Pilih Siapa di Pilkada? Sebelum ke Bilik Suara, Pertimbangkan Satu Hal ini Saja!

Reflections & Inspirations

[Image: Berdemokrasi]

3.9K
Jika salah makan, paling kita menyesalnya sehari. Jika salah memotong rambut, kita mungkin menyesal berbulan-bulan. Namun, jika salah memilih pemimpin, dampak yang kita rasakan bertahun-tahun. Untuk di Indonesia, 5 tahun ke depan. Ini waktu yang bukan main-main.

“Pak Xavier, saya sudah di bilik suara. Sebaiknya milih siapa ya?” suara seorang ibu di seberang sana.

“Lha, selama ini Ibu belum punya pilihan?” jawab saya singkat.

Peristiwa ini terjadi saat pemilihan walikota di Surabaya yang lalu. Berdasarkan pengalaman itu, saya sadar untuk memilih calon pemimpin apakah itu bupati, walikota, gubernur, bahkan presiden, kita seringkali bingung menjatuhkan pilihan. Lewat tulisan ini saya mencoba memberikan sedikit pencerahan yang saya harap bisa menolong para pemilih yang masih bingung dan bertanya-tanya,

“Pilih siapa di pilkada kali ini?”

[Image: BeritaHati.com]

Sebelum ke bilik suara untuk pilih siapa di pilkada, pertimbangkan satu hal ini saja: RELASI.

Baca Juga: Agus Ahok Anies: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Mereka?

Ada 3 relasi utama:



1. Bagaimana Relasi Calon Itu dengan Tuhan?

Saya percaya - dan saya percaya juga dipercayai oleh umat yang bertuhan - bahwa Tuhan bukan sumber kebenaran, melainkan kebenaran itu sendiri. Nabi Yesaya ribuan tahun lalu dengan begitu bijak menulis, “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.”

Pilihlah pemimpin yang benar. Bagi saya, pemimpin yang BENAR PASTI BAIK. Sebaliknya, pemimpin yang baik belum tentu benar.
Yang jadi persoalan, benar menurut siapa? Raja di atas segala raja, yaitu Tuhan sendiri.

Ribuan tahun lalu juga raja yang terkenal paling bijak yaitu Salomo atau Sulaiman menulis, “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Kitab Hakim-Hakim klasik pun menulis hal senada. Karena tidak ada raja pada zaman itu, “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.”

Jika sudah begitu, pemimpin bisa bersikap dan bertindak - meminjam istilah Jawa - karepe dewe lan pokoke ngene [maunya sendiri dan pokoknya begini]. Hukum ‘pokoknya’ inilah yang berbahaya. Artinya memaksakan kebenarannya sendiri agar diterima oleh orang banyak. Bukan lagi menjunjung apa yang benar, melainkan memilih siapa yang bayar! Coba pikirkan, jika sekarang calon itu berani melakukan money politic, apakah dia tidak akan berusaha keras untuk mengembalikan modal politik? Jika sudah begitu, korupsi dan pungli yang hendak di-saber oleh Kabinet Jokowi bukan menghilang, malah makin menjulang.

Ciri-ciri orang yang semuanya sendiri dan mau menang sendiri adalah BCL, yaitu gampang Baper, Caper dan Lebay.

Ketimbang mendengarkan curhatan atau cuitan orang yang BCL, lebih baik melihat prestasi BCL yang lain: Bunga Citra Lestari yang tetap lestari dalam berkarya. Iklan dan filmnya asyik untuk dilihat karena bermutu. Ketimbang menabung suara di orang yang BCA - baperan, caperan dan alay - lebih baik menabung di BCA yang lain: Bank Central Allah yang pasti aman dan terjamin.

Ketika tulisan ini saya buat, Donald Trump mendapat kritikan dari banyak orang gara-gara mencuit di twitter saat clothing line Ivanka, putrinya, tidak lagi diberi tempat tersendiri di Nordstrom, jaringan department store untuk kalangan atas. Dia bukan saja menggunakan akun pribadi, melainkan akun POTUS [Presiden Of The United States]. Ketimbang mencuit jauh lebih berarti jika menunjukkan hasil kerja yang melejit.

Baca Juga: Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok ini untuk Indonesia yang Lebih Baik



2. Bagaimana Hubungannya dengan Keluarga?

Seorang calon pemimpin yang baik sebaiknya memiliki relasi yang baik dengan keluarganya, khususnya pasangan dan anak-anaknya. “Jika memimpin keluarga sendiri saja nggak becus, apalagi memimpin negara,” begitu celetukan yang sering saya dengar baik langsung maupun lewat media sosial. Hubungan dengan keluarga, mau tidak mau, membuka kualitas diri seseorang.

Jika dalam skala kecil saja seorang calon pemimpin tidak bisa melakukannya, bagaimana dengan skala yang lebih besar. Jika kita tidak bisa setia dalam perkara kecil, bagaimana mungkin kita bertanggung jawab dalam perkara besar.

Saya senang memakai ilustrasi obat nyamuk bakar. Pengaruh kepemimpinan harus dimulai dari lingkaran terkecil dan terus meluas sampai lingkaran terbesar. Jika di lingkungan paling kecil dia sudah menciptakan harmoni, lebih kecil kemungkinannya dia melakukan kakofani di lingkungan yang lebih besar.

Baca Juga: Belajar dari Istri Ahok, Veronica Tan: 4 Peran Tak Tergantikan Istri yang Membentuk Kesuksesan Suami



3. Bagaimana Hubungannya dengan Orang Lain?

Track record seseorang di tempat kerja menjadi bahan pertimbangan penting. Sebelum mencalonkan diri, apa pekerjaannya? Bagaimana prestasi kerjanya? Sehebat apa pun kuliahnya, jika tidak bisa dipraktikkan di tempat kerja, dia hanya jago di teori tetapi loyo di praktik.

Coba perhatikan iklan lowongan pekerjaan. Biasanya ada satu kalimat yang membuat keder fresh graduate, yaitu sudah 'berpengalaman' sekian tahun. Itulah sebabnya mengapa kampus yang mengerti kebenaran ini membuat program apprentice. Jika selama magang mahasiswa itu menunjukkan kinerja dan perilaku yang baik, tidak tertutup kemungkinan setelah selesai masa berlaku praktik kerja itu, pemiliknya memperpanjang, bahkan meng-hire-nya menjadi karyawan tetap.

Jika mencari karyawan saja dibutuhkan rekam jejak dan bukti nyata, mengapa untuk memilih pemimpin dalam skala yang lebih besar kita tidak memakai cara yang sama.

Bukti dan bukan janji adalah harga mati.

Meminjam punch line sebuah produk minyak angin “Buat anak kok coba-coba?” maka untuk memilih calon pemimpin di daerah kita masing-masing, masa kita mau coba-coba? Bahasa iklan lain yang bisa kita jadikan pedoman adalah “Sudah terbukti!”

Baca Juga: Kasus Kopi Sianida: Rekam Jejak Seseorang adalah Penentu Masa Depannya. Renungkanlah 3 Hal ini demi Meraih Kesuksesan



Last But Not Least

Jika kita salah makan, paling kita menyesalnya sehari, karena toh malam atau keesokan harinya kita buang lagi. Jika kita salah memotong rambut, kita menyesalnya berbulan-bulan menunggu rambut kita tumbuh kembali. Namun, jika kita salah memilih pemimpin, dampak yang kita rasakan bertahun-tahun. Untuk di Indonesia, 5 tahun ke depan. Ini waktu yang bukan main-main. Masa jabatan presiden di Amerika Serikat saja 4 tahun. Kita lebih lama 1 tahun. Apa yang bisa pemimpin lakukan lima tahun mendatang sangat besar artinya bagi daerah kita masing-masing. Itu sebabnya, jangan sampai salah memilih!

[Image: beritaku.co.id]

Selain ketiga hal di atas,

Apa yang HARUS kita lakukan sebelum mencoblos? BERDOA!

Saya sungguh terinspirasi dengan tulisan Nabi Yeremia yang memberi perintah, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

Klop kan dengan tulisan Nabi Yesaya di awal tulisan? Jika kebenaran ditegakkan, damai sejahtera, ketenangan, dan ketenteraman akan kita rasakan.

Selamat memilih!






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pilih Siapa di Pilkada? Sebelum ke Bilik Suara, Pertimbangkan Satu Hal ini Saja!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar