Pengaruh Tak Bisa Berbohong, Inspirasi Tak Bisa Dipenjara. Yang Terinspirasi Selanjutnya, Mungkinkah itu Anda?

Reflections & Inspirations

[Image: thejakartapost]

5.7K
Pengaruh tak bisa berbohong. Inspirasi tak bisa dipenjara. Benar, bukan?

Mungkin Anda sedang merasakan hal yang sama dengan saya sekarang. Saya katakan demikian, karena bila Anda adalah orang yang mengagumi Ahok karena perjuangannya melawan korupsi, Anda pasti sedang bersedih dengan vonis yang dijatuhkan padanya kemarin. Saya juga.

Lebih lagi, tidak hanya saya menyayangkan posisi Ahok yang harus dipenjara. Bersama dengan ratusan rekan penulis politik lainnya, saya memiliki pertanyaan yang sama: Benarkah pengadilan telah berjalan objektif? Tapi, ya, sudahlah. Siapa tahu saya salah. Siapa tahu hal itu tak layak ditanyakan.

Jadi, ketimbang mempertanyakan, saya akhirnya mencoba memperhatikan. Hal-hal baik mungkin bisa terjadi setelah ini.


Tuhan berkuasa atas segalanya, bukan?


Dan ternyata benar. Tak sampai satu hari, banyak hal positif yang bisa saya lihat.

Saya yang beberapa hari lalu terlalu fokus pada bentuk keberpihakan Tuhan terhadap Ahok malah lupa:

Sesungguhnya keberpihakan pada Tuhan itu cukup.
Setelah kita bergerak di sisi Tuhan, biarlah hasilnya di tangan Tuhan.



Influence

Salah satu hasil yang saya lihat itu adalah influence. Whatever you get, good or bad, if you did a good thing, God will make you an influence.

Melalui Ahok, Tuhan justru hendak memengaruhi negeri ini.



1. Belajar Mengapresiasi dengan Indah

Saya belum pernah melihat inisiatif massa yang begitu besar sehingga menyebabkan balai kota penuh dengan ribuan karangan bunga dan balon-balon. Kiriman-kiriman itu jelaslah bukan pencitraan. Semuanya berasal dari orang-orang yang merasakan pengaruh pemimpin yang mereka cintai.

Ada banyak versi ucapan yang ditulis di karangan bunga. Ada yang menyayangkan keterpilihan pasangan lain. Ada yang mengungkapkan kesedihan karena "ditinggal ketika masih sayang-sayangnya". Ada yang mengapresiasi karena telah bekerja dengan baik. Ada juga yang berterima kasih karena sudah menjadi sumber inspirasi.

[Image: sindonews, detik.com]

Satu hal yang sama, inspirasi itu membuat rakyat Jakarta belajar mengapresiasi dengan indah.

Baca Juga: Bunga Bagi Ahok: Bukan Lagi Soal Pilkada, tapi Ini!



2. Semangat Perjuangan dan Kerja Keras

Hal lain lagi, selama sidang berlangsung selalu ada gerombolan yang berteriak-teriak di luar gedung Kementan. Pada sidang pertama dan kedua, ribuan massa anti-Ahok menumpuk di sana. Tapi di minggu-minggu berikutnya, massa pro-Ahok mulai berdatangan. Makin ke belakang, massa pro-Ahok makin bertambah, sedangkan massa seberang makin berkurang.

Saya kenal pemimpin mereka. Dia juga seorang penulis politik. Dia dan rekan-rekannya bergerak dengan dana sendiri. Mereka keluarkan tabungan masing-masing. Mereka rela berjualan bunga atau buku demi pendanaan selama mengawal sidang. Mereka juga rela tidur di pinggir jalan di malam hari karena kelelahan. Sebuah perjuangan yang besar.

Semua dilakukan bukan karena perintah orang yang sedang ada di persidangan. Terhisap oleh influence dari pemimpin yang mereka bela, itu yang menjadi sebab mereka melakukannya.

Pasca vonis, bukan berarti cerita selesai. Justru saya melihat semakin banyak pihak yang terpesona dengan pengaruhnya bermunculan.

[Image: tribunnews.com]

Para PNS di DKI juga terpesona dengan hal yang sama. Banyak dari antara mereka yang ingin memberikan dukungan ke penjara. Akan tetapi mereka ingat pesan Ahok yang disampaikan lewat Djarot. Boleh saja mereka memberikan dukungan asal tidak mengganggu pelayanan. "Kami belajar dari semangat Pak Ahok," tegas salah seorang PNS DKI. Nyata! Semangat kerja keras itu membuat banyak bawahan menirunya.

Baca Juga: Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok Ini untuk Indonesia yang Lebih Baik!



3. Teladan Taat Hukum

Ketika membuka Facebook, saya bisa melihat 100% status [sungguh] yang diunggah oleh teman-teman saya berbicara tentang keadilan. Hebat! Tiba-tiba saja semua berteriak-teriak tentang keadilan. Tiba-tiba saja pembelaan terhadap supremasi hukum disuarakan serempak. Jutaan doa untuk pemerintahan negeri ini dipanjatkan, tiba-tiba saja.

Demo menuntut dibebaskannya Ahok juga terus dilaksanakan. Yang saya dengar, massa bergerak hingga Cipinang, meminta Ahok dibebaskan.

[Image: kumparan, republika]

Mayoritas pendemo adalah ibu-ibu dan anak-anak. Mereka menyalakan lilin tanda keprihatinan dan doa. Tindakan yang tidak anarkis dan mengharukan itu jelas membuat polisi tak punya alasan untuk membubarkan.

Massa akhirnya bubar setelah Djarot menyampaikan kalimat yang sangat bernilai. "Kalau kalian cinta Pak Ahok, kalian harus taat hukum, karena Pak Ahok taat hukum."

[Image: neraca.co.id]

Demi keinginan untuk juga taat hukum, massa akhirnya membubarkan diri. Ini mirip dengan Socrates yang menyuruh pulang murid-muridnya yang ingin menculik dia dari penjara karena merasa gurunya tidak bersalah. Teladan untuk menaati hukum itu memberikan pengaruh yang besar bagi para pendukungnya.

Baca Juga: Ada yang Jauh Lebih Penting Ketimbang Vonis 2 Tahun untuk Ahok: Ini!



4. Hati yang Meluap Penuh Cinta

Yang mengejutkan lagi, Djan Faridz dan Djarot mengajukan diri untuk menjadi penjamin Ahok hingga masa kepemimpinannya selesai Oktober nanti. Ini tindakan berani sekali! Bila terjadi hal yang mempersulit hukum, Djarot dan Djan Faridz bisa kena imbasnya. Pengaruh besar Ahok membuat orang lain rela, membuat seorang sahabat menaruh kasih padanya.

Tadi pagi [10/5], Addie MS bersama dengan para musisi dan warga Jakarta berkumpul di balai kota. Mereka mengenakan baju merah-putih, menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa dan Indonesia Raya. Djarot sampai menangis mendengarkan nyanyian mereka. Menonton tayangan videonya saja membuat saya merinding. Mungkin bila saya ada di sana, saya juga akan ikut menangis. Bukan karena menyesali apa yang dialami Ahok, tetapi karena kagum atas kecintaan masyarakat terhadap negara ini.

[Image: tribunnews.com]

Pengaruh Ahok tak berhenti di situ. Bila dulu penghargaan datang dari luar negeri demi mengapresiasi kinerjanya, kini yang datang adalah pertanyaan kepada semangat keberagaman di Indonesia. Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, misalnya, memberikan pernyataan resmi.

"Uni Eropa selalu memuji kepemimpinan Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, sebagai demokrasi yang kuat dan negara yang bangga atas tradisi toleransi dan pluralisme yang dimilikinya," begitu bunyinya. Gara-gara ini, semangat toleransi dan demokrasi ditegakkan kembali.

Sepertinya Tuhan memang sedang mengerjakan hal baik untuk negeri yang saya tinggali. Melalui perjuangan satu orang, itu cara-Nya. Mungkin bila pejabat yang melawan kepemimpinan Ahok terlalu sedikit, bila penolakan dari kaum ekstremis terlalu sepi, dan bila Ahok melenggang begitu saja dari ancaman jeruji besi, hati massa tak akan meluap seperti sekarang.

Baca Juga: Dari Djarot Saiful Hidayat, Belajar Menjadi Seorang Sahabat



Saya makin melihat dengan jelas, saat ini Tuhan sedang menggunakan satu orang untuk memengaruhi setiap area kehidupan masyarakat, khususnya di Indonesia. Ada banyak hal baik bermunculan: standar tinggi untuk menjadi seorang Gubernur, semangat memberantas korupsi, ketaatan terhadap hukum yang berlaku, junjungan kepada keadilan, semangat toleransi antarumat beragama, pengorbanan dan pembelaan terhadap ideologi negara. Entah saya harus tulis apa lagi.

Jadi untuk apa saya dan Anda bersedih atau marah-marah? Bukankah lebih baik bila hati, pikiran, dan keringat kita arahkan untuk mempertahankan nilai-nilai luhur yang dianut bangsa?

Tuhan terlalu baik bagi negara yang saya tinggali sekarang. Sebab dalam rekaan yang jahat sekalipun, Dia bekerja untuk menjadikan kebaikan.

Baca Juga: Bermata Sembap Namun Tak Hilang Harap. Inilah yang Dilakukan Veronica Tan saat Ahok Dipenjara


Saya yakin, setelah ini akan makin banyak orang yang mengunggah status Facebook berupa ekspresi cinta mereka kepada Indonesia. Saya yakin pula akan lebih banyak orang paham arti toleransi dan semakin sadar akan hak-hak kaum minoritas. Saya lebih yakin lagi bahwa akan lebih banyak orang terinspirasi untuk bekerja dengan jujur.

Pengaruh tak bisa berbohong dan inspirasi tak bisa dipenjara.
Benar, bukan?

Lalu pertanyaannya, apakah kita mau masuk ke dalam golongan orang-orang itu? Ataukah justru kita menghabiskan keringat kita untuk mempertegang leher dan menghujat rezim yang memerintah sekarang?


Saya menantikan orang yang terinspirasi selanjutnya.

[Image: detik.com]

Mungkinkah itu Anda?



Baca Juga:

Bukan Ahok, Bukan Anies, tapi Ini!

Ahok Memang Luar Biasa tapi Ia Hanya Manusia. Menyikapi Kekalahan Ahok di Pilkada DKI, Ingatlah 2 Hal Ini

Ada yang Jauh Lebih Penting Ketimbang Vonis 2 Tahun untuk Ahok: Ini!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pengaruh Tak Bisa Berbohong, Inspirasi Tak Bisa Dipenjara. Yang Terinspirasi Selanjutnya, Mungkinkah itu Anda?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Abel Kristofel | @abelkristofel866

Mahasiswa Sarjana Teologi di Malang Tertarik dengan filsafat, logika, politik, dan musik

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar