Rahasia di Balik Tangisan Ahok: 5 Alasan Mengapa Seorang Pria Menangis

Reflections & Inspirations

[Image: Volcano Times Magazine]

9.1K
Invisible tears are the hardest to wipe away. Bagaimana harus menghapus air mata jika tangisan ada di relung hati yang paling dalam?

Saat ini tangisan Ahok di sidangnya yang pertama membuat polarisasi di kalangan netizen. Ada yang simpati. Ada yang antipati.

[Image: VIVA.co.id]

Ketimbang menyiramkan bensin ke api yang sedang membara, alangkah baiknya jika kita mengetahui rahasia yang lebih berguna: mengapa pria menangis. Di dalam curhatan kali ini saya menggali dari pengalaman saya sendiri mengapa - sebagai pria - saya menangis. Ada 5 alasan mengapa saya menangis.



1. Saat Merasa Gagal

Pernah terjadi dalam hidup saya - dan bagi kehidupan para suami dan ayah di mana pun - saya menangis saat penghasilan saya tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. “Pa, kita harus bayar ini dan itu,” ujar istri saya suatu ketika.

[Image: BT.com]

Kalimat itu begitu tajam menusuk, bukan jantung saya, tetapi harga diri saya. Saya sudah merasa bekerja begitu keras, bahkan sampai melakukan pekerjaan sampingan di malam hari, tetapi toh kebutuhan terkadang memang lebih besar ketimbang apa yang berhasil kita kumpulkan. Sebagai kepala rumah tangga, ini tanggung jawab saya. Jika kehidupan berjalan dengan ‘normal’, penghasilan saya - meskipun tidak besar - pasti cukup. Namun, jika ada hal-hal di luar dugaan, take home pay saya bisa tekor.

Di kesempatan lain, ketika pencobaan hidup begitu berat saya rasakan, saya menangis dalam hati. “Invisible tears are the hardest to wipe away.” Saya setuju.

Bagaimana harus menghapus air mata jika tangisan ada di relung hati yang paling dalam?

Baca Juga: Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar sebagai Pemenang



2. Saat Anak Sakit

Saat itu anak saya yang masih kecil sakit. Dia demam tinggi. Karena panasnya tidak turun-turun, saya membaringkannya ke dada saya. Ajaib. Dia bisa tidur nyenyak. Sebaliknya, saya yang tidak bisa tidur nyenyak. Di keheningan malam, saya memanjatkan doa ini dalam hati, “Jika sekiranya mungkin, saya rela kok bertukar tempat dengannya. Sembuhkan anak saya, ya Tuhan. Biar saya saja yang sakit.” Doa yang aneh? Bisa jadi. Mengapa tidak berdoa begini saja, “Tuhan sembuhkan anak saya dan pelihara kesehatan saya sendiri agar bisa merawat anak ini.” Secara logika, ya, tetapi saat sedih, doa bisa beda. Tuhan baik. Anak saya sembuh.

Suatu kali anak bungsu saya sakit sampai masuk ke rumah sakit. Seorang sahabat menasihati saya untuk memasukkannya ke sebuah rumah sakit. Saya menurutinya tanpa berpikir bahwa rumah sakit yang disarankan itu ternyata tidak sesuai dengan kemampuan saya. Meskipun sahabat saya itu tidak membantu biaya perawatan anak saya, saya tetap mengucap syukur karena toh anak saya sembuh. Bukankah rujukannya membawa kebaikan bagi anak saya? Meski begitu, saat di kamar rumah sakit menemaninya, saya menangis. Bukan karena ketidakmampuan saya membayar biaya rumah sakit, melainkan ikut merasakan rasa sakit yang dialami anak saya.

Baca Juga: Untuk Pearl, Si Mungil yang Berjuang Melewati Pre-Eklampsia dan Kelahiran Prematur Bersama Mama: Besar Kekuatanmu, Nak!



3. Saat Istri Melahirkan

Ketika anak sulung saya lahir, karena istri bekerja di rumah sakit, saya mendapat hak istimewa untuk menunggu dan beristirahat di kamar sebelah yang kebetulan kosong. Saat melahirkan tiba, saya dipanggil untuk ‘membantu’ proses persalinan. Mengapa kata ‘membantu’ saya beri tanda kutip? Karena secara teknis saya tidak membantu apa-apa. Yang bisa saya berikan adalah dukungan moral dan spiritual. Sebagai suami - sekaligus calon ayah - saya merasa beruntung bisa berada di kamar bersalin di saat kritis ini. Ketika dari mulut anak sulung saya keluar tangisannya yang pertama, mata saya ikut membasah. Perjuangan istri saya terbayar lunas. Saya melihat kelegaan yang luar biasa di wajah istri tercinta.

Baca Juga: Belajar dari Istri Ahok, Veronica Tan: 4 Peran Tak Tergantikan Istri yang Membentuk Kesuksesan Suami



4. Saat Papa dan Mama Dipanggil Tuhan

Saat itu saya baru merintis karier saya di sebuah penerbitan buku dan majalah. Saat liburan, saya mengajak seorang sahabat dekat pulang ke rumah orangtua saya di Blitar. Rasanya baru sebentar saya berada di rumah, Papa dipanggil Tuhan. Saat itu saya bernazar, jika Papa berhasil lolos dari maut, saya mau menjadi guru. Ketika tahu bahwa Tuhan tetap memanggil Papa saya pulang, saya menangis. Begitu juga waktu Mama dipanggil Tuhan sekian tahun kemudian.

[Image: Videezy]
Saya menangis sampai kehabisan air mata. Saya merasa ‘belum menjadi apa-apa’ dan ‘belum memberi apa-apa’ kepada Mama.

‘Hutang’ kepada Papa dan Mama itu saya wujudkan dengan tekad ini: “Memberi yang terbaik bagi anak-anak saya!” karena sekarang saya menjadi orangtua!

Baca Juga: "Saya Ingin Anak Saya Bangga pada Ayahnya." Sebuah Kisah Nyata tentang Ungkapan Cinta Ayah yang Tak Mewujud dalam Kata



5. Saat Anak Kuliah di Luar Negeri

Sejak kecil, anak sulung saya tidur bersama saya. Ceritanya begini. Waktu melahirkan, istri saya menyusui anak sulung kami dengan sebelah payudaranya, sehingga sisi yang lain tidak dia susukan. “Risih dan tidak biasa,” begitu alasannya. Akibatnya, payudara istri saya - kalau tidak salah yang sebelah kanan - mengalami pembengkakan sehingga harus diinsisi untuk mengeluarkan cairan di dalamnya. Sejak itu, anak sulung kami tidur dengan saya. Kami jadi sangat dekat. Belum pernah kami berpisah - apalagi untuk jangka waktu yang lama - seperti itu.

Saat ikut menata kopernya pada malam hari, saya menangis. Begitu istri atau anak saya masuk kamar, saya segera menghapus air mata itu. Saya tidak ingin kelihatan cengeng di hadapan mereka, padahal, menangis - bahkan bagi pria - adalah sesuatu yang wajar. Begitu juga saat saya harus kembali ke Indonesia setelah membereskan segala urusannya - mengantar ke indung semangnya, buka rekening bank, mengantar ke sekolahnya - saat berpelukan untuk terakhir kalinya, air mata saya kembali menggenang. Saat itu, saya sekali lagi berusaha untuk tidak menunjukkan kepadanya bahwa saya menangis. Sebaliknya, saya tersenyum sambil melambaikan tangan saya.

[Image: kiwi.qa]
“Sometimes you have to smile and act like everything is okay, hold back the tears and walk away.” Itulah yang saya lakukan.

Setelah say, “Goodbye,” saya masuk ke ruang pemberangkatan.

Baca Juga: Ingin Melanjutkan Sekolah di Luar Negeri? Anak dan Orangtua, Persiapkan 3 Hal ini Saja


Saat menulis curhatan ini, ingatan dan kenangan terhadap peristiwa demi peristiwa yang mewarnai hidup saya, betapa Tuhan itu baik, membuat mata ini kembali berair.

“Sometimes memories sneak out of my eyes and roll down my cheeks.” - Anonymous



Baca Juga:

Kata Siapa Pria Tidak Bisa Menangis? Inilah 6 Peristiwa yang Dapat Membuat Pria Meneteskan Air Mata. Wanita Wajib Tahu!

Wanita, Sering Mengalami Kesulitan Memahami Pria? Inilah 3 Rahasia Pria yang Perlu Kamu Tahu

3 Cara Suami Mengatakan I Love You yang Sering Tak Terdengar oleh Istri

Bukan Semata Malas, Inilah 5 Penyebab Suami Enggan Membantu Pekerjaan Rumah Tangga



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Rahasia di Balik Tangisan Ahok: 5 Alasan Mengapa Seorang Pria Menangis". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar