Perbedaan, Perubahan, dan Cinta yang Tetap Bertahan: Pelajaran dari 10 Tahun Pernikahan Kami

Marriage

[Dokumentasi Pribadi Penulis]

13.7K
Sekadar ingin berbagi dari apa yang kami alami dan rasakan, inilah 3 nilai penting dari perjalanan sepuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama.

Berapa pun usia pernikahan Anda sebenarnya tak begitu penting. Usia pernikahan tua bukan jaminan kematangan dan kebahagiaan, demikian pula dengan pasangan suami-istri muda. Semua tergantung bagaimana pasangan menyesuaikan diri dan menghidupkan kehidupan pernikahan masing-masing.

Hari ini pernikahan kami menginjak bilang dasawarsa pertama. Sebagai ungkapan syukur sekaligus refleksi diri, saya menuliskan curahan hati ini. Saya sadar penuh, tak semua pasangan dengan usia pernikahan yang sama dengan saya juga memiliki pengalaman dan pelajaran yang sama. Sekadar ingin berbagi dari apa yang telah kami alami dan rasakan, inilah 3 nilai penting yang kami dapatkan dari perjalanan sepuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama.



1. Romantis: Mengenal, Lebih Dalam Lagi

Romantisme dengan pasangan tak melulu bicara tentang keadaan yang menyenangkan. Bukan pula soal apa yang terlihat dari luar. Orang lain bisa saja melihat kita bahagia. Bahwa pada kenyataannya hubungan kita dengan pasangan terasa hambar, hanya kita yang tahu, bukan? Romantisme juga bukan sekadar acara kencan mewah. Uang sebanyak apa pun jumlahnya tak akan mampu membeli kehangatan kasih murni yang keluar dari hati. Romantisme bukan juga ucapan cinta yang telah menjadi mekanis, kata-kata manis yang terlontar begitu saja. Sekadar basa basi, diucapkan setengah hati, atau malah, tak pakai hati lagi?

Lebih daripada itu, romantisme adalah ketika kita tak hanya berhenti di pengenalan tetapi masuk dalam penerimaan. Tak cuma saling mengenal, tetapi juga bersedia menerima apa adanya, dan kemudian saling membangun demi pertumbuhan cinta bersama. Di situlah letak romantisme yang sesungguhnya.

Saya teringat diri saya ketika belum menikah dulu. Saya pun sempat terjebak dalam pemikiran dan ekspektasi yang keliru tentang romantisme. Pasangan yang romantis itu yang sering mengajak kencan di tempat mewah, pasangan yang romantis itu rajin mengumbar kata cinta. Pasangan yang romantis itu yang selalu mengerti keinginan dan kemauan kita. Apa mau dikata, semua itu tak saya dapati pada lelaki yang kini menjadi suami saya.

Apakah lantas saya merasa kecewa dan menyesal memilih menikah dengannya? Sekali-kali tidak!

Saya akhirnya justru menemukan romantisme gaya suami saya seorang. Gaya yang mungkin berbeda dengan gambaran di kepala banyak orang, namun karena itu, justru menjadikannya istimewa. Entah sudah berapa kali kami berkencan bahagia meski tanpa kemewahan. Suami saya jarang sekali mengucapkan kata-kata manis, namun cinta mewujud nyata lewat sikap hatinya yang indah: kebijaksanaan dalam memahami ego saya, perempuan yang serba 'semau gue' ini. Kesabarannya adalah kekuatan yang membuat saya mau mengubah diri, menjadi sosok yang lebih baik dari hari ke hari.

[Dokumentasi Pribadi Penulis]

Setelah sepuluh tahun bersama, satu ini tak pernah saya ragukan: dialah jodoh dari Tuhan. Orang yang dengannya saya tak hanya saling mengenal, tetapi lebih dalam dari itu, juga saling membangun.

Baca Juga: Bagaimana Menjadi Romantis? Jangan Salah, Bukan Bunga atau Puisi Cinta, Inilah 5 Hal Romantis yang Paling Diinginkan oleh Pasanganmu



2. Pasangan Hadir secara Emosional

Alkisah hiduplah sepasang suami-istri yang menderita cacat tubuh akibat tabrak lari. Sang suami hidup dengan kebutaan, sang istri lumpuh. Sehari-hari mereka tinggal di bawah jembatan tepi sungai. Suatu hari, ketika mereka sedang beristirahat, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak-teriak, “Banjirrr ... Cepat lariii!!!” Mereka terbangun, panik. Seketika itu sang istri melihat air bergulung ke arah mereka dengan kecepatan yang mengerikan. Sang suami, meski buta, tahu bahaya sedang mengancam mereka. Gemuruh suara banjir terdengar makin dekat. Mereka harus segera menyelamatkan diri.

"Gendong aku, Pa. Akan aku tunjukkan jalan yang aman untuk kita lalui!" ujar istri yang lumpuh itu.

"Beres! Aku akan jadi kakimu, kamu jadi mataku!" jawab sang suami sigap.


Kisah suami-istri buta lumpuh itu mengajarkan kepada kita,

Asalkan kita mampu memahami kelebihan dan kekurangan diri kita dan pasangan, bencana kapan pun dan bagaimana hebatnya pun, akan berhasil untuk dihadapi dan dilalui bersama.


Ketika kita menyadari dan menerima bahwa kita memang berbeda dengan pasangan kita, entah karakter, cara pikir, kemampuan dalam mengambil keputusan, apa pun itu, tak akan menjadi penghalang dalam membangun hubungan dan keintiman dengan pasangan. Terlahir dari latar belakang keluarga yang berbeda, dibesarkan dengan pola asuh yang berbeda, tumbuh di lingkungan yang berbeda, tentunya wajar bila faktor-faktor itu mewarnai relasi kita dengan pasangan.

Perbedaan, asalkan mampu disikapi dengan bijak, tak akan menjadi bumerang dalam hubungan.


Hal sederhana saja, ini contohnya. Saya senang menyempatkan diri membaca tulisan-tulisan apik di RibutRukun.com dan membagikannya kepada banyak orang, termasuk suami saya. Suami saya? Belum tentu membaca kiriman saya, apalagi meresponsnya! Tak jadi masalah. Keasyikan kami memang berbeda. Saya suka mengisi waktu kosong dengan membaca, suami saya enjoy dengan aktivitas-aktivitas lain untuk menikmati me time-nya.


Sepuluh tahun bersama, saya semakin menyadari,

Meski dia orang yang amat berbeda dengan saya, namun saya tak bisa membayangkan hidup tanpa kehadiran dirinya.

Kehadirannya secara emosional memberi dampak besar dalam hidup saya. Entah baik atau buruk pengaruhnya, tentu berpulang ke diri saya sendiri.

Baca Juga: Perbedaan Pola Pikir Bisa Membuat Keluarga Berakhir! Ini 3 Cara Mengatasinya



3. Komitmen: Hingga Maut Memisahkan

Ketika kita kembali merenungkan perjalanan cinta dalam membangun bahtera rumah tangga bersama pasangan, apa yang terlintas di pikiran kita?

Sebagian mungkin akan menjawab janji nikah, komitmen suci yang pernah kita ucapkan bersama di hadapan banyak orang dan terlebih-lebih di hadapan Tuhan. Mungkin ada juga yang menjawab, tak terpikir apa-apa. Mengapa perlu repot-repot? Yang penting sudah menikah, berketurunan, hidup sesuai kodrat. Hidup mengalir, nikmati saja. Sebagian lain mungkin akan mengeluh, betapa pasangan telah berubah menjadi orang yang berbeda dengan ketika pacaran dulu, membanding-bandingkan, kemudian menyesali pilihan yang telah dibuat.

Saya amat prihatin dengan semakin banyaknya perceraian yang diambil sebagai jalan keluar dari kemelut rumah tangga.

Perubahan, ini satu yang sering dituding sebagai penyebab.

Perubahan sifat pasangan, perubahan kondisi keuangan keluarga, serta banyak perubahan-perubahan lain yang akhirnya membuat salah satu [atau keduanya] terguncang dan mengambil keputusan berpisah. Padahal, manusia pasti berubah. Pasangan berubah, kita pun berubah. Tak ada yang salah. Bukankah perubahan adalah kepastian yang harus diterima, tak bisa ditolak selama masih hidup di dunia? Ini bukan perkara gampang, karenanya saya hingga kini senantiasa waspada.

Baca Juga: Kehidupan Setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan


Kehidupan berumah tangga tak selalu dalam keadaan baik-baik saja. Kerikil-kerikil tajam pun mau tak mau akan hadir dan menjadi bagian dari perjalanan. Jika demikian, kita perlu terus menerus memperkokoh benteng pertahanan, memperkuat fondasi iman, agar baik dalam suka maupun dukakita dapat terus mewujudkan komitmen yang pernah kita ikrarkan ketika pertama kali memasuki gerbang pernikahan: hingga maut memisahkan.

[Dokumentasi Pribadi Penulis]

Melalui hidup pernikahan, saya dan suami sama-sama belajar menemukan nilai-nilai yang berharga dari segala yang kami alami dalam perjalanan ini. Harapan saya, ketika suatu saat kelak kami berhenti dan menengok ke belakang, kenangan-kenangan pahit, manis, sedih dan bahagia itu menjadi sumber harapan yang akan menambah kekuatan langkah kami untuk terus berjalan, bersama.

Bless our family.



Untuk 10 Tahun Pertama, Kedua, Ketiga dan Seterusnya Hingga Maut Memisahkan:

30 Tahun Pernikahan Orangtua, 5 Pelajaran Berharga ini Tak Saya Temukan dari Tempat Lain

Ingin Cinta Tetap Manis Sepanjang Usia? Begini Caranya

Dalam Suka maupun Duka, Sehat ataupun Sakit, Hingga Maut Memisahkan: 3 Kisah Cinta Sejati


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perbedaan, Perubahan, dan Cinta yang Tetap Bertahan: Pelajaran dari 10 Tahun Pernikahan Kami". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Lany Inawati | @lanyinawati

seorang ibu rumah tangga yg sedang berbagi waktu untuk bekerja dan mendidik anak sembari menulis agar bisa menjadi berkat bagi banyak orang #bighug

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar