Ingin Punya Anak Sukses seperti Joey Alexander? Orangtua, Renungkanlah Hal-Hal Ini

Parenting

[Image: www.ted.com]

5.5K
Apakah sukses seperti itu yang kita bayangkan ketika kita mendorong anak kita untuk belajar dari Joey Alexander? Apakah kita sedang memberikan tuntutan kepada anak kita untuk meraih sukses dengan menggunakan Joey sebagai tolok ukurnya? Apakah arti kesuksesan buat kita?
[Image: i2.cdn.turner.com]

Belakangan ini, kita digegerkan dengan penampilan seorang anak berusia 12 tahun di pentas musik dunia, Grammy Award. Ia menjadi salah satu nomine Grammy Award paling muda yang pernah ada. Bahwa pianis Jazz yang bernama Joey Alexander ini adalah anak Indonesia, menambah kekaguman kita. Hal tersebut membuat kita makin menghargai kelangkaan talenta yang dimilikinya serta kerja keras yang melatarbelakangi kemampuan yang dimilikinya tersebut.

Sebagai orangtua, tidak sedikit yang kemudian bermimpi mempunyai anak yang dengan talenta yang serupa. Dan kita pun kemudian mencari tahu hal-hal apa yang dilakukan oleh Joey dan keluarganya sehingga Ia bisa mencicipi kesuksesan di usia yang sangat dini ini.

Ketika kita menggali lebih dalam, kita menemukan berbagai hal yang luar biasa tentang Joey:

Anak Bali yang kemudian tinggal di Jakarta dan sekarang di New York City ini baru belajar musik jazz ketika berusia 6 tahun.

Dan Ia belajar sendiri.

Dengan mendengarkan CD kepunyaan ayahnya dan menonton video di Youtube.

Saya bukanlah pemain musik dan tidak mengerti banyak tentang dunia musik. Tetapi dari beberapa artikel yang saya baca, saya mendapati bahwa sebagaimana permainan gitar blues merupakan terjemahan musik dari kepedihan sebuah jiwa, maka permainan piano jazz merupakan terjemahan musik dari kerumitan sebuah jiwa. Dan karena itu, kemampuan Joey menjadi semakin luar biasa. Dalam usia yang sangat muda, permainannya memiliki level yang menyamai pemain piano jazz yang sudah memainkan jenis musik tersebut selama 30 tahun. Sebagian orang mengomentari bahwa kemampuan Joey Alexander ini bukan saja sangat jarang, tetapi sebuah hal yang mustahil terjadi.

Sebagai orangtua, tidak salah bila kita membayangkan bahwa anak-anak kita juga bisa mencapai prestasi demikian. Dan sebagai orangtua, kita membaca artikel demi artikel untuk mencari tahu rahasia sukses dibalik setumpuk prestasi yang diraih anak berusia 12 tahun ini.

Tetapi jalan yang dilewati Joey ini sangatlah tidak masuk akal. Surga seakan membuat jalan itu hanya untuk Ia seorang. Karena itu, tidak heran bila kita menjadi patah semangat dan dalam perjuangan melawan rasa menyerah yang mulai menyerang itu, kita melakukan satu-satunya hal yang kita tahu: kita mendorong anak-anak kita untuk berjuang lebih dan berjuang terus. Kita mengingatkan mereka untuk mengejar nilai tertinggi, juara, prestasi, dan beasiswa yang ditawarkan.


[Image: amazon.com]

Tahun 2006, Madeline Levine, PhD menulis sebuah buku berjudul The Price of Privilege. Dalam buku ini, Levine mengupas fenomena yang terjadi terhadap anak-anak remaja yang berasal dari keluarga mampu dan bersekolah di sekolah-sekolah ternama, dan karena itu, ia menganggap bahwa ruang lingkup pembacanya akan terbatas. Hasil riset dan laporan yang didasarkan pada anak-anak dengan hak istimewa, yang memiliki sumber dana dan kesempatan yang tidak dimiliki oleh anak pada umumnya, ternyata merupakan hasil yang sangat mengejutkan.

Walau anak-anak ini seringkali mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian yang mereka hadapi, mereka ditemukan menghadapi masalah depresi, anxiety disorder, psychosomatic disorder, bahkan ketergantungan terhadap obat-obatan yang jauh lebih tinggi daripada anak-anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi yang lebih rendah.

Walau anak-anak ini memiliki banyak piagam dan medali yang terpajang di rumah mereka, hidup mereka tidak bahagia. Dan, walau mereka menerima berbagai tawaran dari sekolah-sekolah bergengsi, sumbu api semangat belajar mereka seakan sudah padam.

Lewat buku The Price of Privilege, Levine ingin mengajak para orangtua untuk mengkaji kembali arti kesuksesan pada seorang anak, dengan menitikberatkan pada tolak ukur kesuksesan yang seringkali dipakai, yaitu nilai dan prestasi. Levine melihat adanya relasi antara tolok ukur ini dengan tingginya masalah emosi yang dihadapi oleh anak-anak muda.

Ternyata banyak anak, demi mendapatkan nilai yang bagus, rela minum obat kuat untuk mengalahkan rasa lelah agar dapat belajar terus menerus, mau menyontek agar nilai tetap tinggi, dan melakukan pelarian diri dengan merusak diri ketika berhadapan dengan tekanan yang ada. Mereka menjadikan urusan mengejar prestasi seakan itu adalah hal hidup dan mati.

Yang mengejutkan, ternyata buku The Price of Privilege ini memberikan dampak kepada lingkungan yang jauh lebih luas dari perkiraan awal. Masalah yang menjadi tantangan anak-anak dari keluarga kaya dan pintar ini juga ternyata menjadi masalah banyak keluarga. Masalah seperti stres, depresi, kelelahan, anxiety, dan citra diri yang buruk menjadi masalah yang dihadapi sebagian besar anak, terlepas dari latar belakang sosial ekonomi mereka. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak-anak untuk belajar, terinspirasi, dan menemukan kekuatan diri, kini menjadi sumber stres terbesar dalam hidup mereka.

Apakah sukses seperti itu yang kita bayangkan ketika kita mendorong anak kita untuk belajar dari Joey Alexander? Apakah kita sedang memberikan tuntutan kepada anak kita untuk meraih sukses dengan menggunakan Joey sebagai tolok ukurnya? Apakah arti kesuksesan buat kita?

Sebagian besar orangtua, termasuk saya, perlu belajar untuk memikirkan ulang arti kesuksesan dalam membesarkan anak-anak kita. Penelitian dan riset yang terus dilakukan membuka mata kita untuk melihat sisi lain dalam usaha kita mengejar kesuksesan seperti yang kita ketahui.

Sistem metode penilaian, piala juara, dan proses penyeleksian dari sekolah-sekolah berkualitas ternyata memiliki sisi yang menipu dibalik keuntungan yang ditawarkan. Sistem ini seakan berkata bahwa kesuksesan itu hanya milik sebagian kecil orang dan prestasi masa kecil itu berperan penting dalam kesuksesan di dunia kerja dan relasi nantinya.

Dan yang lebih berbahaya lagi adalah bahwa karena sistem ini tidak sempurna, maka sistem ini tidak mampu menemukan dan mendorong anak-anak yang memiliki potensi tetapi tidak mudah terukur. Banyak sekali anak-anak yang bertumbuh tanpa memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi hari esok karena oleh sistem yang ada mereka dinilai bodoh dan gagal.

Hanya orangtua yang tidak terjebak dalam perangkap sistem kesuksesan yang ada yang mampu membuka mata, melihat keunikan anaknya, dan mendefinisikan ulang arti kesuksesan yang bisa mendukung pertumbuhan anaknya. Karena terlepas dari semua nilai dan prestasi yang diraih, kita lebih mengingini anak kita memiliki hidup yang bahagia dan penuh percaya diri, bukan?

Saat ini, saya ingin mengajak kita untuk mulai tidak menempatkan anak-anak kita dalam kotak kesuksesan yang populer, yaitu kotak yang dikelilingi oleh dinding nilai, prestasi, dan sekolah bergengsi. Mari kita mulai membuka mata kita dan lebih memusatkan perhatian kita kepada anak-anak kita, sambil mengerti kelebihan dan kekurangan mereka. Mari kita tetap memberikan bimbingan, batasan dan disiplin, tetapi pada saat yang sama, memberikan ruang gerak bagi mereka untuk mencoba dan gagal.


[Image: soundup.co]

Joey Alexander bukan hanya mengharumkan nama bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi kebanggaan keluarganya. Saat mengetahui bahwa anaknya memiliki bakat di bidang musik jazz, orangtuanya rela melepaskan usaha mereka di Bali dan mempertaruhkan masa depan keluarga demi mendukung potensi anaknya dengan pindah ke Jakarta. Harga yang harus dibayar bertambah tinggi ketika mereka harus pindah ke New York City untuk melanjutkan perjuangan itu.

Buat sebagian besar kita, harga yang dituntut untuk mendukung anak kita tidaklah demikian tinggi. Benar semua anak memerlukan rasa percaya dan dukungan seperti yang diterima Joey dari orangtuanya. Dan itu bisa kita berikan tanpa perlu menutup usaha kerja atau berpindah kota demi anak kita. Kebanyakan kita “hanya” perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka, bermain bersama dan bercanda bersama. Kebanyakan kita “hanya” perlu meletakkan smartphone, keluar dari dunia sosial medial, atau menekan tombol off di remote TV ketika berada bersama mereka. Kebanyakan kita “hanya” perlu mengurangi sedikit kerja lembur dan pulang lebih cepat untuk menemani mereka mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas sekolah. Kebanyakan kita “hanya” perlu meningkatkan frekuensi makan malam bersama sebagai satu keluarga.

Mari kita terus belajar untuk menjadi orangtua yang lebih baik untuk anak-anak kita. Mari kita terus mendorong anak kita untuk mencapai kesuksesan, tetapi juga cukup peka untuk memilih alat ukur kesuksesan yang lebih cocok untuk anak-anak kita.

Selamat berjuang untuk menjadi orangtua yang lebih baik untuk anak-anak kita!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ingin Punya Anak Sukses seperti Joey Alexander? Orangtua, Renungkanlah Hal-Hal Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Octavianus Gautama | @octavianus

Seorang suami. Ayah. Pengagas Ide. Pengamat hidup amatur. Pelajar. Penulis. Pekerja. Pelayan. Pemimpi. Pujangga musiman. Pelari. Pengusaha. Pembicara. Koordinator. Teman.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar