Proses Kehamilan dan Kelahiran Anak Pertama yang Sukar Mengajar Kami 4 Pelajaran Berharga Ini

Marriage

publicdomainpictures

7.2K
Kesulitan menjadi orangtua baru sekarang hilang dan tertutupi oleh sukacita karena kehadiran anak kami.

Kami sudah merasakan suka-duka dalam upaya kami untuk mendapatkan buah hati hasil pernikahan kami, Namun setelah istri saya hamil, ternyata kesulitan tidak berhenti sampai di situ. Meskipun kehamilan istri saya tidak terlalu “bermasalah”, namun mendekati akhir kehamilan mulailah kami kembali menghadapi ujian.

Pada semester awal kehamilan istri saya, kami sudah merencanakan untuk memilih proses kelahiran secara Sectio Caesaria atau secara Operasi Caesar. Kesepakatan tersebut kami ambil karena istri saya memiliki kecenderungan hipertensi atau bertekanan darah tinggi.

Dokter ahli mata pun juga menyarankan agar istri saya melahirkan melalui operasi demi keamanan dan kesehatan karena minus mata istri saya terbilang cukup tinggi.

Baca juga: Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya


Pada tanggal 21 Mei 2017, usia kehamilan istri saya mencapai 36 minggu 4 hari. Dokter ahli kandungan memberikan kami tanggal perkiraan untuk dilakukannya tindakan operasi, yaitu antara 24 Mei - 30 Mei 2017, tetapi saya pribadi memilih tanggal 2 juni 2017. Namun, setelah melalui proses konsultasi dengan dokter dan pertimbangan ulang, akhirnya kami memajukan jadwal operasi menjadi tanggal 27 mei 2017, yaitu tanggal yang masih berada dalam kisaran waktu perkiraan kelahiran yang diberikan oleh dokter.

pexels

Berdasarkan hasil konsultasi dan hasil rekam USG, kami mengetahui bahwa kondisi akhir istri saya baik dan kondisi bayi pun sehat walaupun ada beberapa catatan, yaitu posisi bayi sungsang, ada satu lilitan tali pusar di lehernya dan ukuran bayi besar. Akan tetapi semua hal ini bukanlah masalah karena anak kami akan dilahirkan melalui operasi caesar.

Baca juga: Bayi Sering Digendong dan Dipeluk: Bau Tangan, Manja, atau Justru, Sehat Jiwa Raga?

Terlepas dari itu, saya juga harus mengakui adanya perasaan antusias tersendiri yang muncul mendekati waktu-waktu akhir ketika saya menyongsong kelahiran anak kami. Jika mengingat 9 bulan ke belakang, saya lega karena istri saya yang mengandung akhirnya hampir melahirkan.

Saya tidak sabar menantikan saat pertama kali saya memandang wajah anak pertama kami yang merupakan hasil persatuan kasih antara dua orang individu yang berbeda. Apalagi, proses mendapatkan anak ini tidak semudah yang dialami kebanyakan orang lain.

Dokter ahli kandungan mendiagnosis istri saya mengalami PCOS, yaitu Polycystic Ovary Syndrome atau Sindrom Ovarium Polikistik. Gangguan PCOS ini adalah gangguan keseimbangan kadar hormonal sehingga dalam keadaan ini tubuh perempuan memroduksi hormon laki-laki (androgen) secara berlebihan. Keadaan ini membuat proses pembuahan secara normal menjadi sangat sulit terjadi. Agar bisa hamil, istri saya harus menghadapi proses pembuahan bayi tabung. Proses ini pun tidak menjamin pembuahan serta-merta bisa terjadi sehingga akhirnya kami pun harus berserah penuh kepada rencana Tuhan sampai akhirnya istri saya mengandung.


Saya harus berserah lagi pada Tuhan

mlordi.files

Hari Minggu, 21 Mei, 2017, yaitu saat mendekati tanggal kelahiran anak kami, dokter meminta kami untuk melakukan rekam jantung (NST/Non-stress Test) untuk bayi kami. Tes NST ini bertujuan melihat kondisi bayi kami secara aktual: seberapa aktifnya dan apakah dia dalam kondisi baik.

Proses NST berjalan 30 menit dan hasil yang didapatkan berupa grafik. Ternyata, gambar grafik hasil NST bayi kami terlihat datar sehingga dokter menjadi agak khawatir. Pada waktu melakukan tes, istri saya memang belum sarapan. Jadi, mungkin bayi kami sedang lemas karena belum mendapat asupan makanan. Dokter pun meminta istri saya untuk makan, dan setelahnya akan dilakukan tes ulang.

Hasil tes ulang memang menunjukkan adanya sedikit perbaikan, tetapi masih tidak seperti yang diharapkan dokter. Dokter mengkhawatirkan lilitan tali pusar di leher bayi menghambat pasokan oksigen buatnya, apalagi bayi kami ukurannya besar.

Dokter berpesan agar kami benar-benar secara ketat memerhatikan pergerakan. Apakah ada 10 gerakan dalam 2 jam? Apakah perut mulai terasa kram? Jika ada sesuatu yang tidak seperti biasanya, dokter meminta kami segera ke IGD agar bisa dilakukan pemeriksaan terhadap istri saya. Dokter begitu cemas, sehingga beliau juga menceritakan pengalamannya mengenai pasien yang tidak “nurut” sehingga bayinya tidak tertolong dan meninggal dalam kandungan, padahal sudah mendekati waktu kelahiran.

Kami pun merasa ikut khawatir. Kami takut akan terjadi sesuatu pada anak kami. Dengan teliti, saya dan istri memantau keadaan kandungan istri saya: apakah ada gerakan? Apakah gerakannya masih seperti biasanya? Saya meminta istri untuk beristirahat dari sore hingga malam. Dia tidak boleh capai. Istri saya pun menyarankan agar kami berkonsultasi lagi dengan dokter keesokan harinya.

Malam itu kami berdoa bersama agar kekhawatiran kami tidak terlalu menguasai kami sehingga tidak menimbulkan efek-efek yang lain, misalnya tekanan darah istri saya menaik. Kami berserah lagi sepenuhnya kepada Tuhan karena kami percaya bahwa anak adalah titipan dari Tuhan.

Jika Tuhan memberi maka Tuhan juga yang akan menjaganya. Meskipun demikian, jujur saja, saya masih agak susah tidur.


Saya belajar memahami bahwa waktu Tuhan yang terbaik

shutterstocks

Senin pagi, 22 Mei, 2017. Istri seperti biasa bangun lebih awal dari saya. Pukul 06.00, dia sudah bangun, namun tidak langsung turun dari ranjang. Dia berbaring-baring sambil mengecek instagram, line, dan lain-lain. Tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang akan 'keluar'; dia merasa seperti ingin buang air kecil tetapi tidak bisa ditahan. Dia merasa ini bukan mengompol, karena dia sudah dalam kondisi sadar. Istri saya segera turun dari ranjang. Ternyata kantung ketubannya pecah, dan cukup banyak air ketuban yang keluar. Dia membangunkan saya, dan membuat saya kaget serta bingung. Saya berusaha menenangkan diri dan memintanya menelepon dokter untuk memberitahu bahwa kantung ketuban pecah dan kami akan segera ke rumah-sakit, sementara saya akan menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah-sakit dan menaruhnya di mobil.

Ternyata istri saya bersikap lebih tenang daripada saya, bahkan dia sempat berpikir untuk mandi dahulu. Namun saya melarangnya mengingat air ketuban yang keluar cukup banyak. Saya takut terjadi sesuatu pada bayi dalam kandungan istri saya.

Saya mengemudikan mobil ke rumah-sakit sambil berdoa dalam hati dan sekali lagi berserah kepada Tuhan. Jika memang Tuhan mau bayi lahir hari ini, maka kami akan jalani dengan ikhlas, karena kami tahu bahwa waktu Tuhanlah yang terbaik.


Saya belajar untuk selalu mengandalkan Tuhan

shuttertocks

Setiba di rumah-sakit, istri saya mulai mengalami perdarahan. Perawat kemudian langsung membawa istri saya ke ruang khusus. Istri saya harus menjalani NST lagi, pemasangan infus, pemberian obat-obatan yang kesemuanya itu dimaksudkan untuk menjaga kondisinya serta kondisi bayi.

Sudah beberapa saat istri saya berada di ruang khusus, tetapi dokter masih belum terlihat datang. Berulang kali kami bertanya kepada perawat apakah dokter sudah datang? Walaupun dokter belum datang, namuninformasi hasil NST dan tanda-tanda vital bahwa istri saya akan melahirkan terus diinformasikan kepada dokter.

Saya terus merasa khawatir karena air ketuban yang keluar cukup banyak. Saya takut jika air ketuban sampai habis mungkin bayi saya yang ada di dalam kandungan akan berada dalam kondisi bahaya. Kami berdoa kembali agar Tuhan terus menyertai dan menjaga istri serta anak kami.

Sekitar pukul 08.00, kami menerima informasi dari perawat bahwa akan operasi akan dilakukan pada pukul 09.00. Keadaan kini menjadi sedikit jelas, namun pikiran saya masih tidak tenang. Ketika dokter akhirnya datang menemui kami, barulah saya merasa cukup tenang, Sebaliknya istri saya yang mulai merasa tegang karena sebentar lagi dia akan dioperasi. Dia merasa agak takut.

prettymomguide

Tepat pukul 09.00, istri saya digeledek oleh perawat menuju ruang operasi. Saya pun ikut memersiapkan diri masuk ke dalam ruang operasi. Kurang-lebih dibutuhkan waktu 15 menit untuk persiapan, termasuk pemberian tindakan anastesi. Akhirnya, dokter berkata, “Baik, kita akan memulai proses operasinya. Tetapi, sebelumnya mari kita berdoa dulu”.

Saya teringat dokter pernah bercerita bahwa sudah sangat sering dia membantu proses kelahiran bayi, baik secara normal maupun secara caesar sehingga beliau mengatakan bahwa sampai seolah-olah sambil “merem pun" beliau bisa membantu bayi lahir.

Namun demikian, beliau juga berkata bahwa beliau tidak lupa berdoa setiap kali akan melakukan penanganan, karena beliau tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebagai manusia, bisa jadi beliau juga melakukan kesalahan.

Proses operasi kelahiran anak kami berlangsung tidak terlalu lama dan berjalan dengan lancar serta tidak semenakutkan seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya merasa berbahagia sekali karena anak kami sudah dilahirkan.

Baca juga: Nasihat Terbaik yang Pernah Saya Dengar tentang Menjadi Seorang Ayah


Saya belajar memahami bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan

hubspot

Anak kami dibawa perawat ke ruang bayi dan saya pun diminta untuk ikut. Perawat melakukan penyedotan cairan di mulut dan hidung bayi, pengecekan fisik seperti tanda-tanda lahir dan penimbangan. Setelah semua selesai, anak kami dibungkus dengan handuk dan dibawa kembali untuk bertemu dengan istri saya sambil juga dilakukan pencatatan untuk panjang bayi, berat bayi dan waktu lahirnya. Sementara itu, Istri saya pun menjalani proses penutupan dan penjahitan luka operasinya.

Setelah semuanya selesai, tak disangka tekanan darah istri saya menjadi sangat tinggi. Bahkan, katanya dia sudah merasa sesak sewaktu proses kelahiran berlangsung.

Dia pun harus dirawat di ruang observasi agar perawat bisa terus memantau keadaannya pasca operasi. Istri saya harus mendapat obat hipertensi dan obat anti kejang yang dimasukkan baik melalui infus atau secara oral. Saya meyakinkan istri saya agar dia bisa merasa tenang dan rileks; saya mengatakan bahwa semua sudah selesai sehingga sekarang dia bisa beristirahat agar cepat turun tekanan darahnya. Saya terus menemaninya di ruang observasi.

Malamnya kami berdoa meminta pertolongan Tuhan dan bersyukur atas kelahiran anak kami.

Pada haris Selasa pagi, tekanan darah istri saya sudah mulai menurun, tetapi keadaanya masih terus dimonitor. Ternyata hari itu istri saya juga masih belum bisa buang angin, apalagi BAB sehingga masih belum bisa dipindahkan ke kamar perawatan biasa. Obat untuk pencernaan kembali diminumkan, namun tidak ada reaksinya; bahkan obat tambahan, yaitu Microlax yang dimasukkan lewat dubur juga tak memberikan hasil. Barulah pada Selasa sore dengan seizin dokter, istri saya boleh dipindahkan ke kamar perawatan biasa.

filmibeat

Selama berada di ruang perawatan, istri saya masih harus minum obat dan keadaannya tetap dimonitor. Pada hari Rabu, datang kabar baik; dokter mengatakan istri saya boleh pulang ke rumah. Keesokan harinya, saya menyelesaikan urusan administrasi, dan istri saya pun boleh kembali ke rumah.

Beberapa hal yang bagi kami terasa cukup sulit pada awalnya sebagai orangtua baru sekarang hilang dan tertutupi oleh sukacita setiap kali kami melihat anak pertama kami ini. Sungguh pertolongan dan karya Tuhan kami alami dengan luar biasa dalam perjalanan kami memiliki anak pertama. Eve Leticia Saputra adalah nama anak pertama kami.


Ingin membaca kisah-kisah inspiratif lainnya seputar pengasuhan anak? Klik di sini:

Hidup ini Singkat. Inilah 3 Bekal Kehidupan dari Kematian Seorang Ibu Usai Melahirkan Anak

Bisakah Anak-anak Lepas dari Gadget? Bisa! Setahun Anak-anak Kami Hidup Tanpa Gadget. Ini Kisahnya.

Hidup setelah Anak Kami Tiada: 3 Pelampung Pengharapan Kala Gelombang Duka Kematian Menerjang




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Proses Kehamilan dan Kelahiran Anak Pertama yang Sukar Mengajar Kami 4 Pelajaran Berharga Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bagus Saputra | @MisterGood

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar