Working Mom, Rasa Bersalah dan Cara Mengatasinya

Parenting

3.3K
Tantangan terbesar dan terberat bagi para working mom adalah bagaimana menjalankan peran sebagai ibu dan pekerja dengan seoptimal mungkin tanpa rasa bersalah.

Di zaman saya masih kanak-kanak dan remaja, belum banyak orang tua perempuan yang bekerja full time di luar rumah. Orang tua perempuan kita kebanyakan adalah ibu rumah tangga penuh waktu yang dapat kita temui sosoknya di rumah sepanjang hari, setiap hari. Sangat kontras dengan zaman sekarang, tuntutan ekonomi yang semakin tinggi dan gaung emansipasi yang semakin menggema telah membuat pertumbuhan tenaga kerja wanita juga meningkat.

Banyak karyawan perempuan yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak juga bekerja sama sibuknya dengan kaum bapak. Mereka ada di semua level dan bidang, mulai dari buruh di pabrik sampai direktur utama; staf administrasi di belakang meja sampai salesman di lapangan. Mereka meninggalkan rumah di pagi hari dan baru kembali di sore atau malam hari, 5 hari bahkan 6 hari dalam seminggu. Bahkan, apabila pekerjaan menuntut untuk melakukan banyak traveling, maka mungkin beberapa hari dalam sebulan mereka harus meninggalkan keluarga untuk dinas luar kota atau bahkan luar negeri.


[talepicker.com]
Sekalipun wanita dipercaya memiliki kemampuan multi-tasking yang jauh lebih besar dibandingkan pria, menjadi working mom tetap bukanlah hal yang mudah. Jika Anda adalah seorang working mom, tantangan terbesar dan terberat bagi Anda adalah bagaimana Anda menjalankan peran Anda sebagai ibu dan pekerja dengan seoptimal mungkin tanpa rasa bersalah.

Dari obrolan saya dengan sekian banyak working mom di tempat saya bekerja, perasaan bersalah ini sering muncul ketika Anda tidak dapat hadir di tengah keluarga karena Anda harus bekerja, khususnya untuk anak Anda ketika mereka membutuhkan Anda, terutama di beberapa kejadian seperti berikut:

  • Ketika setelah cuti melahirkan selesai, Anda harus meninggalkan bayi Anda kepada neneknya atau pengasuhnya atau bahkan menitipkannya di tempat penitiapan anak/bayi. Apalagi jika itu adalah anak pertama Anda. Tidak jarang akhirnya keputusan yang diambil adalah mengundurkan diri dari pekerjaan dan menjadi full-time mom.

  • Ketika anak Anda sakit, bahkan ketika sedang sakit keras, dan Anda tidak bisa cuti atau izin meninggalkan pekerjaan Anda, atau lebih tidak mengenakkan lagi apabila Anda sedang ada tugas penting di luar kota atau luar negeri.
  • Ketika anak Anda mendapatkan kesempatan tampil di ajang perlombaan kegiatan seni atau olahraga dan Anda tidak dapat menghadirinya sesuai harapannya karena lagi-lagi ada tugas penting yang Anda harus kerjakan di hari itu.
  • Ketika anak Anda sedang menghadapi ujian semester atau ujian kenaikan kelas, dan ia perlu didampingi untuk belajar, tapi Anda harus pulang malam, atau bahkan sedang dinas luar kota atau luar negeri.


[newclearvision.com]

Semua perasaan bersalah yang pernah timbul, apapun latar belakang kondisinya, biasanya bermula dari self-talk yang terjadi di dalam diri Anda. Self-talk adalah pembicaraan yang terjadi di dalam diri Anda sendiri yang berisi pembicaraan antara kenyataan yang Anda alami dan harapan ideal yang Anda ingin miliki. Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul dalam self-talk para working mom, yang bisa saya kelompokkan dalam 3 hal, yaitu:

1. Tujuan Bekerja

Sebenarnya untuk apa sih saya bekerja? Kalau saya bekerja hanya untuk mencari uang, atau menambah penghasilan keluarga, tapi anak saya tidak bahagia, apakah saya masih perlu bekerja?

2. Prioritas

Apakah keluarga atau anak saya adalah segala-galanya bagi saya? Kalau mereka adalah yang terpenting dalam hidup saya, kok saya tidak bisa memprioritaskan mereka dan mengalahkan pekerjaan saya? Sebegitu pentingkah pekerjaan saya sampai anak menjadi nomor dua?

3. Pengorbanan

Apakah pengorbanan saya dengan tidak dapat mendampingi anak saya yang sedang sakit, atau tidak bisa hadir di acara pertunjukan pentasnya adalah sebanding dengan uang dan kepuasan yang saya dapatkan dengan bekerja?

[grkids.com]

Mungkin masih ada pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul dalam self-talk para working mom, namun dari 3 kelompok pertanyaan tersebut di atas, ada beberapa hal penting yang perlu Anda renungkan :

Terkait tujuan Anda bekerja, apapun alasannya, salah satunya pastilah karena Anda ingin mendapatkan tambahan penghasilan untuk mendukung pendapatan keluarga. Ada kemungkinkan juga itu bukanlah tujuan utama Anda, tapi lebih karena Anda ingin memiliki pengalaman dalam bekerja dan ingin berkarya di bidang yang Anda yakini sebagai passion Anda.

Jadi bersyukur dan berbahagialah jika Anda :

  • Bisa bekerja di perusahaan yang memiliki flexible working hours, yang memungkinkan Anda mengatur waktu kerja Anda lebih flexible. Malah ada beberapa perusahaan di Indonesia yang memberikan 1 hari kerja setiap minggunya bagi working mom di perusahaannya untuk bekerja dari rumah. Wah, menyenangkan bukan?
  • Bisa bekerja di perusahaan yang lingkungan kerjanya menghargai dan memberikan perhatian lebih kepada para working mom, misalnya dengan menyediakan ruang laktasi untuk ibu menyusui, memberikan fasilitas kesehatan bagi working mom beserta anggota keluarganya, dan sebagainya.
  • Bisa memiliki atasan yang mengerti dan mendukung Anda sebagai working mom, sehingga sewaktu-waktu Anda perlu meninggalkan pekerjaan demi keluarga Anda, atasan Anda memberikan ijin untuk Anda dengan ikhlas.

Terkait prioritas, tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa prioritas yang lebih tinggi dalam hidup Anda jika harus diperhadapkan antara keluarga dan pekerjaan, sudah pasti keluarga bukan? Jadi setiap kali ada self-talk mengenai prioritas, Anda tidak perlu ragu lagi bahwa prioritas Anda pasti adalah keluarga Anda.

Untuk membantu Anda menjalani prioritas ini dalam keseharian Anda, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan seperti :

  • Buatlah semua jadwal kegiatan keluarga atau agenda kerja Anda dalam 1 jadwal, jangan terpisah. Anda hanya punya waktu 24 jam, baik untuk keluarga maupun pekerjaan Anda. Waktu Anda tidak bisa dipisahkan.
  • Manfaatkan kalender di mobile phone/gadget Anda, sehingga semua perencanaan kegiatan kerja Anda dapat terintegrasi dengan baik.
  • Masukkan kegiatan keluarga Anda sedini mungkin dalam kalender Anda.
  • Jika jadwal kegiatan keluarga dan agenda kerja Anda diadakannya di waktu yang sama alias bentrok, maka Anda jangan ragu untuk mengutamakan kegiatan keluarga Anda.
  • Jangan pernah takut untuk menyampaikan pada atasan Anda apabila ada agenda kerja yang bentrok dengan jadwal kegiatan keluarga Anda. Kenapa Anda harus takut? Atasan Anda pun juga punya prioritas dalam hidupnya, dan (seharusnya) adalah keluarga, sama dengan prioritas Anda. So, just do it!
  • Jika ada saatnya Anda memilih untuk ‘mengalahkan’ agenda kegiatan keluarga demi agenda kerja tertentu, maka Anda tidak perlu merasa bersalah. Karena setiap orang punya kesempatan untuk memilih. Tidak ada yang memaksa Anda untuk memilih mengutamakan agenda kerja Anda. Jadi kalau Anda memilihnya lebih dari kegiatan keluarga, maka Anda tahu bahwa Anda bukan berarti tidak memprioritaskan keluarga. Jangan pernah merasa bersalah, prioritas Anda pastinya tetap adalah keluarga Anda.

Terkait pengorbanan, sebenarnya yang Anda korbankan bukan hanya waktu bersama di tanggal dan waktu itu, tapi juga kesempatan yang hilang dan tidak bisa terulang lagi bersama anak atau keluarga Anda di saat itu. Jadi pengorbanan Anda memang besar. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang perlu selalu Anda ingat :

  • Jangan merasa diri Anda seperti super woman, yang bisa berada di 2 tempat sekaligus. Setiap hal yang kita lakukan, pasti ada harga yang harus kita bayar, tidak ada yang kita lakukan tanpa pengorbanan. Jadi Anda harus memprioritaskan keluarga Anda dalam setiap keputusan Anda.
  • Jangan pernah membandingkan pengorbanan Anda dengan apa yang Anda dapatkan dalam bekerja. Itu tidak bisa dibandingkan dan memang tidak akan pernah sebanding!
  • Jangan pernah mengompensasi waktu dan kesempatan yang Anda korbankan dengan memberikan uang saku atau hadiah yang berlebihan buat anak Anda. Itu tidak akan mengobati rasa bersalah Anda.

Untuk Anda yang memilih bekerja, peran Anda sebagai working mom memang tidak mudah. Sekali Anda memilih untuk menjalankan peran ini, just do your best with the best love for your family!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Working Mom, Rasa Bersalah dan Cara Mengatasinya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Herlina Permatasari | @herlinapermatasari

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar