Puluhan Tahun Mempersiapkan Pasangan untuk Menikah, Saya Menemukan 7 Penyebab Perceraian Ini

Marriage

photo credit: english.sakshi

2.3K
Tidak ada orang yang memasuki pernikahan dengan harapan untuk bercerai di kemudian hari. Semua berharap relasi akan langgeng. Namun, realitanya seringkali bertolak belakang dengan harapan. Antisipasi perceraian sejak masa pacaran!

Bak disambar petir rasanya, ketika bertemu dan menyapa seorang anggota jemaat. Ia telah berpindah ke kota besar dan lama tidak bertemu. Di sebuah pesta pernikahan ia datang sendirian. Padahal yang bersangkutan telah memiliki tiga orang anak. Saat ditanya mana istri dan anak-anaknya, ia hanya mengatakan, ”Maaf, Pak, saya sudah off sejak setahun yang lalu.”

Saya paham apa artinya sudah off. Ia berarti sudah berpisah alias bercerai. Terpisah dengan istri dan anak-anaknya. Saya pun sangat terkejut dan merasa terbebani. Sebab sayalah yang pernah mempersiapkan pernikahannya, meski peneguhannya dilakukan oleh hamba Tuhan lain.

Sedih sekali rasanya, sebab ketika sebuah pernikahan yang diberkati menghadapi persoalan, yang bersangkutan tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan orang yang berkompeten untuk bisa menolong dan menyelamatkan pernikahannya.

Hingga akhirnya ia memutuskan pernikahan dengan caranya sendiri, untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya. Jika demikian, lalu apa artinya ”Apa yang sudah dipersatukan Allah, jangan diceraikan oleh manusia?”

Ada tujuh hal yang seringkali menjadi alasan pernikahan kandas di tengah jalan.


1. Menikah di usia yang terlalu dini

photo credit: WordPress

Pernikahan yang dilakukan terlalu dini, bisa berakibat fatal dalam perjalanannya. Membangun rumah tangga tidak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik secara fisik, psikis maupun spiritual. Pernikahan di usia dini seringkali menjadi penyebab sebuah pernikahan kandas di tengah jalan.

Banyak persoalan rumah tangga yang seharusnya mudah dimengerti, namun belum sempat dipahami dengan baik. Pernikahan dini bisa terjadi akibat MBA (Married By Accident), yang mengharuskan keduanya menikah. Mereka melakukan hal yang seharusnya belum boleh dilakukan. Pernikahan dini yang terjadi karena dorongan orang tua, yang ketakutan kalau anaknya nanti tidak laku dan menjadi perawan tua. Kondisi-kondisi semacam ini masih kental di masyarakat, yang pemahamannya masih dangkal tentang kehidupan pernikahan.

Baca juga: Selamatkan Pernikahan sebelum Kamu Memulainya! Bicarakan 5 Hal terkait Keuangan Ini bersama Pacar


2. Minimnya persiapan pernikahan

photo credit: HoneyBrides

Persiapan pernikahan memegang peran penting dalam membangun rumah tangga yang baik. Mereka yang mempersiapkan diri asal-asalan akan menghadapi persoalan berat. Tidak bisa berharap banyak bahwa perjalanan mahligai rumah tangganya akan berjalan lancar. Dalam perjalanan kehidupan pernikahan, banyak hal yang setiap pribadi dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi barunya.

Dulu hidup sendiri, sekarang bersama orang lain. Apa yang tadinya dapat dilakukan dengan bebas semaunya, sekarang terikat oleh kehadiran pasangan. Kebiasaan-kebiasaan lama dari kehidupan bersama orang tua masing-masing, sering mempengaruhi kehidupan mereka yang baru. Jika hal tersebut tidak diwaspadai, bisa menimbulkan masalah. Konflik akan muncul, saat mereka berusaha menyelaraskan perbedaan yang ada pada keduanya.

Semua orang yang menikah bukanlah pribadi sempurna. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Itulah sebabnya, persiapan pernikahan memegang peranan penting bagi siapapun yang akan menikah.

Kesiapan diri masing-masing pribadi, baik secara fisik, ekonomi, sosial, budaya maupun spiritualitasnya, merupakan hal yang sangat penting. Jika tidak dilakukan dengan baik, maka bukan tidak mungkin pernikahan tersebut akan kandas di tengah jalan.


3. Komunikasi yang tidak sehat

photo credit: eHarmony

Komunikasi yang baik dan sehat merupakan faktor penting dalam kehidupan bersama. Saat berpacaran, yang diperlihatkan pada umumnya adalah hal yang baik-baik saja. Namun, ketika sudah memasuki kehidupan pernikahan, semua kekurangan dan kelemahan masing-masing akan terkuak satu persatu. Oleh karena itu, komunikasi yang baik, terbuka, jujur dan terus terang sangatlah diperlukan.

Hal tersebut sangatlah penting ketika keduanya sepakat untuk menikah dan membangun kehidupan bersama. Masing-masing harus belajar mulai mengungkapkan dengan tulus dan jujur, apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan masing-masing, apa yang disukai dan tidak disukai.

Jika keduanya telah mengetahui kelebihan dan kekurangan pasangannya, tentu hal itu akan memperkecil potensi terjadinya konflik. Ini bukan berarti bahwa konflik tidak mungkin terjadi bila sudah saling mengenal di antara keduanya. Akan tetapi, setidaknya ada rambu-rambunya telah diketahui bersama, sehingga merekea berdua bisa meminimalisasi potensi terjadinya konflik.

Namun, jika hal tersebut disembunyikan dan tidak dikomunikasikan sejak awal, maka bisa menjadi masalah tersembunyi dalam perjalanan pernikahan, dan menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Banyak pernikahan kandas di tengah jalan, karena tidak adanya komunikasi yang baik.


4. Ketidaksiapan menghadapi tanggung jawab bersama

photo credit: english.sakshi

Tanggung jawab kehidupan rumah tangga, bukan saja terletak pada sang suami atau istri semata melainkan pada keduanya. Dulu, suami sebagai kepala rumah tangga, harus bekerja keras dan bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan seluruh keluarganya. Sedangkan istri berkewajiban mengatur dan memelihara kesejahteraan seisi rumah tangganya, termasuk pendidikan anak-anaknya.

Namun sekarang, zaman telah berubah. Kehidupan semakin berkembang. Tantangan semakin berat. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, terkadang baik suami maupun istri terpaksa harus bekerja. Jika hal ini terjadi maka keduanya harus secara bijak mengatur waktu dan kesempatan yang ada secara bersama dengan baik.

Di tengah kesibukan yang harus dihadapi, jangan sampai lalai memperhatikan anak-anak yang dikaruniakan Tuhan. Jangan sampai anak-anak menjadi ’anak pembantu’. Ini penting diperhatikan agar kita jangan menyesal di kemudian hari. Karena terlalu memperhatikan karier, orangtua akhirnya kurang memperhatikan kehidupan anak-anaknya. Baik perkembangan kerja dan usaha maupun kehidupan anak-anak, semuanya merupakan tanggung jawab bersama dalam pembangunan rumah tangga yang bahagia.

Baca Juga : Bagaimana Jika Pernikahan Impianmu Tak Terwujud? Sebuah Pertanyaan tentang Keberanian Bermimpi dan Kekuatan Memperjuangkan Impian


5. Tidak merawat perasaan kasih sayang dengan baik

photo credit : infinite sky

Mengawali kehidupan pernikahan biasanya masih bersemangat ’45. Luar biasa kerinduannya untuk menciptakan kehidupan bahagia. Namun seiring bergulirnya waktu, tak jarang kasih yang semula membara itu mulai meredup. Kehangatannya mulai berkurang. Ini membutuhkan perawatan yang memadai. Perawatan itu harus dilakukan terus menerus.

Ketika masalah demi masalah bermunculan, banyak yang mulai kecewa karena yang diharapkan selama ini ternyata tidak sesuai kenyataan. Meraka tidak menyadari bahwa tantangan hidup pernikahan pasti akan dijumpai. Entah itu jauh atau dekat, besar maupun kecil masalahnya.

Jika persoalan ini mulai terjadi. Berhentilah sejenak, cari apa yang menjadi akar masalahnya. Apabila persoalan pokok ditemukan, berusahalah bersama-sama menganalisanya. Belajar mencari solusinya, sampai menemukan penyelesaian secara baik. Tidak semua orang mampu mencari dan mendapatkan akar masalah yang sedang dihadapi. Demikian pula jalan keluarnya. Karena itu saat mengalami kesulitan, sebaiknya berkonsultasi kepada pembimbing rohani yang dapat dipercaya. Ia akan dengan senang hati mendampingi dalam menyelesaikan persoalan.

Jangan mengambil keputusan sendiri yang kurang tepat, sehingga bisa berakibat hancurnya mahligai pernikahan. Keengganan berkonsultasi dan membicarakan pergumulan secara bersama, sering menjadi penyebab gagalnya sebuah rumah tangga membangun diri.

Terkadang kita menemukan suami atau istri yang dominan, sehingga penyelesaian persoalan bergantung kepada seorang yang dianggap tahu segalanya. Sehebat apa pun seseorang, tentu memiliki kelemahan. Sebaiknya memang persoalan diselesaikan secara bersama-sama. Tentu saja juga harus memberi kesempatan orang yang sering dianggap tidak tahu apa-apa, untuk mengungkapkan pendapatnya. Juga bila sudah ada anak-anak, mereka dilibatkan dalam berdiskusi untuk mencari jalan keluar.

Kita perlu menyadari bahwa semua orang yang menikah, bukanlah pribadi yang sempurna. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu harus saling menopang dalam menciptakan kehidupan yang diharapkan. Jika hal ini dilakukan, niscaya rumah tangga yang dibangun akan mengalami kebahagiaan, karena sejak awal senantiasa dijaga dan dirawat.


6. Adanya campur tangan orang ketiga

photo credit : womandk


Rumah tangga baru seringkali kandas di tengah jalan karena adanya campur tangan orang ketiga. Itu bisa orang tua, mertua atau saudara. Bila hal ini terjadi, maka sulit diharapkan keluarga itu bisa mandiri dengan baik,karena pengaruh mereka seringkali mendominasi. Selain itu, mereka bisa menghambat tumbuh berkembangnya sebuah rumah tangga yang sedang dibangun.

Idealnya, mereka yang telah mengambil keputusan menikah, sepakat untuk tinggal berdua, tanpa orang ketiga. Komitmen ini diambil agar keduanya bisa mengembangkan kemandiriannya tanpa pengaruh orang lain.

Oleh karena itu, jika karena keadaan, terpaksa harus tinggal bersama orang ketiga, dari awal perlu ditegaskan bahwa orang ketiga ini tidak boleh campur tangan urusan mereka. Mereka bisa memberi dorongan, nasehat, juga masukan sebagai pertimbangan, tetapi keputusan mutlak ada pada mereka berdua.

Tinggal bersama orang ketiga, memang harus memiliki tenggang rasa. Untuk hal yang tidak sejalan, terkadang mesti harus ada yang mengalah demi kebaikan bersama. Meski mungkin untuk itu ada yang menderita karena tekanan batin. Apabila prinsip ini dijalani, ketegangan mungkin saja terjadi. Namun rumah tangga tetap akan dapat berjalan dengan baik sembari mengatasi pergumulan yang ada.

Baca Juga : Suami Selingkuh, Istri Cerdas Bertindak Realistis. Begini Strategi Teman Saya Mengatasi Perselingkuhan Suaminya


7. Tidak ada landasan agama dalam rumah tangga

photo credti : new hope for you
Rumah tangga yang sehat dalam kehidupan orang beriman, memiliki dasarnya pada hubungan segitiga yang dibangun dari awal sejak pernikahan mulai. Setiap pribadi beriman harus memiliki relasi yang baik dengan Penciptanya. Relasi antara suami dengan Tuhan, istri dengan Tuhan dan suami-istri bersama-sama dengan Tuhan.

Ini merupakan kunci yang sangat penting. Jika sendiri-sendiri maupun secara bersama memiliki komunikasi yang baik dengan Tuhan, mereka punya wasit yang akan mengingatkan jika terjadi sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan.

Altar rumah tangga ini harus dipelihara secara baik ,dengan senantiasa mendengar pesan Sang Pencipta. Apabila suatu saat nyala api itu padam, karena kurang perawatan, maka rumah tangga itu akan hambar, redup, dan tidak bisa menjadi pancaran berkat. Untuk itu, saat menyadari bahwa keterpurukan sedang menerpa diri dan seisi rumah tangga. Segeralah bangkit, dengarkan kembali wasiat Agung Sang Pencipta. Renungkan pesan-Nya. Hanya ketika pesan Agung-Nya didengar dan diperhatikan pemulihan akan terjadi .


Artikel-artikel ini akan memberikan inspirasi dalam perjalanan pernikahanmu :

Dua Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan

Pria Berubah Setelah Menikah? Ketahui 5 Hal yang Menjadi Penyebabnya dan 10 Cara untuk Mengembalikan Romantisme Masa Pacaran dalam Pernikahan

Mengapa Wanita Berani Berselingkuh? Inilah 3 Penyebab Utamanya

Punya Istri Cantik, Kok Suami Masih Saja Selingkuh? Ini 3 Penyebabnya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Puluhan Tahun Mempersiapkan Pasangan untuk Menikah, Saya Menemukan 7 Penyebab Perceraian Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Stefanus Semianta | @stefanussemianta

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar