Pendidikan Seks yang Salah Kaprah Malah akan Mendorong Anak Aktif secara Seksual. Orangtua, Hati-Hati!

Parenting

[Image: shutterstock.com]

4.1K
Dalam dunia yang keras dan kejam ini, anak-anak dan remaja yang masih belum matang pun sudah ditantang untuk menentukan pilihan dan membuat keputusan genting terkait persoalan seksualitas. Orangtua dan guru tentu tak dapat mendampingi dan melindungi anak selama 24 jam penuh. Namun, orangtua dan guru dapat membekali anak dan remaja dengan konsep kekudusan seksual untuk menjadi bahan pertimbangan dalam keputusan yang akan mereka ambil terkait dengan isu-isu seksual, kapan pun isu itu muncul.

Lagi-lagi para netizen dikagetkan dengan sebuah berita tentang postingan sebuah akun Facebook yang memamerkan perilaku seksual sepasang remaja di bawah umur. Terlepas dari apakah foto dan postingan tersebut benar, dalam arti kejadian yang sungguh-sungguh terjadi, atau hanya akting dan pose belaka, yang jelas ekspresi sepasang remaja yang terpampang pada foto tersebut memperlihatkan bahwa mereka bangga dengan hal itu.

Tentunya ada banyak penyebab mengapa kasus perilaku seks anak di bawah umur atau yang biasa disebut Anak Baru Gede (ABG) sering sekali muncul dalam masyarakat. Apa yang tersorot dan diangkat ke permukaan oleh media hanyalah sebagian kecil dari fenomena seks bebas anak di bawah umur, sedangkan yang tidak tersorot oleh media, saya yakin jauh lebih banyak jumlahnya.

Salah satu penyebab perilaku seks bebas anak di bawah umur adalah minimnya usaha masyarakat kita untuk memberikan pendidikan kekudusan seksual kepada anak dan remaja. Sekalipun belakangan ini beberapa sekolah mulai menyadari pentingnya memberikan pendidikan seks kepada siswa, tetapi tidak sedikit pula yang salah kaprah dalam melakukannya. Mereka mengundang “para ahli” yang hanya memberikan pendidikan seks biasa, dan bukan pendidikan kekudusan seksual. Pendidikan seks yang salah kaprah ini hanya akan berdampak pada makin banyaknya pertanyaan siswa dan makin kewalahannya para guru karena tidak siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pada akhirnya, tak sedikit guru dan orangtua mengeluh karena merasa "percuma" memberikan pendidikan seks pada anak dan remaja.

Pendidikan kekudusan seksual tidak sama dengan pendidikan seks biasa. Dalam pendidikan seks secara umum diajarkan tentang bagaimana manusia terbentuk secara biologis. Pendidikan seks yang salah kaprah bahkan ada yang berfokus pada prinsip safe sex. Prinsip safe sex menyatakan bahwa remaja yang berusia 18 tahun boleh berhubungan seks asal dilakukan dengan aman, yaitu dengan menggunakan alat kontrasepsi. Tidak demikian halnya dengan pendidikan kekudusan seksual. Dalam pendidikan kedudusan seksual, anak dan remaja tak sekadar diajarkan tentang proses biologis terbentuknya manusia secara ilmiah, yang sebenarnya bisa atau telah mereka pelajari sendiri dari pelajaran Biologi di sekolah pada level tertentu.

Pendidikan kekudusan seksual menekankan manfaat dan pentingnya menjaga diri dari seks bebas, bagaimana cara menjaga diri dari seks bebas, bagaimana menolak godaan seksual, dan membongkar kebohongan-kebohongan yang terkandung dalam prinsip safe sex.

Anak dan remaja perlu diberikan pendidikan kekudusan seksual secara intensif dan kontinu sesuai dengan tingkatan usia mereka. Berikut adalah manfaat pendidikan kekudusan seksual remaja jika diterapkan secara tekun, kontinu, dan konsisten dari masa ke masa:


1. Memampukan Remaja untuk dengan Jelas Membedakan antara Perilaku yang Bermoral dan Tidak

Salah satu ciri yang paling menonjol yang dimiliki oleh anak-anak yang memasuki usia remaja adalah berpikiran polos. Mereka cenderung untuk menerima begitu saja semua informasi dan ide yang mereka dapat dari orang di sekitar mereka, terutama dari orang-orang atau media yang mereka sukai. Remaja memerlukan filter untuk bisa menyaring mana hal-hal yang layak diterima dan dilakukan dan mana yang tidak. Pendidikan kekudusan seksual memberikan pada remaja konsep mendasar, ciri-ciri, dan fakta-fakta untuk mereka bisa mengenali mana perilaku seksual yang kudus dan yang tidak, mana yang bisa diterima oleh nilai-nilai moral dan yang patut dibuang karena menyimpang.

Ibarat sebuah kertas kosong, lembaran hidup anak harus 'ditulisi' dengan konsep seksualitas yang benar dan kudus sejak dini sehingga mereka dapat menjalani hidup sesuai konsep yang mereka terima. Dunia memang keras dan kejam, anak-anak dan remaja yang masih belum matang pun sudah ditantang untuk menentukan pilihan dan membuat keputusan genting terkait persoalan seksualitas, yang seringkali lebih banyak terjadi di luar kontrol orangtua. Orangtua dan guru tak selalu dapat mendampingi anak selama 24 jam penuh untuk memberikan arahan dan peringatan, namun orangtua dan guru dapat membekali anak dan remaja dengan konsep kekudusan seksual untuk menjadi bahan pertimbangan dalam keputusan yang akan mereka ambil terkait dengan isu-isu seksual, kapan pun isu itu muncul.


2. Memampukan Remaja untuk Menghormati Diri Sendiri dengan Cara Mengontrol Diri

[Image: jenniekarina.co.ke]

Sebuah pendidikan kekudusan seksual yang baik dan terpadu akan membuka pengertian remaja akan martabat dan harga dirinya yang tak ternilai. Remaja yang telah menyerap pendidikan kekudusan seksual dengan baik akan berusaha menjaga kehormatan dirinya dengan cara berjuang dalam pengendalian diri (self control). Godaaan terhadap munculnya pikiran kotor dan keinginan untuk mengkonsumsi tontonan dan bacaan porno, emosi sensual yang menggebu-gebu terhadap lawan jenis, obrolan jorok tentang hal-hal cabul, bahkan aktivitas-aktivitas seksual yang terlalu dini sebelum pernikahan bisa saja muncul kapan pun. Namun remaja yang telah memegang konsep kekudusan seksual akan dapat berusaha mengontrol dirinya mengatasi semua godaan dari dalam tersebut, demi mempertahankan martabat dan kehormatan diri.


3. Memampukan Remaja untuk Menolak Godaan dari Luar Dirinya untuk Melakukan Perbuatan Asusila

Tak seorang pun dapat mencegah sepenuhnya datangnya godaan seksual. Namun, setiap orang punya pilihan: lari meninggalkan godaan tersebut, atau sebaliknya, masuk dalam godaan.

Godaan yang paling sering dihadapi remaja untuk berlaku asusila adalah dari lingkungan masyarakat terdekatnya dan dari media. Remaja yang telah belajar banyak tentang kekudusan seksual memiliki skill tersendiri untuk menolak godaan seks tidak kudus yang datang dari luar dirinya.


4. Memperlengkapi Remaja untuk Menghindari Pelecehan Seksual

[Image: assests.inarkansas.com]

Pelecehan seksual menjadi salah satu ketakutan dan kekuatiran terbesar dalam diri orangtua terhadap anak-anak dan remaja-remaja mereka. Orangtua takut ada oknum, entah itu di sekolah, di tempat les, atau di tempat bermain, yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak mereka. Sebuah pendidikan kekudusan seksual terpadu akan memberikan wawasan kepada anak dan remaja tentang ciri-ciri pelecehan seksual, bagaimana cara pencegahan, serta cara untuk melarikan diri dari pelaku jika hal tersebut sampai terjadi pada mereka.


5. Mengurangi Kejahatan Seksual dalam Masyarakat

Kejahatan seksual tidak muncul dengan tiba-tiba. Absennya pengetahuan tentang kekudusan seksual, kebiasaan buruk dalam percakapan sehari-hari misalnya dalam lingkungan yang gemar akan obrolan cabul, kecanduan pornografi, dan bahkan pengaruh buruk dari perilaku seks orangtua yang menyimpang yang 'diserap' oleh seorang anak dapat menjadikan anak tersebut sebagai pelaku kejahatan seksual di kemudian hari. Pendidikan kekudusan seksual tidak menjamin masyarakat akan bersih sama sekali dari ancaman kejahatan seksual, tapi akan dapat mengurangi secara signifikan angka kejahatan seksual tersebut, jika seluruh masyarakat menjalankan pendidikan ini dengan tekun dan terpadu.

---

Penulis adalah pendiri gerakan kekudusan seksual kaum muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi True Love Waits International). Penulis menyediakan pelatihan kurikulum pendidikan kekudusan seksual khusus bagi masyarakat Indonesia.


Baca juga:

Seks Pranikah: Selain Keperawanan dan Keperjakaan, 3 Hal Penting ini Ikut Lenyap

5 Langkah Efektif dan Teruji untuk Mencegah Anak dan Remaja Berbuat Mesum

7 Manfaat Menolak Seks Pranikah



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pendidikan Seks yang Salah Kaprah Malah akan Mendorong Anak Aktif secara Seksual. Orangtua, Hati-Hati!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar