Pragmatisme Telah Merusak Pendidikan Kita. Mari Kita Perbaiki Bersama. Inilah Caranya!

Work & Study

photo credit: Muvila

5.4K
Tak jarang bahkan yang memamerkan hasil tugas mereka kepada teman-temannya dengan berkata “Lihat punyaku, nggak usah kerja lama-lama dapat A juga tuh.”

SKS (Sistem Kebut Semalam), plagiat, remedial, suap, ijazah palsu, itulah sebagian rentetan dampak dari pragmatisme dalam budaya pendidikan kita selama ini.

Saya adalah seorang mahasiswa, dan saya sangat akrab dengan hal-hal seperti ini. Para siswa dan bahkan mahasiswa akan sangat bangga ketika mereka dapat mengerjakan tugas mereka hanya dalam waktu semalam (atau yang disebut SKS). Tak jarang bahkan yang memamerkan hasil tugas mereka kepada teman-temannya dengan berkata “Lihat punyaku, nggak usah kerja lama-lama dapat A juga tuh.” Atau tak jarang juga kita menemukan para siswa begitu mudahnya menyontek ketika ulangan atau ujian dilakukan. Pengalaman saya, saya menemukan banyak siswa tidak merasa menyontek adalah perbuatan yang berdosa, bahkan orang yang tidak menyontek akan dianggap sebagai orang yang kuper, culun, atau sok alim. Mereka menganggap kalau merokok, membunuh, minuman keras barulah berdosa, sedangkan menyontek tidak.


Pragmatisme dalam pendidikan

photo credit: Muvila

Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragmatikos, yang secara harafiah dapat diartikan cakap dan berpengalaman dalam urusan hukum, perkara negara dan dagang. Kata pragmatikos kemudian menjadi kata pragmatic dalam bahasa Inggris, yang berarti berkaitan dengan hal-hal praktis. Jadi pragmatisme dapat diartikan sebagai sebuah pendekatan terhadap masalah hidup apa adanya dan secara praktis, bukan teoritis atau idealis, hasilnya diharapkan dapat dimanfaatkan, bukan sesuatu yang bersifat spekulasi atau abstraksi.

Pragmatis bukanlah hal yang sepenuhnya buruk, tetapi ketika pragmatis menjadi sebuah ideologi “pragmatisme", maka sebagai ideologi, kaum pragmatis hanya akan melihat hasil yang dapat dinikmati daripada prosesnya. Akibatnya kita seringkali membaca berita mengenai ijazah palsu yang bertebaran, kuliah hanya sebentar kemudian mempunyai ijazah s1, penyogokan untuk kenaikan kelas, plagiarism, dan sebagainya.

Semangat pragmatisme tentu sangat berbeda dengan semangat pendidikan. Bagian ini, mari kita membahas sedikit mengenai pengertian pendidikan.

Baca juga: Tiga Kategori Mahasiswa : Kupu-kupu, Kunang-kunang, dan Kura-Kura. Periksa Kelebihan dan Tantangannya. Kamu Termasuk yang Mana?

KBBI mendefinisikan pendidikan sebagai sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan latihan. Sedangkan Oxford Dictionary juga memberikan sebuah definisi yang hampir sama dengan KBBI, yakni pendidikan adalah sebuah proses merawat (nourishing) atau mengasuh (rearing), menumbuhkembangkan anak muda untuk bertumbuh dalam kedewasaannya.

Pengertian pendidikan di atas sangat menekankan proses daripada hasil semata. Secara sederhana semangat pendidikan adalah proses, sedangkan semangat pragmatisme adalah hasil.


Proses lebih penting daripada hasil

photo credit: Universitas YARSI Indonesia

Ini semangat yang harus menjadi pegangan kita bersama, bahwa proses sebenarnya lebih penting daripada hasil. Proses tidak akan pernah berbohong, dia pasti menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih baik daripada mereka yang hanya mengedepankan hasil. Proses akan membentuk mereka yang setia menjadi orang yang tangguh, jujur dalam kehidupannya.

Saya melihat bahwa banyak orang tidak benar dalam pekerjaan, perpolitika, dan sebagainya kemungkinan disebabkan karena mereka orang-orang yang hanya mementingkan hasil, sehingga segala cara di halalkan agar mendapatkan hasil yag diinginkan.

Baca juga: Status sebagai Mahasiswa Bukan Halangan untuk Menikmati Liburan Seru. Inilah 12 Tipsnya

Setiap manusia berproses, tidak ada yang instan! Seorang bayi harus melewati setiap proses dalam pertumbuhannya, biasanya jika salah satu proses tersebut bermasalah, maka akan ada masalah dalam pertumbuhannya. Begitu pun dalam pendidikan, jika kita melewati proses, maka akan ada banyak masalah yang terjadi kedepannya.

Oleh karena itu berjuanglah melalui proses-proses dengan kejujuran. Pragmatisme hanya menipu untuk kenyamanan sesaat.


Keuntungan bagi kita yang mengikuti proses

photo credit: Boombastis

Ada banyak keuntungan bagi kita yang masih mengindahkan proses dalam pendidikan kita. Misalnya, kita akan bangga dengan apa yang telah kita capai karena kita telah melewati proses-proses dengan jujur. Kemudian orang lain tidak dapat meremehkan apa yang telah kita capai, berbeda dengan mereka yang hanya menekankan hasil tanpa mengikuti proses, mereka akan sangat mudah diremehkan karena hasilnya bukan dari kerja keras. Seorang yang mementingkan proses akan mempunyai sikap-sikap yang baik dalam kehidupannya, baik ketika masih sekolah maupun ketika sudah bekerja karena sudah terbiasa bekerja keras dan jujur dengan diri sendiri.

Seorang yang mementingkan proses akan lebih dipercayai oleh banyak orang ketimbang mereka yang menghalalkan segala cara untuk mencapai hasil.

Baca juga: Lulus S1: Kerja atau Lanjut S2? 3 Pedoman Ini Akan Membantumu dalam Mengambil Keputusan


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pragmatisme Telah Merusak Pendidikan Kita. Mari Kita Perbaiki Bersama. Inilah Caranya!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Yogi Liau | @yogiliau

Mahasiswa tingkat akhir STT Bandung

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar