Tinggal Serumah dengan Mom[ster] in Law? Inilah 8 Rahasia Saya untuk Bertahan dan Lulus Sebagai Menantu Perempuan Kesayangan Mama Mertua

Marriage

[Image: hotadvice.ru]

7.8K
Begitu banyak mitos dan cerita 'horor' yang berkembang sejak dahulu kala mengenai nasib menantu [perempuan, terutama] yang tinggal di rumah bersama dengan [ibu, terutama] mertua. 'Legenda' itu pun sampai ke telinga saya ketika akan memasuki pernikahan dengan kondisi akan tinggal di rumah mertua segera setelah menikah.

Setiap pasangan yang baru menikah tentu saja memiliki impian ideal tentang bagaimana mereka akan membangun kehidupan baru mereka, berdua, di tempat baru. Namun terkadang, ada saja hal-hal yang membuat impian itu hanya sekadar menjadi impian, yang jauh dari realita. Akhirnya, tinggal di rumah mertua menjadi pilihan yang harus diambil. Padahal, ini adalah situasi yang paling banyak dihindari oleh pasangan calon suami istri baru.

Begitu banyak mitos dan cerita 'horor' yang berkembang sejak dahulu kala mengenai nasib menantu [perempuan, terutama] yang tinggal di rumah bersama dengan [ibu, terutama] mertua. 'Legenda' itu pun sampai ke telinga saya ketika akan memasuki pernikahan dengan kondisi akan tinggal di rumah mertua segera setelah menikah.


"Cocok gak dengan ipar? Hati-hati, ipar seringkali banyak maunya!"

"Harus bisa masak loh kalau tinggal dengan mertua!"

"Mana boleh santai-santai dan bangun siang kalau tinggal di rumah mertua?"

"Ntar mertua ikut ngatur suami dan anak loh!"


Dan masih banyak lagi mitos-mitos lain yang. kalau harus dituliskan satu per satu dan dihimpun dalam sebuah kitab, mungkin tebalnya akan mengalahkan ketebalan buku tertebal di dunia.

Saya mungkin termasuk calon menantu yang easy going atau malah mungkin ndableg, sehingga kisah-kisah yang pernah saya dengar seputar tinggal di rumah mertua tidak terlalu mengganggu dan menjadi persoalan ketika saya dan suami mengambil keputusan, bahwa setelah menikah kami akan tinggal di rumah orangtuanya terlebih dahulu. Seingat saya, kedua orangtua saya juga tidak menyatakan ketidaksetujuan mereka ketika saya menyampaikan keputusan kami tersebut. Mungkin, hal itu juga turut menambah keyakinan saya.

Baca Juga: 6 Perisai Pertahanan ketika Tinggal di Pondok Mertua Indah

Saya tidak mempersiapkan apapun ketika melangkah masuk dan tinggal di rumah mertua. Mungkin mengejutkan bagi sebagian besar orang, tapi saya berhasil melewati masa 4 tahun tinggal bersama mertua dengan bahagia, tanpa kesulitan yang berarti dan tanpa pertengkaran yang mewarnai hubungan kami. Bahkan, saya berhasil lulus dengan predikat 'menantu yang disayang mertua'.

Inilah 8 rahasia yang bisa saya bagikan untuk para calon menantu agar dapat memantapkan hati dan tinggal bersama di rumah mertua dengan 'selamat', tanpa rasa takut:


1. Jalin Hubungan Silahturahmi Sedini Mungkin

[Image: slovomaga.ru]

Sebelum menikah, saya sudah seringkali menghabiskan waktu dengan calon mertua. Kami sering ngobrol dan jalan bareng sambil membicarakan rencana-rencana ke depan serta kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan di rumah mereka. Pasangan saya pun banyak sekali menceritakan tentang orangtuanya, kebiasaan-kebiasaan mereka di rumah, serta hal-hal yang pernah mereka alami kepada saya.

Silahturahmi disini tidak hanya terbatas antara calon menantu dengan calon mertua, tetapi juga antara calon mertua dengan orangtua saya, terutama ketika menjelang kami menikah. Orangtua kami berdua cukup sering bertemu, meskipun waktu itu Papa saya tinggal di kota yang berbeda dengan kami.

Saya ingat sekali, Papa saya, dalam obrolan mereka, seringkali mengutarakan kepada calon mertua kebiasaan-kebiasaan saya yang dianggapnya mungkin akan menyulitkan dalam proses adaptasi nantinya. Termasuk mengungkapkan dengan jujur bahwa saya tidak bisa masak atau tidak pandai membereskan rumah, dengan maksud agar mertua saya lebih siap menerima kehadiran saya, lengkap dengan berbagai kekurangan yang saya miliki. Saya melihat cara ini sangat menolong mertua saya untuk mempunyai ekspektasi yang lebih real kepada saya, dan tentunya mengurangi tuntutan yang berlebihan terhadap diri saya.



2. Bicarakan dengan Pasangan, Bagaimana Ia Dapat Membantu Proses Adaptasi Anda

[Image: livingloving.com]

Waktu itu, dalam sebuah sesi percakapan pranikah, pendeta yang akan memberkati pernikahan kami menyampaikan sebuah kalimat yang tiba-tiba menyadarkan saya kepada realita, bahwa tinggal di rumah mertua sesungguhnya bukan perkara mudah. Setelah percakapan itu, saya ingat pernah menanyakan kepada suami, "Bisa sampai bertengkar gak, ya?" Sejak saat saya mengungkapkan kekhawatiran saya itu, saya justru semakin merasakan dukungan suami dalam membantu saya mempersiapkan hati untuk tinggal di rumah mertua.

Suami saya sering menenangkan saya dengan memberi gambaran sederhana tentang situasi rumahnya, "Di rumah juga jarang masak kok, karena mama ke toko sampai sore, kalau makan nanti bisa beli," atau "Mama suka sekali ngajak ngobrol. Kalau kamu sudah mulai bosan, kasih tanda, nanti saya yang intervensi," dan sebagainya.

Baca Juga: 3 Cara Suami Mengatakan "I Love You" yang Seringkali Tak Terdengar Oleh Istri



3. Fleksibel dalam Beradaptasi

Ketika kita tinggal bersama dengan orang lain, pastinya akan menghadapi banyak perbedaan kebiasaan. Kebiasaan hidup sehari-hari kita yang telah terbentuk bertahun-tahun, bisa jadi berbeda dengan kebiasaan hidup sehari-hari di rumah mertua yang juga telah terbentuk bertahun-tahun lamanya. Dibutuhkan fleksibilitas yang tinggi jika ingin merasa betah dan menjalani kehidupan tinggal di rumah mertua dengan mulus, atau setidaknya, minim konflik.

Contohnya, di mertua saya tidak ada kebiasaan makan malam bersama. Jadi, siapa saja yang sudah merasa lapar bisa makan terlebih dahulu. Tidak demikian halnya di rumah keluarga saya, kami terbiasa saling menunggu untuk menikmati makan malam bersama. Setelah tinggal di rumah mertua, saya mencoba membiasakan diri untuk “ditinggal” saat makan malam, atau hanya makan berdua dengan suami jika yang lain sudah makan duluan, atau malah terkadang harus membeli makanan jika makanan yang tersedia sudah tidak tersisa. Awalnya agak sulit menerima kebiasaan ini, namun lama-kelamaan tidak lagi menjadi masalah buat saya kalau ternyata saya harus membeli makanan, jika saya tiba di rumah dengan kodisi meja makan sudah dibersihkan.



4. Seringlah Melibatkan Diri dalam Percakapan Keluarga

[Image: stayathomemum.com.au]
Frekuensi komunikasi adalah kunci untuk mendekatkan hubungan dan menumbuhkan rasa saling peduli satu sama lain.

Mama mertua saya seringkali datang ke kamar kami, baik untuk sekedar mengobrol maupun untuk mengerik suami saya yang masuk angin (saya menyerah untuk urusan ini). Saya bersyukur mama mertua saya tidak pernah mengeluh ketika Beliau sedang seru-serunya menceritakan suatu topik percakapan sambil mengerik suami saya dan ternyata saya secara tidak sadar sudah tertidur.

Percakapan tidak hanya terbatas dengan mertua namun dengan anggota keluarga lain yang juga tinggal serumah. Saya sering bercakap-cakap dengan ipar yang masih belum menikah dan masih tinggal bersama dengan kami. Keakraban saya dengan seisi rumah membuat saya semakin betah dan makin merasa menjadi bagian dari anggota keluarga.



5. Punya Aktivitas Reguler dan Komunitas yang Sehat

[Image: wordsboutique.com]

Milikilah aktivitas-aktivitas rutin, jangan hanya berada di kamar atau di rumah terus menerus sepanjang hari. Jangan biarkan hidup menjadi membosankan dan monoton. Tidak memiliki aktivitas bisa memicu timbulnya banyak pikiran negatif, apalagi dalam situasi dan kondisi sedang tinggal di rumah mertua. Menjalani kesibukan, sebaliknya, membuat banyak waktu tersalurkan dengan lebih efektif. Kesibukan juga merupakan pengalih perhatian yang amat efektif, kita jadi tidak akan terlalu merasa terganggu dengan masalah-masalah kecil yang muncul di rumah. Begitu pula dengan aktif terlibat dalam komunitas yang membangun. Selama masih tinggal di rumah mertua, saya tetap bekerja dan aktif di komunitas gereja yang kebetulan lokasinya dekat dengan rumah, sehingga saya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.

Baca Juga: Me Time Itu-Itu Saja dan Mulai Membosankan? Ayo Coba 7 Cara Me Time yang Gak Ribet tapi Seru ini!



6. Komunikasikan dengan Baik, Kesukaan Maupun Ketidaksukaan

Jika ada yang hal-hal yang tidak disukai, carilah waktu yang tepat dan bicarakan hal tersebut berdua dengan suami lebih dahulu. Kemudian, bersama suami diskusikan hal tersebut dengan mertua untuk menghindari dugaan-dugaan atau prasangka yang keliru. Saya tidak suka jenis makanan yang mengandung daging babi. Saya sampaikan hal tersebut kepada mertua, agar Beliau paham bahwa saya tidak memakan makanan-makanan yang mengandung daging babi semata-mata karena memang tidak menyukainya, dan bukan karena tidak menghargai jerih payah Beliau yang telah memasak makanan tersebut. Saya, sebaliknya, sangat menyukai pindang ikan bandeng masakan mertua saya.



7. Sempatkan Waktu Keluar Bersama Secara Reguler Dengan Keluarga Suami

[Image: huffingtonpost.com]

Setiap akhir pekan, kami selalu mengusahakan ada waktu untuk keluar makan bersama dengan keluarga besar suami atau, jika tidak memungkinkan, dengan mertua saja. Kalaupun tidak, saya dan suami akan membeli makanan di luar untuk kami nikmati bersama mertua di rumah. Ini adalah salah satu cara yang cukup efektif dan efisien untuk menghadirkan makanan di meja makan mertua tanpa harus menjadi pintar memasak.



8. Cepat Tanggap dan Ringan Tangan

[Image: newlovetimes.com]

Tinggal bersama mertua memerlukan kepekaan untuk menolong saat dibutuhkan. Ketika mertua saya harus ditemani ke luar kota karena urusan yang cukup penting, saya mencoba mengatur waktu untuk menemani. Juga ketika toko mertua saya tidak ada yang menjaga karena semua anggota keluarga kebetulan berhalangan, saya juga mengusahakan waktu untuk menunggui toko, meskipun akhirnya ada kejadian lucu, saya melakukan kesalahan - menjual barang dengan harga yang lebih murah karena tidak mengetahui harga barang tersebut. Ketika ayah mertua saya terserang stroke, saya harus terlibat lebih banyak membantu. Saya berusaha untuk turut mengambil bagian dalam setiap kesulitan yang dirasakan dalam keluarga suami.


Sesungguhnya, kisah-kisah yang menakutkan yang seringkali terdengar tentang menantu yang tinggal bersama mertua kebanyakan dialami oleh mereka yang, menurut saya, tidak membangun strategi dalam beradaptasi. Banyak hal bisa dilakukan untuk membuat situasi yang tidak kita inginkan menjadi menyenangkan.

Bukan situasi yang harus diubahkan tapi bagaimana kita merespons situasi yang kita hadapi, itulah yang akan membuat kita bisa menikmati hidup. Termasuk di dalamnya menikmati hidup di rumah mertua.

Baca Juga: Jangan Biarkan Orang Lain Menjadi Remote Control Hidupmu!

Saya menikmati tinggal bersama mertua selama 4 tahun, dan tidak sedetik pun dari waktu 4 tahun itu saya pernah merasa dituntut untuk mengubah diri saya menjadi sesuai dengan keinginan mertua. Saya tidak bisa masak, tidak bisa bangun pagi, tidak bisa mengerik suami kalau sedang sakit, tidak bisa membereskan kamar dengan rapi. Saya bukan menantu ideal. Namun, saya tidak pernah bermasalah dengan mertua selama kami berbagi tempat tinggal bersama. Mertua saya pun tidak pernah membicarakan kekurangan-kekurangan saya dengan tujuan untuk menyerang. Kalaupun terkadang hal-hal tersebut muncul dalam pembicaraan, malah menjadi bahan guyonan di antara kami berdua.

Keterbukaan, kejujuran, serta ketulusan menjadi modal utama untuk bisa menikmati waktu-waktu tinggal serumah dengan mertua.

Saya bangga menjadi menantu yang punya hubungan manis dengan mertua. Bahkan, kini keakraban itu semakin meluas sampai ke keluarga besar. Kami kerap pergi jalan-jalan bersama baik ke luar kota maupun ke luar negeri dengan mertua, para ipar, bahkan dengan keluarga besar saya juga.

Indahnya hidup dalam kebersamaan dan persaudaraan.


Baca Juga:

Terlalu Banyak Nonton Drama Korea dan Hal-Hal Berbahaya Lain yang Dapat Membunuh Relasi

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh

2 Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tinggal Serumah dengan Mom[ster] in Law? Inilah 8 Rahasia Saya untuk Bertahan dan Lulus Sebagai Menantu Perempuan Kesayangan Mama Mertua". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Henny Lokan | @hennylokan

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar