Perselingkuhan: 3 Mitos Keliru yang Dipercaya Mereka yang Tergoda untuk Berselingkuh

Marriage

[Image: ulimitless.com]

13K
Di balik sebuah tindakan, selalu ada pola pikir yang melatarbelakangi. Termasuk soal perselingkuhan. Ada pola pikir tentang perselingkuhan yang tersebar luas, bahkan seringkali dijadikan alasan untuk melakukan perselingkuhan. Sayangnya, pola pikir itu keliru. Inilah pola pikir keliru yang melatarbelakangi sebuah perselingkuhan.

Bagi kami sekeluarga, waktu makan bersama merupakan sebuah kesempatan yang kami manfaatkan untuk berbicara dan berdiskusi tentang berbagai hal. Beberapa waktu lalu, pembicaraan saya dan istri di seputar meja makan membawa kami kepada topik perceraian.

Kisah-kisah perceraian yang awalnya hanya terdengar di media, sehubungan dengan para bintang ternama, kini menjadi semakin banyak dari segi jumlah. Bahkan, beberapa media sempat menurunkan pemberitaan tentang tingginya angka perceraian di beberapa kota pada tahun 2016, baik di kota Balikpapan, kota Makassar, maupun di ibukota Jakarta.

Perceraian, yang dulunya merupakan hal yang tabu dan jarang dibicarakan, kini - karena jumlah yang begitu banyak - berubah menjadi sesuatu yang umum saja. Bisa dikatakan hampir semua kita mengenal seseorang yang menjadi korban dari keluarga yang rusak karena perceraian, bukan?

Betapa hati kami hancur menyaksikan dampak yang diderita oleh semua anggota dari sebuah keluarga. Perpecahan dan luka yang diakibatkan oleh sebuah perceraian akan menjadi seperti duri dalam daging yang akan terus mengganggu kehidupan semua orang.

Walaupun banyak alasan yang melandasi sebuah perceraian, saya ingin mengajak kita melihat salah satu alasan utamanya:

Perselingkuhan yang dilakukan oleh para suami.

Bersamaan dengan bergulirnya kisah demi kisah dalam diskusi kami, sebuah suara di dalam hati saya seakan hendak berteriak kepada para pria tersebut. Tidakkah kamu tahu bahwa hal itu sangat berbahaya? Bukankah kamu sudah pernah berjanji kepada istrimu untuk setia hingga akhir? Apakah kamu sudah lupa bahwa semua cerita seperti ini akan berakhir dengan menyedihkan?

Namun, seketika itu juga saya tersadar. Tidak, mereka tidak sadar bahwa itu berbahaya. Dan tidak, mereka tidak ingat lagi janji setia kepada pasangan mereka. Dan sekali lagi, tidak. Mereka tidak percaya bahwa cerita mereka akan berakhir dengan menyedihkan seperti cerita lain yang pernah mereka dengar.

Ketika seorang pria sedang menjajaki kemungkinan berselingkuh dengan seorang wanita, maka ia berpikir bahwa ceritanya akan berjalan dengan akhir yang berbeda. Saat itu ia percaya betul bahwa ia akan menemukan happy ending bersama wanita lain itu. Dan itulah sebabnya ia berani mengumbar janji dan kata-kata manis kepada wanita tersebut. Itulah juga sebabnya ia amat percaya bahwa semua akan berjalan baik, dan ketika itu berakhir, tidak akan ada pihak yang dirugikan. Ia percaya kepada beberapa mitos relasi yang terlihat indah namun mematikan.

Dan di saat-saat seperti itu, pria - sepintar apa pun - akan menjadi seperti seekor sapi bodoh yang berjalan dengan tenang tanpa menyadari bahwa sesungguhnya ia sedang dibawa ke tempat pembantaian.
[Image: ulimitless.com]

Sekali lagi, saya menuliskan ini bukan karena saya lebih kuat, lebih baik, atau lebih tahan godaan. Saya tidak berpengalaman dalam hal ini. Dan oleh karena itu, saya akan meminjam nasihat dari tulisan seorang raja yang terkenal dalam hal hikmat dan pengetahuannya. Ia menuliskan nasihatnya dalam bentuk cerita, yang amat mudah untuk kita mengerti.

***

Kepada kita, para pria, seorang raja yang bernama Sulaiman menuliskan cerita ini:

Suatu hari aku memandang dari jendela rumahku. Lalu kulihat banyak pemuda yang masih muda dan kurang pengalaman; tetapi khusus kuperhatikan seorang yang bodoh dan lugu di antaranya.

Pada petang hari ketika sudah mulai gelap, pemuda itu berjalan-jalan dekat tikungan di jalan yang menuju tempat tinggal seorang wanita. Wanita itu adalah seorang wanita yang tidak betah tinggal di rumahnya. Sebentar-sebentar ia berada di tepi jalan, kemudian di lapangan, atau berdiri menunggu di persimpangan. Tingkah lakunya berani dan tidak kenal malu. Kulihat ia keluar dengan berpakaian seperti pelacur, dan menemui pemuda itu dengan rencana yang licik.

Ia merangkul pemuda itu dan menciumnya. Tanpa malu-malu berkatalah ia,

“Hari ini aku harus membayar kaulku, dan untuk itu aku sudah mempersembahkan kurban [maksud perkataannya adalah bahwa ia bukan wanita murahan. Ia taat beragama dan ia sudah melakukan kewajiban agamanya]. Itu sebabnya aku keluar untuk mencari engkau, supaya engkau makan di rumahku. Sekarang aku menemukan engkau! Sekarang, mari kita bercumbu-cumbuan dan menikmati asmara sepanjang malam.”

Demikianlah wanita itu merayu pemuda itu dengan bujukan-bujukan yang memikat sehingga tergodalah ia. Tanpa pikir ia mengikuti wanita itu seperti sapi digiring ke pejagalan dan seperti orang tahanan yang dibawa untuk menerima hukuman; sebentar lagi anak panah akan menembus hatinya. Seperti burung yang terbang menuju jerat, demikianlah pemuda itu tidak menyadari bahwa nyawanya terancam.

Sebab itu, anak-anak, dengarkanlah aku. Perhatikanlah nasihat-nasihatku.

Jangan biarkan wanita seperti itu memikat hatimu; jangan pergi mencari dia, sebab ia sudah menghancurkan kehidupan banyak laki-laki.

Tidak terhitung banyaknya yang binasa karena dia.

Pergi ke rumahnya berarti mengambil jalan pendek ke arah kematian.

***

Kematian? Bukankah perselingkuhan ini hanyalah sekadar urusan memuaskan nafsu? Dan kepada raja yang lebih berpengalaman itu, kebanyakan pria akan berkata bahwa perselingkuhan yang sedang mereka jalani tidaklah berisiko. Atau, paling tidak, semua risiko sudah mereka pertimbangkan dan sudah ada solusinya.

Itu bisa dimengerti, bukan? Karena secara realistis, kebanyakan pria yang hatinya sudah mendua akan menjadi buta dan tuli terhadap hikmat dan masukan dari teman-temannya. Dan, sama seperti pemuda di atas, kebanyakan pria tidak akan bisa berpikir dengan jernih ketika godaan itu berdiri di depan matanya.

Itulah sebabnya, sejak hari ini kita perlu bersiap siaga. Itulah juga sebabnya ini saya tuliskan, bukan hanya untuk teman-teman pria yang sudah menikah, tetapi juga untuk para pemuda yang suatu hari nanti menginginkan pernikahan yang bahagia. Itulah sebabnya. Harapan saya adalah bahwa tulisan ini akan bermanfaat untuk Anda seperti ia juga mengingatkan saya untuk terus berhati-hati.

Lewat kisah-kisah sedih yang kami bicarakan, saya mempelajari beberapa mitos yang dipercayai oleh para pria ketika mereka mengambil keputusan bodoh. Dengan membedah mitos-mitos ini, saya berharap kita, para pria, bisa berpikir dengan lebih sehat ketika badai rayuan dan godaan itu datang menghantam harmoni keluarga kita.

Inilah 3 mitos yang saya pelajari dan ingin saya ingat terus menerus:


Mitos 1 | Saya adalah Pengecualian

Pria yang berpikir untuk berselingkuh selalu berharap agar tindakan mereka itu tidak ketahuan. Dan ketika hawa nafsu sudah memenuhi pikiran mereka, maka mereka berusaha menipu diri dengan berkata bahwa mereka akan berhati-hati.

Ketika ada teman yang bercerita tentang penderitaan yang dialami oleh anak-anak akibat perselingkuhan yang dilakukan oleh seorang ayah, maka seorang pria yang sedang berselingkuh berkata bahwa ia akan menjamin bahwa ceritanya tidak akan berakhir tragis. Ia berpikir bahwa kisah cinta yang ia alami bersama kekasih baru ini akan menjadi pengecualian di antara kisah-kisah sedih seputar perselingkuhan yang terjadi.

[Image: huffingtonpost.com]

Kenyataannya: ceritamu tidak akan menjadi pengecualian. Apa yang kamu rasakan mungkin baru untukmu, tetapi perasaan itu juga dialami oleh jutaan orang lainnya. Dan, seperti sebuah jalan akan membawa kita ke sebuah tujuan yang pasti, kisah perselingkuhan ini akan membawamu pula kepada sebuah hal yang pasti, kehancuran relasi.

Sebagaimana pengamatan raja Sulaiman tadi, akhir sama - seperti yang dialami oleh mereka yang berselingkuh - akan kamu hadapi.

Anda bukan pengecualian!

Akhir dari cerita [cinta?] perselingkuhanmu sangat mudah diprediksi.



Mitos 2 | Ini Urusan Saya dan Dia Saja

Ketika melihat wanita itu, maka segalanya terlupakan. Istri dan anak-anak yang menunggu di rumah tidak lagi dipikirkan dengan waras. Bahkan, orangtua dan keluarga besar yang selama ini menjadi supporter kehidupan keluarga pun terlupakan begitu saja.

Mata dan pikiran pria tersebut dipenuhi dengan bayang-bayang wanita itu. Ketika diingatkan, ia akan berkata bahwa ini hanyalah urusan saya dan dia. Orang lain tidak usah ikut campur. Kami berdua kan sama-sama senang.

[Image: huffingtonpost.com]

Kenyataannya: Kamu tidak hidup di sebuah pulau yang terdiri dari dua orang saja. Setiap tindakan yang kamu lakukan akan berdampak kepada keluargamu dan kepada banyak orang di sekelilingmu.

Ini bukan hanya antara kamu dan dia saja.



Mitos 3 | Tidak Ada yang Dirugikan

Seiring dengan mitos kedua, banyak pria berkata bahwa tidak ada yang dirugikan dengan perselingkuhan. “Kita hanya bermain-main sebentar,” atau “Hanya sekali ini saja kok,” atau “Kita kan sama-sama suka. Tidak ada yang dirugikan, bukan?” Dengan logika yang buta, mereka bermain api, tanpa sadar bahwa percikannya akan dapat membakar orang-orang yang hatinya dekat dengan pria itu.

[Image: shutterstock]

Kenyataannya: Istri dan anak-anak akan menderita pukulan terbesar oleh karena kebodohan yang kamu lakukan. Entah apa pun alasannya, pengkhianatan seperti ini bisa menghancurkan hati dan hidup orang. Dan, yang seramnya, keluarga inti hanyalah riak pertama dari gelombang efek tindakanmu. Pernah dengar kisah sepasang kakek nenek yang harus bekerja untuk merawat cucu yang lahir sebagai akibat perselingkuhan?


Itulah beberapa mitos yang ketika kita baca, akan terdengar sangat bodoh untuk dipercayai. Dan bila itu yang kamu rasakan, maka itu berarti kamu dan saya saat ini masih mampu untuk berpikir dengan pikiran yang jernih dan hati yang tenang.

Akan datang waktunya ketika mata hati kita dibutakan oleh nafsu dan kita tidak mampu berpikir jernih. Itulah sebabnya raja Sulaiman mengatakan bahwa pemuda itu bodoh/lugu.

Bukan karena si pemuda tidak memiliki pengetahuan atau tidak lulus sekolah, tetapi karena di saat-saat menghadapi godaan, ia tidak tahu bagaimana harus melawannya.

Akibatnya, mitos-mitos yang terdengar bodoh pun ia percayai demi kesempatan menikmati asmara sepanjang malam.

Kawanku, mari ingat dan berikan perhatian serius kepada hal ini sebelum kita membutuhkannya. Mari selalu miliki sikap berhati-hati dan terus menjaga kekudusan dan eksklusivitas cinta dalam keluarga.

Jauhkanlah dirimu dari pintu kesempatan untuk berselingkuh. Patahkanlah mitos-mitos perselingkuhan dengan pikiran yang bersih. Peganglah kebenaran-kebenaran ini. Dan tumbuhkanlah terus cinta dalam keluargamu, demi kebahagiaan sejati yang kita cari dan dambakan.



Baca Juga:

Selingkuh itu Indah? Inilah Sisi-Sisi Gelap yang Seringkali Tak Terungkap

3 Jenis Keintiman yang Harus Dimiliki Pasangan untuk Menyelamatkan Hubungan dari Godaan Perselingkuhan

Fenomena Suami Kesepian: Bukan Sekadar Seks, Inilah 6 Hal yang Dapat Dilakukan Istri untuk Mendampingi Suami



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perselingkuhan: 3 Mitos Keliru yang Dipercaya Mereka yang Tergoda untuk Berselingkuh". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar