Pernikahan Seindah Pacaran? Bisa! Saya Mewujudkannya dengan 3 Cara Ini

Marriage

photo credit: Student Loan Service

3.6K
Meskipun kita bisa menjalani hidup bersama, namun tak selalu kebersamaan kita dengan pasangan membuat kita semuanya menjadi serba sama.

Lama tak berjumpa dengan sobat saya yang berjarak jauh dari tempat tinggal saya, ketika bertemu membuat kami saling bertukar pikiran, bahkan sempat terlontar pertanyaan olehnya “Kamu menikah ini enak atau enggak sih?”, ketika saya menjawab “Enak!” mendadak dia melongo sambil berkata “Hah! enak? Coba sebutkan apa enaknya untuk para wanita seperti kita ini!? Karena semua temanku ga ada yang bilang enak, kecuali kamu tok” hahaha sepertinya saya hanya mewakili beberapa istri yang bisa merasakan nikmatnya pernikahan.

Memang cukup banyak saya mendengar para istri mengeluhkan keadaan suaminya tentang berbagai macam hal, mulai dari pekerjaan suami yang mengalami penurunan sehingga tak ada kemajuan ekonomi keluarga, otomatis istri harus ikut andil mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarga. Ada pula yang terasa stagnan, tak ada perubahan kemapanan hidup yang cukup berarti, sehingga membuat istri merasa jenuh dengan kehidupan pernikahan yang monoton.

Suami yang hanya mementingkan keinginannya sendiri tak pernah ikut campur tangan mengurus anak dan rumah tangga karena terlalu sibuk mengurus bisnis dan hobinya saja, yang penting rutin “setor duit” ke istri.

Mungkin bagi sang suami itu sudah cukup. Hingga hambarnya kehidupan rumah tangga yang dibinanya selama ini, membuat tak ada lagi getar-getar cinta yang sama seperti ketika berpacaran. Semuanya berjalan ala kadarnya tiap hari, apa boleh dikata nasi sudah menjadi bubur alias sudah terlanjur menikah, begitulah kira-kira yang menjadi uneg-uneg yg mengganjal di hati para istri selama ini.

Dalam hal ini, saya tak ingin mencibir komentar miring para istri terhadap suami mereka, toh saya sendiri juga punya suami yang banyak kekurangan dan perbedaan dengan saya, sama seperti mereka kok. Meskipun kita bisa menjalani hidup bersama, namun tak selalu kebersamaan kita dengan pasangan membuat kita semuanya menjadi serba sama.

Dan inilah 3 cara yang saya lakukan untuk menikmati hidup pernikahan kami agar tak kalah manisnya dengan saat berpacaran dulu:


1. Menjalankan tanggung jawab seperti saat pertama kali jatuh cinta

Masih teringat dengan masa berpacaran dulu? Jika mau dibongkar pasti ada banyak kenangan manis yang masih saja tersimpan di benak kita. Masa-masa menyenangkan yang tentunya membuat kita terus-menerus jatuh cinta pada calon pasangan kita pada waktu itu, bahkan rasa cinta itu makin bertumbuh hingga menjelang detik-detik memasuki gerbang pernikahan. Perasaan mencintai yang bercampur dengan sebuah harapan, kelak bisa mengarungi bahtera rumah tangga bersama dengan tujuan yang sama, meskipun tujuan itu sering disalahmengertikan dengan aturan main yang harus ditaati oleh pasangan kita.

photo credit: Redbook

Sebagai contoh, saat menikah kita mengucapkan “Ya, saya bersedia” tentunya ucapan itu mengandung sebuah komitmen yang tak hanya berarti setia mendampingi, mencukupi kebutuhan dan melindungi kita dalam keadaan susah maupun senang, tetapi di balik makna itu, ternyata masih ada segudang aturan yang baru kita ketahui setelah menikah, bahwa kita harus bersedia mendengarkan kecerewetan pasangan kita, bersedia membantu menjaga kebersihan rumah agar tiap hari tak perlu repot-repot membersihkan, bersedia mengurus dan mengajak anak bermain, dan masih banyak tindakan bersedia lainnya yang diinginkan oleh pasangan kita untuk dipatuhi.

Baca juga: Sepenuh Hati Saya Mencintainya, Ternyata Ia Tidur dengan Lelaki Lain

Ketika relasi yang ada di dalam hati kita berjalan dengan benar, maka tampilan luar pun pasti mengikutinya. Sehingga aktivitas yg kita anggap berlebihan itu tak akan membebani kita, tetapi justru mendatangkan kepuasan tersendiri, karena rasa cinta kitalah yang mengubah kita menjadi sebuah kerinduan untuk menyenangkan hatinya, perasaan yang hampir sama ketika kita jatuh cinta kepada pasangan kita bukan?

Mari, jalankan tanggung jawab kita sebagai suami atau istri layaknya kita sedang jatuh cinta, niscaya apa yg kita lakukan dapat mendatangkan sukacita bagi banyak orang, khususnya keluarga kita.


2. Mengelola uangku menjadi uang kita

photo credit: Wedded Wonderland

Ada sebuah keluarga yang dikaruniai 2 anak penyandang cacat, anak pertamanya lumpuh dan anak yg kedua buta, sehingga ke sekolah, sang ayahlah yang harus menggendong si sulung sambil menggandeng si bungsu. Waktunya habis hanya untuk mengurus buah hati mereka menyebabkan sang ayah ini tak bisa lagi bekerja mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, akhirnya ibu merekalah yang harus mengambil alih peran suami sebagai tulang punggung keluarga.

Di zaman modern ini, istri bekerja sudah menjadi hal umum. Mungkin kita sebagai wanita tak pernah dituntut suami untuk banting tulang demi menghidupi keluarga, namun ketika kita diberikan kesempatan untuk berkarya lewat pekerjaan kita, pernahkah kita terpikir apa tujuan kita bekerja? Tak jarang kita menganggap hasil jerih lelah kita bekerja adalah milik kita pribadi. Bahkan ibu rumah tangga yang hanya menerima pemasukan dari suaminya lebih sering menganggap itu sebagai bayaran atas pekerjaannya mengurus rumah tangga.

Baca juga: Suami dan Istri Bekerja di Perusahaan yang Sama? Cermati Untung dan Ruginya Berikut Ini

Bukankah setelah kita menikah, kita menjadi satu kesatuan, sehingga pahit manisnya keuangan keluarga akan kita rasakan bersama.

Pepatah mengatakan bahwa kesetiaan seorang istri diuji saat keuangan suami berada di bawah, dan kesetiaan seorang suami diuji saat keuangannya berada di puncak. Masihkah kita tahan uji?


3. Memanfaatkan me time untuk we time

photo credit: tuticare

Istilah me time sekarang ini lebih sering dipakai untuk seseorang yang ingin menghabiskan waktunya dengan keasyikannya sendiri. Dulu ketika masih bujang, serasa hari-hari yang kita jalani penuh dengan me time. Namun setelah menikah, me time menjadi sesuatu yang langka dan sepertinya harus diupayakan.

Benarkah kita yang telah menikah membutuhkan me time?

Seorang teman mengeluhkan kebiasaan suaminya yang lebih memprioritaskan pekerjaan di luar batas waktu sehingga tak punya waktu lagi untuk family time dan mengutamakan kumpul bersama teman yang sehobi atau komunitasnya ketimbang bermain seru dengan anak yang justru bisa memberikan kedekatan batin. Memang tak semua pria atau wanita dewasa yang telah menikah mau mengorbankan dirinya sendiri di atas kepentingan keluarga. Niat dan kemauan mungkin ada, namun pada akhirnya tak pernah terealisasi, karena tak diimbangi dengan komitmen yang dipegang teguh. Jadi, kita mau mempergunakan me time atau tidak, sejujurnya itu adalah pilihan!

Baca juga: Di Hadapan Cinta Sejati, Ketakutan Jadi Kehilangan Arti. Tentang Kasih yang Melenyapkan Ketakutan, dari Descendants of the Sun

Maukah kita mengubah me time menjadi we time, agar kita punya waktu yang berkualitas untuk keluarga kita, mengapa tidak?

Itulah 3 resep yang saya terapkan di keluarga, sehingga kehidupan pernikahan dan masa pacaran dulu, tetap sama indahnya. Semoga bisa menjadi inspirasi buat Anda juga yah.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pernikahan Seindah Pacaran? Bisa! Saya Mewujudkannya dengan 3 Cara Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Lany Inawati | @lanyinawati

seorang ibu rumah tangga yg sedang berbagi waktu untuk bekerja dan mendidik anak sembari menulis agar bisa menjadi berkat bagi banyak orang #bighug

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar