Perjuangan Mendapatkan Anak : Selalu Ada yang Tak Terduga, Inilah Kisah Air Mata dan Tawa Kami

Marriage

photo credit: Dailymail

6.9K
Selalu ada yang tak terduga dalam perjalanan ruman tangga. Ada saat, di dalam doa, saya hanya bisa pasrah dan berserah. Biar rencana Tuhan yang terjadi.

Saya dan istri, masih terbilang pasutri muda. Kini usia pernikahan kami memasuki tahun ketiga. Namun, ada pula perjalanan yang tak terduga dalam tiga tahun ini. Inilah kisah kami melewati air mata dan tawa.


Di tahun pertama pernikahan, timbul masalah yang tak pernah kami sangka sebelumnya

photo credit: Metro Parent (ilustrasi)
Kabar istri yang dinyatakan positif hamil oleh dokter, membawa kebahagiaan tak terkira bagi seisi rumah. Namun, berjalanannya waktu, janin di dalam kandungannya tak mengalami perkembangan, hingga akhirnya kami terpaksa merelakan calon bayi yang belum pernah dilahirkan tersebut.

Kami tak berhenti sampai di situ. Kami pun mencoba lain berkonsultasi ke dokter andrologi. Segala jenis terapi atau pengobatan, dengan semangat kami konsultasikan pada ahlinya. Sayang, hasilnya masih saja nihil. Beberapa dokter bahkan menyarankan saya melakukan bayi tabung karena kemungkinan istri saya hamil secara normal sangatlah kecil.

Bayi tabung memang sempat terlintas di benak kami, namun timbul berbagai kekhawatiran mulai dari keuangan (karena biaya bayi tabung tentu saja tak murah), usia, hingga semangat yang makin lama makin menipis. Maka, tibalah saatnya kami merasa telah 'cukup' mengusahakan semuanya. Beban pikiran dari permasalahan ini telah menguras banyak energi yang kami punya.

Baca Juga : Untuk Pearl, Si Mungil yang Berjuang Melewati Pre-Eklampsia dan Kelahiran Prematur Bersama Mama: Besar Kekuatanmu, Nak!


Kami mulai berdiskusi dengan lebih tenang

photo credit: Shutterstock
Mulai dari bagaimana jika memang Tuhan tidak menghendaki kita punya anak? Bagaimana menghadapi omongan-omongan orang tua dan orang lain? Dan berbagai ketakutan-ketakutan lainnya.

Pertanyaan pertama kami simpulkan dengan berusaha berfikir positif mungkin memang Tuhan merasa kami masih belum “siap dititipi” anak. Lalu apa yang harus kami lakukan? Kami berusaha mengevaluasi hidup kami masing-masing termasuk mungkin cara berfikir kami, apakah anak ini segalanya bagi kami? Apakah dengan adanya anak akan membuat kami “mundur” menjalani hal-hal yang berdampak bagi orang lain? Apakah kami kurang berserah sama Tuhan (terlalu mengandalkan kekuatan dan usaha kami)?

Bagaimana menanggapi pertanyaan kedua tentang omongan orang tua dan orang lain?

Pada dasarnya kami “cukup cuek” dengan omongan orang lain. Jadi bukan masalah yang besar bagi kami. Sedangkan omongan orang tua, ini yang lebih menjadi fokus kami. Mengingat istri saya adalah anak pertama. Kami merasa sudah cukup sering mengupdate setiap hal kepada kedua orang tua kami masing-masing dalam usaha kami. Seharusnya mereka dapat memahami pergumulan kami.

Pada akhirnya hanya satu hal yang terus jadi landasan kami, bahwa anak adalah anugerah pemberian dari Tuhan dan kami percaya ada rencana indah yang Tuhan sedang persiapkan bagi kami.

Baca juga: Rupanya ini yang Membuat Anak Berontak terhadap Orangtua. Terapkan 3 Cara ini sebelum Terlambat!


Hati yang gembira adalah obat. Ini yang akhirnya menjadi slogan kami

photo credit: Fashion Women Buzz

Kami berdua memutuskan untuk lebih menikmati hidup ini sama seperti saat kami masih pacaran dulu. Selain untuk menghilangkan stres akibat pergumulan kami, juga berusaha menghilangkan rasa putus asa kami (mulai berserah sama Tuhan) dan pemikiran-pemikiran negatif kami.

Kami menikmati hidup sedemikian rupa, raut wajah kami mulai berubah, seperti beban berat kami sudah terangkat. Kami mulai hunting tempat kuliner baru (kesukaan istri saya), ikut calistenik yang sekedar kumpul rame-rame dengan teman dan kembali fokus untuk berbagi hidup dengan orang lain.

Tahun pertama yang suram sudah kami lewati, memasuki tahun kedua dengan hati yang gembira. Salah satu dari teman pasutri kami mulai ada tanda-tanda kehamilan. Kami semua ikut senang. Secara pribadi saya merasa seperti akan diusik kembali dengan masalah yang lalu. Saya berusaha menghindar dari pemikiran lama, harus move on. Ternyata teman kami ini gagal juga. Kami juga ikut merasa kasihan.

Baca Juga : Waspada! Inilah 6 Masalah Keuangan yang Dapat Menghancurkan Kebahagiaan Rumah Tangga


Kesempatan itu mulai terlihat

photo credit: Dailymail

Tak disangka ternyata di waktu bersamaan istri saya juga terlambat waktu menstruasi dari seharusnya. Saya berusaha untuk tidak larut dalam harapan semu yang membawa saya kepada kekecewaan lama. Berusaha untuk netral dalam menyikapi, Ah, mungkin hanya terlambat beberapa hari.

Tiba-tiba istri saya jatuh sakit, demam dan flu. Kemudian saya meminta dia ke dokter. Singkat cerita dokter umum memeriksa dan tidak berani memberi obat, takut jika ternyata istri saya hamil (karena harus dengan obat tertentu dan dosis tertentu). Dokter menyarankan istri saya untuk melakukan test kehamilan. Dan hasilnya positif, kami masih berusaha netral takut ter”PHP” lagi. Kami mencoba ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut dan meminta obat untuk sakit istri saya. 2 minggu berlalu sejak sakitnya. Kami kembali kontrol ke dokter kandungan. Mulai muncul kantong kehamilan. Kami masih berusaha netral dan menjaga kesehatan istri.

Dalam doa saya juga hanya meminta Tuhan beri kesehatan istri saya, dan biarlah rencana Tuhan yang terjadi.


Berserah tapi tidak menyerah, Tuhan pun menjawab doa kami

Minggu depannya kami kembali ke dokter lagi dan mulai ada tanda-tanda perkembangan. Kami terus rajin ke dokter tiap minggu untuk melihat perkembangan. Hingga dokter meyakinkan kami bahwa janinnya berkembang baik. Tetapi di luar dugaan sukacita kami tidak seperti dulu waktu pertama kali.

Tiap waktu kami berusaha menjalani hidup kami secara normal, hanya mulai sedikit menjaga.

Waktu terus berjalan meskipun istri saya sering sakit di awal-awal kehamilannya, kami yakin jika Tuhan yang memberi maka Tuhan yang akan ikut menjaga.

Perlahan-lahan saya mulai mendoakan untuk perkembangan janin dalam kandungan istri saya termasuk kesehatan istri saya selalu. Sekarang sudah memasuki usia kehamilan 24 minggu saat kisah ini saya tulis. Bersyukur Tuhan selalu menyertai proses kehamilan istri saya dan akan terus menyertai sampai saat melahirkan nantinya dan seterusnya. Amin.

Dalam pernikahan, tentu kita memiliki banyak harapan. Mulai dari keinginan memiliki buah hati, hingga harapan keluarga bisa harmonis sampai kapan pun. Namun, bukan hidup namanya jika tak ada tantangan dan 'ujiannya'. Apa pun yang sedang kamu hadapi, yakinlah jika Tuhan punya saat dan cara yang tepat untukmu. Tetap berserah tapi tidak menyerah.


Buat pasutri yang sedang berjuang menata rumah tangga, artikel-artikel ini akan memberikan inspirasi :

How to Make Our Families Great Again? Runtuhkan 5 Tembok Penghalang Kebahagiaan Keluarga Ini

Inilah 4 Langkah Sederhana namun Efektif untuk Menyegarkan Relasi dengan Pasangan, namun Sering Terlupakan

Merasa Salah Memilih Pasangan setelah Menikah? Inilah 5 Penyebab Utamanya

Wanita, Inilah 8 Definisi Romantis Menurut Pria. Lakukanlah agar Pasangan Makin Mencintaimu!

Ingin Menolong Pasangan yang Kecanduan Pornografi? Lakukan 3 Langkah ini setelah Anda Menolong Diri Sendiri


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perjuangan Mendapatkan Anak : Selalu Ada yang Tak Terduga, Inilah Kisah Air Mata dan Tawa Kami". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bagus Saputra | @MisterGood

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar