Pencarian Cinta Sejati, Seperti Pilkada yang Berlangsung Dua Putaran: Melelahkan, Namun Amat Layak Diperjuangkan

Singleness & Dating

[Image: thedentonite.com]

18.7K
Ada banyak hal di dalam hidup yang berjalan tidak sesuai dengan harapan. Meskipun demikian, tak jarang hal-hal tersebut justru sesuatu yang amat layak dan memang harus diperjuangkan.

Mencoblos kertas suara bergambar calon pemimpin pilihan, sudah. Penghitungan suara juga sudah dilewati. Namun belum ada pasangan calon yang diumumkan sebagai pemenang. Kok bisa? Ya, bisa, karena ada syarat yang tidak terpenuhi. Ada ketentuan jumlah minimum perolehan suara supaya satu pasangan calon bisa dinyatakan menang dalam satu putaran.

Ketika tidak ada pasangan yang menang satu putaran, maka pemilihan harus kembali dilakukan. Putaran kedua pun dimulai. Pasangan calon harus kembali melakukan kampanye. Adu tajam visi misi dan program harus kembali berlangsung. Mereka - dan kita - pun kembali harus deg-degan menantikan hasilnya.

Betapa tidak mudah dan amat melelahkan proses untuk bisa mendapatkan pemimpin terbaik pilihan rakyat. Begitu juga dengan proses memilih pasangan hidup, yang tidaklah selalu mudah dan lancar.

Kenyataan berbicara, bagi banyak orang, sangat sulit untuk bisa mengubah status dari single menjadi in a relationship. Facebook pun sampai menyediakan status it's complicated, alias ruwet, karena memang banyak yang ruwet status relasinya.

Ada banyak hal di dalam hidup yang berjalan tidak sesuai dengan harapan. Meskipun demikian, tak jarang hal-hal tersebut justru sesuatu yang amat layak dan memang harus diperjuangkan.
[Image: odysseyonline]
Cinta sejati. Pasangan hidup yang tepat.
Itu dua dari sekian banyak contohnya.

Baca Juga: Caramu Memilih Kepala Daerah Menentukan Bagaimana Kamu Memilih Pasangan Hidup. Tak Ingin Menyesal? Jangan Salah Pilih! Ini 3 Pedomannya



Kegagalan Bukan Akhir

Selalu ada yang menang dan kalah di dalam pilkada. Entah menang mudah, menang tipis, ataupun menang setelah gugatan lawan ditolak oleh Mahkamah Konstitusi. Tidak mudah untuk bisa menerima kekalahan, karena pasangan calon kepala daerah pasti sudah mengerahkan segala upaya untuk menang. Dana, daya, doa, atau apapun juga, segalanya dipertaruhkan di sana.

Sebetulnya, kalau mau ditilik lebih dalam, kalah menang adalah soal sudut pandang. Yang kalah pun dapat dikatakan menang, ketika bisa menerima kekalahan dengan dada lapang. Karena sesungguhnya kekalahan bukan akhir. Di balik kekalahan, tersimpan berjuta pelajaran untuk kemenangan di masa depan.

Begitu juga dengan perjuangan cinta kita. Semua yang sudah dipersiapkan dengan matang kadang tidak berakhir indah, tidak happily ever after seperti kisah dongeng pangeran dan putri.

Sinyal cinta sudah sangat jelas terasa [setidaknya demikian menurut kita]. Kita pun mempersiapkan sebuah skenario matang untuk menyatakan cinta. Satu per satu keping keberanian kita kumpulkan, hingga akhirnya mewujud dalam satu momen 'penembakan'. Namun ternyata, akhirnya penolakan juga yang harus dengan pahit kita telan.

[Image: thatslife.gr]

Berat, pasti.

Meskipun demikian, tetap ada yang bisa disyukuri. Lebih baik ditolak di awal, daripada diterima, tapi terpaksa. Ada banyak kisah tentang kegagalan relasi beberapa saat menjelang pernikahan, karena salah satu tidak yakin dengan pasangannya. Bahkan, pernah pula terjadi, salah satu calon pengantin tidak kunjung datang ke upacara pernikahan. Tamu undangan yang sudah telanjur datang akhirnya tetap menikmati jamuan, merayakan sebuah pernikahan yang gagal. Betapa tragis.

Kegagalan kali ini bukan berarti duniamu berakhir. Selalu ada harapan, selalu ada jalan.

Mulailah dengan kebesaran hati untuk menerima kegagalan apa adanya. Jadikan itu sebagai pelajaran. Tak perlu mendendam apalagi menenggelamkan dirimu di dalamnya. Lihatlah kegagalan sebagai sebuah proses kehidupan yang perlu untuk mendewasakan kita.

Baca Juga: Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar sebagai Pemenang



Tenangkan Diri, Atur Kembali Langkah

Calon kepada daerah, tim sukses, pendukung pasangan calon yang gagal menang satu putaran, semua pihak tentu merasa kecewa. Semua proses harus diulang, dan itu sesuatu yang sangat melelahkan. Adalah manusiawi untuk menjadi kecewa, namun demikian, masih ada sebuah tujuan besar menanti di depan untuk dikejar. Berlarut-larut dalam emosi hanya akan buang waktu saja.

Begitu juga dengan perjuangan cinta kita. Ketika mengalami kegagalan, langkah terbaik yang bisa diambil adalah menenangkan diri dahulu.

Tanpa ketenangan hati dan pikiran, besar kemungkinan kita akan mengambil tindakan bodoh yang hanya didasari emosi.
[Image: beyourownheroine.co]

Menyalahkan diri sendiri, menjadi putus asa, bahkan tidak sedikit yang berani bunuh diri karena cinta. Lebih ngeri lagi, jika sampai mengambil langkah balas dendam. Berupaya membuat orang lain merasakan penderitaan yang sama, karena dirinya gelap mata.

Biarlah setelah tenang baru kita mengambil langkah selanjutnya.

Tidak sedikit orang yang karena patah hati sekali, mengatakan, "Aku tidak akan jatuh cinta lagi. Lebih baik tetap single daripada disakiti."

Kalau memang keputusan itu lahir dari hati dan disertai dengan motivasi yang murni, tidak masalah memilih hidup sendiri. Akan tetapi, kalau hanya karena emosi, adalah lebih baik mulai menata hati, menyatukan kepingan hati yang hancur, dan mempersiapkan hati menyambut pasangan terbaik yang telah Tuhan siapkan untuk kita.

Baca Juga: The Power to Delay: Strategi Memenangkan Pertempuran Tanpa Bertempur. Tunda Reaksi, Hindari Kehancuran Relasi



Hadapi, Terima Apa pun Hasilnya

Cepat atau lambat, hari pemungutan suara pasti akan tiba. Peluang untuk menang atau kalah selalu sama besarnya. Kadang ada calon yang sudah yakin menang, ternyata kalah. Dalam politik, segala sesuatu bisa terjadi. Swing voter bisa mengacaukan perhitungan di atas kertas; para pemilih yang tidak bisa diduga pilihannya, yang bisa mendadak berganti pilihan pada hari H. Kadang kala pula, selisih suara antarcalon amatlah tipis. Bayangkan bagaimana rasanya menjadi pihak yang kalah dengan selisih suara amat tipis, satu persen, misalnya.

Begitu juga dengan perjuangan cinta kita.

Kembali mengalami kegagalan? Amat mungkin sekali terjadi. Karena untuk setiap pernyataan cinta, kemungkinannya tetap dua ini: diterima atau ditolak.

Kita pun tak tertutup kemungkinan harus berhadapan dengan alasan penolakan yang tidak masuk akal, meski dikemas dengan manis dan cantik. "Kamu terlalu baik untukku," contohnya. Bukankah lebih menyakitkan ketika kita yang baik malah tidak diterima?

[Image: medium.com]
Apa pun yang terjadi, hadapi dengan berani, terima hasilnya dengan lapang hati.

Baca Juga: Rahasia di Balik Penolakan Cinta oleh Wanita: 6 Alasan yang Tak Akan Mereka Katakan kepada Para Pria


Mengalami kegagalan dalam proses pencarian cinta sejati, bahkan berulang-ulang sekalipun, bukanlah sesuatu yang memalukan. Lebih baik gagal sekarang, daripada ketika pernikahan sudah dijalani. Memang, ada pasangan yang akhirnya memilih berpisah dan menjadikan perceraian sebagai jalan keluar. Namun demikian, saya amat yakin, mereka pun tak pernah memimpikan itu ketika memutuskan menikah dulu.

Walau melelahkan, cinta sejati sungguh layak diperjuangkan. Teguhkan hati, selalu tersedia kesempatan bagimu.

Selamat berjuang, para pejuang cinta!



Baca Juga:

5 Hal yang Harus Kamu Lakukan sebelum Nembak agar Tidak Ditolak

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan? Jangan Putus Harapan! Bangkit dan Tata Masa Depan dengan 5 Langkah Ini

Merasa Sepi dan Hancur setelah Patah Hati? Saya Mengusir Sepi dan Menata Diri dengan 7 Cara Ini




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pencarian Cinta Sejati, Seperti Pilkada yang Berlangsung Dua Putaran: Melelahkan, Namun Amat Layak Diperjuangkan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Davy Hartanto | @davyedwin

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar