Perbedaan Pola Pikir Bisa Membuat Keluarga Berakhir! Ini 3 Cara Mengatasinya

Love & Friendship

[Image: lakehouserecoverycenter.com]

6.9K
Jika celah kesenjangan tidak segera kita tutup dengan introspeksi sebelum berspekulasi sehingga misinterpretasi, jurang pemisah akan semakin lebar.

Surabaya. Senin pagi. Sopir tidak masuk. Hari itu kami hendak menyalonkan mobil, padahal istri saya sendiri jarang mau ke salon wkwkwk. Yona, anak sulung saya, naik mobil sendiri. Saya dan istri membawa mobil yang hendak disalonkan serta mengikutinya dari belakang.

Di dalam perjalanan ke Dans Mobile Detailing mula-mula kami mengambil jalur yang sama. Saat tiba di pertigaan, Yona ambil jalan ke kiri sedangkan saya ke kanan.

“Lho kok tidak belok kiri?” tanya istri saya.

“Saya terbiasa ambil jalur kanan,” jawab saya.

Tidak lama kemudian, anak sulung saya menelepon istri saya. Dia pasti bertanya-tanya dalam hati kok mobil saya tidak ada di belakangnya, padahal sedari dari rumah saya membuntutinya dari belakang. “Kita ketemu di sana saja,” jawab istri saya. “Papamu ambil jalur lain.”

“Wah, ini salah satu contoh konkret perbedaan generasi!” Tiba-tiba pikiran semacam itu melintas seperti kilat di benak saya. Anak saya lebih suka ambil jalur kiri karena lebih sedikit lampu lalu lintasnya, sedangkan saya senang ambil jalur kanan karena sejak pindah ke Surabaya, saya SELALU ambil jalur itu. Anak saya - generasi Y - senang jalan pintas dan cepat sampai, sedangkan saya - generasi baby boomer - lebih suka jalan yang biasa saya jalani. Tangan yang menggerakkan setir mengikuti pola pikir pengendaranya.

Perbedaan generasi menghasilkan perbedaan pola pikir. Perbedaan pola pikir bisa membuat keluarga berakhir jika didramatisir dan tidak segera diminimalisir.

Saya ‘beruntung’ karena di dalam keluarga kami ada 4 ‘jenjang’ generasi. Saya baby boomer, istri generasi X, anak sulung generasi Y, dan si bungsu - yang usianya selisih banyak dari si sulung - masuk generasi Z atau net.

Paling tidak ada 3 langkah yang bisa kita ambil untuk menghindari hal yang tidak kita inginkan tersebut:



1. Sadar Diri

Di sebuah komik science fiction, seorang dari bumi mendarat di sebuah planet. Saat berjalan menuju ke kota, dia bertemu dengan seorang yang membuatnya ingin tertawa. Telinga orang itu menghadap ke belakang. Agar tidak menyinggung perasaan ‘tuan rumah’ dia menahan tawa. Namun, rasa gelinya bertambah saat dia berpapasan dengan dua orang dengan telinga terbalik. Keadaan berbeda saat dia sampai di pusat keramaian. Kini bukan dia yang tertawa, melainkan setiap orang yang melihatnya menertawakannya karena tinggal dia SATU-SATUNYA yang berbeda. Telinganya yang menghadap ke depan dianggap ‘tidak normal’ oleh penduduk planet itu.

Bercermin dari kisah fiksi di atas, kita perlu sadar diri di mana posisi kita. Seperti saya dan anak-anak saya. Saya cenderung tinggal di comfort zone, Yona lebih suka mencari jalan-jalan baru, sedangkan si bungsu ‘menciptakan’ jalan-jalan baru ... hehehe. Di dalam hal mode pun demikian. Saya memakai arloji apa saja - apalagi yang dihadiahi orang wkwkwk, istri tidak suka pakai jam tangan, anak sulung pakai DW, sedangkan anak bungsu saya mendesain dewe [sendiri] dan mengirimkan rancangannya ke penjual arloji custom made online.

[Image: 21enturylearners.co.uk]
Kesadaran diri bahwa kita berada di posisi yang berbeda dengan generasi yang berbeda membuat kita tidak salah tingkah apalagi salah polah.

Baca Juga: Setiap Anak Istimewa, Bantu, Bukan Paksa, Mereka Mengenali Kekuatan, Bakat dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri



2. Tahu Menempatkan Diri

Ketika diundang bicara di Singapura, di saat senggang, saya sempat jalan-jalan sendiri di Orchard Road. Jalan utama di negara singa ini lebih mirip sebuah kota besar di Indonesia ketimbang negara tersendiri karena begitu besarnya jumlah orang Indonesia di sana. Di depan saya ada dua orang ibu setengah baya yang sedang berjalan santai sambil berbincang-bincang satu sama lain. Ada seorang pemuda ganteng melewati mereka. Tiba-tiba seorang ibu itu berkata, “Wah, sayang, ganteng-ganteng pakai alat bantu dengar!” Ucapan yang cukup keras itu membuat saya menoleh dan hampir tertawa ngakak. Pemuda itu rupanya memakai bluetooth di telinganya.

Jika kita tidak tahu menempatkan diri dengan baik, kita jadi kelihatan katrok di depan banyak orang. Generasi seangkatan saya yang banyak yang gaptek terbentur dengan generasi sekarang yang ‘tech savvy’.

[Image: BNP Paribas]

Terkadang antar suami istri pun, masalah gegar teknologi ini bisa terjadi.

“Pa, tolong sodorkan koran itu sebentar!”

“Ah, Mama kuno. Nih, pakai iPad saya saja,” ujar suami tanpa menoleh karena sedang asyik nonton TV.

Brakkk! Tiba-tiba dia kaget saat melihat istrinya memukulkan tabletnya ke lantai.

“Lho, apa yang Mama lakuin?”

“Cuma memukul kecoa saja kok membuat Papa kebakaran jenggot?”

Tahu menempatkan diri adalah berani mundur di saat yang tepat dan memberi kesempatan kepada generasi berikutnya untuk maju.
[Image: financialsecurityfirst.com]

Di dalam hal berkomunikasi pun, kita perlu memakai ‘rabbit ear’ untuk menangkap istilah-istilah anak muda yang sering membuat kening kita berkernyit. Sampai hari ini, jika saya mendapatkan BB atau WA dari anak-anak muda yang membuat saya bingung, saya minta anak saya untuk menerjemahkannya bagi saya ... hehehe.



3. Bisa Menjaga Diri

Istilah ‘menjaga diri’ di sini termasuk ‘menahan diri’. Menahan diri dari apa?

Tidak cepat bereaksi alias bersumbu pendek saat apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi.
[Image: psrpre.com]

Kesenjangan generasi yang membuat perbedaan pola pikir yang seringkali begitu dalam membuat kita susah menahan diri melihat ‘ketimpangan’ yang terjadi di depan mata. “Saya tidak bermaksud kurang ajar, Pak Xavier,” ujar seorang mama muda kepada saya. “Saya hanya tidak menyapa Papa mertua saat berjumpa dengannya. Saya tidak menduga bahwa sikap sepele itu membuat Papa mertua marah besar dan sejak saat itu tidak mau bicara dengan saya!”

Dari cara ibu muda ini bercerita, yaitu dengan suara tinggi dan meledak-ledak, saya jadi berpikir, mungkin inilah yang membuat papa mertuanya tersinggung. Bagi anak muda, berlalu tanpa saling menyapa mungkin dianggap biasa karena mereka terbiasa ‘cuek’ dengan lingkungan. Anak bungsu saya pun dulu saya tegur saat diam saja ketika ada orang yang lebih tua di dekatnya. Bagi dia, asal tidak menggangu dan merugikan orang lain, tidak apa-apa. Namun, bagi orangtua, sikap diam dan tidak menyapa adalah bentuk kekurangajaran.


[Image: centroalife.com]
Jika celah kesenjangan ini tidak segera kita tutup dengan introspeksi sebelum berspekulasi sehingga misinterpretasi, jurang pemisah antargenerasi akan semakin lebar.

Baca Juga: Rupanya ini yang Membuat Anak Berontak terhadap Orangtua. Terapkan 3 Cara ini sebelum Terlambat!


“Relasi antarinsani yang dibangun dengan hati nurani yang murni bisa membangun harmoni dan mencegah kakofani.” - Xavier Quentin Pranata



Baca Juga:

How to Make Our Families Great Again? Runtuhkan 5 Tembok Penghalang Kebahagiaan Keluarga Ini!

Setiap Anak Istimewa. Bantu, Bukan Paksa, Mereka Mengenali Kekuatan, Bakat dan Keunikan Pribadi serta Memilih Masa Depan Mereka Sendiri

Lewat Orangtua yang Otoriter dan Overprotektif, Saya Menemukan 7 Pelajaran Hidup Penting ini



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perbedaan Pola Pikir Bisa Membuat Keluarga Berakhir! Ini 3 Cara Mengatasinya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar