Perempuan, Inilah 5 Ciri Pria yang Berpotensi Melakukan Kekerasan dalam Relasi

Singleness & Dating

[Image: adsoftheworld.com]

6.7K
Perempuan seringkali menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Padahal, itu bukanlah hal yang tak bisa dihindari. Selama masih pacaran, kenali 5 ciri pria yang berpotensi melakukan kekerasan.

Suatu sore di musim panas, decitan rem mobil sport terdengar dari beranda rumah. Begitu saya membuka pintu rumah, seorang perempuan muncul dengan wajah memelas.

“Kenapa matamu?” tanya saya begitu melihat lingkaran ungu di sebelah matanya.

“Kebentur pintu, Kak Xavier.”

“Udah, you pulang saja. Saya nggak mau dibohongi!”

Begitu mendengar ketegasan saya, dari wajah yang sedari tadi mendung tertumpahlah hujan membasahi pipinya. Lalu dengan terbata-bata dia menceritakan bahwa wajahnya dipukul pacarnya.

“Pacarmu yang tadi mengantarmu ke sini?”

Anggukannya membuat saya berkata, “Tampaknya pacarmu bukan orang yang baik.” Mengapa saya berkesimpulan demikian? Dari caranya mengendarai dan menurunkan pacarnya - yang seorang perempuan - begitu saja tanpa memastikan apakah pacarnya itu bisa masuk rumah membuat saya melakukan ‘intellectual guessing’, dia memang cowok brengsek!


Siti Nurbaya di Era Digital

Dari mulutnya yang tak henti-hentinya terisak, perempuan itu, sebut aja Bunga, menceritakan bahwa pacarnya bukan pilihannya. Mamanyalah yang ‘menyodorkan’ lelaki itu kepadanya. Hanya karena orangtua lelaki itu orang kaya di Indonesia.

“Saya sudah punya pacar dari keluarga biasa-biasa, tetapi Mama menolak pilihan saya dan mendesak saya untuk jalan bersama cowok tadi,” ujarnya.

Hare gene, masih ada orangtua yang mewarisi perjodohan zaman Siti Nurbaya.

Baca Juga: Cinta Terhalang Restu Orangtua Pacar. Inilah 3 Pelajaran - tentang Cinta dan Mencintai - yang Saya Dapatkan dari Peristiwa itu


Polisi Perilaku di Down Town

Malam hari saya sedang berada di down town. Selesai makan, saya hendak kembali ke rumah di suburb. Tiba-tiba saya mendengar keributan. Rupanya ada pasangan muda-mudi yang sedang bertengkar hebat. Tidak jauh dari sana, tampak seorang petugas sedang berjaga, dengan mata elangnya mengawasi pertengkaran itu. Jika salah satu melakukan tindakan kekerasan, dia akan segera turun tangan. Hebat nian polisi di sini! Sudah mengantisipasi sebelum terjadi, bukan berkata kecolongan setelah buah dimakan kalong!

Dari dua peristiwa yang berbeda di atas, saya merenungkan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah kekerasan dalam hubungan [pacaran atau pernikahan] terjadi. Karena korban kekerasan mayoritas adalah wanita, alangkah baiknya jika kita tahu ciri-ciri laki-laki yang suka melakukan kekerasan, agar para wanita tidak terjebak dalam hubungan yang bak arena tinju.


1. Bersumbu Pendek

[Image: bigthink.com]

Ketika kecil, saya pernah melihat seorang pemuda bermain petasan. Dia senang menyalakan petasan lalu melemparkannya ke orang-orang yang lewat. Suatu kali, sebelum sempat dilempar, petasan itu meledak di tangannya. Dari hati saya berkata, “Senjata makan tuan!”

Tipe pria bersumbu pendek seperti petasan. Gampang meledak!

Emosi itu penting dalam sebuah hubungan. Namun, jika emosional, apalagi sangat emosional, maka inilah sumbu pendek yang membuat amarah seseorang gampang meledak.

Hindari pria semacam ini agar Anda tidak ikut jadi korban.



2. Sansak Bernama Pintu

[Image: adviceadda.com]

Samsak atau sansak adalah alat bantu bagi petinju untuk berlatih. Bentuknya seperti guling yang digantung di sasana tinju. Jika setiap kali merasa jengkel atau bertengkar dengan Anda, dia suka memukul apa saja yang ada di dekatnya, waspadalah!

Perilaku ini merupakan kelanjutan dari sumbu pendeknya. Ledakannya berupa satu atau rentetan tinju ke benda-benda di dekatnya. Pintu pun bisa jebol oleh pukulannya.

Jika didekati lelaki semacam ini, hati-hati agar tidak berlanjut sampai pernikahan. Mengapa? Karena nanti - atau malah pada saat pacaran seperti gadis yang menemui saya di atas - Andalah yang jadi sansak hidup.

Baca Juga: Tak Terbayangkan! Inilah 8 Alasan Wanita Memilih Bertahan dalam Hubungan yang Menyiksa



3. Handphone Terbang

Pernahkah Anda melihat pasangan suami-istri bertengkar dan piring beterbangan di rumah mereka? Saya pernah membaca kisah tentang seorang suami yang menyesal. Piring, yang ia lemparkan ke arah istrinya mengenai palang pintu. Pecahannya menancap di leher sang istri. Dalam perjalanan ke rumah sakit, karena panik, suami itu malah mencabut pecahan itu sehingga darah istrinya muncrat dan mengakibatkan kematiannya.

Piring bukan satu-satunya objek yang bisa dijadikan ‘perang bintang’ antar pasangan suami-istri. Benda-benda apa saja bisa jadi senjata. Jika laki-laki itu terbiasa melemparkan barang-barang di sekitarnya ke arah Anda, handphone misalnya, pikir seribu kali untuk mau jadian dengannya. Mengapa?

Selain sangat emosional, dia pun tidak sayang membuang barang berharga. Jika dia terbiasa membuang barang berharga, tidakkah Anda takut jika Anda yang kelak dibuangnya?

Baca Juga: 5 Kebohongan yang Diyakini Korban yang Membuat Kekerasan dalam Pacaran Terus Berulang



4. Pantang Mundur

[Image: osprofanos.com]

Pahlawan yang maju terus pantang mundur sampai memperoleh kemenangan kita junjung tinggi. Namun, jika ada lelaki yang biarpun salah tidak pernah mau mundur, apalagi mengalah dalam perselisihan, inilah salah satu awal dari tindakan kekerasan. Begitu kalah omongan, dia akan menggunakan senjata pamungkasnya: pukulan atau tamparan!

Dari buku-buku yang saya baca, dari situs science & tech, saya memperoleh data bahwa wanita bicara 13.000 kata lebih banyak dari pria. Nah, karena kalah amunisi, laki-laki yang tidak mempunyai kendali diri yang baik bisa melampiaskannya lewat tindak kekerasan. Jadi, jika seorang laki-laki sudah main pukul saat kalah berdebat, hindari saja!



5. Mencintai Teroris

[Image: thepolicy.us]

Pernah dengar kisah sandera yang justru mencintai penyanderanya? Kristin, salah satu sandera, bahkan membatalkan pertunangannya dengan pacarnya dan memilih untuk bersama cowok yang sudah menyanderanya selama 5 hari, tanggal 23-28 Agustus 1973. Keanehan yang disebut Stockholm Syndrome ini dipopulerkan oleh kriminolog sekaligus psikiater, Nils Bejerot.

Anda tanpa sadar bisa menjadi seperti Kristin saat mencintai pria yang suka berperilaku kasar. Mengapa? Karena dulunya laki-laki ini sering diperlakukan dengan buruk oleh orangtuanya. Jadi, ia adalah seorang korban yang bermetamorfosis menjadi pelaku. Jika orangtua yang menganiaya dia adalah mamanya, hati-hati, Anda bisa jadi korban pengalihan dendam. Karena takut atau tidak bisa melawan mamanya sendiri, dia melampiaskan kepada gadis yang bisa dijadikan korban. Jika Anda mau jadi pacarnya, Anda bukan saja fakta nyata analisis Nils Bejerot, tapi juga pasti bonjrot!

Baca Juga: Jangan Biarkan Dirimu Terjebak dalam Hubungan yang Salah. Temukan Keberanian, Pergi dan Bukalah Lembaran Baru!


Dengan mengungkapkan ciri-ciri laki-laki yang berpotensi melakukan kekerasan dalam hubungan, bukan berarti saya menutup rapat-rapat pintu pertobatan dan mukjizat. Saya amat percaya itu. Saya pun menyaksikan contohnya. Namun, jika Anda tidak siap atau tidak mau menjalani proses pertobatannya - yang seringkali bukan saja menguras air mata tetapi juga pencurahan darah, lebih baik mundur sebelum hancur. Dunia tidak selebar daun kencur! Toh masih banyak laki-laki di luar sana yang sudah meninggalkan bau kencur dan secara nature sudah mature.



Baca Juga:

Pernah Menjadi Korban Kekerasan Fisik dan Verbal Guru di Sekolah, Saya Bangkit dan Sembuh dari Trauma. Inilah 4 Hal Penting yang Saya Pelajari

Bertahun-tahun Menjadi Korban Bullying, 9 Hal inilah yang Menyembuhkan Luka dan Membuat Saya Kembali Menemukan Keberhargaan Diri

Depresi Hingga Nyaris Bunuh Diri, 8 Hal ini yang Menyadarkan Bahwa Hidup ini Terlalu Singkat untuk Diratapi, Terlalu Berharga untuk Disia-siakan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perempuan, Inilah 5 Ciri Pria yang Berpotensi Melakukan Kekerasan dalam Relasi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar