Rasa Sakit Tak Perlu Dipelihara Seumur Hidup. Dikhianati? Balas dengan Anggun! Begini Caranya

Reflections & Inspirations

[Image: ourgom.com]

36.7K
Hidup memang tak pernah menjanjikan keadilan, bukan?

“Vengeance is a lazy form of grief” – pembalasan itu perkabungan seumur hidup, demikian ungkapan Silvia Broome yang diperankan oleh Nicole Kidman dalam film The Interpreter. “Meski berhasil membalas dendam, namun racunnya tetap tinggal, menghantui seumur hidup,” ujarnya getir.


Pernah dikhianati?


Pada umumnya orang menjawab: Ya.

Sakit? Tentu!

[Image: shebelieves.co]

Rasa sakit bisa dipelihara seumur hidup dengan merencanakan balas dendam atau menerima meski dengan kepahitan. Menerima menimbulkan perasaan nelangsa, mengasihani diri, merasa menjadi korban ketidakadilan. Membalas juga tidak membawa kedamaian.

Menyimpan dendam bagaikan minum racun tetapi mengharapkan orang lain yang mati. Mustahil, bukan?

Hidup memang tidak pernah menjanjikan keadilan.

Berita baiknya: Tuhan itu adil!

Lalu bagaimana cara membalas pengkhianatan dengan anggun?
Serahkan pada keadilan Tuhan!

Tidak ada yang terjadi dalam kehidupan kita secara kebetulan. “Everything happens for a good reason,” ujar orang bijak. Allah turut bekerja dalam segala perkara, untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Bahkan Tuhan akan membayar dua kali lipat untuk setiap ketidakadilan yang kita terima.

Perlukah kita sibuk mengurusi hidup orang yang telah berkhianat? Tidak! Untuk apa membuang energi mencari tahu tentang dia. Semakin tahu banyak, justru semakin sulit mempertahankan kedamaian dalam hati kita. Apalagi menceritakan berulang-ulang kisah pengkhianatannya, membuat luka makin menganga saja.

Ampuni dan lupakan!

Kita memiliki takdir besar yang harus dikejar dan direalisasikan. Apa pun yang terjadi dengannya, bukanlah urusan kita.

Biarkan dia berurusan sendiri dengan Tuhan.



Percayalah, Tuhan Tidak Tidur

Sarah datang dengan kemarahan yang memuncak. Dia sungguh terluka. Keponakan suaminya, Yunus, berkhianat. Sarah dan suaminya, Agus, merintis bisnis dari nol di kota Solo. Manakala usaha mereka kian berkembang, Yunus diajak bergabung, diajari dari dasar hingga cukup mumpuni untuk memegang wilayah Jogja. Barang dikirim dari Solo.

Beberapa tahun kemudian, Yunus berpacaran dengan gadis Jogja. Sarah dan Agus sudah memikirkan masa depan Yunus. Mereka merencanakan untuk membantu calon keluarga baru ini.

Tak dinyana, ternyata selama ini Yunus memakai uang perusahaan untuk berbisnis pribadi. Bak negara dalam negara, ia menjual barang yang sama, namun justru membeli dari kompetitor Sarah. Yunus bahkan menyewa gudang di Jogja dan memanfaatkan sopir Sarah untuk mengirim barang. Ia sekadar memberi tip sopir serta pesan agar merahasiakan hal ini dari Oom-nya. Seorang sopir tua yang setia tidak tega mengetahui bosnya dikhianati sedemikian rupa, melaporkannya.

“Bayangkan … seluruh biaya operasional kami yang menanggung. Dia cuma mau untungnya saja. Jika harga bagus, dikirim dengan barang dagangan Yunus. Tapi giliran harga mepet, dimasukkan ke perusahaan. Sungguh keterlaluan!” kata Sarah berapi-api menahan emosi.

Semula mereka akan melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib, tetapi papa Agus melarang.

“Sejelek apa pun, Yunus tetap keluarga kita,” papa Agus berusaha mendinginkan hati mereka,

"Percayalah, Tuhan itu tidak tidur."

Sejak peristiwa itu, setiap kali mendengar nama Yunus disebut, Sarah bisa bete seharian. Ingin rasanya ia meluapkan kemarahan kepada siapa saja yang berada di dekatnya. Pokoknya membuang sampah kekesalan dan luka hati. Agus jauh lebih tenang dan bisa mengendalikan diri.

“Yang lebih menyakitkan lagi, ada nota di toko langgananku, harganya dicoret Yunus, lalu tokonya diajarin minta potongan harga. Anak itu memang kurang ajar sekali. Terlalu!!! Tidak ada penyesalan sedikit pun sudah mengkhianati Oom-nya.” Sarah menceritakan perkembangan hubungan mereka.

Tidak hanya itu, Yunus sesumbar pada toko-toko langganan Sarah di Jogja, kalau sebentar lagi toko Sarah bakal bangkrut. Tinggal tunggu waktu.

Seolah diberondong peluru bertubi-tubi, begitulah kondisi usaha Agus dan Sarah. Sungguh tidak mudah untuk memulihkannya, karena selama ini marketing untuk wilayah Jogja dipegang Yunus seorang.

Agus dan Sarah mulai menata ulang bisnis. Mereka mencari gudang sewa dan salesman baru di Jogja. Betul-betul tidak mudah! Dua tahun pertama, Yunus berjaya. Kesombongannya makin menjadi-jadi.



Lepaskan Pengampunan, Bebaskan Diri Sendiri

Suatu ketika, dalam pelajaran pemahaman prinsip dasar kekristenan, Sarah ditantang oleh pembimbingnya untuk mengampuni. Awalnya dia menolak. Lama kelamaan, dendam itu makin melelahkan mentalnya. Sungguh berat rasanya. Sambil menangis, Sarah membuat pernyataan pribadi, ia bersedia mengampuni. Bukan keputusan yang dibuat dengan mudah. Sang pembimbing mendoakannya. Aneh tapi nyata, setelah itu, meski nama Yunus disebut, emosi Sarah tidak lagi meledak seperti sebelumnya.

[Image: 7-themes.com]

Sang pembimbing menyarankan ia menulis surat untuk Yunus. Mengambil langkah konkrit untuk berdamai. Kembali Sarah bergumul.

Akhirnya, bersama satu doos kue, dia mengirimkan sebuah surat singkat.

Yunus,

Kami sudah memafkan apa yang kau lakukan.

Kami mengasihimu.

Salam,

Agus dan Sarah.

Yunus kaget luar biasa. Dia menelepon Sarah dan meminta maaf. Mereka berdamai. Itu terjadi 20 tahun yang lalu.



Tuhan Bayar, Dua Kali Lipat

Saat ini bisnis Agus dan Sarah berkembang pesat. Mereka memiliki cabang di puluhan kota dengan pemasaran hingga ke seluruh Indonesia. Sementara Yunus? Bisnisnya hanya di Jogja dan tidak terlalu maju. Sesumbarnya tidak terbukti.

Benar adanya, Tuhan adil. Bahkan Dia membawa mereka naik ke tempat tinggi, yang mungkin tidak dapat dicapai tanpa adanya peristiwa pengkhianatan itu.

Karena Yunus, mereka membuka cabang di Jogja. Sukses! Setelah itu mereka tinggal meng-copy, membuka cabang di berbagai kota hingga ke luar pulau.


Hidup adalah pilihan.

[Image: heymischka.com]

Pertanyaannya: Anda pilih yang mana?



Baca Juga:

8 Cara untuk Menyikapi Pengkhianatan Orang Terdekat

5 Pelajaran Berharga tentang Manusia dan Relasi dari Sebuah Persahabatan yang Retak

Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Rasa Sakit Tak Perlu Dipelihara Seumur Hidup. Dikhianati? Balas dengan Anggun! Begini Caranya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yenny Indra | @yennyindra

YennyIndra memiliki passion untuk menginspirasi pembacanya agar mengalami peningkatan kualitas hidup, dengan cara memahami prinsip kehidupan yang benar. Menata cara berpikir adalah concern-nya. Ibu 4 anak ini aktif menjalankan family business. Keluarga

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar