Pria Mendekati dengan Cara yang Membuatmu Tak Nyaman. Wanita: Tolak atau Beri Kesempatan Ulang?

Singleness & Dating

[Image: adeevee.com]

2.9K
Menjadi wanita sungguh tak mudah. Mengambil langkah pertama mendekati pria disebut agresif. Menolak pendekatan pria dibilang pilah pilih. Lalu, apa yang harus dilakukan, bila pendekatan yang dilancarkan membuat tak nyaman?

Artikel ini saya tulis secara khusus bagi para perempuan - entah mereka itu masih lajang atau sudah menikah. Saya akan memulai tulisan ini dengan pertanyaan, "Jika Anda mengalami hal-hal di bawah ini, apa yang akan Anda lakukan?"


Anda masih lajang. Suatu ketika, seorang teman pria mengajak Anda kencan.

"Ntar malam lowong? Yuk kita dinner!"

"Ayuk aja." Anda merespons. Ya, mengapa tidak? Anda memang lowong malam ini, dan pria ini bukannya tidak menarik hati Anda. Dia cukup tampan dan keren, kok.

Maka, Anda pun pergi berdua dengannya malam itu. Anda duduk dinner di sebuah warung sate di pinggir jalan. Buat Anda, tidak masalah makan malam di warung sate emperan. Anda bukan cewek matre. Lagi pula kelihatannya warung sate ini menjual sate yang enak [ada sate ayam, sate kambing, dan sate kelinci] dan pengunjungnya cukup ramai.

"Mas, sate ayam 10 tusuk. Pake lontong. Dan 2 gelas teh manis," demikian ujar si pria.

Kemudian, sambil menunggu pesanan datang, pria ini berusaha mengajak Anda berbincang-bincang. Dia sama sekali tak membayangkan bahwa Anda sudah enggan meneruskan berkawan [apalagi berpacaran!] karena perasaan Anda sebal kepadanya.

Bagaimana tidak sebal? Pria ini tidak memikirkan apakah Anda lebih suka sate kambing dibandingkan sate ayam. Seharusnya dia bisa bersikap lebih elegan dengan menanyakan apa menu yang Anda inginkan untuk dinner di warung sate malam itu. Lalu, Anda ingin lontong atau nasi untuk menemani sate Anda. Dan bisa jadi teh hangat lebih menarik buat Anda dibandingkan es teh. Lagi pula, 10 tusuk sate ayam untuk berdua? Wah, pelit amat!

Namun ternyata dinner berdua malam itu dianggap sukses oleh pria tersebut. Buktinya, tanpa membuat janji terlebih dahulu, tiba-tiba pria itu sudah berada di depan pintu rumah Anda. Dia ingin bertamu. Anda pun terpaksa duduk di ruang tamu mengobrol dengannya. Setelah berbincang ini dan itu, pria ini nyeletuk, "Ehmm ... kamu ga suka olahraga ya? Perutmu agak tebal. Agak gendut, loh."

Ooops ... mengomentari [secara negatif] perut gadis yang sedang didekati, sangat tidak elok!

Beberapa waktu kemudian, si pria datang lagi ke rumah Anda. Di tengah-tengah perbincangan, ia berkomentar, "Eh, cincinmu itu matanya asli, nggak? Berlian apa sirkon, ya?"

Anda mulai merasa tak nyaman. Si pria ini baru dalam tahap pendekatan dan belum Anda terima sebagai pacar namun dia sudah berani melecehkan Anda. Bagaimana jika nanti dia sudah menjadi suami dan merasa memiliki Anda secara jiwa raga? Jangan-jangan dia akan melakukan pelecehan yang lebih lagi!


Jadi, apa yang harus Anda lakukan?

Jika dari awal Anda sudah merasa tidak nyaman dalam membina hubungan dengan seorang pria, maka ada baiknya Anda berpikir ulang untuk meneruskan hubungan itu ke tingkat yang lebih dalam, apalagi sampai masuk dalam pernikahan.

Perasaan tidak nyaman dalam suatu relasi - karena satu dan lain-lain hal - tidak dapat dinihilkan dengan berpikir bahwa waktulah yang akan berperan menyembuhkan.

Karenanya, ada baiknya Anda memikirkan ulang: apakah tidak sebaiknya Anda memutuskan relasi ini sebelum kebersamaan Anda menjadi semakin dalam, kompleks, dan menjadi sebuah hubungan yang co-dependent.

Selain hal-hal "remeh-temeh" yang sudah saya sebutkan di atas, ada sebuah hal serius lagi yang membuat kita perlu mempertimbangkan untuk mengakhiri sebuah relasi sebelum menuju pelaminan.

Jika sebelum terikat pernikahan, pria yang Anda cintai itu sering bersikap kasar dalam bertindak atau menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sanggup melakukan KDRT [Kekerasan dalam Rumah Tangga] seperti membentak, mengamuk, mendorong, dan memukul, Anda harus membuat keputusan tegas! Akhiri saja hubungan seperti ini. Ketika sudah di dalam pernikahan, tindakan kekerasan ini akan meningkat jenis dan intensitasnya.

Baca Juga: Perempuan, Inilah 5 Ciri Pria yang Berpotensi Melakukan Kekerasan dalam Relasi

Jangan pernah Anda berpikir menjadi juru selamatnya. Jangan pernah punya anggapan bahwa Anda akan dapat membantunya menjadi "sembuh" ketika menikah nanti.

Sebelum nasi menjadi bubur, bersikaplah bijak. Lindungi diri Anda dengan mengakhiri hubungan yang tidak sehat itu.

Namun, bagaimana jika ternyata Anda tetap menikahi pria sejenis ini dan pernikahan Anda serasa menjadi sebuah siksaan yang tiada akhir? Jawabannya akan ada di tulisan saya dalam artikel berikutnya.



Baca Juga:

Tak Terbayangkan! Inilah 8 Alasan Wanita Memilih Bertahan dalam Hubungan yang Menyiksa

Perempuan, Inilah 5 Ciri Pria yang Berpotensi Melakukan Kekerasan dalam Relasi

5 Kebohongan yang Diyakini Korban yang Membuat Kekerasan dalam Pacaran Terus Berulang

Jangan Biarkan Dirimu Terjebak dalam Hubungan yang Salah. Temukan Keberanian, Pergi dan Bukalah Lembaran Baru!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pria Mendekati dengan Cara yang Membuatmu Tak Nyaman. Wanita: Tolak atau Beri Kesempatan Ulang?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

martha ekawati pratana | @marthapratana

Ibu dua orang anak, dan istri seorang suami. Menulis, menyunting dan menerjemahkan adalah caranya berpartisipasi di dalam dunia yang terus bergerak ini.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar