Perempuan, 7 'Tuntutan' Ini Tak Perlu Membuatmu Merasa Tersudut dan Melupakan Kebahagiaanmu Sendiri

Reflections & Inspirations

photo credit: Shutterstock

8.3K
Demi terlihat "normal" oleh orang lain, kita cenderung berjuang keras memenuhi standar-standar yang ditetapkan masyarakat.

Kita hidup di dunia yang penuh standar. Demi terlihat "normal" oleh orang lain, kita cenderung berjuang keras memenuhi standar itu. Walaupun berarti mengorbankan kebahagiaan kita. Dimulai sejak kita kecil, banyak sekali tuntutan yang harus kita penuhi. Setelah kita dewasa, standar mengenai usia yang ideal untuk menikah sepertinya menjadi momok yang mengerikan. Banyak wanita yang berjuang keras untuk segera menikah agar tidak diberi label “perawan tua”

Setelah menikah, “standar” baru lainnya juga semakin banyak bermunculan. “Standar” itu menuntut untuk dipenuhi. Seolah-olah jika kita tidak bisa memenuhi standar tersebut, kita bukanlah perempuan dan Ibu yang baik.

Baca juga: Hidup Manusia Rapuh, Kesempatan Kedua adalah Anugerah. Selamat dari Tabrakan Mengerikan, Saya Belajar Hal-Hal Berharga ini


"Perempuan sejati harus bisa punya anak"

photo credit: Reader's Digest

Segera setelah menikah, saya hamil. Tetapi kehamilan ini tidak berjalan normal. Saya mengalami kehamilan etopik, di mana janin tidak berada di rahim, melainkan di saluran indung telur (tuba falopi). Ini mengakibatkan saluran itu pecah dan harus dipotong. Dengan hanya satu indung telur harapan untuk mempunyai anak terasa lebih kecil. Bersyukur, penantian yang panjang bertahun-tahun disertai doa setiap hari, akhirnya membuahkan hasil. Walau dengan hanya satu saluran indung telur (tuba falopi), akhirnya saya hamil. Ini semua anugerah Tuhan.

Beberapa perempuan lain selalu menjadi gelisah dengan pertanyaan : "Sudah 'isi' atau belum?" Pertanyaan yang sepertinya mengisyaratkan ada yang salah jika belum mengandung dan mempunyai anak.

Seolah-olah hidup perempuan belum lengkap tanpa hadirnya anak. Padahal, punya anak atau tidak, tak sepenuhnya ada dalam kendali perempuan bukan?


"Perempuan sejati harus melahirkan secara normal"

Sukacita kehamilan membuat saya semangat mencari informasi tentang melahirkan dengan normal. Puji Tuhan kehamilan saya berjalan lancar walaupun saya bekerja. Sepertinya harapan saya untuk melahirkan normal dapat terwujud.

Hari itu tanggal 9 Juli 2014, masyarakat Indonesia libur pilkada. Malamnya adalah jadwal saya dan suami ke dokter. Saat dokter memeriksa ternyata tekanan darah saya tinggi mencapai 160. Pemeriksaan urin menunjukkan kadar protein yang tinggi.

Saya divonis pre-eklampsia, atau keracunan kehamilan dan janin harus segera dilahirkan. Bersyukur usia janin sudah memasuki 9 bulan. Segera saya dirawat dan diberi obat agar mengalami kontraksi.

Beberapa jam sekali perawat memeriksa keadaan saya dan menanyakan apakah saya mengalami kesakitan. Setelah satu hari berlalu, dan kontraksi yang ditunggu tak kunjung tiba. Diputuskanlah saya harus melahirkan melalui operasi. Seketika, harapan untuk melahirkan normal sirna. Bersyukur operasi berjalan lancar, dan bayi perempuan kami lahir dengan selamat . Kami beri nama Daniela.

Baca Juga : Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya


"Ibu yang baik harus segera menyusui (IMD = Inisiasi Menyusu Dini) dan memberikan ASI"

photo credit: Mary Rutan Hospital

Setelah operasi, kesehatan saya menurun. Saya segera dilarikan di ruang pemulihan tanpa sempat menyusui. Bersyukur ke esokan harinya saya cukup sehat. Saya meminta agar dapat menggendong dan menyusui. Rasa sakit akibat operasi tidak saya hiraukan. Saya ingin memberikan yang terbaik. Setelah menyusui dan perawat membawa bayi saya untuk tidur di kamarnya. Kondisi kesehatan saya menurun. Saya mengalami sakit kepala berat dan mata berkunang-kunang. Jahitan operasi terasa sakit sekali. Suami yang mendampingi saya menguatkan dan menghibur saya bahwa rasa sakit ini akan lenyap. Perawat yang memeriksapun mengatakan ini adalah hal yang biasa.

Setelah istirahat, rasa sakit itu tak kunjung sirna. Perawat yang memeriksa saya terkejut melihat wajah saya yang sangat pucat. Pemeriksaan HB menunjukkan angka 8. Ini artinya saya kekurangan hemoglobin dan kemungkinan ada pendarahan pada jahitan bekas operasi.

Setelah melakukan USG, dokter mengatakan bahwa jahitan saya harus dibuka untuk melihat apakah ada pendarahan. Tak pernah terbayangkan kalau saya harus operasi dua kali dalam dua hari berturut-turut. Saat menuju ruang operasi, saya melihat wajah suami yang lesu. Saya berusaha menguatkan suami dan berkata “Tenang Pa, semua pasti akan lancar. Tugasku di dunia ini belum selesai”. Saya percaya Tuhan pasti akan menyertai operasi kedua ini. Bersyukur operasi kedua berjalan lancar. Saya dipasangi selang penampung darah dari perut untuk menampung jikalau masih ada pendarahan.


"Ibu yang baik harus memberikan ASI eksklusif"

Dengan selang yang masih terpasang, saya meminta bantuan perawat agar dapat menyusui Daniela, buah hati saya. Kondisi yang tidak memungkinkan bagi saya untuk bangun dan duduk menyebabkan menyusui menjadi hal yang sangat menantang. Karena kesulitan, kami memutuskan untuk memerah ASI saja.

Kadar HB yang semakin turun menyebabkan saya harus ditransfusi darah sebanyak 2 kantung. Setelah transfusi, saya mengalami sesak nafas akibat jantung yang tidak kuat memompa darah yang banyak. Sehingga saya harus mendapatkan perawatan lebih lanjut. Di saat yang sama Daniela membutuhkan lebih banyak ASI karena kadar bilirubin yang tinggi.

Pupus sudah harapan saya untuk memberikan ASI ekslusif. Saya mengijinkan perawat untuk memberikan susu formula. Bersyukur setelah minum susu yang banyak dan disinar di NICU (neontal intensive care unit) Daniela sembuh dan boleh pulang.

Tetapi karena saya belum sehat, Daniela tetap dirawat di rumah sakit. Tepat 1 minggu di rumah sakit, kondisi saya pulih dan kami sekeluarga pulang.

Baca juga: Baby Blues Syndrome: Ketahui Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Mengurangi Kemungkinan Terjadinya Mimpi Buruk Bagi Para Ibu Baru Ini


"Bayi usia dibawah 1 bulan jangan dibawa ke tempat umum"

photo credit: The Champa Tree

Kami di rumah hanya bertiga. Tanpa pembantu, segala pekerjaan harus saya dan suami lakukan. Kemana pun saya pergi, Daniela selalu ikut. Pada pagi hari sambil Daniela berjemur, kami berdua ke pasar untuk berbelanja.

Suatu ketika ada seorang Ibu yang mengomentari saya. Beliau melarang saya membawa bayi ke pasar. Bagi saya tidak ada pilihan lain.

Bersyukur Daniela tidak pernah rewel saat dibawa ke pasar. Daniela juga jarang sakit.

Baca juga: Moana: 5 Pelajaran Penting tentang Mempersiapkan Masa Depan Anak


"Semua Ibu pasti bisa memberikan ASI ekslusif"

Setelah sehat dan pulang ke rumah, maka perjuangan saya memberikan ASI ekslusif juga dimulai. Saya menyusui Daniela setiap 2 jam dan melanjutkan dengan memerah ASI setelahnya. Saya mengkonsumsi makanan yang bergizi, minum air putih dan teh menyusui. Kami berdua berjuang selama 2 bulan. Sayang sekali pertambahan berat Daniela kurang maksimal. Dokter anak menyarankan saya memberikan susu formula. Pupus sudah harapan untuk memberikan ASI eklusif.

Sulit bagi saya untuk menerima hai itu. Berbulan-bulan saya sedih dan menggumulkan hal ini. Setiap kali ada teman yang menyarankan suplemen tertentu untuk menambah ASI, saya pasti akan membelinya. Bahkan saya juga menemui dokter konselor laktasi untuk berkonsultasi. Jadwal memerah setiap 2 jam sekali tidak pernah saya lewatkan. Bahkan jika itu berarti saya harus memerah di malam hari. Semua itu sepertinya sia-sia. Tetap saja hasil perahan ASI saya hanya mencapai 5-15 mL. Jumlah yang sedikit dan akan langsung habis diminum Daniela.

Kondisi ini membuat saya stres dan membuat saya selalu menyalahkan diri sendiri karena belum bisa menjadi Ibu yang baik. Sepertinya Daniela juga merasakan kesedihan saya. Daniela menjadi anak yang kurang ceria.

Suami dengan setia menghibur saya. Suami mengatakan bahwa tidak apa Daniela minum susu formula dan menggunakan botol susu, selama dia sehat. Hingga akhirnya saya sadar dan memilih untuk bahagia. Saya memilih untuk bersyukur bahwa ASI saya masih keluar walaupun belum mencukupi. Walaupun minum susu formula, bukan berarti saya tidak berjuang untuk memberikan ASI. Perjuangan saya memberikan ASI masih berlanjut. Saya tetap menyusui langsung dan juga memerah.


"Ibu yang baik merawat sendiri anaknya"

photo credit: To Your Health

Setelah masa cuti melahirkan 3 bulan habis, tiba saatnya saya kembali bekerja dan Daniela terpaksa harus dititipkan. Pandangan miring terkadang diberikan kepada kami para Ibu bekerja. Seolah-olah kami tidak menyayangi anak kami. Seandainya saja saya tidak perlu bekerja, tentu dengan senang hati saya akan tinggal di rumah. Tetapi kondisi yang ada mengharuskan kami berdua untuk bekerja. Bersyukur di penitipan Daniela tetap sehat dan semakin mudah bersosialisasi.


"Ibu yang baik menyusui anaknya hingga 2 tahun"

Saya dan Daniela sangat menikmati masa-masa menyusui. Walaupun Daniela minum susu formula, tetapi Daniela juga minum ASI perah dan masih menyusu secara langsung. Menjelang 2 tahun, tiba saatnya Daniela untuk berhenti menyusu. Ini adalah hal yang berat bagi kami berdua. Daniela anak yang cerdas. Segala cara menyapih ASI seperti menggunakan jamu, plester, lipstik dll sudah saya lakukan dan tidak berhasil. Tetapi kali ini saya tidak sedih. Saya percaya bahwa pada saatnya nanti Daniela akan dengan sendirinya berhenti menyusu.

Saya belajar bahwa banyak hal di dunia ini yang tidak sesuai “standar” yang berlaku. Banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kita. Hal yang bisa saya lakukan adalah tetap bersyukur dan lihatlah sisi baik dari hal itu.

Baca juga: Membentuk Anak Menjadi Generasi Tangguh: Orang Tua, Inilah 3 Do's and Don'ts-nya

Pesan saya untuk semua Ibu. “Apapun yang terjadi tetaplah bersyukur”. Nikmati dan syukuri setiap hal yang terjadi dalam hidupmu. Ibu yang gembira dan penuh kasih adalah satu-satunya yang anak butuhkan.



Bagi para ibu, dapatkan inspirasi untuk pendidikan anak melalui tulisan-tulisan ini :

Bayi Sering Digendong dan Dipeluk: Bau Tangan, Manja, atau Justru, Sehat Jiwa Raga?

Orangtua, Jangan Lelahkan Diri dengan Mengatur Semua Perilaku Anak! Pilah dan Pilih yang Terpenting untuk Penerapan Disiplin yang Efektif

Bayi Bukan Boneka, Anak Bukan Mainan: 5 Etika Penting tentang Menjenguk Bayi dan Balita


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perempuan, 7 'Tuntutan' Ini Tak Perlu Membuatmu Merasa Tersudut dan Melupakan Kebahagiaanmu Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Anugrah Asih | @anugrahasih

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar