Pelajaran Penting tentang Arti Berkorban, dari Koper-Koper Tua Saya

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Nicholas Kampouris]

2.7K
“The greatest sacrifice is when you sacrifice your own happiness for the sake of someone else.”

Selama berminggu-minggu, saya sekeluarga beres-beres rumah. Karena tidak ada Asisten Rumah Tangga, istri sayalah yang paling capek. Akibatnya seluruh keluarga sakit batuk pilek. Bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga pengaruh debu.

Dari hasil bersih-bersih itu, saya menemukan beberapa koper yang memiliki sejarah dan arti tersendiri bagi saya.



Pertama, koper bergaya retro.

Koper coklat muda kusam itu saya beli di Hawaii, waktu saya pulang dari konferensi internasional. Selama hampir satu bulan di tempat yang eksotis itu, saya mengumpulkan buku. Akibatnya, waktu pulang ke tanah air, koper yang saya bawa tidak cukup. Karena tidak ingin buku tebal-tebal yang saya beli rusak, saya membeli koper baru dengan model vintage.


[Photo credit: Tookapic]

Koper ini memberi saya pemahaman bahwa isi kepala sama pentingnya dengan kepala itu sendiri. Seorang, sepandai apa pun, jika kepalanya mengalami luka serius, ingatannya bisa terganggu.

Itulah sebabnya mengapa kita perlu menjaga ‘koper’ eh ‘kepala’ kita agar tidak terbentur. Benturan, bisa membuat omongan kita ngelantur.

Baca Juga: Jangan Sesal Jadi Ujung Suksesmu. Belajar dari Sakitnya Jet Li, Persiapkan Ini Selagi Muda



Kedua, koper kabin.

Saat mengikuti International Book Fair, seorang sahabat memberikan saya koper itu. Mungkin dia tahu bahwa saya memborong banyak buku sehingga perlu tambahan koper lagi. Koper kabin biru tua itu sejak saat itu dengan setia menemani saya ke mana pun saya pergi dari satu desa ke desa lain, dari satu kota ke kota lain, dari satu pulau ke pulau lain, bahkan dari satu negara ke negara lain. Entah berapa kali koper itu bukan saja melintasi negara melainkan benua yang berbeda. ‘Jam terbangnya’ sudah sedemikian tinggi sehingga seandainya dia ikut membership perusahaan penerbangan, pasti mileage-nya banyak sekali.

“Pa, ganti saja koper itu dengan yang baru,” sudah beberapa kali istri saya memberi saran seperti itu kepada saya, namun tidak pernah saya gubris.

“Masih saya pakai, kok,” begitu jawaban standar saya.

Apa makna koper biru itu bagi saya? Dia bukan saja setia menemani saya keliling dunia, tetapi juga menyimpan barang-barang saya yang paling berharga: laptop, iPad, handphone dan pakaian ganti - yang paling penting. Saya bahkan memasukkan jas saya yang wrinkle free ke dalamnya. Jadi, meskipun koper itu sudah terlepas mereknya, saya masih sangat mencintainya—seperti istri saja he he he—karena jasanya.

[Photo credit: Erwan Hesry]
Seberapa sering kita membuang ampas tebu setelah mengisap manisnya?

Kalau saya memang selalu membuang ampas tebu yang sudah kehilangan manisnya. Jika ampasnya saya telan, saya bisa masuk UGD! Wkwkw.

Baca Juga: Saya Kerja Setengah Mati, Istri Selingkuh dengan Teman Sendiri



Ketiga, Koper kabin biru muda.

Saat ada undangan bicara di Melbourne, pas jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan, saya melihat ada koper kabin yang cantik sedang diobral. Sebenarnya, yang lebih menarik bukan warnanya, melainkan harganya. Begitu saya beli, langsung saya bawa ke apartemen di seputaran Swanston Street. Karena iseng, roommate saya mengutak-atik nomornya, sehingga terkunci dan tidak bisa dibuka. Dia panik saya tenang saja karena toh belum ada isinya. Paginya, dia serahkan koper itu dalam kondisi sudah terbuka sambil berkata, “Done!”

Saya mendapatkan pelajaran indah dari koper yang sekarang sudah rusak karena terbanting atau dibanting oleh petugas bandara dalam penerbangan balik ke Indonesia.

Serapat-rapatnya kita mengunci ‘koper hidup’ kita, suatu kali pasti terbuka. Tinggal tunggu waktu saja.
[Photo credit: Roman Kraft]

Nah, ada apa isinya? Hal yang positif atau negatif?

Kasus Saracen memberi kita hikmah untuk tidak menyimpan, apalagi menyebarkan berita hoaks dan ujaran kebencian. Jika terbuka, hancurlah reputasi yang sudah kita jaga bertahun-tahun.



Yang terakhir, koper Om Hoo.

Ini bukan tentang koper saya, tetapi tentang seorang pejuang rohani yang luar biasa. H.L Senduk, nama lain Om Hoo, biasa berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk memberi pembekalan dan pencerahan rohani. Setiap pulang ke rumah, sering kali kopernya lebih ringan karena berkurang isinya. Ternyata Om Hoo membagikan baju-bajunya kepada orang-orang yang menurutnya pantas menerimanya. Istrinya maklum.

“Hamba Tuhan yang di desa-desa itu, mereka tidak punya banyak baju. Menyetrika saja susah. Baju-baju mereka cuma dilipat dan ditekan pakai benda berat supaya kelihatan sedikit rapi ketika akan mengikuti kebaktian. Ya, saya tinggalkan saja baju-baju saya yang masih bagus untuk mereka,” ujarnya.

Bagi Om Hoo,
koper adalah sarana untuk berbagi kelebihan.
[Photo credit: Annie Spratt]

Bagaimana dengan koper-koper kita? Sudahkah kita berkorban?

Baca Juga: Tak Perlu Sempurna untuk Bisa Bahagia. Hidup Bahagia, Satu Ini Saja Rahasianya


“The greatest sacrifice is when you sacrifice your own happiness for the sake of someone else.”

- NN




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pelajaran Penting tentang Arti Berkorban, dari Koper-Koper Tua Saya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar