Piala Kosong : Apa yang Membuat Sebuah Keberhasilan Benar-benar Bernilai?

Reflections & Inspirations

www.pixar-planet.fr

6.8K
....ia mengajarkan nilai-nilai luhur bahwa pembalap sehebat apapun kalau arogan dan sombong, ia hanya akan mendapatkan piala kosong. Percayalah, bukan hanya angka yang tinggi, nilai moral dengan dasar mental yang baiklah yang juga akan menyelamatkan mereka. Semua itu akan menolong mereka untuk mampu bertahan dalam dunianya kelak.

Awal-awal menonton film Cars, memang terasa sekali bahwa film ini konsumsi anak-anak. Bentuk atau model tokoh-tokohnya sangat imaginatif. Khas anak-anak. Namun kalau kita ikuti secara cermat, terasa sekali pesan moralnya. Pesan yang menurut saya tidak hanya cocok untuk anak-anak, tetapi juga buat kita yang dewasa. Mengapa? Karena orang-orang kelompok umur dewasalah yang justru sering gagal menerapkannya.

Bagian yang saya maksudkan adalah saat Lightning McQueen tiba di Radiator Spring Route 66. Di kota, ia terkenal sebagai pembalap hebat. Sebaliknya di Radiator Spring ia sosok asing, tak satupun yang mengenalnya. Sementara itu ia tetap dengan lagak sombongnya. Arogan. Ia kebut-kebutan hingga merusak jalanan utama di daerah itu. Akibatnya ia mendapat sanksi memperbaiki jalan itu.

Menghadapi arogansi McQueen, tokoh mobil senior Faboulus Hudson Hornet (Doc) tetap tenang, menegakkan disiplin, tegas dan mengajarkan kerendahan hati. Bahkan saat McQueen menantangnya untuk adu balap, ia menurutinya dengan tenang dan elegan. Hasilnya? Buat kita kelompok umur dewasa menebak Doc yang akan menang. Tetapi bagi anak-anak, tentu dengan semangat akan berkata, ”Pasti McQueen yang akan menang! Dia pembalap muda yang semangat, berbakat, kuat, cepat!” Ternyata arogansi McQueen berujung di jurang kaktus.

Sementara itu Doc melaju tanpa nafsu dan dengan mulus menyelesaikan adu balap dengan satu penonton itu. Ya...hanya truk tua Mater satu-satunya penyaksi mata terjungkalnya arogansi McQueen.

Sampai suatu waktu secara tak sengaja McQueen menemukan tiga buah piala turnamen balap mobil bergengsi milik Doc yang teronggok begitu saja di garasi. McQueen menyadari kekeliruan sikapnya yang terlalu sombong dan menyepelekan Doc. Hubungan mereka pun membaik, cair. Bahkan akrab bagai guru dengan anak didiknya. Bukan! Lebih tepatnya seperti bapak dan anak. Doc kemudian mengajarkan tehnik-tehnik melaju di lapangan. Dan ini yang penting, ia mengajarkan nilai-nilai luhur bahwa pembalap sehebat apapun kalau arogan dan sombong, ia hanya akan mendapatkan piala kosong.

Nilai moral ini McQueen terapkan di lapangan saat musim turnamen tiba. Saat ia berkesempatan melesat menjadi yang terdepan, tiba-tiba dengan keras ia menginjak rem. Lalu penonton histeris saat ia berjalan mundur. Tak lama kemudian ia maju sambil mendorong peserta lain yang terjungkal karena perlakuan curang peserta lain, yang akhirnya juga terjungkal. Ia rela menjadi yang kedua demi memberi kesempatan kawan yang tak berdaya menyentuh garis finish. Dari tribun penonton, Doc tersenyum bangga.

Dalam keseharian, demi mencapai sesuatu orang rela melalukan praktik kecurangan. Ada yang melakukannya demi nilai yang tinggi. Di dunia kerja, orang rela mengotori hatinya dengan lika-liku kecurangan demi posisi yang mapan, demi promosi jabatan. Di bidang lain, ada yang menempuh cara hitam demi piala kosong.

Satu lagi contoh kecil yang lain, yang isunya sangat menasional. Dugaan kecurangan dalam Ujian Nasional. Peserta didik berlomba mengejar angka pencapaian yang tinggi. Harus. Tetapi semua itu menjadi tidak wajar bila caranya tidak bersih. Angka yang tinggi tetapi caranya tidak bersih, sejatinya adalah angka yang kosong. Pendidikan bukan hanya soal angka pencapaian, tetapi juga penanaman nilai-nilai moral. Seperti perlunya daya juang untuk mencapai sesuatu. Pentingnya nilai sportivitas; perlunya ketekunan; menghargai orang lain; semangat; potensi diri dsb.

Sebagian orang mungkin saja dengan enteng mengatakan, ”Ah itu nanti saja di dunia kerja.“ Tidak bisa demikian. Dua-duanya perlu ditanamkan beriringan. Baik target pencapaian maupun cara yang bermoral. Bagaimana mungkin kalau sedari kecil anak-anak tidak kita ajarkan nilai-nilai luhur, sekarang giliran dalam dunia kerja mereka diminta mempraktikkannya? Praktik apa? Mereka akan gagap moral. Percayalah, bukan hanya angka yang tinggi, nilai moral dengan dasar mental yang baiklah yang juga akan menyelamatkan mereka. Semua itu akan menolong mereka untuk mampu bertahan dalam dunianya kelak.

Belajar dari Doc, mari mencapai piala yang sesungguhnya. Menjadi juara yang rendah hati. Jelas bukan piala dan angka yang kosong,


Kisah di atas diambil dari buku penulis "Kisah di Balik Setiap Perhentian yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo; dapatkan di toko buku terdekat)




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Piala Kosong : Apa yang Membuat Sebuah Keberhasilan Benar-benar Bernilai?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Sulis | @lis325

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar