Ibu Rumah Tangga Bukan Pengangguran, Tidak Ngantor Bukan Berarti Tidak Bekerja

Marriage

[Image: mummychamallow.com]

2.3K
Menjadi ibu rumah tangga tak pernah mudah. Sekilas memang terlihat seolah tak punya pekerjaan yang mengharuskan ke luar rumah, namun sesungguhnya ada begitu banyak pekerjaan di dalam rumah.

Di suatu masa, saya ini adalah seorang wanita karir yang suka [sok] sibuk. Nganggur pernah sih, tapi waktu nganggur yang saya nikmati di sela-sela kesibukan itu, kalau diibaratkan, seperti minum es teh di tengah lomba makan kerupuk. Wenak bangeeettt .....

Kemudian, saya hamil. Muncullah satu dua hal yang membuat saya memilih untuk resign dan menjaga kehamilan. Saya pun akhirnya resmi berstatus pengangguran. Ada yang tahu bagaimana rasanya? Gak enak! [Menurut saya sih, begitu.]

Hingga saat ini, sudah 9 bulan [kehamilan] + 18 bulan [usia anak], jadi total 27 bulan alias 2 tahun 3 bulan saya menjomblo. Jomblo dalam arti tanpa karir.

Pengangguran.

Di awal-awal masa nganggur, saya sempat mengalami stres berat. Hidup bagaikan tak berarti. Aura dan pikiran negatif begitu kuat menyelimuti saya. "Saya ini anak tak berguna! Orangtua sudah susah payah menguliahkan, hasilnya hanya jadi sarjana pengangguran." "Saya ini hanya merepotkan suami saja! Gak bisa cari uang, malah belanja terus kebutuhan ini itu." "Saya bukan ibu yang baik, ngasih contoh pengangguran kelas berat pada anak. Jangan-jangan ntar dia ikutan!" dan sederet pikiran lain yang hanya bakal ngabisin kuota Anda kalau harus saya tuliskan semua di sini.

Namun, syukurlah saya menemukan titik balik dan saya disadarkan bahwa:

Membuat orangtua bangga itu tidak melulu dengan uang berlimpah dan karir berkilauan, tapi 'sesederhana' dengan bahagianya saya menjalani peran baru sebagai orangtua, bukannya dengan stres dan menderita.

Membantu suami tidak hanya dengan jalan bekerja untuk menambah penghasilan keluarga, tapi justru malah bisa dengan pengeluaran rumah tangga. [Ibu-ibu langsung angguk-angguk setuju, pasti!] Membeli kebutuhan bayi dengan bijak, memilihkan bahan makanan segar, menyajikan masakan yang nikmat, contohnya.

Dan yang terpenting adalah, memberi contoh bagaimana seseorang bekerja itu bagi anak tidak harus hanya dengan benar-benar bekerja di kantor dan meninggalkan dia di rumah. Akan tetapi bagaimana membuat dia paham bahwa makna bekerja sesungguhnya adalah "berkarya" dan menghasilkan sesuatu, yang jauh lebih berharga daripada hanya sekadar uang.

Menumbuhkan pikiran positif dan tindakan positif dalam diri anak saya lewat berbagai aktivitas kecil, merapikan tempat tidur, merapikan mainan, misalnya. Melatih kreativitasnya, membuat mainan dari barang bekas, bersepeda dan mengenal alam, berinteraksi sosial, dan masih luar biasa banyak hal positif lain, yang dapat saya 'kerja'kan meskipun berstatus seorang pengangguran, yang tak 'bekerja' untuk menghasilkan uang.

Ya, saya seorang pengangguran.

Dari pengangguran negatif, sekarang sedang menuju pengangguran positif.

Saya bangga dan bersyukur untuk itu.

Saya bersyukur Tuhan membuka hati dan pikiran saya. Saya bersyukur Tuhan mencukupkan kebutuhan keluarga kami meskipun saya tidak lagi 'bekerja'.

Tuhan tahu kebutuhan umatNya. Ia tahu apa yang terbaik bagi umatNya. Ia bahkan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi umatNya. Yang perlu kita lakukan adalah percaya, dan melakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan.



Baca Juga:

Working Mom, Rasa Bersalah dan Cara Mengatasinya

9 Tipe Mama-Mama Muda di Media Sosial

Sebuah Kisah tentang Perempuan dan Kekuatan Super yang Mereka Miliki



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ibu Rumah Tangga Bukan Pengangguran, Tidak Ngantor Bukan Berarti Tidak Bekerja". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar