Rasa Cemburu : Bumbu Penyedap atau Perusak Relasi?

Marriage

[Image: lanacordaro.com]

3K
Kehadiran rasa cemburu dalam relasi tak melulu harus mempunyai arti yang negatif. Sikap kitalah yang pada akhirnya menentukan apakah kecemburuan itu merusak atau malah memperkuat relasi.

Rosa cemburu. Dani, suaminya, kalau sudah asyik ngobrol dengan teman-temannya suka lupa waktu. Pertemuan yang rencananya hanya satu jam bisa molor setengah jam, satu jam, bahkan lebih. Anehnya, kalau sudah sampai di rumah, ia seperti kehabisan bahan bakar. Penginnya duduk manis menonton teve, ngomong hanya seperlunya, Rosa sang istri nyaris tidak diacuhkan.

“Bagaimana bisa ia ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-temannya, tetapi dengan istrinya sendiri mulutnya seperti terkunci?” Rosa tak habis pikir.

Kecemburuan, seperti yang dialami Rosa, rupanya tak hanya muncul gara-gara pasangan kita melirik pria atau wanita lain.

Baca Juga: Fenomena Suami Kesepian: Bukan Sekadar Seks, Inilah 6 Hal yang Dapat Dilakukan Istri untuk Mendampingi Suami



Keliru Memprioritaskan Hubungan

Kecemburuan pada dasarnya muncul karena kita keliru memprioritaskan hubungan. Seharusnya kita mengutamakan dan menikmati hubungan dengan pasangan kita, nyatanya kita malah lebih mendahulukan hubungan dengan orang lain.

[Image: womenshealthmag.com]

Kecemburuan karena pasangan main mata dengan pria atau wanita lain biasanya paling parah dan paling menyakitkan. Namun, kecemburuan karena pasangan lebih mempedulikan teman, anak, orangtua, hobi, atau pekerjaan, juga tidak bisa ditepiskan begitu saja. Kecemburuan kecil, bila tidak diatasi dan dibiarkan menumpuk, bisa meledak menjadi konflik yang menghancurkan.

Munculnya kecemburuan merupakan sinyal bahwa ada ganjalan dalam suatu hubungan. Kecemburuan bisa menjadi “bumbu” yang menyehatkan ketika hal itu muncul dari komitmen untuk menjaga hubungan. Kecemburuan mengundang pasangan suami-istri untuk duduk bersama dan berkomunikasi secara lebih terbuka. Masing-masing menyikapi kecemburuan pasangan sebagai sinyal akan bahaya yang siap merusak, dan bersepakat untuk melindungi hubungan mereka terhadap ancaman dari luar tersebut.

Bila kecemburuan dapat ditangkal sedini mungkin, pengalaman itu akan memperdalam dan memperkuat kesehatian antara suami dan istri.

Baca Juga: Pria Berubah Setelah Menikah? Ketahui 5 Hal yang Menjadi Penyebabnya dan 10 Cara untuk Mengembalikan Romantisme dalam Pernikahan



Beranjak dari Kondisi Pribadi Sendiri

Persoalannya, kecemburuan sejatinya bukan hanya dipicu oleh hadirnya pihak lain. Kecemburuan tak jarang beranjak dari kondisi pribadi kita sendiri: sikap membandingkan diri dengan orang lain, merasa diri tidak layak atau tidak penting, minder, dan mengasihani diri sendiri. Orang seperti ini cenderung lebih suka memendam kecemburuannya daripada mengungkapkannya secara terbuka guna mencari penyelesaian.

[Image: thetalkingsolution.com]
Jadilah kecemburuan itu seperti api dalam sekam.

Atau, ia menyelubungi kecemburuannya dengan perilaku yang negatif: berbohong, merajuk, mengancam, memanipulasi. Atau, ia menjadi terobsesi untuk mengontrol dan membatasi pasangan, takut kalau-kalau pasangannya terlepas ke pelukan orang lain.

Tindakan-tindakan seperti itu malah akan menutup pintu komunikasi, memperkeruh suasana, dan memperuncing masalah. Bukannya menjadikan pasangan kembali mendekat, hal itu malah mendorongnya kian jauh. Berpangkal dari kecemburuan, masalah menjadi berlapis-lapis dan rumit sulit diuraikan.

Kecemburuan yang tidak sehat membangkitkan kecurigaan, merusak kepercayaan terhadap pasangan. Padahal, hubungan hanya bisa dilandasi kepercayaan satu sama lain. Rusaknya kepercayaan menandai awal retaknya hubungan. Pada tahap ini, kehangatan hubungan seksual antara suami dan istri pun akan menjadi dingin.

Baca Juga: Kehidupan setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan



[Image: retroactivejealousy.com]
Bagaimanapun, seperti dinyatakan Paulus, kecemburuan adalah watak yang tidak selaras dengan kasih.

Kehadirannya dalam hubungan suami-istri mesti ditanggapi sebagai sinyal peringatan. Kita perlu mewaspadai dan memangkasnya sedini mungkin melalui komunikasi yang jujur dan terbuka. Namun, bila kecemburuan itu kian kronis, kita memerlukan anugerah Tuhan dan meminta pertolongan melalui rohaniwan, pasangan lain yang lebih dewasa secara rohani, atau konselor profesional, serta belajar menerapkan prinsip kasih di dalam hubungan kita.



Baca Juga:

Inilah Satu Kunci Sukses Membina Hubungan, Baik dengan Pasangan, Anak, maupun Rekan Bisnis

Dua Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan

Empat Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Rasa Cemburu : Bumbu Penyedap atau Perusak Relasi?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Arie Saptaji | @ariesaptaji

Pegiat literasi, mengembangkan konsep ART - Amati Renungkan Tuliskan. Vlog: bit.ly/2chWOvB Blog: ariesaptaji.blogspot.co.id

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar