Saat dia hendak bermain pisau, kami berikan pisau dari plastik dan mengajarinya untuk memotong roti dan agar-agar serta memastikan peralatan yang tajam dan berbahaya di luar jangkauannya. “Yang ini boleh, yang itu tidak. Nanti kalau Adik sudah besar, baru boleh pakai yang satu.”

Baca Juga: Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting Ini


3. Mendampingi dan melepaskan secara perlahan-lahan

Saat saya mengajari anak sulung saya naik sepeda, saya membelikan sepeda roda dua - bukan sepeda roda tiga - dengan tambahan dua roda kecil di kiri kanannya. Tujuannya? Agar saat dia sudah mulai stabil, saya bisa melepaskan roda tambahannya satu demi satu.

[Image: willenslaw.com]

Demikian juga mendidik anak dalam bergaul. Kita izinkan anak-anak untuk bermain dengan anak-anak tetangga di perumahan tempat kami tinggal dan juga mengizinkan anak-anak tetangga bermain di rumah kami. Kami pantau cara mereka bermain. Jika ada yang mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas atau melakukan tindakan yang merugikan temannya, kami beritahu dengan tegas [baca: asertif]. Kami melakukannya dengan adil. Jika yang salah anak kami, maka kami pun memberikan peringatan dan tindakan tegas.

Saat anak mulai besar - khususnya yang sulung - kami memberinya lebih banyak kebebasan dengan batasan yang jelas. Akhirnya, saat harus melepaskannya kuliah di luar negeri, meskipun dengan berat hati, saya berani melepaskannya.

Saya percaya dan mempercayakannya ke tangan Tuhan yang pasti menjaganya siang dan malam.

Kini saat kami berlibur ke Australia, justru anak saya yang pegang kemudi mobil dan saya menikmati pemandangan atau tidur ... hehehe ...



Baca Juga:

Anak Bermasalah? Jangan-Jangan Akibat 5 Gaya Pengasuhan Anak yang Keliru Ini

Kisah Nyata: Ketika Kelembutan Hati Ibu Membebaskan Anak dari Jerat Narkoba

4 Perkataan Orangtua yang Ternyata Malah Membuat Anak Makin Menjauh

Sebuah Mitos Besar tentang Membesarkan Anak dan 3 Cara untuk Mematahkannya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Rupanya ini yang Membuat Anak Berontak terhadap Orangtua. Terapkan 3 Cara ini sebelum Terlambat!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar